Sukai Halaman Grosir Mutiara Lombok Supplier Murah

Konsep Dasar Akuntansi Konvensional Syariah

Konsep Dasar Akuntansi Konvensional - Dalam menyusun suatu laporan keuangan, informasi yang diberikan harus dapat bermanfaat bagi para pemakainya. Untuk itu laporan keuangan harus dapat memenuhi karakteristik kualitatif. International Accounting Standard Committee (IASC) menetapkan karakterisik kualitatif pokok yang harus dipenuhi adalah : dapat dipahami, relevan, keandalan (mencakup kejujuran, substansi netralitas, prudensi dan kelengkapan) dan dapat dibandingkan.

Untuk memenuhi karakteristik kualitatif laporan keuangan, IAI dalam PSAK No.1 mengakui asumsi dasar akuntansi sebagai  berikut (IAI, PSAK, 1996): 

1.    Kelangsungan Usaha
Suatu entitas ekonomi diasumsikan terus melakukan usahanya secara berkesinambungan tanpa maksud untuk dibubarkan, kecuali bila ada bukti sebaliknya. Perusahaan dianggap akan melanjutkan usahanya untuk waktu mendatang yang dapat diduga, tidak bermaksud atau berkepentingan dengan likuidasi atau  penutupan usaha.

2.    Akrual
Pengukuran aktiva, kewajiban, pendapatan, beban serta perubahannya diakui pada saat terjadi, tidak pada saat uang diterima atau dibayarkan, dicatat dan berpengaruh pada laporan keuangan pada periode kejadian.

Konsep dasar akuntansi dijelaskan kembali dalam Intermediate Accounting (Smith & Skousen, 1984, 23) menurutnya model akuntansi tradisional dibentuk dari asumsi-asumsi dasar, yaitu :
  1. Perusahaan dipandang sebagai satu kesatuan ekonomi yang berbeda dari pemilikan unit usaha lainnya.
  2. Perusahaan dianggap akan terus melanjutkan usaha, sehingga neraca melaporkan beban-beban berkaitan dengan kegiatan-kegiatan di masa depan dan tidak dilaporkan pada nilai realisasi jika perusahaan dilikuidasi.
  3. Kegiatan yang dicatat adalah transaksi  dan kejadian yang telah lalu. Jadi perubahan nilai sumber-sumber dan modal tidak dibukukan sebelum terjadi.
  4. Akuntansi menganut prinsip penilaian beban. Jadi dasar pencatatan transaksi adalah jumlah uang atau nilai moneter dari akuntansi yang ditukarkan saat transaksi.
  5. Transaksi diakui dengan unit-unit moneter.
  6. Kesatuan usaha dibagi dalam periode akuntansi, sehingga dalam setiap periode, pengukuran penghasilan berdasarkan akrual. Beban dalam satu periode ditentukan dalam mengkaitkannya dengan pendapatan tertentu dalam periode waktu tertentu (matching concept).
  7. Konservatif, yaitu jika dalam pelaporan terdapat dua alternatif, perusahaan memilih alternatif yang mempunyai manfaat paling sedikit bagi modal pemilik.


Konsep Dasar Akuntansi Syariah
Tujuan dari laporan keuangan menurut AAO-IFI (The Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions) dalam SFA No. 1 Chapter  6  adalah bahwa laporan harus mengandung informasi tentang kepatuhan bank terhadap syariah, dan oleh karenanya harus ada informasi tentang pos-pos non halal;  informasi sumber daya kewajiban, termasuk akibat suatu transaksi  atau kejadian ekonomi terhadap sumber entitas, maupun kewajibannya;  informasi yang dapat membantu pihak-pihak terentu dalam menghitung zakatnya;  informasi yang dapat membantu pihak terkait dalam memprediksi aliran kas bank dan seterusnya
Sedangkan kerangka dasar akuntansi keuangan versi AAO-FI seperti dituangkan dalam SFA No. 2 meliputi 9 Bab. Tidak seperti halnya akuntansi keuangan konvensional, akuntansi bank syariah menuntut lebih banyak laporan yang  meliputi : statement of finacial position, statement of income, statement of cashflows, statement of retained earning, statement of changes in restricted investment, statement of sources and uses of funds in Zakah and charity fund and statement of sources uses of funds in qard fund. Empat laporan pertama adalah unsur-unsur laporan keuangan yang sudah dikenal selama ini secara konvensional, sedangkan tiga yang terakhir bersifat khas.

Bila dibandingkan dengan asumsi dasar yang ada dalam SAK dengan menganut IASC (International Accounting Standards Committee), maka terdapat sedikit perbedaan. Kalau kerangka dasar akuntansi konvensional secara eksplisit memakai dua asumsi dasar, yakni dasar akrual (accrual basis) dan kelangsungan usaha (going concern), maka asumsi dasar yang dipakai dalam kerangka dasar versi AAO-IFI terdiri dari empat hal yaitu : the accounting unit concept, the going concern concept, the periodicity concept and the stability of the purchasing power of the monetery unit. Komparasi kedua konsep diatas, secara tegas menunjukkan ada satu konsep dasar yang sama-sama diakui oleh oleh kedua model akuntansi yakni konsep going concern.

Aspek pengakuan memegang peranan penting sebagai kerangka dasar, karena pengakuan merujuk kepada  prinsip yang mengatur kapan dicatatnya transaksi pendapatan (revenue), beban (expense), laba (gain) dan rugi (loss). Pada dasarnya AAO-IFI memakai konsep akrual sebagai dasar pengakuan untuk semua bentuk transaksi. Ini sejalan dengan kerangka dasar versi IASC yang juga dianut oleh akuntansi konvensional di Indonesia. Namun demikian, kalau kita mengacu kepada praktik beberapa bank syariah, ada sejumlah penyimpangan. Misalnya dasar akrual hanya dipakai untuk pengakuan beban atau expenses, tetapi dasar kas (cash basis) dipakai dalam pengakuan revenue dan/ atau income. Argumentasi yang dijadikan landasan atas sikap ini adalah unsur ketidakpastian dan konservatisme (Adnan, 1999, 7).
Konsep Dasar Akuntansi


Untuk aspek pengukuran hampir tidak berbeda bila dibandingkan dengan akuntansi konvensional, karena semua atribut yang akan dijadikan acuan harus mempertimbangkan unsur : reliability, understandability dan comparability.

Daftar Pustaka Konsep Dasar Akuntansi Konvensional Syariah
IAI, 1999. Draft PSAK Perbankan Syariah, Jakarta.

Smith Jr, Jay M. and K. Fred Skousen, 1992. Intermediate Accounting, South Western Publishing Co, Cincinati, Ohio.