Biografi Ibn Hazm Profil serta Perjalanan Hidupnya

Posted by Sanjaya Yasin 0 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

Biografi Ibn Hazm Profil serta Perjalanan Hidupnya

Ibn Hazm lahir pada hari terakhir bulan Ramadhan tahun 384 H/ 994 M di Manta Lisyam (Cordoba) ( Abd al-Latif Syararah, Ibn Hazm Raid al-Fikr al-Ilmi, t.k : Al-Maktab at-Tijari, t.t., hal. 35.)  Nama lengkap beliau adalah Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa'ad bin Hazm bin Galib bin Salih bin Sofyan bin Yazid. Ibn Hazm merupakan keturunan Persia. Kakeknya, Yazid berkebangsaan Persia, Maula Yasib bin Abi Sufyan al-Umawi. (Ibid., hal. 36.)

Ayahnya, Ahmad bin Sa'id, termasuk golongan orang cerdas yang memperoleh kemuliaan di bidang ilmu dan kebudayaan. Karena kecerdasannya itulah, ia merasa heran terhadap orang yang kacau dalam perkataannya, ia berkata "Sungguh saya heran terhadap orang yang kacau balau dalam khithabah (pidato)-nya, atau tidak tepat dalam penulisannya. Karenanya, jika orang tersebut ragu dalam sesuatu, ia harus meninggalkannya dan berpindah pada hal yang tidak meragukannya, karena sesungguhnya kalam  lebih luas daripada ini. (Al-Hamidi, Jazhwah al-Muqtabis, Dar al-Qawmiyyah, 1966, hal. 126.)

Kehidupan keluarga Ibn Hazm yang berbahagia dan berkecukupan ini tidak berlangsung lama. Sebab ketika itu ayahnya sebagai salah seorang menteri pada akhir pemerintahan umayyah yang pertama di Andalus. Bencana tak menimpanya ketika terjadinya pergantian penguasa. Sebagai seorang pemangku kekuasaan khalifah Umawiyah, Hisyam, Abu Mansur al-Amiri telah bertindak sedemikian jauh. Khalifah tidak lebih dari sebuah boneka belaka. Karena itu, tidak aneh bila di sana-sini sering terjadi pemberontakan, yang dimulai sejak tahun 398 H hingga waktu yang tidak ditentukan. Para pemberontak menyerang, merampok dan mengobrak-abrik Cordoba barat. Akibatnya, terjadi pengungsian besar-besaran. Keluarga Ibn Hazm terpaksa mengungsi kediaman lamanya di Cordoba timur tempatnya desa Bilat Magis pada tahun 399 H. Dalam kondisi yang tidak menentu inilah Ahmad ayah Ibn Hazm dipanggil ke hadirat Alloh SWT pada tahun 402 H.( Abu Zahrah, Ibn Hazm, hlm. 29-30.)

 
Pendidikan Dasar Ibn Hazm

Dalam buku Tauq al-Hamamah karyanya sendiri, Ibn Hazm secara panjang lebar mengungkap otobiografinya. Ibn Hazm memaparkan bahwa dirinya mula-mula memperoleh pendidikan dasarnya dari para jawari, wanita-wanita slav yang melayani keluarganya ayahnya. Dari mereka Ibn Hazm belajar membaca, menulis, puisi dan menghapal al-Qur'an. Ibn Hazm berada dalam bimbingan mereka para wanita hingga ia menginjak usia menjelang dewasa.( Ibid., hlm. 27.)
Ketika memasuki usia dewasa, Ibn Hazm diserahkan oleh ayahnya kepada seorang ulama yang alim. Zahid dan wira'i, yaitu Abu al-Husaini bin Ali al-Farisi. Dalam bimbingannya Ibn Hazm diperkenalkan dengan banyak ulama dalam berbagai disiplin ilmu. Ibn Hazm pernah diajak menghadiri majlis ta'lim Abu-Qasim Abdurrahman al-Azdi. Dari sinilah bermula pembentukan kepribadian Ibn Hazm yang walau terkenal tajam dan pedas lisannya, namun memiliki rasa keikhlasan yang tinggi dan konsisten antara ilmu dan amal. Semua ini tidak bisa dilepaskan dari jasa ayahnya yang sangat memperhatikan pendidikannya. Bahkan Abu Laila menyatakan bahwa ayahnya punya peran yang besar dalam pembentukan karakter Ibn Hazm. Sebab ia berperan sebagai ayah, ibu sekaligus guru bagi anaknya. (Abu Laila, Life an Work of Ibn Hazm, hlm. 76.)


Ibn Hazm Sepeninggal Ayahnya
Ketentraman Cordoba yang tidak kunjung tiba memaksa keluarga Ibn Hazm untuk berhijrah ke Almeria sebuah kota yang berada di tepi pantai yang merupakan kota kedua sesudah Cordoba. Kota ini didiami oleh penduduk yangmayoritas adalah pendukung Abu Mansur al-Amiri. Di Almeria Ibn Hazm benar-benar menikmati ketenangan dan ketentraman. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk membaca, menulis dan berdiskusi dengan para ulama dan cendekiawan setenmpat. Aktifitas intelektual Ibn Hazm semakin menanjak dan semakin matang. Namun pada tahun 407 H keadaan tersebut terasa hilang ketika ia dan temannya, Muhammad bin Ischaq dituduh membuat gerakan bawah tanah untuk mengibarkan benera Umayyah. Karena itu, pemerintahan alawaiyyiin yang berkuasa menangkap dan memenjarakan keduanya. Atas jasa pejabat yang loyal pada Abu Mansur keduanya akhirnya dibebaskan untuk kemudian diserahkan kepada salah seorang sahabatnya seorang ulama yang bernama Abu al-Qasim Abdullah bin Hudail yang lebih dikenal dengan sebutan Ibn al-Muqaffal. Keduanya menjadi tamu istimewa ulama itu selama sebulan sesudah di penjara selama sebulan. Sesudah itu keduanya berangkat menuju Valensia untuk mendukung al-Murtada dalam rangka mengibarkan bendera Umayyah kembali. (Ibid., hlm. 41.)
Ibn Hazm
Dalam pemerintahan al-Murtada Ibn Hazm diangkat sebagai salah seorang menteri. Namun, oleh karena besarnya alawiyyin, maka ketika terjadi petempuran antara keduanya di Granada, al-Murtada tewas, sedangkan yang masih hidup ditawan termasuk Ibn Hazm lalu kembali ke Cordoba yang telah ditinggalkannya selama 6 tahun. Di Cordoba Ibn Hazm kembali menekuni bidang yang sangat diminatinya yaitu ilmu pengetahuan. Diskusi dan perjalanan ilmiah selalu ia lakukan bila ada kesempatan. Perubahan politik di Cordoba rupanya menarik Ibn Hazm untuk terjun didalamnya. Perubahan itu terjadi ketika penduduk Andalusia menurunkan penguasa alawiyyin secara paksa dan menggantikannya dengan mengangkat turunya umayyah yaitu Abdurrahman bin Hisyam bin Abdul Jabbar sebagai khalifah. Dalam pemerintahan ini Ibn Hazm diangkat sebagai seorang menteri. Namun oleh karena usianya yang masih belia, khalifah baru ini selalu curiga kepada orang yang ada di sekitarnya.dengan semena-mena ia memecat mereka. Karena itu, penduduk Cordoba memberontak dan berhasil membunuhnya setelah sempat memerintah selama 2 bulan, sedangkan yang masih hidup ditawan termasuk Ibn Hazm berada didalamnya. Sejarah tidak mecatat kapan Ibn Hazm dibebaskan. Disinyalir ia dibebaskan tak lama sesudah itu. (Ibid.)

Sesudah peristiwa itu Ibn Hazm bersikeras untuk menekuni ilmu tanpa menengok kehidupan politik. Perjalanan ilmiah ia lakukan hampir ke seantero Andalusia. Ia sering menetap di suatu kota dalam waktu yang lama untuk menyebarkan pemikirannya. Biasanya sesudah menulis sebuah buku, Ibn Hazm lantas menyebarkannya ke berbagai daerah.bahkan ketika di Murcia, Ibn Hazm memperoleh pengikut yang sangat besar jumlahnya. Sebab penguasa Murcia saat itu adalah kawan dekat ibn hazm yaitu Ibn Rasyiq. Namun sesudah wafatnya Ibn Rasyiq lambat laun pengikut Ibn Hazm semakin berkurang. Hal ini disebabkan kehadiran al-Baji seorang ulama yang menimba ilmu dari dunia timur. Tak henti-hentinya, al-Baji membantah dan membantai pendapat-pendapat Ibn Hazm. Oleh karena itu kalah pamor akhirnya Ibn Hazm meninggalkan Murcia. (Ibid., hlm. 47.)

Yang paling tragis adalah penderitaan yang menimpa Ibn Hazm ketika menetap di Sevilla dengan mata kepalanya Ibn hazm menyaksikan pembakaran buku-bukunya oleh penguasa Sevilla yaitu al-Mua'tadid yang memerintah pada tahun 439-464 H. Hati Ibn Hazm benar-benar hancur menerima kenyataan ini. Untung Ibn Hazm telah banyak mengalami penderitaan bahkan yang lebih besar daripada ini. Sehingga peristiwa ini terasa agak ringan. (Ibid., hlm. 49.)

Pembakaran ini bisa dimengerti, sebab Ibn Hazm merupakan pemikir muslim yang merdeka, mandiri dan berani menentang arus masanya. Kehidupan keluarganya yang serba kecukupan dalam harta, kedudukan dan kehormatan membuatnya tidak tergantung kepada orang lain. Kemandiriannya mengantarkannya sebagai orang yang merdeka dalam cara berpikir, berkata dan berperilaku. Ia tidak membenarkan dirinya mengikuti pendapat orang lainyang tidak sesuai dengan keyakinannya, apapun alasannya. Karena itu, wajar bila kemudian Ibn Hazm sering terlibat perdebatan sengit dengan lawan bicaranya, khususnya kalangan fuqaha. Ibn Hazm terkenal sangat keras, padas dan tajam lisan dan penanya. Ketika berdebat Ibn Hazm sering menggunakan kata yang sangat menyinggung perasaan dalam bicaranya. Misalnya kata-kata jahl, hamq dan lain-lain. Dari sini bisa dipahami mengapa mereka tidak menyukai Ibn Hazm yang ujung-ujungnya adalah pembakaran terhadap sebagian besar buku Ibn Hazm. (Abd al-Latif Syararah, Ibn Hazm, hlm. 48-49.)

Apalagi saat itu mayoitas penduduk Anadalusia bermazhab pada salah satu dari empat mazhab yang terbesar adalah Maliki. Siapa saja yang keluar dari salah satunya dipandang telah keluar dari jalan yang benar. Di sisi lain latar belakang Ibn Hazm menjadikannya sebagai orang yang benar-benar merdeka dalam berpikir dan bertindak. Pendapat siapapun yang tidak sesuai dengan kebenaran yang diyakininya berasal dari Allah, maka ia tinggalkan, tidak peduli apakah ia seorang sahabat, tabi’in atau ulama. Sehingga tidak sulit menemukan tulisan Ibn Hazm yang membantah dan menghujat mereka. Atas dasar inilah hati para ulama terasa semakin sesak. Akhirnya mereka memohon kepada penguasa Sevilla. Al-Mu’tadid punya kepentingan politik sendiri dalam menyingkirkan Ibn Hazm. Sebab latar belakang Ibn Hazm adalah pendukung utama Bani Umayyah yang sewaktu-waktu siap meruntuhkan dirinya. Karenanya, permohonan para ulama itu bagai pucuk dicinta ulam pun tiba. Tanpa basa-basi al-Mu’tadid memerintahkan agar seluruh kitab Ibn Hazm dibakar. Sesungguhnya tindakan tersebut telah melampaui batas keinginan para ulama. Al-Mu’tadid sebenarnya cukup menghentikan langkah Ibn hazm dengan mengasingkannya ke wilayah lain. Namun yang jelas motif politis lebih mendominasi tindakan yang dilakukan penguasa Sevilla ini. Tindakan yang bertujuan menegakkan syiar agama telah disusupi oleh hawa nafsu dan kepentingan pribadi. (Abu zahrah, Ibn Hazm, hlm. 52-53.)

Akhirnya Ibn Hazm terpaksa meninggalkan Sevilla menuju tempat tinggal para leluhurnya sewaktu pertama kali dating ke Andalusia, yaitu desa Manta Lisyam yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota. Di sini Ibn Hazm semakin berkonsentrasi untuk membaca menulis dan mendidik penerus perjuangannya. Santri-santri berdatangan dari berbagai penjuru Andalusia. Tidak sedikit diantaranya yang menjadi ulama-ulama besar, seperti al-Humaidi. (Ibid., hlm. 54.)

Ibn Hazm sempat beristeri dan beranak pinak. Ibn Hazm memiliki  3 orang anak yang merupakan tokoh-tokoh ulama dan cendekiawan serta penmerus perjuangan yang telah dirintiskannya. Mereka adalah Abu Rafi’ Fadl, Abu Sulaiman al-Mus’ab dan Abu Salamah Ya’qub. Yang paling menguasai ilmu Ibn Hazm adalah Abu Rafi’. Ia seorang ulama yang diperhitungkan. (Ibid)

Ibn Hazm meninggal dunia pada 28 Sya’ban tahun 456 H/ 5 April 1064 di Manta Lisyam. (Abd al-latif Syararah,  Ibn Hazm, hlm. 50.)


Sumber-sumber Hukum Ibn Hazm dan Pemikirannya
Menurut Ibn Hazm sumber hukum Islam ada 4 macam yaitu: al-Qur’an, Hadis Sahih, Ijma’ dan dalil.( Ibn Hazm, al-Ihkam, I : 70.)  Al-Qur’an bagi Ibn Hazm merupakan pesan dan perintah Allah kepada manusia untuk diakui dan dilaksanakan kandungan isinya diriwayatkan secara benar, tertulis dalam mushaf dan wajib dijadikan pedoman. (Ibid., hlm. 94.)
Hadis sahih sebagai sumber kedua menurut Ibn Hazm bersifat saling melengkapi dengan al-Qur’an. Kedua sumber ini merupakan satu kesatuan yang wajib ditaati. (Ibid., I : 95.)
Hal ini didasarkan pada firman Allah

يايهاالذين امنوااطيعوالله ورسوله(Al-Anfal (8): 20.)
Dengan demikian al-Qur’an tidak berperan sebagai pemutus terhadap as-Sunnah dalam arti untuk diterimanya suatu hadis harus terlebih dahulu dihadapkan pada al-Qur’an. Sebaliknya as-Sunnah tidak berlaku sebagai pemutus terhadap al-Qur’an dalam arti as-Sunnah adalah satu-satunya jalan untuk mengerti dan memahami al-Qur’an. Keduanya adalah dua bagian dari wahyu yang saling melengkapi dan tidak terpisah antara satu dengan yang lain(Abu Zahrah, Ibn Hazm, hlm. 298.)

Sumber hukum yang ketiga adalah ijma’ seluruh umat Islam. Maksudnya adalah ijma’ sahabat. Sebab mereka telah menyaksikan tauqif dari rasulullah padahal ijma’ hanya bisa terjadi melalui tauqif. Juga karena mereka adalah semua orang mukmin dan tidak ada manusia mukmin selain mereka saat itu. Jadi, ijma’ orang-orang yang seperti ini adalah ijma’ seluruh orang-orang mukmin. Adapun ijma’ semua masa sesudah mereka hanyalah ijma’ sebagian orang mukmin bukan ijma’ seluruhnya(Ibn Hazm, Al-Ihkam, I : 553.)

Adapun obyek atau sandaran ijma’ menurut Ibn Hazm adalah berasal dari nass. Tidak boleh terjadi ijma’ tanpa disandarkan pada nass, sebab usaha manusia dalam rangka menemukan illat tidak mungkin sama dikarenakan perbedaan tujuan dan tabiat mereka. (Ibid., I : 545.)
Ibn Hazm tidak menjelaskan arti ijma’ secara definitive tetapi membaginya dalam dua bagian. 
  1. Pertama; segala sesuatu yang tidak diragukan lagi keberadaannya sekalipun hanya oleh seorang muslim, seperti dua kalimat syahadat,kewajiban menjalankan sholat lima waktu, keharaman bangkai, darah dan babi, pengakuan terhadap al-Qur’an dan kuantitas zakat. 
  2. Kedua ; sesuatu yang telah disaksikan oleh seluruh sahabat tentang perilaku rosul atau suatu keyakinan bahwa rasul telah memberitahukan sikap beliau kepada orang-orang yang telah hadir di hadapan beliau.
Sumber keempat adalah Dalil. Dalil adalah kesimpulan yang diambil dari pemahaman terhadap dalalah ijma’dan nass.
Adapun dalil yang diambil dari nass menurut Ibn Hazm ada 7macam sebagai berikut:
  • Pertama :  konklusi dari 2 premis yang tidak dinasskan pada salah satunya.
  • Kedua  : penerapan syarat yang digantungkan dengan satu bentuk perbuatan tertentu.
  • Ketiga    :  peredaksian satu makna dengan berbagai ungkapan 
  • Keempat: pemberlakuan hukum asal berdasar keumuman nass ketika terdapat peristiwa hukum yang tidak dinasskan kehalalan dan keharamannya.
  • Kelima  : putusan-putusan bertingkat dalam arti yang lebih tinggi berada di atas yang berikutnya walaupun tidak ada nass tentang hal itu. 
  • Keenam : kesimpulan yang diambil dalam logika pemutarbalikan setara. 
  • Ketujuh : konsekwensi logis dari makna lafal suatu nass.
Semua ini pada dasarnya menurut Ibn Hazm hanyalah makna-makna nass sendiri dan pemahaman terhadapnya. Ini semua berada di bawah batas-batas nass belum keluar darinya. Sebab dalil-dalil ini adalah perincian dari nass yang masih global atau pengungkapan satu makna dengan berbagai redaksi yang berbeda.
Sedangkan dalil yang diambil dari ijma’ ada 4 macam, yaitu;
  • Pertama :  istishab al-haal.
  • Kedua    :  aqallu ma qila 
  • Ketiga : ijma’ para sahabat untuk meninggalkan pendapat yang dipertentangkan 
  • Keempat : ijma’ para sahabat bahwa hukum yang berlaku bagi seluruh kaum muslimin adalah sama.                                                                                                       
Karya Ibn Hazm meliputi bidang fiqih, usul fiqih, hadis, mustalah hadis, aliran-aliran agama-agama, sejarah sastra, silsilah dan karya-karya apologetik yang berjumlah kurang lebih 400 jilid yang ditulis dengan tangan sendiri. Karya-karya Ibn Hazm tidak dapat diketahui semua, sebab sebagian besar karyanya musnah dibakar oleh penguasa dinasti al-mu’tadid al-Qadi al-Qasim Muhammad bin ismail bin ibad (1068-1091 M).
Adapun karya Ibn Hazm yang masih diketahui antara lain :
  1. Bidang Sastra
    a.    Diwan  as-Syi’ri
    b.    Tauq al-Hamamah fi al-Ifati wa al-Ilaf
    c.    Al-Akhlaq wa as-Siyar fi Mudawa an-Nufus 
  2. Bidang Fiqih
    a.    Al-isal ila fahmi al- khisal
    b.    Al- Khisal al-Jami’ah
    c.    Al-Muhalla 
  3. Bidang usul Fiqh
    a.    Al-ihkam fi usul al-ahkam
    b.    Maratib al-ijma’ au Mutaqa al-ijma’
    c.    Kasy al-iltibas Ma baina Ashab az-Zahir 
  4. Bidang Perbandingan Agama
    a.    Al-Fisal fi al-Milal wa an-Nihal wa al-Ahwa’
    b.    Izharu Tabdil al-Yahudi wan an-Nasara li at-Taurah wa al-Injil wa bayani Tanaqud Ma bi aidihim min Zalika mimma La Yahtamil at-Ta’wil 
  5. Bidang Aliran-Aliran Agama
    a.    An-Nasaih al-Munjiyat min ak-Fadaih al-Muhkhziyah wa al-Qabaih al-Murdiyah min Akwal Ahl al-Bida’I min al-Firaq al-Arba’I al-Mu’tazilah, al-murji’ah, al-khawarij wa al-syi’ah.
    b.    As-Sadi’ wa ar-Radi’ 
  6. Bidang Hadis
    a.    Syarh Hadis al-Muwatto’ wa al-Kalam ala Masalih
    b.    Kitab al-Jami’ fi Sahih al-Hadis 
  7. Bidang Sejarah
    a.    Jamharah al-Ansab al-Arab
    b.    Al-Imamah wa al-Khilafah
    c.    Al-Fihrasah 
  8. Bidang Filsafat

Semoga bermanfaat dengan Artikel Biografi Ibn Hazm Profil serta Perjalanan Hidupnya


Artikel Menarik lainnya :