Pengertian Perkawinan Makalah Masalah Tujuan Definisi Perkawinan Menurut Para Ahli

Posted by Sanjaya Yasin 1 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

Pengertian Perkawinan - Menurut Undang-Undang Perkawinan, yang dikenal dengan Undang-Undang No.1 Tahun 1974, yang dimaksud dengan perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa
Judul Artikel (Pengertian Perkawinan Makalah, Masalah, Tujuan, Definisi, Perkawinan Menurut Para Ahli)


Menurut Bachtiar (2004), Definisi Perkawinan adalah pintu bagi bertemunya dua hati dalam naungan pergaulan hidup yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama, yang di dalamnya terdapat berbagai hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh masing-masing pihak untuk mendapatkan kehidupan yang layak, bahagia, harmonis, serta mendapat keturunan. Perkawinan itu merupakan ikatan yang kuat yang didasari oleh perasaan cinta yang sangat mendalam dari masing-masing pihak untuk hidup bergaul guna memelihara kelangsungan manusia di bumi.

Terruwe (dalam Yuwana & Maramis, 2003) menyatakan bahwa perkawinan merupakan suatu persatuan. Persatuan itu diciptakan oleh cinta dan dukungan yang diberikan oleh seorang pria pada isterinya, dan wanita pada suaminya.

Menurut Goldberg (Yuwana & Maramis, 2003), perkawinan merupakan suatu lembaga yang sangat populer dalam masyarakat, tetapi sekaligus juga bukan suatu lembaga yang tahan uji. Perkawinan sebagai kesatuan tetap menjanjikan suatu keakraban yang bertahan lama dan bahkan abadi serta pelesatarian kebudayaan dan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan inter-personal.

Menurut Kartono (1992), Pengertian perkawinan merupakan suatu institusi sosial yang diakui disetiap kebudayaan atau masyarakat. Sekalipun makna perkawinan berbeda-beda, tetapi praktek-prakteknya perkawinan dihampir semua kebudayaan cenderung sama perkawinan menunujukkan pada suatu peristiwa saat sepasang calon suami-istri dipertemukan secara formal dihadapan ketua agama, para saksi, dan sejumlah hadirin untuk  kemudian disahkan secara resmi dengan upacara dan ritual-ritual tertentu.

Menurut Saxton (1986) , perkawinan mengatakan bahwa memiliki dua makna, yaitu :

a.    Sebagai suatu institusi sosial
Suatu solusi kolektif terhadap kebutuhan sosial. Eksistensi dari perkawinan itu memberikan fungsi pokok untuk kelangsungan hidup suatu kelompok dalam hal ini adalah masyarakat.

b.    Makna individual
Perkawinan sebagai bentuk legitimisasi (pengesahan) terhadap peran sebagai individual, tetapi yang terutama,  perkawinan di pandang sebagai sumber kepuasan personal.

Berdasarkan berbagai definisi tentang perkawinan di atas, dapat disimpulkan bahwa perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan sebagai suami isteri yang memiliki kekuatan hukum dan diakui secara sosial dengan tujuan membentuk keluarga sebagai kesatuan yang menjanjikan pelestarian kebudayaan dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan inter-personal.


Tujuan  Dan Harapan Perkawinan

Perkawinan merupakan kebutuhan fitri setiap manusia yang memberikan banyak hasil yang penting, diantaranya adalah  pembentukan sebuah keluarga yang didalamnya seseorang pun dapat menemukan kedamaian pikiran. Orang yang tidak  kawin bagaikan seekor burung tanpa sarang. Perkawinan merupakan perlindungan bagi seseorang yang merasa seolah-olah hilang dibelantara kehidupan, orang dapat menemukan pasang hidup yang akan berbagi dalam kesenangan dan penderitaan.

Perkawinan merupakan aktivitas sepasang laki-laki dan perempuan yang terkait pada suatu tujuan bersama yang hendak dicapai. Dalam pasal 1 Undang-Undang perkawinan tahun 1974 tersebut diatas dengan jelas  disebutkan, bahwa tujuan perkawinan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Menurut Walgito (2000), masalah pernikahan adalah hal yang tidak mudah, karena kebahagiaan adalah bersifat reltif dan subyektif. Subyektif karena kebahagiaan bagi seseorang belum tentu berlaku bagi orang lain,  relatif karena sesuatu hal yang pada suatu waktu dapat menimbulkan kebahagiaan dan belum tentu diwaktu yang juga dapat menimbulkan kebahagiaan.

Masdar Helmy (dalam Bachtiar, 2004) mengemukakan bahwa tujuan perkawinan selain memenuhi kebutuhan hidup jasmani dan rohani manusia, juga membentuk keluarga dan memelihara serta meneruskan keturunan di dunia, mencegah perzinahan, agar tercipta ketenangan dan ketentraman jiwa bagi yang bersangkutan, ketentraman keluarga dan masyarakat.

Menurut Soemijati (dalam bachtiar, 2004) tujuan perkawinan adalah untuk memenuhi tuntutan hajat tabiat kemanusiaan, berhubungan antara laki-laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan keluarga bahagia dengan dasar cinta dan kasih sayang, memperoleh keturunan yang sah dengan mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah diatur oleh hukum.

Menurut Bachtiar (2004), membagi lima tujuan perkawinan yang paling pokok adalah:
  • Memperoleh keturunan yang sah dalam masyarakat, dengan mendirikan rumah tangga yang damai dan teratur
  • Mengatur potensi kelamin
  • Menjaga diri dari perbuatan-perbuan yang dilarang agama
  • Menimbulkan rasa cinta antara suami-isteri
  • Membersihkan keturunan yang hanya bisa diperoleh dengan jalan pernikahan.

Sedangkan Ensiklopedia Wanita Muslimah (dalam bacthtiar, 2004), tujuan perkawinan adalah:
  • Kelanggengan jenis manusia dengan adanya keturunan
  • Terpeliharanya kehormatan
  • Menenteramkan dan menenagkan jiwa
  • Mendapatkan keturunan yang sah
  • Bahu-membahu antara suami-isteri
  • Mengembangkan tali silaturahmi dan memperbanyak keluarga

Suardiman (dalam maharani, 2002) menunjukkan beberapa tujuan yang dicapai dalam perkawinan
  • Menuruti hasrat perkawinan
  • Menurunkan keturunan untuk melestarikan jenis kelamin
  • Memperluas hubungan keluarga
  • Memperoleh kesenangan dalam hidupnya
  • Memperoleh kawan sehidup semati
  • Mendidik dan membimbing anak

Perkawinan merupakan kebutuhan fitri setiap manusia yang memberikan banyak hasil yang penting, di antaranya adalah: (http://Indonesian.Irib.ir)
  • Pembentukan sebuah keluarga yang di dalamnya seseorang dapat menemukan kedamaian pikiran. Orang yang tidak kawin bagaikan seekor burung tanpa sarang. Perkawinan merupakan perlindungan bagi seseorang yang merasa seolah-olah hilang di belantara kehidupan; orang dapat menemukan pasangan hidup yang akan berbagi dalam kesenangan dan penderitaan.
  • Gairah seksual merupakan keinginan yang kuat dan juga penting. Setiap orang harus mempunyai pasangan utnuk memenuhi kebutuhan seksualnya dalam lingkungan yang aman dan tenang. Orang harus menikmati kepuasan seksual dengan cara yang benar dan wajar. Orang-orang yang tidak mau kawin seringkali menderita ketidakteraturan baik secara fisik maupun psikologis. Ketidakteraturan semacam itu dan juga persoalan-persoalan tertentu merupakan akibat langsung dari penolakan kaum muda terhadap perkawinan.
  • Reproduksi atau sebagai wadah untuk melangsungkan keturunan. Melalui perkawinan, perkembangbiakan manusia akan berlanjut. Anak-anak adalah hasil dari perkawinan dan merupakan factor-faktor penting dalam memantapkan fondasi kelaurga dan juga merupakan sumber kebahagiaan sejati bagi orangtua mereka.


Harapan yang sering dikemukakan bagi pasangan yang sudah menikah adalah: 
  • Melakukan segala sesuatu bersama-sama
  • Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan pribadi yang mendalam
  • Mempunyai pendapat dan perasaan yang sama mengenai berbagai hal
  • Keinginan untuk selalu memperhatikan dan diperhatikan oleh pasangan
  • Sering melakukan percintaan dan bermesraan dengan pasangan
  • Hilangnya kebiasaan-kebiasaan buruk pasangan karena pengaruh dari rasa cinta kasih setelah perkawinan
  • Dapat beradaptasi dengan problem-problem yang terjadi dalam kehidupan perkawinan
  • Perkawinan yang hendak dijalani nantinya berbeda dengan perkawinan yang kurang menyenangkan seperti yang pernah dilihat dan ditemui sebelumnya.

Menurut Yuwana dan Maramis (2003), harapan istri adalah seorang istri menginginkan dukungan dan pengukuhan, oleh karena dari kodratnya wanita memang tidak berusaha untuk berdiri sendiri. Mereka ingin tetap tergantung dan demi keamanan, mereka memerlukan dukungan dan pengukuhan dari pihak suaminya. Mereka menginginkan dukungan dalam semua aspek kehidupannya, dan dukungan itu adalah dari suami mereka. Sementara harapan suami adalah hal pertama yang diharapkan bagi suami terhadap istrinya ialah cinta dan pengabdian.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan dan harapan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dengan penuh rasa cinta, mendapatkan keturunan, memenuhi kebutuhan hidup jasmani dan rohani, dan menghindari perzinahan sehingga tercipta ketenangan dan ketentraman jiwa.

Pengertian Perkawinan


Alasan-Alasan Melakukan Perkawinan

Pendapat Bornstein & Bornstein (dalam Septriasih, 2004), alas an yang mendasari individu melakukan suatu perkawinan adalah cinta, kebutuhan persahabatan dan harapan terpenuhinya pengembangan diri.

Menurut Duvall, (1996), ada beberapa alasan mengapa individu terlibat dalam perkawinan, yaitu :
  • Untuk sekedar kawin, karena banyak rekan yang telah melangsungkan perkawinan.
  • Untuk meluputkan diri dari beban hidup
  • Untuk mengobati patah hati 
  • Adanya tekanan dari keluarga
  • Daya tarik seksual
  • Sekedar menikmati kesenangan.

Selain pendapat diatas, Duvall menambahkan alasan lain yang lebih obyektif dan lebih dapat diterima, yaitu alasan bahwa tiap individu membutuhkan teman hidup yang dapat memberikan cinta kasih serta keinginan untuk memiliki keturunan.


Masalah-Masalah Perkawinan

Menurut Bachtiar (2004), masalah-masalah sering timbul dalam kehidupan perkawinan akan mempengaruhi kebahagiaan dalam perkawinan. Secara potensial sumber masalah atau konflik berada pada beberapa faktor :


a.    Komunikasi

Salah satu hal yang sampai saat ini diyakini sebagai penyebab utama konflik atau masalah adalah komunikasi yang buruk. Ini bisa berupa verbalisasi yang tidak jelas, cara bicara yang menyakitkan, penggunaan kata-kata yang kurang baik, ekspresi wajah yang tidak menyenangkan, nada suara yang merendahkan atau melecehkan pihak lain, dan sebagainya.

b.    Pembagian peran
Pembagian peran dalam kehidupan rumah tangga penting. Kalau pembagian itu tidak seimbang, maka dapat dipastikan konflik akan muncul.

Dari awal pernikahan, setiap pasangan suami-istri melakukan peran dalam menyelesaikan tugas-tugas dalam pernikahannya. Pembagian peran bisa dijelaskan berdasarkan jenis kelamin atau berdasarkan kemampuan dan keterampilan masing-masing.

c.    Perbedaan inidvidual
Potensi sumber masalah terbesar dalam perkawinan adalah perbedaan individu suami-istri, terutama yang bersumber pada sistem nilai dan ciri kepribadian masing-masing suami-istri. Nilai-nilai yang berbeda sangat mudah menimbulkan masalah, apalagi pada saat mengambil keputusan.


Penyesuaian Perkawinan


Ada beberapa ahli Sinha dan Mukerjee mendefinisikan penyesuaian perkawinan sebagai suatu bagian dimana terdapat sebuah perasaan bahagia antara suami dan istri, kepuasaan dalam perkawinannya, pemberian perhatian yang saling menguntungkan, saling peduli, saling mengerti dan saling menerima pasangan dan juga orang lain yang ada disekitar.
Scheimers (dalam bachtiar, 2004) menyebutkan bahwa konsep penyesuaian perkawinan pada dasarnya merupakan suatu sesi untuk hidup secara efektif dan bermanfaat dalam menghadapi tuntutan sehari-hari, perubahan-perubahan, tanggung jawab, relasi dan harapan-harapan dengan mengunakan ketenangan hati dan segala sesuatu yang merupakan bagian dari perkawinan. Dan dari respon terhadap penyesuaian itu, apakah suatu hal itu dinilai baik atau buruk, dapat dianggap sebagai suatu usaha dari individu untuk mengurangi atau melarikan diri dari tekanan dalam usaha untuk memperbaiki kondisi equilibrium.


Daftar Pustaka - Pengertian Perkawinan Makalah, Masalah, Tujuan, Definisi, Perkawinan Menurut Para Ahli

Bachtiar, A. (2004). Menikahlah, Maka Engkau Akan Bahagia!. Yogyakarta : Saujana

Maramis, W.F. & Yuwana, T.A. (1990). Dinamika Perkawinan Masa Kini. Malang : Diana

Kartono, K. (1992). Psikologi Wanita : Gadis Remaja dan Wanita Dewasa. Bandung : Mandar Madu.

Walgito, B. (2000). Bimbingan dan Konseling Perkawinan. Edisi kedua. Yogyakarta. Penerbit ANDI


Artikel Menarik lainnya :