Pengaruh Kecerdasan Spritual Terhadap Keharmonisan Rumah Tangga Suami Istri

Posted by Sanjaya Yasin 1 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

Pengaruh Kecerdasan Spritual Terhadap Keharmonisan Rumah Tangga  - Keluarga itu diciptakan bukan diwarisi. Maka ciptakan keluarga dengan penuh imaji dan keriangan. Menciptakan keluarga dengan lebih baik berarti menyeimbangkan kepedulian pada fikiran, tubuh dan jiwa anda sendiri, hingga memberi tenaga pada diri sendiri untuk merawat dan menciptakan  lebih banyak keseimbangan dalam kehidupan priribadi dan keluarga. (Mimi Doe, SQ Untuk Ibu.,hal 19)

Pengaruh Kecerdasan Spritual Terhadap Keharmonisan Suami Istri atau Rumah Tangga - Setiap keluarga pasti mendambakan keharmonisan di dalamnya. Keharmonisan dapat diciptakan dari keseimbangan, karena keseimbangan akan memungkinkan untuk merasakan kegembiraan bersama keluarga, sambil menikmati kehidupan pribadi. Orang yang paling sukses adalah orang yang mengejar hasrat hati sambil mempertahankan keseimbangan hidup, bukan orang yang mengorbankan keluarga atau pekerjaannya untuk meraih ambisi. (Ibid, 16)

Keharmonisan keluarga adalah keputusan, pilihan, dan tanggung jawab kita untuk menciptakannya. Frankl mengatakan bahwa diantara stimulus dan respon terdapat jeda untuk kebebasan memilih respon. Dalam jeda tersebut menurut Covey terdapat anugrah ilahi yaitu: nurani, imajinasi, kesadaran diri dan kehendak bebas. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kita bertanggung jawab atas kehidupan dan perilaku kita. Karena perilaku adalah fungsi dari keputusan, bukan fungsi dari kondisi. Kita mempunyai tanggung jawab untuk membuat segala sesuatunya terjadi. (Stephen R. Covey,.The 7 Habit., hal 59-61) Termasuk disini adalah keharmonisan keluarga. Hal itu adalah keputusan kita, bukan fungsi keadaan.

Untuk menciptakan pilihan kita terhadap terbentuknya keluarga yang harmonis harus dimulai dari paradigma yang merupakan lensa untuk melihat dunia. Covey berpendapat hanya paradigma utuh mengenai kodrat manusia dan berpusat pada prinsip yang benar akan menjadi solusi dalam efektifitas hubungan pribadi dan hubungan antar pribadi. Efektifitas tersebut adalah kunci keberhasilan hubungan terutama hubungan keluarga. (Ibid, hal 21-24)

Prinsip adalah pedoman berperilaku yang terbukti mempunyai nilai yang langgeng dan permanen. Ia adalah kebenaran sesungguhnya dan bersifat mendasar. Adapun contoh penerapan prinsip yang abadi ini adalah; Apakah ada orang yang secara serius mempertimbangkan ketidakadilan, kebohongan, ketidakbergunaan atau degenerasi sebagai landasan fondasi untuk keberhasilan dan kebahagiaan yang kekal? Prinsip yang abadi tersebut memang ada. Semakin sejajar paradigma kita dengan prinsip yang abadi ini, maka semakin akurat dan fungsional paradigma itu jadinya. Paradigma yang benar akan memberi dampak tanpa batas pada efektifitas pribadi dan antar pribadi yang jauh lebih besar dibandingkan upaya untuk mengubah perilaku dan sikap kita (Ibid, hal 24)

Kekuatan paradigma yang tepat adalah menjelaskan dan mengarahkan. Paham dasar mengenai kodrat manusia atau paradigma tidak mudah berubah. Dengan menggunakan Paradigma pribadi utuh maka setiap orang dalam organisasi apapun entah itu keluarga dapat menyalurkan bakat, kecerdikan, dan kreativitas orang-orangnya sehingga organisasi tersebut sungguh hebat dan bertahan lama. Adalah kenyataan dasar bahwa manusia bukan benda yang di kendalikan dan perlu dimotivasi agar bergerak. Paradigma yang tepat atau paradigma pribadi utuh adalah bahwa manusia memiliki empat dimensi yaitu; fisik/ekonomis, mental, sosial/emosional, dan spiritual. Apabila mengabaikan salah satu dari keempatnya maka kita memandang manusia seperti benda yang yang harus dikelola, mengendalikannya, memotivasinya dengan hadiah dan hukuman. Mereka yang diperlakukan dengan menggunakan paradigma prbadi utuh itulah yang mau bekerja sama dengan sukarela, memberikan komitmen sepenuh hati, dan mencurahkan semangat dan kegairahan secara kreatif (Stephen R. Covey, The 8th Habit., hal 33-38)

Tidak semua orang dapat menyandarkan diri pada paradigma utuh yang berpusat  pada prinsip yang benar. Diperlukan usaha atau kecerdasan untuk merubah dari dalam keluar untuk menciptakan perubahan dan solusi untuk bertindak secara efektif dan bijaksana dalam kehidupan terutama keluarga. Diperlukan pula kecerdasan untuk menyadari dan memaknai, menetukan nilai, menghayati pentingnya moral serta cinta terhadap kekuatan yang lebih besar dan sesama makhluk.

Temuan ilmiah modern merumuskan kecerdasan di atas secara lebih sistematis dan menyebutnya dengan istilah kecerdasan spiritual. Menurut Zohar dan Marshal SQ penting dalam kehidupan. Ia menjelaskan bahwa seorang yang SQ-nya tinggi cenderung menjadi menjadi pemimpin yang penuh pengabdian, yaitu seorang yang bertanggung jawab untuk membawakan visi dan nilai yang lebih tinggi terhadap orang lain, ia dapat memberikan inspirasi terhadap orang lain.( Danah Zohar dan Ian Marshal, SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spritual .,hal 14) Penjelasan ini juga berlaku terhadap keluarga dimana kecerdasan ini sangat penting dalam membangun karakter manusia yaitu anggota keluarga yang mengilhami orang di sekitarnya, dan menciptakan pribadi utuh yang mampu bertindak bijaksana sehingga dalam keluarga tadi tercipta suatu kesinambungan.

Mengenai karakter manusia yang mengilhami dan memberikan pengaruh positif berdasarkan visi dan prinsip yang lebih tinggi ini Covey menerangkan bahwa; Kemenangan publik dimulai dengan kemenangan pribadi. Tempat untuk membangun hubungan apa pun adalah di dalam diri sendiri, dalam lingkungan pengaruh, dan karakter. Setiap pribadi yang menjadi mandiri, proaktif, berpusat pada prinsip yang benar, di gerakkan oleh nilai dan mampu mengaplikasikan dengan integritas, maka ia pun dapat membangun hungungan saling tergantung, kaya, langgeng, dan sangat produktif dengan orang lain. (Stephen R. Covey,.The 7 Habit., hal.180-181)

Penerapan dari dalam keluar (manifestasi dari karakter) ini dalam keluarga adalah; apabila kita menginginkan perkawinan yang bahagia, jadilah orang yang memberi energi positif dan menyingkirkan energi negatif atau bahkan memberinya kekuatan untuk berubah. Apabila menginginkan anak yang mau bekerja sama dan lebih menyenangkan jadilah orang tua yang lebih penuh pengertian, berempati, konsisten dan penuh kasih. Jika ingin dipercaya, jadilah layak dipercaya. Adalah sia-sia mendahulukan kepribadian di bandingkan karakter, dan hubungan dengan orang lain sebelum memperbaiki diri sendir. (Ibid, hal 31-32).

Kita bertanggung jawab atas afektivitas kita sendiri, kebahagiaan, dan apapun keadaan kita, menderita atau menyenangkan. Semuanya tergantung bagaimana respon kita terhadap keadaan tadi. Hanya respon yang berdasarkan prinsip yang benarlah dapat menentukan kebahagiaan. Dengan memperbaiki diri sendiri (berkarakter yang berpusat pada prinsip) bukannya mengkhawatirkan keadaan (menjadi sasaran tindakan) maka kita mampu mempengaruhi keadaan tersebut. (Ibid, hal 65-75) Pentingnya SQ adalah sebagai pembimbing kearah prinsip yang akan menjadi karakter dari dalam keluar sebagai fondasi hubungan dan kehidupan yang akan kita jalani. Apalagi didalam keluarga. Keluarga akan menjadi bahagia jika didasari karakter yang berpusat pada prinsip yang hakiki sehingga menuntunnya kearah yang benar dan akahirnya menjadi harmonis.

Senada dengan penjelasan tersebut Zohar dan Marshall menerangkan bahwa bahwa; SQ akan membuat kita mampu dalam menghadapi pilihan dan realitas yang pasti akan datang dan harus kita hadapi kita apapun bentuknya, baik atau buruk, jahat atau dalam segala penderitaan yang tiba-tiba datang tanpa kita duga. SQ dapat digunakan pada masalah krisis yang sangat membuat kita seakan kehilangan keteraturan diri. Dengan SQ suara hati kita akan menuntun kejalan yang lebih benar(Danah Zohar Dan Ian Marshal. SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spritual., hal,12-13)

Kecerdasan spiritual adalah pusat paling mendasar di antara kecerdasan yang lain, dia menjadi sumber bimbingan bagi kecerdasan lainnya, dan mewakili kerinduan akan makna dan hubungan dengan yang tak terbatas (Stephen R. Covey, The 8th Habit., hal79) Menurut Covey seseorang yang telah mengembangkan SQ-nya akan memiliki: Keutuhan pribadi yang akan menjadi sumber kekuatan dahsyat, karena membiasakan berkomitmen dari hal yang terkecil dan mematuhi hati nurani (prinsip yang benar). Akhirnya ia memiliki Integritas-menyatu dengan nilai, keyakinan, dan nurani tertinggi seseorang, serta membentuk hubungan dengan Tuhan. Ia memiliki keinginan untuk memberikan konstribusi terhadap orang lain dan pada tujuan yang bermakna. Menetapkan tujuan hidup pada jalan yang tulus dan penuh kasih sayang, karena perbuatannya akan berpengaruh terhadap orang lain. Menyerlaraskan pekerjaan dengan bakat atau anugerah unik kita, dan panggilan diri kita. Serta menetapkan langkah bijaksana dalam menjalani kehidupan untuk menjadi orang yang bermanfaat(Ibid, hal 522-526)

Kecerdasan spiritual mampu mengungkap yang abadi, yang asasi, yang spiritual, yang fitrah dalam struktur kecerdasan manusia. Kecerdasan spiritual juga mampu membimbing kecerdasan lain berdasarkan prinsip yang hakiki untuk membuat kita lebih arif, lebih bijaksana dari dalam keluar sehingga membuat manusia dapat lebih benar, lebih sempurna, lebih efektif, lebih bahagia, dan menyikapi sesuatu dengan lebih jernih sesuai dengan bimbingan nurani yang luhur dalam keseluruhan hidupnya(Sukidi, Rahasia Sukses Hidup Bahagia., hal 68-76) Atau dengan kata lain mampu membentuk karakter, dan membuat prinsip yang benar akan semakin jelas.

Hal ini sejalan dengan Covey yang menjelaskan “Semakin banyak kita tahu tentang prinsip yang benar, semakin besar kebebasan pribadi untuk bertindak dengan bijaksana. Dengan memusatkan kehidupan kita pada prinsip yang benar (tidak berubah tanpa batas waktu) kita menciptakan paradigma mendasar tentang hidup yang efektif. Pusat inilah yang menempatkan pusat lain pada perspektifnya. Ingatlah bahwa Paradigma adalah sumber dari mana sikap dan perilaku mengalir”( Stephen R. Covey, The 7 Habit., hal 114)

Dalam kehidupan keluarga tindakan bijaksana tersebut adalah faktor yang menciptakan keharmonisan. Karena kebebasan atau kemandirian pribadi untuk bertindak bijaksana membuat hubungan saling tergantung secara efektif dan menambah tingkat kepercayaan dalam hubungan. Lebih jauh Covey menjelaskan paradigma membuahkan karakter yang merupakan akar dalam kemenangan pribadi maupun kemenangan publik. Karakter membuahkan penguasaan diri dan disiplin diri yang merupakan fondasi dari hubungan yang baik dengan orang lain(Ibid, hal 180)

Hubungan keluarga yang harmonis penting untuk membentuk pribadi dan meciptakan keseimbangan. David O. McKay mengajarkan bahwa “tak ada keberhasilan lain yang bisa menggantikan keberhasilan dirumah”. Karena itu setiap pasangan sebagai pemimpin bertanggung jawab untuk menciptakan kebahagiaan. Apabila kepemimpinan yang benar yaitu visi (IQ), disiplin (PQ), gairah hidup (EQ) dan nurani (SQ) tidak terwujud maka kekecewaan terbesar akan datang, melalui penyesuaian yang kecil yang sejalan dengan visi (IQ), disiplin (PQ), gairah hidup (EQ) dan nurani (SQ) akan menciptakan dampak yang sangat besar. Ujian yang paling penting bagi orang tua adalah bagaimana ia menanamkan visi dan sebuah keyakinan bahwa segalanya mungkin, disamping mempraktekkan disiplin dan kesediaan berkorban demi terwujudnya visi itu, dan bertahan dalam saat-saat yang sulit dengan tetap bergairah, bersemangat, dan mempertahankan komitmen, yang kesemuanya dijalankan dengan berpegang teguh atau berdasarkan bimbingan nurani (SQ). Bila bagian dari visi itu adalah melihat budaya itu diwariskan dari generasi kegenerasi mungkin disitu saja hidup kita sudah penuh membahagiakan(Stephen R. Covey, The 8th Habit., hal 139-140)

Kecerdasan spiritual membimbing atau mempengaruhi kecerdasan lain sehingga membuat kesemuanya berjalan sinergis. Dalam organisasi walaupun itu rumah tangga kesinergisan tersebut mutlak diperlukan. Covey menjelaskan proses meningkatkan pengaruh yang efektif  dengan menggunakan SQ sebagai fondasi untuk segala jenis hubungan terutama perkawinan. Adapun proses tersebut adalah: 
  1. Ethos. Berarti kodrat etis, kredibilitas, besarnya kepercayaan atau keyakinan yang dirasakan oleh orang lain terhadap integritas dan kompetensi. Jika seseorang secara konsisten meberikan hasil dengan cara berdasarkan prinsip hakiki untuk hal yang telah dijanjikan dan untuk apa yang diharapkan dari mereka, maka mereka memiliki ethos. SQ.
  2. Pathos adalah empati. Hal ini berarti bahwa anda memahami bagaimana perasaan orang lain, apa kebutuhannya, bagaimana cara pandangnya mengenai berbagai hal, apa yang ingin dia komunikasikan dan apa yang ia rasakan. EQ. 
  3. Logos pada dasarnya berarti logika. Hal ini berkaitan dengan kekuatan dan daya tarik dari cara kita menjelaskan diri dan pemikiran kita. (IQ).

Urutan dari ketiganya sangatlah penting. Adalah hal yang sia-sia untuk bergerak ke logos sebelum orang lain merasa difahami, mencoba memahami saat tidak ada tidak ada keyakinan terhadap karakter kita juga merupakan hal yang takkan membuahkan hasil(Ibid, hal 190-191) 

Kecerdasan spiritual dapat menumbuhkan ketenangan batin yang berpengaruh langsung terhadap keharmonisan rumah tangga. Karena ketenangan batin tersebut berpengaruh terhadap timbulnya rasa cinta dan penyandaran diri. Hal ini sangat penting untuk terbentuknya keluaarga harmonis. Sukidi menjelaskan bahwa “Kecerdasan Spiritual membimbing kita menuju kedamaian hidup secara spiritual”( Sukidi, Rahasia Sukses Hidup Bahagia., hal 72)

Senada dengan pernyataan ini Daradjat menjelaskan bahwa pada waktu seseorang batinnya tenang maka. ia bisa menentramkan batin orang lain, dan membuat orang disekitarnya akan nyaman. Pasangan yang damai hatinya akan membuat nyaman keluarganya, ia akan lebih di cintai karna lebih menarik hati. Peran agama atau spiritualitas sangat menentukan. Karena pada waktu berpusat pada prinsip Ilahi maka ia akan merasa lega dan tentram batinnya. Ia merasa ada yang lebih mengerti dirinya dan menyayangi dirinya senang maupun susah. Akhirnya kemuliaan hati tercermin dalam tingkah laku yang lebih baik dan menarik. Oleh sebab itu orang yang tentram batinnya akan menyenangkan dan menarik bagi orang. Sehingga pasangan dapat menaikkan kualitas cintanya dan kualitas keharmonisannya (Zakiah Dradjat, Ketenangan dan Kebahagiaan Dalam Keluarga.,hal 58-60)



Manifestasi Kecerdasan spiritual dalam sikap dan etika sosial akan mempengaruhi kualitas keharmonisan rumah tangga. Khavari menjelaskan bentuk manifestasi kecerdasan spiritual dalam etika dan sikap sosial adalah: 
  • (a) Dalam sikap sosial individu akan mencerminkan: ikatan kekeluargaan antar sesama, peka terhadap kesejahteraan orang lain dan makhluk hidup lain, bersikap dermawan. 
  • (b) Dalam etika sosial individu akan mencerminkan: Ketaatan seseorang pada etika dan moral, jujur, dapat dipercaya, sopan, toleran, dan anti terhadap kekerasan. Seseorang yang telah memiliki sifat ditas akan mempunyai hati lembut dan penuh kasih sayang yang berakar dari dalam, ia juga akan mencerminkan belas-kasih dan pengorbanan, saling melengkapi dan menyempurnakan, serta saling membantu dan bekerja sama(Sukidi, Rahasia Sukses Hidup Bahagia., hal83-84)

Manifestasi tersebut sangat penting dalam membentuk keharmonisan rumah tangga. Karena karakter yang tertuang sebagai manifestasi kecerdasan spiritual tersebut akan menjadi peta atau paradigma yang menuntun pada perilaku yang benar dalam menjalani kehidupan terutama keluarga, sehingga dalam keluarga akan tertanam iklim yang penuh dengan kehangatan. Apabila hal tersebut telah tertanam dalam diri suami istri maka keharmonisan akan diproleh. Qaimi menjelaskan ”Keluarga harmonis merupakan keluarga yang penuh dengan ketenangan, ketentraman, kasih sayang, keturunan dan kelangsungan generasi masyarakat, belas-kasih dan pengorbanan, saling melengkapi dan menyempurnakan, serta saling membantu dan bekerja sama”( Ali Qaimi, Menggapai Langit Masa Depan Anak., hal 14)

Dlori juga berpendapat bahwa ”Seseorang bisa dikatakan memiliki akhlak dan jiwa yang lembut jika hatinya dipenuhi dengan sifat kasih sayang dan bersifat lembut dalam perilakunya. Inilah yang harus diterakan dalam rumah tangga sebagai pembinaan dan pemeliharaan cinta suami-istri”( Muhammad M. Dlori, Dicinta Suami (Istri) Sampai Mati.,hal 35-36)

Apabila rasa cinta tersebut telah terbina maka keluarga yang harmonis juga akan tercipta, sebagaimana pernyataan Hawari bahwa keluarga akan mencapai taraf keharmonisan apabila tidak hanya didasarkan pada faktor biologis semata, namun aspek kasih sayang (afeksional) harus berlaku didalamnya sebagai pilar utama stabilitas suatau perkawinan. Matriks organisasi keluarga (bio-psiko-sosial-spiritual) haruslah di seimbangkan dengan menjaga tali pengikat didalamnya yaitu tali keharmonisan yang berdasarkan afeksional. (Hawari, Al-Qu’an: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa., hal 770-803) Dradjat juga menjelaskan “Keluarga yang harmonis atau keluarga bahagia adalah apabila kedua pasangan tersebut saling menghormati, saling menerima, saling menghargai, saling mempercayai, dan saling mencintai.”( Zakiah Dradjat, Ketenangan dan Kebahagiaan Dalam keluarga., hal 9) Sumber dari kasih sayang, sikap positif, serta perilaku lembut tadi adalah paradigma yang berpusat pada prinsip. Paradigma yang berpusat pada prinsip tadi sebagai mana dijelaskan diatas dalah bentuk dari kecerdasan spiritual(lihat Covey, The 8 th Habit.,hal 522-526)

Senada dengan pernyataan ini Hawari menjelaskan betapa pentingnya kehidupan beragama atau spiritualitas dalam melihat harmonis / tidaknya rumah tangga. Sebab dalam agama terdapat nilai-nilai moral atau etika kehidupan yang akan menjadi landasan bersikap dan bertidak dalam kehidupan. Kehidupan beragama atau spiritualitas selalu melandaskan kasih sayang dalam memandang kehidupan terutama keluarga. Penelitian menunjukkan bahwa keluarga yang tidak religius, komitmen agamanya rendah, atau yang tidak mempunyai komitmen agama sama sekali beresiko empat kali tidak berbahagia, dan berakhir dengan broken home, perceraian, tak ada kesetiaan, dan kecanduan NAZA(Dadang Hawari, Al-Qu’an: Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa.,hal 805-802)

Suami-istri perlu memupuk dan menjadi orangtua spiritual, yaitu orang yang penuh pengertian dan kasih sayang. Karena dengan menjadi orang tua spiritual pasangan suami istri akan merawat visi, pengalaman, sensasi, dan impian alami anak, yang juga akan berarti selalu membukakan pintu untuk kegembiraan tak terbatas dan kehidupan spiritual bagi seluruh anggota keluarga. Dengan berpijak pada kesadaran spiritual suatu keyakinan terhadap Tuhan, keluarga tersebut akan mendekati segala pengalaman negatif dengan cara baru yang lebih kaya dan penuh cinta, karena hidup dengan berpijak pada Tuhan mengurangi tekanan masalah dan memberi tujuan hidup. Penghakiman digantikan dengan penerimaan, mereka akan menyediakan tanah subur untuk menumbuhkan akar yang akan menjadi pusat hingga besar terhadap anakn mereka untuk menjadi apa adanya dan berbahagia dengan keunikannya. Dalam kehidupan spiritual hal kecil akan menjadi suatu keajaiban untuk merasakan hubungan dengan segala kehidupan, dan untuk membuat setiap hari sebagai permulaan baru yang memperkaya jiwa(Mimi Doe & Marsha Walch,. 10 Prinsip Spritual Parenting: Bagaimana Menumbuhkan dan Merawat Sukma Anak Anda. (Bandung: Penerbit Kaifa, 2001), hal 21-24)

Hal kecil dalam hubungan adalah hal besar, dengan kata lain sangat mutlak di perlukan. Kebaikan dan sopan santun yang kecil-kecilan begitu penting. Karena dengan pemupukan sikap, tindakan, dan ucapan sehari-hari yang bijaksana atau baik akan menumbuhkan dan mengembangkan taraf keparcayaan(Stephen R. Covey,.The 7 Habit., hal 186-187)

Kepercayaan adalah bentuk tertinggi dari motivasi manusia. Kepercayaan menghasilkan yang terbaik dari dari dalam diri manusia. di butuhkan kapasitas internal dan paradigma yang berpusat pada prinsip yang benar untuk mengorganisir dan memberdaya, sehingga membuat keluarga tersebut efektif(Ibid, hal 171) Jika cadangan besar kepercayaan tidak ditunjang oleh deposito yang terus menerus, maka suatu perkawinan akan rusak. Karena hubungan yang paling konstan, seperti perkawinan memerlukan deposito yang konstan(Ibid, hal 183)

Dengan kecerdasan spiritual pribadi akan memiliki pribadi utuh dan berpusat pada prinsip yang benar, sehingga tindakan, ucapan, dan sikapnya menjadi bijaksana dan penuh kebaikan(lihat Stephen R. Covey The 7 Habit., hal,114. dan Stephen R. Covey,  The8 th Habit.,hal 522 -526) Ketika hal tersebut menjadi karakter dan terus dilakukan maka taraf kepercayaanpun akan meningkat, sehingga keharmonisan rumah tangga akan terjalin.

Hubson menjelaskan pentingnya spritualitas untuk keharmonisan rumah tangga. Hal ini menurut Hubson karena meluangkan waktu untuk spiritualitas dan kegembiraan akan menghilangkan kehampaan dan kekosongan yang mengganggu, dan juga akan membimbing kita dalam menghadapi persoalan dan menghadapi masa-masa yang sulit. Penanaman spiritulaitas untuk anak dapat membuat anak menjadi manusia yang memiliki jiwa dan emosi yang sehat, karena sikap yang tercermin akibat spiritualitas tadi akan memeberikan pelajaran dan pemupukan hal yang positif dalam keluarga yang berpengaruh terhadap pertumbuhan pribadi anak(Darlene Powell & Derek S Hubson, Menuju Keluarga Kompak.,hal 260-264)

Meluangkan waktu senggang atau libur untuk kegembiraan dan spiritualitas dapat membantu menyegarkan kembali keluarga, sikap tenang dan rekresi batin dapat dilakukan kapan pun. Keterlibatan dengan alam dan kehidupan kerena melakukan proyek bersama yang mengandung nilai spiritual dan kegembiraan akan berdampak pada kekompakan dan meningkatkan perasaan gembira lahir batin, karena merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Apabila hal ini telah menjadi bagian dari kelurga maka setiap aktifitas keluarga akan dilakukan dengan tenang dan optimal(Ibid, hal 273-287)

 Kehadiran Tuhan dalam kehidupan rumah tangga sangatlah berpengaruh terhadap keutuhan dan penanaman sikap yang lebih positif. Pasangan suami istri perlu memperhatikan hal berikut dalam kehidupan keluarga(Ibid, hal 265-269)
Keluarga Harmonis Kartun
  1. Berbicara tentang Tuhan dengan pasangan dan anggota keluarga perlu dilakukan, kerena akan memberikan kesempatan untuk mengungkapkan harapan dan keinginan yang paling dalam, terutama keinginan untuk anak. Bagaimana cara kita di besarkan dan apa arti agama dan spiritualitas untuk jiwa adalah adalah pelajaran hidup yang tak ternilai.
  2. Kegiatan yang mengandung nilai spiritualitas secara bersama akan mempererat hubungan dan memberi peluang bagi tumbuhnya kebersamaan dan pengertian yang saling menguatkan satu sama lain. Misalnya saling mendoakan, saling memafkan, beribadah bersama, dan lain sebagainya. 
  3. Mengaitakan keimanan dengan kehidupan sehari-hari akan mampu memberikan contoh dan dampak positif bagi keluarga. Menunjukkan cinta, pengertian, saling memaafkan, dan saling mendoakan akan menjaga ikatan batin antar anggota keluarga walau pun mereka berada dalam kondisi sulit. Karena dengan menjaga spiritualitas maka kita akan berada pada prinsip kasih sayang dan cinta yang akan membantu menjaga keutuhan dan keharmonisan. 
  4. Spiritualitas  memberi rangsangan untuk bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan, termasuk mengakui perbuatan yang salah dan tidak mengulanginya, meminta dan memberi maaf. Perasaan rendah hati diatas akan membawa dampak terhadap perkembangan pribadi dan mencapai kemajuan.
  5. Mengajarkan prinsip spiritual untuk anak sangatlah perlu dilakukan. Karena dengan prinsip ini anak akan merasa mandiri, punya tuntunan batin, dan melihat kedamaian dalam keluarganya yang menjadikan mereka lebih stabil. Anak akan mampu untuk mengatasi konflik dirinya, berusaha berbuat kebaikan, dan dengan iklim keluarga yang mendukung akhirnya membuat perkembangan diri anak lebih matang.

Kesimpulan yang dapat diambil adalah kita bertanggung jawab atas segala kondisi kita dan kita juga bertanggung jawab atas kebahagiaan dan kehar monisan rumah tangga. Untuk mencapai tingkat keputusan yang benar-benar membawa terhadap kebahagiaan dan tindakan yang tepat adalah dimulai dari paradigma yang akurat, yaitu paradigma yang berpusat pada prinsip yang benar. Karena prinsip tersebut akan menuntun pada perilaku yang tepat dan benar-benar efektif.

Kecerdasan spiritual sangat berpengaruh terhadap keharmonisan rumah tangga Karena kecerdasan tersebut akan membimbing kita dalam bertindak berdasarkan prinsip yang benar. Manifestasinya akan keluar dalam tindakan, sikap dan ucapan yang akan membawa terhadap iklim keluarga yang harmonis. Denagan kecerdasan spiritual pribadi akan memiliki paradigma pribadi utuh yang berpusat pada prinsip hakiki, sehingga tindakan, ucapan, dan sikapnya menjadi bijaksana dan penuh kebaikan. Ketika hal tersebut menjadi karakter dan terus dilakukan maka keharmonisan rumah tangga akan terjalin.

Keluarga dengan tingkat kecerdasan spiritual yang tinggi akan mampu meningkatkan kohesifitas keluarga. Karena keluarga terhindar dari kekosongan yang mengganggu, mereka juaga dapat melalui pengalaman positif atau negatif dengan cara yang berpusat pada prinsip yang benar, tingkat kemandirian dari masing masing anggota keluarga akan beralih menjadi kesaling tergantungan yang saling melengkapi dan rasa kebersamaan satu sama lain karena pemupukan tindakan bijaksana terus-menerus, pada akhirnya mereka akan merasakan kebahagiaan yang hakiki karena hidup penuh makna dan merasa menjadi bagian dari keseluruhan.

Pada artikel Pengaruh Kecerdasan Spritual Terhadap Keharmonisan Rumah Tangga  ini referensinya saya tulis dengan tulisan kecil dalam kurung. semoga bermanfaat


Artikel Menarik lainnya :