Keluarga Harmonis Menciptakan Membangun Membentuk Keluarga Sakinah Mawadah Warohmah

Posted by Sanjaya Yasin 11 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

Keluarga Harmonis Menciptakan, Membangun, Membentuk Keluarga Sakinah Mawadah Warohmah Aspek-Aspek Pembentuk Keharmonisan Rumah Tangga - Dalam rumah tangga harus terdapat kematangan emosional demi terbentuknya keharmonisan rumah tangga. Adapun ciri kematangan tersebut:
  1. Kasih sayang, yaitu sikap kasih sayang mendalam yang diwujudkan secara wajar.
  2. Emosi yang terkendali, yaitu individu dapat mengatur perasaan-perasaannya terhadap keluarga dan terhadap pasangan. Tidak mudah berbuat hal yang menyakiti perasaan, misalnya marah, cemburu buta, dan ingin merubah pribadi pasangannya.
  3. Emosi terbuka-lapang, yaitu individu dapat menerima kritik dan saran dari pasangannya sehubungan dengan kelemahan dan perbuatannya, demi pengembangan diri dan puasan pasangan.
  4. Emosi terarah, yaitu individu dengan kendali emosinya sehingga tenang, dapat mengarahkan ketidakpuasan dan konflik-konflik yang konstruktif dan kreatif(Andi Mappiare,. Psikologi Orang Dewasa,.( Surabaya: Usaha Nasional,1983), hal 153)

Muhammad M. Dlori menjelaskan kunci dalam pembentukan Keluarga Sakinah Mawadah Warohmah adalah:
  1. Rasa cinta dan kasih sayang. Tanpa keduanya rumah tangga takkan berjalan harmonis. Karena keduanya adalah power untuk menjalankan kehidupan rumah tangga.
  2. Adaptasi dalam segala jenis interaksi masing-masing, baik perbedaan ide, tujuan, kesukaan, kemauan, dan semua hal yang melatarbelakangi masalah. Hal itu harus didasarkan pada satu tujuan yaitu keharmonisan rumah tangga.
  3. Pemenuhan nafkah lahir batin dalam keluarga. Dengan nafkah maka harapan keluarga dan anak dapat terealisasi sehingga tercipta kesinambungan dalam rumah tangga(Muhammad M. Dlori, Dicinta Suami (Istri) Sampai Mati, (Jogjakarta: Katahati,2005), hal 16-23)

Menurut Basri untuk meraih keharmonisan rumah tangga sumi istri perlu memiliki sifat-sifat ideal dan menerapkannya dalam rumah tangga, sifat tersebut adalah:
  • Persyaratan fisik biologis yang sehat-bugar. Hal ini penting karena; untuk menjalankan tugasnya keduanya memerlukan tubuh atau anggota badan yang berfungsi baik dan sehat. Seperti berkomunikasi, bekerja, kehidupan seksualitas, daya tarik, dan sebagainya. Jika mereka memiliki tubuh dan fisik yang sehat terutama otak maka keluarga akan terbantu dengan sisi kreatif dari otak. Tubuh merupakan dasar untuk hidup
  • Psikis-rohaniah yang utuh. Kondisi psikis-rohaniah yang utuh sangat diperlukan dalam menunjang kemampuan seseorang dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam rumah tangga.dengan mental yang sehat akan mampu mengendalikan emosi yang kadang tergoncang karena berbagai macam alasan dan situasi. Taraf kepribadian dan rohani yang utuh dan teguh sangat diperlukan, karena dalam perjalanannya godaan dan cobaan datang secara silih berganti, baik dalam moral kesusilaan, keadilan, kejujuran, tanggung jawab sosial dan keagamaan.

    Mental yang sehat dapat menyebabkan seseorang mampu menghadapi kenyataan sebagaimana adanya dan akan berusaha meraih kebahagiaan hidup tanpa merugikan orang lain, ia akan mampu beradaptasi dengan efektif dan wajar. Bermacam-macam aspek kepribadian dan unsur akhlak budi pekertinya akan utuh dan teguh serta menjaga taraf keluhuran dan kehormatannya. Psikis-rohaniah yang utuh dapat mambuat kedua pasangan memelihara daya tarik yang membuat mereka betah dan bahagia dalam rumah tangganya.
  • Kondisi sosial dan ekonomi yang cukup memadai untuk memenuhi hidup rumah tangga. Hal ini dapat berupa semangat dan etos kerja yang baik dalam memenuhi nafkah, kreatifitas dan semangat untuk mengusahakannya, sehingga keluarga akan terpenuhi kebutuhannya(Hasan Basri, Keluarga Sakinah Tinjauan Psikologi dan Agama, (Yogyakarta; Pustaka pelajar, 2002), 32-37)
Keluarga Harmonis


Zakiah Daradjat menjelaskan babarapa persyaratan dalam mencapai keluarga yang harmonis, adapun syarat tersebut adalah: 
  • Saling mengerti antar suami isteri, yaitu; 
    • (a) Mengerti latar belakang pribadinya; yaitu mengetahui secara mendalam sebab akibat kepribadian (baik sifat dan tingkah lakunya) pasangan, 
    • (b) Mengerti diri sendiri; memahami diri sendiri masa lalu kita, kelebihan dan kekurangan kita, dan tidak menilai orang berdasarkan diri sendiri.
  • Saling menerima. Terimalah apa adanya pribadinya, tugas, jabatan dan sebagainya jika perlu diubah janganlah paksakan, namun doronglah dia agar terdorong merubahnya sendiri. Karena itu; 
    • (a) Terimalah dia apa adanya karena menerima apa adanya dapat menghingkan ketegangan dalam keluarga. 
    • (b) Terimalah hobi dan kesenangannya asalkan tidak bertentangan dengan norma dan tidak merusak keluarga. 
    • (c) Terimalah keluarganya
  • Saling menghargai. Penghargaan sesungguhnya adalah sikap jiwa terhadap yang lain. Ia akan memantul dengan sendirinya pada semua aspek kehidupan, baik gerak wajah maupun perilaku. Perlu diketahui bahwa setiap orang perlu dihargai. Maka menghargai keluarga adalah hal yang sangat penting dan harus ditunjukkan dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.

    Adapun cara menghargai dalam keluarga adalah; 
    • (a) Menghargai perkataan dan perasaannya. Yaitu; menghargai seseorang yang berbicara dengan sikap yang pantas hingga ia selesai, menghadapi setiap komunikasi dengan penuh perhatian positif dan kewajaran, mendengarkan keluhan mereka. 
    • (b) Menghargai bakat dan keinginannya sepanjang tidak bertentangan dengan norma. 
    • (c) Menghargai keluarganya. 
  • Saling mempercayai. Rasa percaya antara suami isteri harus dibina dan dilestarikan hingga ke hal yang terkecil terutama yang berhubungan dengan akhlaq, maupun segala segi kehidupan. Diperlukan diskusi tetap dan terbuka agar tidak ada lagi masalah yang disembunyikan. Untuk menjamin rasa saling percaya hendaknya memperhatikan; 
    • (a) Percaya akan pridinya. Hal ini ditunjukkan secara wajar dalam sikap ucapan, dan tindakan. 
    • (b) Percaya akan kemampuannya, baik dalam mengatur perekonomian keluarga, mengendalikan rumah tangga, mendidik anak, maupun dalam hubungannya dengan orang luar dan masyarakat.
  • Saling mencintai. Syarat ini  merupakan tonggak utama dalam menjalankan kehidupan keluarga. Cinta bukanlah kejaiban yang kebetulan datang dan hilang namun ia adalah “usaha untuk...”. Adapun syarat untuk pempertalikan dengan cinta adalah; 
    • (a) Lemah lembut dalam berbicara. 
    • (b)Menunjukkan perhatian kepada pasangan, terhadap pribadinya maupun keluarganya. 
    • (c) Bijakna dalam pergaulan. 
    • (d) Menjauhi sikap egois 
    • (e) Tidak mudah tersinggung. 
    • (f) Menentramkan batin sendiri. Karena takkan bisa menentramkan batin seseorang apabila batinnya sendiri tidak tentram, orang disekitarnya pun tidak akan nyaman. Saling terbuka dan membicarakan hal dengan pasangan adalah kebutuhan yang dapat menentramkan masalah. Peran agama dan spiritual pun sangat menentukan.
      Dengannya kemuliyaan hati tercermin dalam tingkah laku yang lebih baik dan menarik. Oleh sebab itu orang yang tentram batinnya akan menyenangkan dan menarik bagi orang lain.
    •  (g) Tunjukkan rasa cinta. Hal ini dapat melalui tindakan, ucapan maupun sikap terhadap pasangan(Zakiah Dradjat, Ketenangan Dan Kebahagiaan Dalam Keluarga.)

Prof Nick Stinnet dan John DeFrain (dalam Hawari) mengemukakan pegangan atau kriteria keluarga bahagia atau harmonis, keriteria tersebut adalah:
  1. Menciptakan kehidupan agama atau spiritualitas dalam keluarga. Karena dalam agama terdapat nilai-nilai moral atau etika kehidupan. Landasan utama agama dalam kehidupan terutama rumah tangga adalah kasih sayang. Penelitian mengatakan keluarga yang tidak religius, komitmen agamanya rendah, atau yang tidak mempunyai komitmen agama sama sekali beresiko empat kali tidak berbahagia, dan berakhir dengan broken home, perceraian, tak ada kesetiaan, dan kecanduan NAZA.
  2. Terdapat waktu bersama keluarga. Sesibuk apapun keluarga tersebut hendaknya para anggota harus menyediakan waktu untuk keluarga atau suasana kebersamaan dengan unsur-unsur keluarga sebagai usaha pemeliharaan hubungan.
  3. Dalam interaksi segitiga, keluarga menciptakan hubungan yang baik antara anggotanya. Komunikasi yang baik dan dua arah, suasana demokratis dalam keluarga harus dijaga agar tidak terjadi kesenjangan diantara anggota keluarga.
  4. Saling harga-menghargai dalam interaksi ayah, ibu, dan anak. Hal ini dilakukan melalui ucapan, tindakan, dan sikap yang tertanam dalam anggota keluarga.
  5. Keluarga sebagai unit terkecil harus erat dan kuat, jangan longgar, dan jangan rapuh. Mereka bukan hanya dekat dimata namun juga harus dekat dihati. Hubungan silaturrahmi berdasarkan kasih sayang haruslah dibina dalam keluarga.
  6. Jika mengalami krisis dan benturan-benturan, maka prioritas utamanya adalah keutuhan keluarga.

Jika aspek diatas telah terpenuhi dan berfungsi dengan baik berdasarkan pada tuntunan nilai-nilai spiritual agama maka keharmonisan rumahtangga akan mudah diraih(Hawari, Al-Quran: Ilmu Kedokteran Jiwa Dan Kesehatan Jiwa., hal 805-808)

Membentuk keluarga harmonis - Keluarga Harmonis Menciptakan, Membangun, Keluarga Sakinah Mawadah Warohmah

Keluarga harmonis dimulai dengan keluarga yang akrab. Diperlukan upaya dan cara pandang yang lebih matang untuk menciptakannya, banyak hal yang dapat mempengaruhi kualitas dari keharmonisan tadi. Namun yang lebih penting adalah menjaga keintiman, caranya adalah:
  1. Toleransi. Toleransi disini adalah memahami bahwa orang-orang yang kita cintai mungkin mempunyai gambaran yang berbeda dalam fikiran mereka tentang cara menghadapi suatu peris tiwa. Jadi dalam keluarga tidak meributkan hal sepele, mencoba menyamakan persepsi dan bekerja sama.
  2. Waktu bersama-sama, menggali kreatifitas dan mengambil manfaatnya bagi keluarga. rencanakan waktu khusus, isi momen-momen istimewa, ubah acara rutin dengan melibatkan seluruh keluarga, nikmati bersama hobi anda, dan libatkan diri dengan melibatkan anak dalan kegiatan yang digemari. 
  3. Jatuh-bangun (terus berusaha). Jangan menyerah terus mencoba pendekatan baru untuk menjalin hubungan yang lebih mendalam dengan anak, pasangan, dan sesuaikan dengan minat, usia, serta keadaan.
  4. Terjunlah kedunia (menunjukkan kasih sayang dalam tindakan).
  5. Kurangi menggurui, perbanyak mendengar. Berusahalah untuk saling menghormati sudut pandang dan impian satu sama lain.
  6. Sarana hidup sebagai penyimpanan keyakinan yang harus ditanamkan. Hal ini dilakukan dengan membuat kotak, buku, dan sebagainya untuk menyimpan gagasan, nilai, yang layak disimpan dalam kotak tersebut, namun sebelumnya harus melalui komunikasi dengan keluarga, serta cara penggunaannya diatur oleh keluarga.
  7. Cinta menyeluruh. Tunjukkan dan sering-seringlah menunjukkan cinta anda(Mimi Doe,. SQ Untuk Ibu: Cara-Cara Praktis dan Inspiratif Untuk Mewujudkan Ketentraman Ruhani. (Bandung: Penerbit Kaifa 2002), hal 65-66)

Keluarga yang harmonis tidaklah dapat diraih tanpa kekompakan keluarga. Adapun menurut Derek dan Powel untuk menuju kekompakan tersebut dapat diraih dengan 8 prinsip, yaitu:
  • Berdamai dengan masa lalu, yaitu berusaha mengidentifikasi masa lalu yang mempengaruhi cara pandang kita dalam menjalani kehidupan keluarga. Selesaikan masalah yang teridentifikasi, dan temukan hal positif. Lakukan perubahan perilaku yang merupakan dampak dari masa lalu.  Dengarkan dengan baik suara yang datang sebagai pesan masa lalu, dan hapus semua kenangan buruk. Kaji kembali pendekatan sebagai orang tua, dan jangan malu-malu untuk bercerita tentang masa lalu dengan keluarga untuk pelajaran bagi mereka.
  • Berdamailah dengan pasangan, yaitu mengidentifikasi hal-hal yang dapat mempengaruhi kualitas hubungan akibat perbedaan yang dimiliki. Galilah perbedaan itu dan komunikasikanlah sehingga mendapat solusi. Jagalah cara menyampaikan dan menerima kritik, dan mintalah bantuan ahli bila memang diperlukan.
  • Ciptakan komunikasi dua arah, yaitu cobalah untuk memahami perbedaan model komunikasi masing-masing, dan memperbaiki cara komunikasi yang destruktif. Mengembangkan cara komunikasi yang lebih efektif dalam keluarga. Nyatakan hal yang ingin disampaikan dengan efektif dan baik, dan ciptakan suasana dan pola komunikasi yang efektif bagi anggota keluarga.
  • Akrabilah lingkungan terdekat, yaitu semua yang berhubungan dengan kita seperti teman dekat, tetangga, kerabat, komunitas, sekolah anak, pemuka agama, lingkungan kerja, dan sebagainya. Banyak alasan untuk menerapkan keakraban dengan mereka. Selain sebagai teman berbagi, mungkin mereka dapat membantu menginspirasi, dan memberi dukungan untuk kita dalam mejalani kehidupan keluarga, begitu pula sebaliknya.
  • Arahkan perilaku anak, yaitu terapkan disiplin yang positif dengan cara berkomunikasi dengan anak tentang sasran dan tujuan bersama maupun tujuan pribadi. Setelah terjadi komunikasi dan pengertian mengenai harapan atau sasaran tadi maka orang tua hendaknya memberikan dukungan dan pujian pada perilaku yang positif atau mendukung sasaran tadi, walaupun tidak sesempurna pada awalnya, tekankan saja pujian positif ini.

    Memberikan teguran pada perilaku yang telah keluar dari sasaran atau harapan yang disepakati sebelumnya, teguran ini hendaknya mengena pada perilaku khusus dan berjalan singkat, hindari hukuman fisik. Libatkan semua anggota keluarga sebagai “tim” dalam pembentukan dan penjagaannya. Adakan komukasi dan diskusi dengan tim secara efektif. Dan mintalah pendapat ahli bila diperlukan, adakan refleksi diri, dan instropeksi untuk mengevaluasi, serta mendapatkan cara yang tepat memperlakukan anak.
  • Memelihara hubungan persaudaraan, yakni menerima perbedaan diantara anggota keluarga dan menganggap persaingan yang terjadi akibat perbedaan tadi adalah sesuatu yang normal. Memanfaatkan area persaingan tadi menjadi area tim yang saling membantu dan meneguhkan satu sama lain  Membanding-bandingkan anak bukanlah hal yang tepat karena akan menimbulkan jurang permusuhan. Adakan waktu khusus untuk keluarga, baik melakukan hal barsama, minat bersama, dan sebagainya, adakan keseimbangan baik hubungan, komunikasi, maupun penanganan konflik.

    Sediakan waktu untuk masing-masing, dan dengarkan mereka. hindari pertengkaran. buat persaingan yang positif dengan menekankan potensi masing-masing, hargai usaha bukan hasil, jangan berat sebelah. Persaingan positif adalah berlomba untuk melakukan hal terbaik dan maksimal dari mereka. Jadi bukan untuk membanding-bandingkan kakak adik, kompetensi kakak adik untuk meraih poin dari ayah. Namun lebih menekankan usaha maksimal untuk menjadi individu yang mandiri, menjadi diri sendiri, berbuat hal positif dan yang terbaik. Misalnya untuk hari kebersihan rumah, bila adik membersihkan halaman depan dengan ayah, maka kakak membersihkan rumah dengan ibu.
  • Menagtasi pengaruh sebaya. Orang tua dituntut bekerja sebagai tim untuk mengontrol perilaku anak. Tanamkan dan bimbing ia dengan kasih sayang, nilai, dan dan sikap positif. Bimbing ia untuk menjalin hubungan positif, adakan komunikasi yang hangat untuk membahas hubungan mereka dengan orang lain, membahas hal yang berpengaruh buruk untuk mereka dengan kejelasan dan bagai mana hal yang tepat mengatasinya. Jangan biarkan anda dianggap kuno, biarkan anda menyesuaikan diri tanpa kehilangan kontrol positif, sehingga dapat menjadi contoh positif oleh anak bagaimana menghadapi perubahan mode yang tepat.
  • Luangkan waktu untuk spiritualitas dan kegembiraan. Meluangkan waktu untuk spiritualitas dan kegembiraan akan menghilangkan kehampaan dan kekosongan yang mengganggu, dan juga akan membimbing kita dalam menghadapi persoalan dan menghadapi masa-masa yang sulit. Penanaman spiritulaitas untuk anak dapat membuat anak menjadi manusia yang memiliki jiwa dan emosi yang sehat.

Caranya adalah dengan proaktif dan reaktif. Proaktif berarti dengan melibatkan anak dalam kegiatan kegamaan, formal seperti ibadah di masid dan sebagainya. Reaktif yaitu membahas berbagai tantangan hidup dan menyandarkan diri pada kepercayaan, doa-doa, serta mengajari anak untuk menggantungkan diri pada kekuatan spiritual dalam mengatasi permasalahan sehari-hari. Kita dapat menerapkan dalam keseharian keluarga, seperti dongeng sebelum tidur, saling mendoakan, saling memaafkan, kegembiraan bersama, dan menyediakan waktu untuk diri sendiri dan keluarga.

Meluangkan waktu senggang atau libur untuk kegembiraan dan spiritualitas dapat membantu menyegarkan kembali keluarga, sikap tenang dan rekresi batin dapat dilakukan kapanpun. Keterlibatan dengan alam dan kehidupan kerena melakukan proyek bersama yang mengandung nilai spiritual dan kegembiraan akan berdampak pada kekompakan dan meningkatkan perasaan gembira lahir batin, karena merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Apabila hal ini telah menjadi bagian dari kelurga maka setiap aktifitas keluarga akan dilakukan dengan tenang dan optimal(Darlene Powell & Derek S. Hubson, Menuju Keluarga Kompak: 8 Prinsip Praktis Menjadi Keluarga yang Sukses. (Bandung: Kaifa. 2002))

Dalam penulisan artikel Keluarga Harmonis Menciptakan, Membangun, Membentuk Keluarga Sakinah Mawadah Warohmah  ini referensinya saya tulis dalam tanda kurung semoga bermanfaat untuk semuanya dan menjaga keharmonisa keluarga kita baik dunia maupun akhirat

Artikel Menarik lainnya :