Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Heads Together)

Posted by Sanjaya Yasin 3 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

A. Tinjuan  Tentang Model Pembelajaran Kooperatif

Pembalajaran kooperatif merupakan metode pembelajaran yang menuntut siswa balajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari empat atau lima siswa dengan kemampuan atau intelegensi yang heterogen. Jadi dalam pembelajaran kooperatif ini siswa bekerja sama dalam kelompok yang terdiri dari siswa yang berkemamapuan rendah, sedang dan tinggi untuk bertukar pikiran dalam memcahkan masalah ( Muclich, 2007).


Selanjutnya, menurut Lie (2002) pembelajaran kooperatif didefinisikan sebagai sistem kerja/belajar kelompok yang terstruktur dimana dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerjasama dan membantu untuk memahami suatu bahan pelajaran. Belajar belum selesai jika salah satu dari teman dalam,kelompok belum menguasai bahan pelajaran. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Heads Together)

Roger dan David Johnson dalam Lie (2002) mengatakan bahwa dalam pembelajaran kooperatif terdapat lima unsur model pembelajaran yang harus diterapkan yaitu:


1.    Saling ketergantungan positif
keberhasilan suatu karya sangat tergantung pada suatu usaha setiap individu. Untuk mencapai kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas kelompok yang menuntut siswa kerja sama dan beriteraksi sehingga setiap anggota harus menyelesaikam tugasnya agar semua siswa mencapai tujuan yang diharapkan. Selanjutya, pengajar akan mengevaluasi siswa, dengan cara ini setiap siswa mau tidak mau setiap siswa merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya agar semua siswa bisa berhasil.

2.    Tanggung jawab perseorangan
pengajar yang efektif dalam pembelajaran cooperative learning akan membuat persiapan dan menyusun tugas untuk setiap kelompok sehingga menjadi masing-masing aggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas berikut dapat dilaksanakan. Siswa yang tidak melaksanakan tugasnya akan diketahui dengan jelas dan mudah. Anggota dalan suatu kelompok akan menuntutnya untuk melaksanakan tugas agar tidak terhambat siswa yang lainnya. 

3.    Tatap muka
setiap anggota kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memeberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatnya kelebihan dan mengisi kekurangan masing-masing.

4.    Komunikasi antar anggota
Unsur ini juga menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi. Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada ketersediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dalam mengutarakan pendapat mereka. 

5.    Evaluasi proses kelompok
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih aktif.

B. Tinjuan  Tentang Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Heads Together)

Pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) dikembangkan oleh Spencer Kagen untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam satu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Sebagai gantinya mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, guru menggunakan struktur empat (4) langkah sebagai berikut:

1.    Penomoran
Guru membagi siswa kedalam kelompok yang beranggotakan 4-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5.

2.    Mengajukan pertanyaan
Guru mengajukan sebuah pertayaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat bersifat spesifik dalam bentuk kalimat Tanya.

3.    Berfikir bersama
Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan setiap anggota dalam teamnya mengetahui jawaban itu.

4.    Menjawab
Guru memanggil satu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan, untuk seluruh kelas.

 Model ini mengacu kepada belajar kelompok. Anggota team menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menutaskan materi pelajarannya, kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran dan memecahkan suatu masalah melalui diskusi.


C. Pengelolaan Kelas cooperative learning 

Pengelolaan kelas cooperative learning bertujuan untuk membina pembelajaran dalam mengembangkan kerja sama dan berinteraksi dengan siswa yang lainnya. Ada tiga hal yang penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas cooperative learning, yakni pengelompokan, semangat kooperatif dan dan penataan ruang kelas (Lie, 2007).

1. Pengelompokan
Pengelompokan heterogenitas atau keragaman merupakan ciri-ciri yang menonjol dalam pembelajaran kooperatif learninng. Kelompok heterogenitas bisa bentuk dengan memperhatikan keanekaragaman kemampuan akademis. Dalam hal kemampuan akademis, kelompok pembelajaran cooperative learning biasanya terdiri dari satu orang berkemampuan tinggi, dua orang berkemampuan sedang dan satu lainnya dari kelompok kemampuan akademis rendah.       

2. Semangat Gotong Royong
Agar kelompok bisa bekerja secara efektif dalam proses pembelajaran kelompok perlu mempunyai semangat gotong royong. Semangat gotong royong ini bisa dirasakan membina niat kiat siswa dalam bekerja sama.

3. Penataan Ruang Kelas 
Ruang kelas juga perlu ditata sedemikian rupa shingga menunjang pembelajaran cooperative learning. Keputusan guru dalam penataan ruang kelas harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi ruang kelas dan sekolah. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan adalah:
  1. Ukuran ruang kelas
  2. Jumlah siswa 
  3. Tingkat kedewasaan siswa
  4. Toleransi guru dan kelas sebelah terhadap kegaduhan dan lalu lalangnya siswa
  5. Toleransi masing siswa terhadap kegaduhan dan lalu lalangnya siswa lainnya
  6. Pengalaman guru dalam melaksanakan metode pembelajaran kooperatif learning
  7. Pengalaman siswa dalam melaksanakan metode pembelaaran kooperatif learning.

Dalam metode pembelajaran cooperative learning, penataan ruang kelas perlu memperhatikan prinsip-prinsip tertentu, bangku perlu ditata sedemikian rupa sehingga semua siswa bisa melihat guru, papan tulis dan teman-teman kelompoknya dengan merata. Kelompok bisa dekat satu sama lain, tetapi tidak mengganggu kelompok  yang lain.


D. Ketuntasan Belajar

Belajar tuntas merupakan strategi pembelajaran yang dapat dilaksanakan dari dalam kelas, dengan asumsi bahwa didalam kondisi yang tepat semua peserta didik akan mampu belajar dengan baik dan memperoleh hasil belajar secara maksimal terhadap seluruh bahan yang dipelajari (Mulyasa, 2002).
Tujuan proses mengajar-belajar secara ideal adalah agar bahan yang dipelajari dikuasai sepenuhnya oleh murid. Ini disebut Mastery Learning atau belajar tuntas, artinya penguasaan penuh (Nasution, 1995).

Ketuntasan belajar dapat dilihat secara kelompok atau secara perorangan, secara kelompok, ketuntasan belajar dinyatakan telah dicapai jika sekurang-kurangnya 85% dari siswa dalam kelompok yang bersangkutan telah memenuhi kinerja ketuntasan belajar yang secara kelompok. Secara perorangan, ketuntasan belajar telah dinyatakan terpenuhi jika seseorang (siswa) telah tercapai taraf penguasaan minimal yang ditetapkan bagi setiap bahan yang dipelajarinya.

Faktor yang Mempengaruhi Ketuntasan Belajar
Ketuntasan belajar dipengaruhi oleh daya serap siswa, dimana daya serap pada umumnya dipengaruhi oleh dua fakror yang dikemukakan oleh Pasaribu dan Simanjuntak dalam Pradita (2009) yaitu: 
  • Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari individu siswa sendiri yang meliputi faktor fisik maupun mental yang ikut menentukan dan mempengaruhi berhasil tidaknya seseorang dalam belajar seperti kematangan, kondisi jasmani, keadaan alat indera, sikap batin dan minat.
  • Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar individu itu sendiri yang juga memepengaruhi berhasil tidaknya dalam belajar meliputi penghargaan dan hadiah.

Menurut Ibrahim dan Benny dalam Pradita (2009) ada beberapa langkah atau cara yang dapat dilakukan dalam pengajaran antara lain: 
  • Dalam belajar hendaknya guru menggunakan metode belajar yang bervariasi sebab dengan variasi  tersebut diharapkan bebarapa perbedaan kemampuan siswa dapat terlayani.
  • Guru hendaknya memberikan bahan pelajaran tambahan kepada anak-anak yang pandai untuk mengimbangi kepandaiannya dan memberikan bantuan atau bimbingan khusus kepada anak-anak yang lamban dalam belajar.
  • Pemberian tugas-tugas hendaknya disesuaikan dengan minat dan kemampuan anak.
Untuk diperlukan perencanaan yabg baik yaitu ketetapan pengguanaan model pembelajaran yang dipilih oleh guru. Tujuannya agar siswa dapat berperan aktif antar sesamanya dan dapat meningkatkan penguasaan meraka terhadap konsep yang sulit.
 
E. Kerangka Berfikir

Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Heads Together) siswa menggunakan lembar kerja serta diberikan kesempatan untuk terlibat langsung dalam megolah informasi sehingga siswa dapat saling berinteraksi dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif dan bekerjasama untuk memahami materi pelajaran.

Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numberd Heads Together) adalah lebih banyak melibatkan siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.

Penyampaian materi biologi melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Heads Together) merupakan teknik yang baik dalam merangsang siswa untuk lebih aktif dan berfikir kritis karena siswa diberikan kesempatan untuk mencari sendiri pemecahan masalah dengan kerjasama kelompok sehingga mereka lebih mudah memahami materi. Untuk meningkatkan ketuntasan belajar siswa yang optimal terhadap pelajaran biologi perlu dilakukan proses belajar yang lebih baik dengan memperhatikan perkembangan anak didik dan sarana penunjang, salah satu upaya tersebut adalah dengan memgoptimalkan pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) merupakan teknik yang baik dalam merangsang siswa untuk aktif dan kreatif dalam pembelajaran. Jadi dengan penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Heads Together) dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa.

Daftar Pustaka

Lie. A. 2002. Kooperatif Learning. Jakarta: Gramedia Widya Sarana Indonesia.

Mulyasa, 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Rineka Rosda Karya.
Nasution, 1995. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta : PT. Bumi Aksara.


Artikel Menarik lainnya :