Membangun Lima Hubungan Yang Seimbang Dalam Kehidupan Menuju Pencapaian Hidup Yang Optimal

Posted by Sanjaya Yasin 0 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

Membangun Lima Hubungan Yang Seimbang Dalam Kehidupan Menuju Pencapaian Hidup Yang Optimal

Analogi jari tangan menggambarkan hubungan yang harus terjalin dalam kehidupan ini menuju menusia yang sukses dan kabahagiayaan yang sejati. Semuanya tidak berurusan dengan materi melulu. Kelima hubungan ini harus ada dan tidak bisa dipisahkan, namun sulit untuk diberi nomor urutan karena setiap fungsi dari jari memiliki kelebihan.


Pertama, jari jempol menggambarkan dengan diri sendiri. Ketika seorang mengaku diri maka kata penunjuk yang dipakai adalah menggunakan jari jempol. Hubungan yang harus dilakukan adalah kesadaran diri serta membangun potensi yang ada sehingga tercipta keharmonisan antara tubuh, jiwa, dan roh.

Delapan Cara Merubah Sikap
Bisa! Dimulai dari sekarang. Apa saja yang perlu diubah? Ada delapan cara yang sanggup mengubah sikap, antara lain:
  • Evaluasilah sikap Anda.
  • Iman.
  • Berhasratlah untuk selalu berubah.
  • Ubah pandangan negative Anda dengan pandangan positif.
  • Mulailah perubahan dari hal yang terkecil,
  • Belajarlah dan terus belajar.
  • Tentukan tujuan hidup Anda.
  • Diperlukan kesadaran.

Bagaimana membangun prestasi?
  • Memulai membangun prestasi sejak usia dini.
  • Lakukan yang terbaik dalam bidang Anda.
  • Kembangkan potensi yang tersembunyi dalam diri Anda, karena setiap manusia ciptaan Tuhan pasti memiliki potensi.
  • Minat belajar yang terus digalakkan.
  • Disiplin dan konsisten dalam meraih impian dan tujuan.
  • Memiliki perencanaan dalam hidup.
  • Diskusikan apa yang ingin Anda lakukan kepada orang di sekitar Anda.
  • Berikan konstribusi walau kecil terhadap lingkungan social Anda.
  • Berdoalah minta petunjuk kepada Tuhan mengenai potensi diri Anda.

Membina hubungan dengan diri sendiri memiliki konsep yang kompleks, yang harus disiapkan dengan serius, karena dengan persiapan yang matang dan secara dewasa akan membawa dampak ke dalam kehidupan yang sukses dan menuju bahagia.

Memulai hubungan diri sendiri yang diibaratkan dengan jari jempol, hendaknya dipergunakan dengan bijaksan dan dewasa, sehingga unsure jempol tidak menunjukkan “keakuan” yang berlebihan yang dapat menimbulkan rasa kesombongan yang mendalam.

Perbaiki hal-hal yang ada di dalam diri sendiri dahulu sebelum mengoreksi pribadi orang lain, melalui proses pendewasaan, antara lain : 
  • Tubuh. Bagaimana menjaga tubuh yang diberikan Tuhan dengan gratis ini, diperlukan dengan istimewa namun tidak berlebihan. Tubuh dengan model apa saja dan dalam keadaan apa saja, mampu menampilkan pribadi yang sukses dan bahagia.
  • Pikiran. Mengelola pikiran yang bijaksana. Apa yan Anda pikirkan itulah yang Anda capai. Isilah ember pikiran dengan hal-hal yang positif, membanngun dan berdaya guna, filter dengan ketat, hal-hal yang membuat pikiran terkontaminasi hal-hal buruk.
  • Sikap. Sikap sangat menentukan hasil akhir. Kejadian apa pun kalau disikapi dengan bijaksana akan menghasilkan hasil yang bagus.
  • Anda adalah pemimpin. Sadarilah bahwa Anda adalah seorang pemimpimn, minimal untuk memimpin diri sendiri. Dalam skala yang lebih luas, Anda memimpin keluarga, Anda memimpin organisasi skala kecil bahkan sanggup memimpin dalam skala besar.
  • Berprestasilah. Hidup yang berprestasi adalah hidup yang diimpikan oleh Sang Pencipta, sehingga Dia yang telah menciptakan kita, tidak merasa kecewa. Buatlah prestasi dalam bidang apa pun dan suatu saat Anda akan menikmatinya.
  • Pendidikan. Gunakan dengan tepat jalur pendidikan yang telah Anda tempuh dan berusahalah mencapai cita-cita sesuai dengan jalur pendidikan Anda. Jangan pernah menyerah dan teruslah menjadi manusia pembelajar di masa usia belajar tidak hanya dibatasi sampai umur tertentu saja, namun dunia belajar bisa diraih sampai tutup usia.

Kedua, jari telunjuk menggambarkan hubungan dengan pekerjaan karena hampir sepertiga roda kehidupan manusia dipergunakan untuk bekerja. Bekerja merupakan sarana untuk menuju sukses yang kebanyakan manusia cari yaitu materi, jabatan, kepopuleran, dan fasilitas. Jari telunjuk banyak dgunakan memberi perintah kerja, sehingga diperlukan kebijakan yang bijaksana dalam mengelola jari telunjuk agar tidak terjadi konflik.

hidup Semangat


BEKERJA ADALAH BAGIAN DARI IMAN.

Orang bijak mengatakan:
“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segala hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

UNTUK APA MANUSIA BEKERJA?
Ada bervariasi jawaban mengapa manusia perlu bekerja, antara lain:
  • Mendapatkan uang. Mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup. Hal ini merupakan alas an paling mendasar mengapa manusia perlu bekerja.
  • Mengisi waktu. 
  • Keperluan tanggung jawab. Poin bekerja untuk keluarga masih dipandang lebih layak disbanding bekeja karena mengisi waktu.
  • Alasan kehormatan. Mereka yang sudah memiliki pekerjaan, memiliki rasa kehirmatan lebih tinggi disbanding dengan mereka yang masih berusaha mencari pekerjaan. Kehornatan bercengkerama erat dengan rasa ‘malu’. Mereka yang belum bekerja, apabila berkumpul dengan orang yang sudah bekerja, ada rasa malu, minder, kurang percaya diri, rasa kecil, dan rasa kurang dihormati.
  • Alas an kepopuleran.
  • Alasan cinta. Pekerjaan yang dilandasi dengan rasa cinta terhadap pekerjaan akan berdampak pada hasil. Semakin tinggi seseorang cinta terhadap pekerjaan, semakin tinggi pula rasa kepemilikannya dan begitu juga sebaliknya.
  • Alasan pengabdian.
  • Alasan bagian dari ibadah. Memang benar bahwa pekerjaan merupakan bagian dari ibadah. Ibadah yang sejati bukan hanya ibadah setiap hari tertentu, berkumpul dan berdoa kepada Tuhan, namun lebih dititikberatkan pada pelksanaan Firman yang didengar lewat panggilan pekerjaan pada masing-masing bidang.
  • Alasan pencapaian potensi.

Ketiga, jari tengah menggambarkan hubungan dengan Tuhan, jari tengah yang memiliki ukuran yang lebih tinggi dibanding keempat jari lainnya. Ketika manusia jenuh dan capek dalam proses mengejar cita-cita, ambisi, dan tujuan hidup, banyak yang disadarkan kembali akan pentingnya rasa keTuhanan yang hakiki. Semua kembali ke fitrahnya, membangun keimanan yang benar di mata Tuhan.

Hubugam dengan Tuhan, diibaratkan jari tengah dengan posisi paling tinggi dari semua jari yang ada. Hal ini menandakan bahwa hubungan dengan Tuhan memiliki tertinggi dari apa pun juga dalam kehidupan ini.

Kehidupan manusia yang ingin menuju kesuksesan dan kebahagiaan, banyak bermuara pada hubungan spiritual yang terjadi dengan sang Pencipta. Uang bukan lagi barometer kesuksesan atau kebahagiaan seseorang, namun lebih menitiberatkan pada hubungan terindah manusia dengan Tuhan.
Melalui pendewasaan pola pikir, dan kesadaran yang mendalam tentang arti keTuhanan, merupakan wujud nyata menjadikan manusia yang beradap serta beriman dan bertaqwa. Wujud nyata iman dan takwa, dapat dilihat dari perilaku kehidupan yang menunjukkan tanda-tanda perubahan yang positif dan mampu menjadi berkat bagi dirinya sendiri dan berkat untuk orang lain.
Pendewasaan ini antara lain:
  • Pendewasaan dalam membina hubungan dengan Tuhan melalui doa yang benar di mata Tuhan dan bukan benar di mata manusia.
  • Memandang kesuksesan secara spiritual merupakan pencarian tertinggi umat manusia.
  • Bertindakkalah dalam dunia kenyataan atau dalam bahasa rohaninya adalah menjadi pelaku Firman.
  • Mengucap syukur dalam segala hal, karena itulah pintu menuju pinti kebahagiaan yang sejati.

Keempat, jari manis menggambarkan hubungan dengan keluarga. Ketika pasangan muda yang memutuskan menikah dan menyematkan cincin pernikahan pada jari manis, maka terbentukklah lembaga terkecil. Hidup manusia yang tidak terlepas dari unsur keluarga, membutuhkan jalinan yang dibangun dengan benar sebagai landasan berpijak.

Kesuksesan dalam pekerjaan, didasari pada perilaku hubungan dengan keluarga. Di dalam keberhasilan suami, disitulah terletak doa-doa istri. Di dalam keberhasilan anak, di situlah terdapat doa dan peran orang tua.

Keluarga yang terdiri atas suami, istri, dan anak merupakan lembaga terkecil yang ada di dunia ini, sehingga dunia ini ada dan terus bergerak perputarannya.

Kelima, jari kleingking menggambarkan hubungan dengan social, karena sejatinya manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan dengan karakter social yang tidak bisa hidup sendirian.

Hubungan dengan social yang diibaratkan dengan jari kelingking yang kecil. Walaupun ukurannya kecil, namun tidak bisa dibuang begitu saja. Jari kelingking sebagai penguat kepalan tangan. Ketika keempat hubungan bertemu dalam sebuah genggaman, fungsi jari kelingking inilah sebagai penguatnya.

Kehidupan social, yang terdiri atas teman, sahabat, kerabat kerja, tetangga, lingkuangan tempat tinggal, kehidupan sekota bahkan kehidupan berbangsa. Manusia yang seutuhnya adalah manusia yang bukam hidup secara individu namun lebih menitik beratkan pada keutuhan tim, teman, kerabat, grup yang ada di sekitar kehidupan manusia.

Diperlukan pendewasaan pola piker dan perilaku dalam membina dengan social, agar tercipta rasa saling kekerabatan satu dengan lainnya. Pendewasaan itu antara lain: 
  • Sikap mendengar.
  • Sikap berempati (kondisi mental yang membuat seseorang merasa dirinya dalam perasaan yang sama dengan orang lain).
  • Sikap berpendapat.
  • Sikap hidup dilingkungan.
  • Hidup berbangsa dan bernegara.

TIGA KALIMAT MUJARAB
Tolong, maaf, dan terima kasih.
Orang bijak mengatakan:
“Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu
Dipuji karena memaafkan pelanggaran.”
“Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telingaNya
Kepada teriak mereka minta tolong.”
“Adakah mereka berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu
Telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya.”

Ketiga kalimat ini sangat manjur dalam hubungan komunikasi social yang kita ciptakan. Anak saya bernama Jazzy Hwey Setia Budi, sejak berumur balita telah kami biasakan berkata ketiga hal ini. Setiap dia menuruh orang lain untuk menuruti perintahnya, semisal sekedar mengambilakan mobil mainannya, dia berkata, “tolong papa ambilkan mainannya Jazzy,” dan setelah saya dengan sukacita mangmbilkan mainannya, dia lanjut berkata, “terima kasih ya Pa.” Juga apabila ketahuan bersalah telah melakukan yang kurang baik, dia dengan spontan berkata, “Maafkan Jazzy… Jazzy janji untuk tidak mengulanginya lagi.” Hati orang tua mana yang tidak luluh mendengarkannya,
Memang dia masih balita, bagaimana kita yang sudah dibilang dewasa, pandai, berpendidikan, berpengalaman, berspiritual, apakah kita bisa mengatakan ketiga hal tersebut? Bisa kalau mau melakukan dan melatihnya dari sekarang, sulit kalau tidak mau mencobanya dari sekarang.

Perbedaan arti dari kalimat yang tanpa disertai kata “tolong” dengan yang disertai. Contoh: “Ambilkan air minum.” Bandingkan dengan, “Tolong ambilkan air minum, terima kasih.” Terasa bahasa yang digunakan lebih halus dan lebih menghargai orang lain.

Berlatihlah mengucapkan ketiga kata ini, sehingga kehidupan anda lebih menerima dan menghargai orang lain. Pada mulanya jadikanlah itu sebagai keharusan, lalu meningkat ke arah kebiasaan, dan akhirnya menjadi kebutuhan.

Membangun Lima Hubungan Yang Seimbang Dalam Kehidupan Menuju Pencapaian Hidup Yang Optimal : Tulisan diambil dari sebuah buku karya Hengki Irawan Setia Budi, bukunya sangat bagus untuk dibaca silahkan beli ditoko buku terdekat


Artikel Menarik lainnya :