Cara Budidaya Jamu Tiram dan Manfaatnya

Posted by Sanjaya Yasin 0 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

BUDIDAYA JAMUR TIRAM - Jamur tiram merupakan salah satu jenis jamur kayu. Biasanya orang menyebut jamur tiram sebahai jamur kayu karena jamur ini banyak tumbuh pada media kayu yang sudah lapuk. Jamur tiram adalah salah satu jamur yang sangat enak dimakan serta mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi dibandingkan dengan jamur lain.


Pada prinsipnya, budidaya jamur tiram adalah mengusahakan kondisi sehingga jamur tiram tersebut dapat tumbuh dengan baik. Untuk itu perlu dilakukan adaptasi substrat dan lingkungan tempat tumbuh sesuai dengan habitat tumbuhnya dialam. Faktor yang berpengaruh tersebut adalah faktor media tumbuh dan faktor lingkungan.

A.    MEDIA TUMBUH - Budidaya Jamu Tiram
Media bagi pertumbuhan jamur tiram sebaiknya dibuat menyerupai kondisi tempat tumbuh jamur tiram di alam
1.    Nutrisi
  • Nutrisi bahan baku atau bahan yang ditambahkan harus sesuai dengan kebutuhan hidup jamur tiram.
  • Contoh : batang kayu yang sudah kering, jerami, serbuk kayu, campuran antara serbuk kayu dan jerami, atau bahkan alang-alang.
2.    Kadar air
  • Kadar air media diatur hingga 50-65 % dengan menambahkan air bersih.Bila kurang air maka
  • penyerapan makanan tidak optimal, sehingga jamur menjadi kurus.
  • Bila air terlalu banyak akan mengakibatkan busuk akar.
3.    Tingkat keasaman
  • Bila pH terlalu rendah atau terlalu tinggi maka pertumbuhan jamur tiram akan terhambat. Bahkan mungkin tumbuh jamur lain yang akan mengganggu pertumbuhan jamur tiram itu sendiri.
  • Keasaman atau pH media perlu diatur antara pH 6-7 dengan menggunakan kapur.

B.    LINGKUNGAN - Budidaya Jamu Tiram
Faktor lingkungan yang berpengaruh antara lain :
1.    Suhu
  • Suhu inkubasi jamur tiram antara 22-280C.
  • Suhu pembentukan tubuh buah antara 16-220C
  • Suhu terlalu tinggi bakal jamur akan kering da mati
2.   Kelembaban
  • Kelembaban saat inkubasi antara 60-80%
  • Saat pembentukan tubuh buah 80-90%
  • Kelembaban terlalu rendah maka primordia (bakal jamur) akan kering dan mati.

Pengaturan suhu dan kelembaban tersebut di dalam ruangan dapat dilakukan dengan menyemprotkan air bersih ke dalam ruangan.

3.    Cahaya
  • Intensitas cahaya yang diperlukan pada saat pertumbuhan sekitar 10% (cukup untuk membaca koran)

4.    Sirkulasi udara
  • Sirkulasi udara harus cukup, tidak terlalu besar tetapi tidak pula terlalu kecil



C.    PERSIAPAN SARANA PRODUKSI - Budidaya Jamu Tiram
1.    BANGUNAN

a.    Ruang persiapan
Ruang persiapan adalah ruangan yang berfungsi untuk melakukan kegiatan pengayaan, pencampuran, pewadahan, dan sterelisasi

b.    Ruang inokulasi
Adalah ruangan yang berfungsi untuk menanam bibit pada media tanam, ruang ini harus mudah dibersihkan, tidak banyak ventilasi untuk menghindari kontaminasi (adanya mikroba lain).

c.    Ruang inkubasi
Ruang ini berfungsi untuk menumbuhkan miselium jamur pada media tanam yang sudah di inokulasi (Spawning). Kondisi ruangan diatur pada suhu 22-280C dengan kelembaban 60-80%. Ruangan ini dilengkapi dengan rak-rak bambu untuk menempatkan media tanam dalam kantong plastik (baglog) yang sudah diinokulasi

d.    Ruang penanaman
Digunakan untuk menumbuhkan tubuh buah jamur. Ruangan ini dilengkapi juga dengan rak-rak penanaman dan alat penyemprot/pengabutan. Pengabutan berfungsi untuk menyiram dan mengatur suhu udara pada kondisi optimal
16=220C dengan kelembaban 80-90%


D.    PERALATAN
Peralatan yang digunakan pada budidaya jamur diantaranya, mixer, cangkul, sekop, filler, botol, boiler, gerobak dorong, sendok bibit, centong.


E.    BAHAN-BAHAN
Bahan-bahan yang digunakan dalam budidaya jamur tiram adalah serbuk kayu, bekatul (dedak), kapur (CaCO3), gips (CaSO4), tepung jagung (biji-bijian), glukosa, kantong plastik, karet, kapas, cincin plastik.


F.    TAHAPAN BUDIDAYA  JAMUR TIRAM

1.    Persiapan bahan
Bahan yang harus dipersiapkan diantaranya serbuk gergaji, bekatul, kapur, gips, tepung jagung dan glukosa

2.    Pengayaan
Serbuk kayu yang diperoleh dari penggergajian mempunyai tingkat keseragaman yang kurang baik, hal ini berakibat tingkat pertumbuhan miselia kurang merata dan kurang baik. Mengatasi hal tersebut maka serbuk gergaji perlu diayak. Ukuran ayakan sama dengan ayakan pasir (ram ayam), pengayaan harus mempergunakan masker karena dalam serbuk gergaji banyak tercampur debu dan pasir.

3.    Pencampuran
Bahan-bahan yang telah ditimbang sesuai dengan kebutuhan dicampur dengan serbuk gergaji selanjutnya disiram dengan air sekitar 50-60% atau bila kita kepal serbuk tersebut menggumpal tapi tidak keluar air. Hal ini menandakan kadar air sudah cukup.

4.    Pengomposan
Adalah proses pelapukan bahan yang dilakukan dengan cara membunbun serbuk gergaji kemudian menutupinya dengan plastik

5.    Pembungkusan (pembuatan baglog)
Pembungkusan menggunakan plastik polipropilen (PP) dengan ukuran yang dibutuhkan, cara membungkus yaitu dengan memasukkan media ke dalam plastik kemudian dipukul/ditumbuk sampai padat dengan botol atau menggunakan filler (alat pemadat) kemudian disimpan

6.    Sterisasi
Dilakukan dengan mempergunakan alat sterilizer yang bertujuan menginaktifkan mikroba, bakteri, kapang, maupun khamir yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur yang ditanam. Sterilisasi dilakukan pada suhu 90-1000C selama 12 jam.

7.    Inokulasi (pemberian bibit)
Adalah kegiatan memasukkan bibit jamur ke dalam media jamur yang telah disterilisasi. Baglog ditiriskan selama 1 malam setelah sterilisasi, kemudian kita ambil dan ditanami bibit diatasnya dengan mempergunakan sendok makan / sendok bibit sekitar + 3 sendok makan kemudian diikat dengan karet dan ditutup dengan kapas.

Bibit yang baik yaitu :
  • bibit  berasal dari strain atau varietas unggul
  • umur bibit optimal 45-60 hari
  • warna bibit merata
  • bibit tidak terkontaminasi
  • belum ditumbuhi jamur

8.    Inkubasi (masa pertumbuhan miselium)
Dilakukan dengan cara menyimpan di ruangan inkubasi dengan kondisi tertentu. Inkubasi dilakukan hingga seluruh media berwarna putih merata, biasanya media akan tampak putih merata antara 40-60 hari.

9.    Panen
 a.    Penentuan saat panen
Panen dilakukan setelah pertumbuhan jamur mencapai tingkat yang optimal, pemanenan ini biasanya dilakukan 5 hari setelah tumbuh calon jamur. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari untuk mempertahankan kesegarannya dan mempermudak pemasaran.

b.    Teknik pemanenan
Pemanenan perlu dilakukan dengan mencabut keseluruhan rumpun hingga akar-akarnya untuk menghindari adanya akar atau batang jamur yang tertinggal. Adanya bagian jamur yang tertinggal tersebut dapat membusuk sehingga dapat mengakibatkan kerusakan media, bahkan dapat merusak pertumbuhan jamur yang lain.

c.    Penanganan pasca panen
Jamur yang sudah dipanen tidak perlu dipotong hingga menjadi bagian perbagian tudung, tetapi hanya perlu dibersihkan kotoran yang menempel di bagian akarnya saja. Dengan cara tersebut, disamping kebersihannya lebih terjaga, daya tahan simpan jamur pun akan lebih lama.


G.    MANFAAT BUDIDAYA JAMUR
  • Menambah sumber pangan yang bernilai gizi tinggi
  • Menambah pendapatan keluarga
  • Dapat memanfaatkan lahan pekarangan
  • Dapat menjadi usaha sampingan
  • Dapat menyerap tenaga kerja

Daftar Pustaka

Cahyana YA, Muchrodji, M. Bakrun, 2008, JAMUR TIRAM, Penerbit PenebarSwadaya, Jakarta.

Nunung Marlina Djarijah dan Abbas Siregar Djarijah, 2001, BUDIDAYA JAMUR TIRAM, Penerbit Kanisius, Ygyakarta.

Agustin Widya Gunawan, 2008, USAHA PEMBIBITAN JAMUR TIRAM, Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.

Syammahfuz Chazali, Putri Sekar Pratiwi, 2009, USAHA JAMUR TIRAM, Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.


Artikel Menarik lainnya :