Pengembangan Kurikulum

Posted by Sanjaya Yasin 1 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

Pengembangan kurikulum secara umum bersifat menyeleruh(komperhensif), yakni mencangkup suatu perencanaan, penerapan dan hasil akhir atau evaluasi. Perencanaan kurikulum ini adalah langkah awal sebagai pondasi dari subyek atau pelaku kurikulum yang telah diputuskan dan di tindak lanjuti dengan suatu aksi untuk mencapai perencanaan yang akan diterapkan oleh guru dan peserta didik. Perencanaan kurikulum atau nama trensnya implementasi kurikulum mencoba untuk mengirim perencanaan tersebut dengan suatu bentuk action operasional. Evaluasi kurikulum adalah hasil akhir dari suatu perencanaan kurikulum untuk melihat sejauh mana perencanaan yang telah diterapkan dengan prioritas guru sebagai pengajar dan peserta didik yang memiliki tujuan untuk kedepannya lebih cerah dengan peringkati-peringkat program yang telah direncankan. Pengembangan kurikulum


Dalam pengembangan kurikulum, kaitannya dengan orang-orang yang terlibat didalamnya tidak hanya mereka yang terkait langsung dengan pendidikan, tetepi dari orang-orang dluar pendidkan dan juga unsur masyarakat yang peduli dengan pendidikan.

Keragaman sosial, aspirasi politik, keadaaan ekonomi, semua ini ada pada realita masyarakat bangsa indonesia. Dengan adanya realita ini sebenarnya faktor yang terpenting dalam pengembangan kurikulum. Sayangnya dengan adanya realita keragaman di negara kita ini dalam implentasi kurikulum tidak tetap digunakan sebagai landasan untuk guru didalam mengambangkan kurikulum. Padahal keragaman ini berpengaruh kepada guru dalam kurikulum, lembaga pendidikan untuk melayani pengalaman pengajara, dan kemampuan peseta didik dalam proses belajar untuk dapat mengolah informasi sebagai hasil belajar.



B.    Rumusan Masalah.
  1. Apa pengertian dari kurikulum itu sendiri ?
  2. Bagaimana pengembangan kurikulum tersebut?
  3. faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pengembangan kurikulum?
  4. Apa saja hambatan yang mempengaruhi pengembangan kurikulum?

C.    Tujuan
  1. Untuk mengetahui pengertian dari  kurikulum.
  2. Untuk mengetahui pengertian pengembangan kurikulum dan pegangannya.
  3. Untuk mengetahui factor-faktor apa saja yang mempengarhui pengembangan kurilkullum.
  4. Untuk mengetahui hambatan yang mempengaruhi pengembangan kurikulum.

 
 
BAB II
PEMBAHASAN
Pengembangan Kurikulum

A.    Pengertian Kurikulum

Cukup banyak sebenarnya pengertian kurikulum berdasrakan para ahli. Lazimnya kurikulum dipandang sebagai suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar dibawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan peserta staf pengajarnya.  Dari para orientalis dan para ahli lokal yang memiliki sudut pandang yang berbeda tetapi memiliki tujuan yang sama yakni untuk mencapai tujuan bersama.Kurikulum adalah segala kegiatan dan pengalaman belajar yang direncana dan diorganisir untuk dilakukan dan dialami oleh anak didik agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah di tetapkan.Kurikulum juga dapat di artikan perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut.

Kurikulum memuat isi dan materi pelajaran. Kurikulum ialah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan. Mata pelajaran (subjek materi) dipandang sebagai pengalaman orang tua atau orang-orang pandai masa lampau, yang disusun secara sistematis dan logis.  dan kurikulum juga merupakan program pendidikan yang disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi siswa. Berdasarkan program tersebut siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehingga mendorong perkembangan dan pertumbuhannya sesuai dengnan tujuan pendidikan yanng telah ditetapkan.

Dalam PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dijelaskan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum merupakan komponen yang sangat penting dalam pendidikan. Tanpa adanya suaatu kurikulum proses pendidikan tidak berjalan dengan lancar. Dengan adanya kurikulum tersebut sebagai komponen di tuntut untuk memenuhui ketercapaian tujuan pendidikan. Di dalam kurikulum trangkum berbagai kegiatan dan pola dalam pengajaran, dimana guru sebagai salah satu unsur yang secara langsung berhubungan dengan pedidikan harus mengetahui hal-hal yang ada pada kurikulum dengan cara mempelajarinya terlebih dahulu.
Ada sejumlah ahli teori kurikulum yang berpendapat bahwa kurikulum bukan hanya meliputi semua kegiatan yang direncanakan melainkan juga peristiwa-peristiwa yang terjadi dibawah pengawasan sekolah, jadi selain kegiatan kurikuler yang formal juga kegiatan yang tak formal.

 
B.    Pengembangan Kurikulum

Pengembangan kurikulum adalah usaha yang di lakukan dalam rangka menemukan kurikulum yang sesuai dengan tantangan zaman pada saat itu yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar yang semakin mengalami kemajuan.   

Salah satu pegangan dalam pegembangan kurikulum ialah prinsip-prinsip yang di kemukakan oleh Raiph Tyler (1949).Ia mengemukakan kurikulum di tentukan oleh empat faktor atau asas utama,yaitu:
  • Falsafah bangsa,masyarakat, sekolah dan guru-guru (aspek filosofis)
  • Harapan dan kebutuhan masyarakat (Orang tua, kebudayaan, masyarakat, pemerinta, pemerintah, agama, ekonomi,dan sebagainya) (aspek sosiologis)
  • Hakikat anak antara lain taraf pengembangan  fisik,mental,psikologis,emosional, sosial, serta cara ana belajar(Aspek psikologis)
  • Hakikat pengetahuan atau disiplin ilmu(Bahan pelajaran)

Dari ke empat faktor atau asas utama telah merupakan pegangan umum dalam pengembangan kurikulum, namun masih perlu lagi pegangan yang lebih rinci, yakni 
  1. Memilih pendekatan kurikulum yang serasi untuk mendesain kurikulum dengan mempertimbangkan keempat asas utama itu.
  2. Berdasarkan pendekatan yang dipilih, menentukan mata pelajaran/mata kuliah yang akan disajikan, beserta scope dan sequencenya yang dianggap dapat mencapai tujuan lembaga pendidikan itu.


Beberapa pendekatan-pendekatan pengembangan kurikulum, di antaranya :
 
a.    Pendekatan Bidang Studi
Pada pendekatan ini menggunakan bidang studi atau mata pelajaran sebagai dasar organisasi kurikulum, misalnya: matematika, sain, sejarah, geografi, atu IPA, IPS, dan sebagainya seperti lazim yang kita dapati dalam system pendidikan kita sekarang di semua sekolah dan universitas.
Yang di utamakan dalam pendekatan ini adalah penguasaan bahan dan proses dalam disiplin ilmu tertentu. Tipe organisasi ini sesuai denngan falsafah realisme.
 
b.    Pendekatan Interdisiplioner
Beberapa pendekatan interdisipliner dalam pengembangan kurikulum, yaitu
 
1)    Pendekatan “Broad – Field”
Pendekatan ini berusaha mengintegrasikan beberapa disiplin atau mata pelajaran yang saling berkaitan agar siswa memahami ilmu pengetahuan tidak berada dalam vakum atau kehampaan akan tetapi merupakan bagian integrnal dari kehidupan manusia.

Pendekatan broad – field ini juga dapat digunakan agar siswa memahami hubungan yang kompleks antara kejadian-kejadian didunia, misalnya antara perang Vietnam dan Korea dengan kebangkitan ekonomi Jepang, antara perang irak – iran dengan harga minyak bumi di Indonesia, dan lain-lain.
Pendekatan broad field cenderung menganut idealism, akan tetapi banyak mengandung unsur-unsur relisme.
 

2)    Pendekatan kurikulum inti (Core Curriculum)
Kurikulum ini banyak persamaannya denngan kurikulum broad – field, karena juga menggabungkan berbagai disiplin ilmu. Kurikulum diberikan berdasarkan suatu masalah social atau personal. Untuk memecahkan masalah itu digunakan bahan dari berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan masalah itu.

Kurikulum ini berusaha menghilangkantembok pemisah yang tak wajar antara berbagai disiplin ilmu agar siswa dapat menerapkan secara fungsional pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya dari berbagai disiplin ilmu guna memecahkan masalah social personal masa kini.
 
3)    Pendekatan kurikulum inti di perguruan tinggi
Istilah inti (core) juga digunakan dalam kurikulum perguruan tinggi. Dengan “core” dimaksud pengetahuan inti yang pokok yang diambil dari semua disiplin ilmu pengetahuan yang dianggap layak dimiliki oleh tiap orang terdidik dan terpelajar dan juga pengetahuan umum ini layak dimiliki tiap mahasiswa lepas dari jurusan yang dipilihnya.
 
4)    Pendekatan kurikulum Fusi
Kurikulum ini menfusikan atau menyatuka dua (atau lebih) disiplin tradisional menjadi bidang studi baru, misalnya: georafi + geologi + botani + arkiologi menjadi earth sciences.
Semua pendekatan interdisipliner ini mempunyai tujuan yang sama, yakni mengajar belajar lebih relevan dan bermakna serta lebih mudah dipahami dalam konteks kehidupan kita.
 

c.    Pendekatan Rekonstruksionisme
Pendekatan ini juga disebut Rekonstruksi Sosial karena memfokuskan kurikulum pada masalah-masalah penting yang dihadapi dalam masyarakat, seperti polisi, ledakan penduduk, rasialisme, interdependensi global, kemiskinan, malapetaka akibat kemajuan teknologi, perang dan damai, keadilan social, hak asasi manusia, dan lain-lain.
Dalam gerakan Rekonstruksionisme ini terdapat dua kelompok utama yang sangat berbeda pandangnannya tentang kurikulum, yakni
  • Rekonstruksionisme konservatif
Aliran ini menginginkan agar pendidikan di tujukan kepada peningkatan mutu kehidupan induvidu maupun masyarakat dengan mencari penyelesaian masalah-masalah yang paling mendesak yang dihadapi masyarakat.
 
  • Rekonstruksionalisme radikal
Pendekatan ini berpendapat bahwa banyak Negara mengadakan pembangunan merugikan rakyat kecil yang merupakan mayoritas masyarakat.
 

Kurikulum ini berpusat pada siswa, jadi “student centered”, dan mengutamakan perkembangan afektif siswa sebagai prasyarat dan sebagai bagian integral dari proses belajar. Para pendidik humanistic yakin, bahwa kesejahteraan mental dan emonsional siswa harus dipandang sentral dalam kurikulum, agar belajar itu memberikan hasil maksimal.

Pendekatan humanistic dalam kurikulum didasarkan atas asumsi-asumsi sebagai berikut :
  1. Siswa akan lebih giat belajar dan bekerja bila harga dirinya dikembangkan sepenuhnya.
  2. Siswa yang diturut sertakan dalam perencanaan dan pelaksanaan pelajaran akan merasa beertanggung jawab atas keberhasilannya.
  3. Hasil belajar akan semakin meningkat dalam suasana belajar yang melliputi rasa saling mempercayai, saling membantu, saling memperdulikan dan bebas dari ketegangan yang berlebihan.
  4. Guru berperan sebagai fasilitator belajar memberii tanggung jawab kepada siswa atas kegiatannya belajar dan memupuk sikap positif terhadap “apa sebab” dan “bagaimana” mereka belajar.
  5. Kepedulian siswa akan pelajaran memegang peranan penting dalam penguasaan bahan pelajaran itu.
  6. Evaluasi diri bagian penting dalam proses belajar yang memupuk rasa harga diri.

Kurikulum humanistic didasarkan atas apa yang kadang-kadang disebut “psikologi humanistic” yang erat hubungannya dengan spikologi lapangan (field psychology) dan teori kepribadian (khususnya maslow). Seorang humanis dapat mennganut salah satu dari keempat falsafah pendidikan utama. Pendekatan humanistic tampak terutama dalam proses interaksi dalam kelas, dalam suasana belajar, dalam cara menyajikan pelajaran, jadi bukan dalam orientasi falsafahnya.

 
e.    Pendekatan “Accountability”
Accountability atau pertanggung jawaban lembaga pendidikan pelaksanaan tugasnya kepada masyarakat, akhir-akhir ini tampil sebagai pengaruh yang penting dalam dunia pendidikan. Namun, menurut banyak penngamat pendidikan accountability telah mendesak pendidikan dalam arti sebenarnya dalam latihan belaka. Accountability yang sistematik pertama kalinya diperkenalkan olek Frederick Tailor dalam bidang industry pada permulaan abad ini. Pendekatannya, yang kelak dikenal sebagai “scientific management” atau manajemen ilmiah, menetapkan tugas-tugas spesifik yang harus diselesaikan oleh pekerja dalam waktu tertentu. Tiap pekerja bertanggung jawab atas penyelesaian tugas itu.

 
f.    Pendekatan pembangunan nasional
Pada peendekatan ini mengandung tiga unsur, yakni 


  • Pendidikan kewarganegaraan
Berorientasi pada system politik yanng menentukan peranan, hak, dan kewajiban tiap warganegaraan. Peranan pendidikan adalah mempersiapkan siswa agar memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk disumbangkan kepada kesejahteraan umum sebagai warganegaraan aktif.
 

  • Pendidikan sebagai alat pembangunan
Tujuan pendidikan ini ialah mempersiapkan tenaga kerja yang diperlukan memenuhi kebutuhan pembangunan. Untuk itu harus diadakan proyeksi kebutuhan Negara kerja yang cermat. Para pengembang kurikulum bertugas mendesain program yang sesuai denngan analisis jabatan yang akan diduduki. Suatu system testing kopeherensi harus disusun untuk menjaring mereka yang memperlihatkan bakat yang sesuai dengan program tertentu.


 
  • Pendidikan keterampilan praktis bagi kehidupan sehari-hari

Keterampilan yang diperlukan bagi kehidupan sehari-hari dapat dibagi dalam beberapa katagori yang tidak hanya bercorak keterampilan akan tetapi juga mengandung aspek penngetahuan dan sikap, yakni
  • Keterampilan untuk mencari nafkah dalam ranngka system ekonomi suatu Negara
  • Keterampilan untuk mengembangkan masyarakat 
  • Keterampilan untuk menyumbang kepada kesejahteraan umum
  • Keterampilan sebagai warga Negara yang baik.

Pendekatan ini menggabungkan humanism denngan pendidikan kewargganegaraan dan pendidikan pembangunan nasional .

 

C.    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum

Dalam pengembanga kurikulum terdapat dua proses utama yakni pengembangan pedoman kurikulum dan pengembangan pedoman nstruksional.
 
1.    Pedoman kurikulum meliputi:
  • Latar belakang yang berisi rumusan falsafah dan tujuan lembaga pendidikan,populasi yang menjadi sasaran,raional idang studi atau mata kulyah,struktur organisasi bahan belajar.
  • Silabus yang berisi mata pelajaran secara lebih terperinci yag di berikan yakni scope (ruang lingkup) dan urutan penyajiannya.
  • Desain evaluasi termasuk strategi revisi atau perbaikan kurikulum mengenai: bahan pelajaran dan organisasi bahan dan strategi instruksionalya.


2.    Pedoman instuksional untuktiap mata pelajaran yang di kembangkan berdasarkan silabus.
Kaitannya dengan kurikulum ada tiga faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum, yaitu :
  • Perguruan Tinggi;
  • Masyarakat;
  • Sistem nilai.


1.    Pergururan Tinggi

Dari faktor perguruan tinggi ini memberikan dua pengarauh pada kurikulum sekolah:
  • Diamati dari segi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diterapkan di perguruan tinggi umum. Pengetahunan dan teknologi banyak memberikan sumbangsih pada isi kurikulum serta proses pembelajaran. Jenis dari pengetahuan akan mempengaruhi pada isi pelajaran yang akan dikembangakan pada kurikulum. Sedangakan isi dari kurikulum yang berperan sebagai alat bantu dan media adalah perkembangan teknollogi.
  • Dari segi pengembangan ilmu terutama untuk lembaga yang menyediakan jurusan keguruan sperti IKIP, FKIP, dan STKIP. Degan tesedianya fakultas tersebut sudah merupakan salah satu bentuk mempengaruhi pengembangan kurikulum. Terutama pada penguasaan ilmu dan potensi keguruan dari otput-output perguruan tinggi.

Pengusaan keilmuan, baik ilmu pendidikan maupun ilmu bidang studi serta kemampuan mengajar dari guru-guru akan sangat mempengaruhi pengembangan dan implementasi kurikulum di sekolah. Guru-guru yang mengajar pada berbagai jenjang dan jenis sekolah yang ada dewasa ni, umumnya disiapkan oleh LPTK melalui berbagai program, yaitu program diploma dan sarjana. Pada Sekolah Dasar masih banyak guru berlatar belakang pendidikan SPG , tetapi secara berangsur-angsur mereka mengikuti peningkatan kompetensi dan kualifikasi pendidikan guru melalui program diploma dan sarjana.
 

2.    Masyarakat

Sekolah disini adalah bagian dari masyarakat, yakni peserta didik yang telah belajar brtahun-tahun ujung-ujungnya meraka semua akan mengabdi pada masyarakat tentunya dengan harkat martabat yang sesuasi dengan adat bermasayarkat. . Sebagai bagian dan agen masyarakat, sekolah sangat dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat di tempat sekolah tersebut berada. Isi kurikulum hendaknya mencerminkan kondisi masyarakat penggunanya serta upaya memenuhi kebutuhan dan tuntutan mereka.

Masyarakat yang ada di sekitar sekolah mungkin merupakan masyarakat yang homogen atau heterogen. Sekolah berkewajiban menyerap dan melayani aspirasi-aspirasi yang ada di masyarakat. Salah satu kekuatan yang ada dalam masyarakat adalah dunia usaha. Perkembangan dunia usaha yang ada di masyarkat akan mempengaruhi pengembangan kurikulum. Hal ini karena sekolah tidak hanya sekedar mempersiapkan anak untuk selesai sekolah, tetapi juga untuk dapat hidup, bekerja, dan berusaha. Jenis pekerjaan yang ada di masyarakat berimplikasi pada kurikulum yang dikembangkan dan digunakan sekolah.


3.    Sistem Nilai

Dalam kehidupan bermasyarakat terdapat sistem nilai, baik nilai moral, keagamaan, sosial, budaya maupun nilai politis. Sekolah sebagai lembaga masyarakat juga bertangung jawab dalam pemeliharaan dan pewarisan nilai-nilai positif yang tumbuh di masyarakat

Sistem nilai yang akan dipelihara dan diteruskan tersebut harus terintegrasikan dalam kurikulum. Persoalannya bagi pengembang kurikulum ialah nilai yang ada di masyarakat itu tidak hanya satu. Masyarakat umumnya heterogen, terdiri dari berbagai kelompok etnis, kelompok vokasional, kelompok intelek, kelompok sosial, dan kelompok spritual keagamaan, yang masing-masing kelompok itu memiliki nilai khas dan tidak sama. Dalam masyarakat juga terdapat aspek-aspek sosial, ekonomi, politk, fisik, estetika, etika, religius, dan sebagainya. Aspek-aspek tersebut sering juga mengandung nilai-nilai yang berbeda.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengakomodasi pebagai nilai yang tumbuh di masyarakat dalam kurikulum sekolah, diantaranya :
  • Mengetahui dan memperhatikan semua nilai yang ada dalam masyarakat
  • Berpegang pada prinsip demokratis, etis, dan moral
  • Berusaha menjadikan dirinya sebagai teladan yang patut ditiru
  • Menghargai nlai-nilai kelompok lain
  • Memahami dan menerima keragaman budaya yang ada


4.    Hambatan-hambatan yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum
 
Dalam pengembangan kurikulum terdapat beberapa hambatan-hambatan antara lain:
  • Kurangnya partisipasi guru.
  • Datang dari masyarakat.
  • Kurang waktu.
  • Kekurang sesuaian pendapat (baik antara sesama guru dengan kepala sekolah dan administrator).
  • Karena kemampuan dan pengetahuan guru sendiri.


Dalam pengembangan suatu kurikulum banyak pihak yang turut serta dalam partisipasi, yaitu administrasi pendidikan , ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli bidang ilmu pengetahuan, guru-guru, dan orang tua murid. Serta tokoh  masyarakat. 
 
a.    Peran para administrasi pendidikan
Peranan para administrator ditingkat  pusat dalam pengembangan kurikulum adalah menyusun dasar-dasar hokum, menyusun kerangka dasar serta program intinkuriulum. Administrator tingkat pusat bekerja sama dengan para ahli pendidikan dan ahli bidang studi di pergruan tinggi serta meminta persetujuannya terutama dalam penyusunan kurikulum.
 
b.    Peran para ahli
Pengembangan kurikulum bukan hanya sekedar memilih dan menyusun bahan pelajaran dan metode mengajar, tetapi menyangkut dengan penentuan arah dan orientasi pendidikan, pemilihan system dan modeli kurikulum, baik model konsep, model dasain, dll.

Partisipasi para ahlli pendidikan dan ahli kurukulum terutama sangat dibutuhkan dalam pengembangan kurikulum pada tingkat pusat.
 
c.    Peranan guru
Guru memegang sangat penting di dalam perencananaan maupun pelaksanaan kurikulum, karena tanpa peran guru kurikulum tidak ada bedanya dengan perencanaan yang hanya berbentuk tulisan. Peran guru bukan hanya memberikan nilai prestasi pada murid, tetapi guru juga memberikan implimentasi kurikulum dalam lingkup yang luas. Guru juga berperan sebagai pengajar di masyarakat, sebab ia harus belajar struktur social masyarakat, nilai-nilai utama dalam masyrakat.
 
d.    Peranan orang tua murid
Orang tua murid juga mempunyai peranan dalalm pengembanan kurikulum. Ada dua hal berkenaan degan meraka;Dalam ha penyusunpa irang tua kurikullum dan pelaksanaan kurikulum. Dalam penyususnan kurikulum tidak semua orang tua ikut serta hanya terbatas beberapa orang tua murid.




BAB III
PENUTUP
Pengembangan Kurikulum
Simpulan

Kurikulum sangat luas cakupannya tapi masih terikat terhadap pendidikan atau dapat di katakan sebagaiseperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Prorses perkembangan kurikulum sebagai sifatnya yang sentiasa berubah turut dipengaruhi oleh faktor-faktor persekitaran yang merangsang reaksi manusia yang terlibat dalam kepentingannya. Hasrat terhadap perubahan kurikulum itu menggambarkan keperluan pendidikan yang menjadi wadah penerus kemajuan bangsa dan negara itu sendiri. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan perkembangan kurikulum adalah elemen yang saling berkait antara satu sama lain. Dapat dikatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kurikulum itu sendiri mencerminkan idealisme dan perubahan keperluan masyarakat dan negara, melalui institusi persekolahan yang akan meneruskan kebudayaan.Kurikulum bersifat dinamis artinya selalu menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman sehingga selalu mengalami perkembangan. Pengembangan Kurikulum


Artikel Menarik lainnya :