Evaluasi Kurikulum

Posted by Sanjaya Yasin 1 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

A. Pengertian Evaluasi Kurikulum
Banyak ahli yang telah menyumbangkan buah pikirannya tentang evaluasi kurikulum antara lain :
  1. Menurut Morison evaluaasi adalah perbuatan pertimbangan berdasarkan seperangkat kriteria yang disepakati dan dapat dipertanggungjawabkan.
  2. Dalam buku The School Curruculum, evaluasi dinyatakansebagai suatu proses pengumpulan dan analisis data secara sistematis yang bertujuan untuk membantupendidikan memehami dan menilai suatu kurikulum, srta memperbaiki metode pendidikan
  3. Adapapun dalam buku Curriculum Plannning and Develoment dinytakan bahwa evaluasi adalah proses untuk menilai kinerja pelaksanaan suatu kurikulum artinya  evaluasi tidak akan terjadi kecuali telah mengetahui tujuan yang akan dicapai, tujuan tersebutt harus diperiksa hala-hala yang telah dan sedang dilakukan serta evaluasi harus mengambil kesimpulan berdasarkan kriteria tertentu.
  4. Dalam teori dan praktek pendidikan evaluasi kurikulum merupakan suatu bidang yang berkembang dengan cepat, termasuk evaluasi terhadap implementasi kurikulum.
Evaluasi kurikulum memegang peran penting baik dalam penentuan kebijaksanaan pendidikan pada umumnya, maupun dalam pengambilan keputusan dalam kurikulum. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijaksaan pendidikan dan para pemegang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijaksanaan pemegang system pendidikan dan pemegang model kurikulum yang digunakan. Hasil-hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya, dalam memahami dan membantu perkembangan siswa, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya.
Evaluasi kurikulum sulit dirumuskan secara tegas, hal tersebut disebabkan beberapa faktor :
  1. Evaluasi kurikulum berkenaan dengan fenomena-fenomena yang terus berubah
  2. Objek evaluasi kurikulum adalah sesuatu yang berubah-ubah sesuai dengan konsep kurikulum yang digunakan
  3. Evaluasi kurikulum merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh manusia yang sifatnya juga berubah.
Evaluasi dan kurikulum merupakan dua disiplin yang berdiri sendiri. Ada pihak yang berpendapat antara keduannya tidak ada hubungan, tetapi ada pihak lainyang menyatakan keduannya mempunyai hubungan yang sangat erat. Pihak yang memandang ada hubungan, hubungan tersebut merupakan hubungan sebab akibat. Perubahan dalam kurikulum berpengaruh pada evaluasi kurikulum, sebaliknya perubahan evaluasi akan member warna pada pelaksanaan kurikulum. 


B. Aspek – Aspek Evaluasi Kurikulum
1. Keterkaitan Antara Evaluasi Kurikulum Dan Pengembangan Kurikulum

a. Evaluasi kurikulum dan system kurikulum
Sebagai suatu bagian dari system evaluasi pendidikan, secara fungsional evaluasi kurikulum merupakan bagian dari system kurikulum. luSystem kurikulum memiliki tiga fungsi pokok yaitu pengembangan kurikulum, pelaksanaan kurikulum dan evaluasi efek system kurikulum.
Evaluasi kurikulum minimal berfokus pada empat bidang yaitu, evaluasi terhadap penggunaan kurikulum, desain kurikulum, hasil dari siswa, dan system kurikulum.

b. Evaluasi kurikulum dan pengembangan kurikulum
Tylor berpendapat dalam buku Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum,evaluasi kurikulum minimal terjadi dua kali yaitu pada awal dan akhir pengembangan kurikulum agara dapat mengukur perubahan dalam jangka waktu tersebut. Pengembangan kurikulum adalah proses yang meliputi kegiatan untuk melaksanakan percobaan evaluasi, sehingga kekurangan yang ditemukan dapat diperbaiaki untuk hasil yang lebih baik. 
Konsep R.A Becher tentang pengembangan kurikulum dan evaluasi kurikulum, pada mulanya bersifat deskriptif yaitu menekankan pada what is it?, tetapi kemudian berkembang kepada yang bersifat preskriftif, yang menekankan pada what ought to be.
Evaluasi merupakan kegiatan yang luas, kompleks dan terus menerus untuk mengetahui proses dan hasil pelaksanaan system pendidikan dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Evaluasi juga meliputi rentang yang cukup luas, mulai yang bersifat sangat informal sampai yang sanat formal. Pada tingkat yang sangat informal evaluasi kurikulum berbentuk perkiraan, dugaan atau pendapat tentang perubahan-perubahan yang dicapai oleh program sekolah. Pada ringkat yang lebih formal evaluasi kurikulum meliputi pengumpulan dan pencatatn data, sedangkan pada tingkat yang sangat formal berbentuk pengukuran berbagai bentuk kemajuan kearah tujuan yang telah ditentukan. 


2. Prinsip-Prinsip Evaluasi Kurikulum
  • Tujuan tertentu, artinya setiap program evaluasi kurikulum terarah dalam mencapai tujuan yan telah ditentukan secara jelas dan spesifik. Tujuan itu pula yang mengarahkan berbagai kegiatan dalam proses pelaksanaan evaluasi kurikulum
  • Bersifat obyektif, artinya berpijak pada keadaan yang sebenarnya, bersumber dari data yang nyata dan akurat, yang diperoleh melalui instrument yang handal
  • Bersifat komprehensip, mencakup semua dimensi atau aspek yang terdapat dalam ruang lingkup kurikulum. Seluruh komponen kurikulum harus mendapat perhatian dan pertimbangan secara seksama sebelum dilakukan pengambilan keputusan
  • Koopratif dan bertanggung jawab dalam perencanaan, pelaksanaan dan keberhasilan suatu program evaluasi kurikulum merupakan tanggung jawab bersama pihak-pihak yang  terlibat dalamproses pendidikan seperti guru,  kepala sekolah, orang tua bahkan siswa dan sebagainya
  • Efisien, kkhususnya dalam penggunaan waktu, biaya, tenaga, dan peralatan yang menjadi unsur penunjang. Oleh karena itu, harus diupayakan agar hasl evaluasi lebih tinggi, atau paling tidak berimbang dengan mateeril yang digunakan
  • Berkesinambungan. Hal ini diperlukan mengingat tuntutan dari dalam dan luar sekolah, yang meminta diadakannya perbaikan kurikulum

3. Jenis-Jenis Straregi Evaluasi
  • Strategi pertama, penentuan lingkungan tempat terjadinya perubahan, terdapat berbagai kebutuhan yang tidak atau belum terpenuhi dan juga berbagai masalah yang mendasari timbulnya kebutuhan serta kesemmpatan untuk terjadinya perubahanStrategi kedua, pengenalan dan penilaian terhadap berbagai kemampuan yang relevan
  • Strateggi ketiga, pendekatan dan prediksi hambatan yang mungkin terjadi dalam desain procedural atau implemmentasi sepanjang tahap pelaksanaan program
  • Strategi keempat, pnentuan keefektifan proyek yang telah dilaksanakan melalui pengukuran dan penafsiran hasil-hasil yang telah dicapai sehngga seorang evaluator dapat memilih strategi yang tepat 

4. Prosedur Strategi Evaluasi
a. Evalusi kebutuhan dan Feasibility
Prosedur yang dapat dilakukan oleh organisasi atau administrator tingkat pelaksana. Prosedur yang dilaksanakan adalah
  1. Merumuskan tipe dan jenis mata pelajaran atau program yang sekarang sedang dismpaikan
  2. Menetapkan program yang dibutuhkan
  3. Menilai data setempat  berdasarkan tes baku, tes intelengensi dan tes sikap yang ada
  4. Menilai riset yang telah ada baik riset setempat maupun riset tingkat nasional yang sama atau berhubungan
  5. Menetapkan feasibility pelaksanaan program sesuai dengan sumber-sumber yang ada
  6. Mengenali masalah-masalah yang mendasari kebutuhan
  7. Menentukan proyek yang akan dikembangkan guna berkontribusi pada system sekolah

b. Evaluasi masukan
Evaluasi masukan melibatkan para supervisor, konsultan dan ahli mata pelajaran yang dapat merumuskan pemecahan masalah. Pemecahan masalah ini harus dilihat dalam hubungannya dengan hambatan (misalnya penerimaan pemecahan masalah tersebut oleh guru dan siswa) jadi, evaluasi masukan menuju kearah pengembangan berbagai strategi dan prosedur, yang dalam pembbuatan keputusannya sangat dibutuhkan informasi yang akuarat selain itu masukan juga berusaha mengenali daerah permasalahan agar dapat diawasi selam berlangsungnya implementasi
c. Evaluasi proses
Evaluasi proses adalah system pengelolaan informasi dalam upaya membuat keputusan yang  berkenaan dengan ekspansi, kontraksi, modifikasi, dan klarifikasi strategi pemecahan atau penyelesaian masalah. Dalam hal ini staff perpustakaan memainkan peran yang sangat penting, karena mereka secara langsung melakukan monitoring terhadap desain dan prosedur pelaksanaan, serta memberikan informasi tentang kegiatan-kegiatan program
d. Evaluasi produk
Evaluasi ini berkenaan dengan pengukuran terhadap hasil-hasil program dalam kaitannya dengan tercapainya tujuan. Berbgai variable yang diuji bergantung pada tujuan, perubahan sikap, perbaikan kemampuan dan perbaikan tingkat kehadiran. Dari evaluasi akan diperoleh data dan informasi yang cukup valid serta dapat dipercaya dalam upaya pembuatan keputusan dan program perbaikan.  

5. Kompnen Desain Evaluasi
Desain evaluasi menguraikan tentang, 1). Data yang harus dikumpulkan, 2). Analisis data untuk membuktikan nilai dan efektivitas kurikulum.
Desain evaluasi biasanya terdiri dari sekurang-kurangnya lima langkah, yaitu;
  • Merumuskan tujuan evaluasi kurikulum
  • Mendesain proses dan metodologi evaluasi
  • Menspesifisikan data yang diperlukan untuk menyusun intrumen bagi proses bagi pengumpulan data
  • Mengumpulkan, menyusun dan mengolah data
  • Menganalisis data dan menyusun laporan mengenai hasil-hasil, kesimpulan dan rekomendasi. 



6. Model – Model Evaluasi Kurikulum
a. Evaluasi model penelitian 
Eksperimen lapangan dalam pendidikan, dimulai pada tahun 1930, dengan menggunakan metode yang biasa digunakan dalam penelitian botani pertanian. Para ahli botani pertanian mengadakan percobaan untuk mengetahui produktivitas bermacam-macam benih. Percobaan serupa juga dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh tanah, pupuk dan sebagainya terhadap produktivitas suatu macam beih. Model eksperimen dalam botani pertanian dapat digunakan dalam pendidikan, anak dapat disamakan dengan benih sedangkan kurikulum serta berbagai fasilitas dan sistem sekolah dapat disamakan dengan tanah dan pemeliharaannya. Untuk mengetahui tingkat kesuburan benih (anak) serta hasil yang dicapai pada akhir program percobaan dapat digunakan dengan tes (pre test dan post test).. 

Ada beberpa kesulitan yang dihadapi dalam eksperimen tersebut, yaitu :
  1. Kesulitan administrative, sedikit sekali sekolah yang bersedia dijadikan sekolah eksperimen
  2. Masalah teknik dan logis, yaitu kesulitan menciptakan kondisi kelas yang sama untuk kelompok-kelompok yang diuji.
  3. Sulit mencampurkan guru-guru untuk mengajar pada kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol, pengaruh guru-guru tesebut sulit dikontrolA
  4. danya keterbatasan mengenai manipulasi eksperimen yang dapat dilakukan.

b. Evaluasi model objektif (tujuan)
Dalam model objektif , evaluasi merupakan bagain yang sangat penting dari proses pengembangan kurikulum. Para evaluator juga mempunyai peranan menghimpun pendapat-pendapat orang luar tentang inovasi kurikulum yang dilaksanakan. Kurikulum tidak dibandingkan dengan kurikulum lain tetapi diukur dengan seperangkat tujuan khusus.
Persyaratan yang harus dipenuhi oleh pengembang model objektif:
  • Adanya kesepakatan tentang tujuan-tujuan kurikulum
  • Merumuskan tujuan-tujuan tersebut dalam perbuatan siswa
  • Menyususn materi kurikulum yang sesuai dengan tujuan tersebut
  • Mengukur kesesuaian antara perilaku siswa dengan hsil yang diinginkan

c. Evaluasi campuran multivariasi
Evaluasi model perbandingan dan model Tylor dan Bloom melahirkan evaluasi model campuran multivariasi, yaitu strategi evaluasi yang menyatukan unsure-unsur dari kedua pendekatan tersebut. 
Langkah – langkah model multivariasi tersebut adalah sebagai berikut:
  • Mencari sekolah yang bersedia dievaluasi atau diteliti
  • Pelaksanaan program. Bila tidak ada pencampuran sekolah tekanannya pada partisipasi yang optimal
  • Sementara tim menyusun tujuan yang meliputi semua tujuan dari pengajaran umpamanya dengan metode global dan metode unsure, dapat disiapkan tes tambahan
  • Bila semua informasi yang diharapkan telah terkumpul, maka mulailah pekerjaan computer
  • Tipe analisis dapat juga digunakan untuk mengukur pengaruh bersama dari bebrapa variabel yang berbeda

Beberapa ksesulitan yang dihadapi dalam model campuran multivariasi tersebut, yaitu:
  • Diharapkan memberi tes yang signifikan. 
  • Terlalu banyaknya variabel yang perlu dihitung pada suatu saat, kemampuan computer hanya sampai pada 40 variabel sedangkan dengan model ini dapat dikumpulkan sampai 300 variabel
  • Meskipun model campuran multivariasi telah mengurangi masalah kontrol berkenaan dengan eksperimen lapangan tetapi tetap menghadapi masalah-masalah pembandingan.  

7. Proses Evaluasi Kurikulum
Berbagai model desain kurikulum memerlukan berbagai cara evaluasi yang berbeda pula. Evaluasi model yang sering digunakan adalah desain tujuan. Evaluasi tersebut terdiri atas langkah-langkah sebagai berikut : 
  • pelaksanan evaluasi internal,
  • rancangan revisi, 
  • pendapat ahli,
  • komentar yang dapat dipercaya,
  • model kurikulum, 
Dalam program evaluasi tersebut masih terdapat perbedaan pendapat tentang apakah ahli yang melaksanakan kurikulum harus ahli juga dalam  bidang ilmu tersebut, ada pula ahli yang mengemukakan empat langkah evaluasi kurikulum yang berfokus pada tujuan yaitu : 
  • evalusi internal dilaksanakan oleh pengembang kurikulum dan berhubungan dengan model desain kuikulum yang bertujuan untuk memperbaiki proses pengembangan kurikulum, 
  • evaluasi formatif adalah proses ketika pengembang kurikulum memperoleh data untuk memperbaiki dan merevisi kurikulum agar menjadi lebih efektif, 
  • evaluasi sumatif bertujuan untuk memeriksa kurikulum dan diadakan setelah pelasanaan kurikulum untuk memeriksa efesiensi secara keseluruhan, 
  • evaluasi jangka panjang  

8. Peranan Evaluasi Kurikulum
Evalusi kurikulum dapat dilihat sebagai proses sosial dan intittusi sosial. Proyek-proyek evaluasi yang dikembangkan di Inggris umpamanya, juga di Negara-negara lain, merupakan intitusi sosial mempunyai asal usul, sejarah, struktur serta interest sendiri. Beberpa karakteristik dari proyek-proyek kurikulum yang telah dikembangkan di Inggris, umpamanya
  • Lebih bekenaan dengan inovasi daripada dengan kurikulum yang ada, 
  • Lebih berskala nasional daripada lokal, 
  • Dibiayai oleh Grant dari luar yang berjangka pendek daripada oleh anggapan tetap, 
  • Lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan penelitian yang bersifat psikomotorikdaripada oleh kebiasaan lama yang berupa penelitian sosial. 
Peran evaluasi kebijaksaan dalam kurikulum khususnya pendidikan umumnya minimal berkenaan dengan tiga hal, yaitu:
1. Evaluasi sebagai judget, konsep utama dalam evaluasi adalah masalah nilai. Hasil dari suatu evaluasi berisi suatu nilai yang akan digunakan untuk tindakan selanjutnya. Hal ini mengandung dua pengertian, pertama evaluasi berisi suatu skala nilai moral, berdasarkan skala tersebut suatu objek evaluasi dapat dinilai. Kedua, evaluasi berisi suatu prangkat kriteria praktis berdasarkan kriteria-kriteria tersebut suatu hasil yang dapat dinilai. Evaluasi kurikulum bukan merupakan konsep tunggal, minimal meliputi dua kegiatan, Kegiatan yang pertama mengumpulkan informasi, mungkin juga mengandung segi - segi nilai (terutama dalam memilih sumber informasi dan jenis informasi yang dikumpulkan), tetapi belum menunjukkan suatu evaluasi. Dalam kegiatan yang kedua, yaitu menentukan keputusan menunjukkan suatu evaluasi, dasar perimbangan yang digunakan adalah suatu perangkat nilai-nilai. 

2. Evaluasi dan penentuan keputusan, 
Pengambil keputusan dalam pelaksanaan pendidikan atau khususnya kurikulum sangat banyak, yaitu: guru, murid, orang tua, kepala sekolah, para inspektur. Pengembang kurikulum dan sebagainnya. Pada prinsipnya tiap individu tersebut membuat keputusan sesuai dengan posisinya masing masing. Besar atau kecilnya peranan keputusan yang diambil oleh seseorang sesuai dengan lingkup tanggung jawabnya serta lingkup masalah yang dihadapinya pada suatu saat. Salah satu kesulitan yang dihadapi dalam penggunaan hasil evaluasi bagi pengambilan keputusan adalah, hasil evaluasi yang diterima oleh berbagai pihak pengambil keputusan adalah sama. Masalah yang timbul adalah bahwa belum tentu keputusan yang diambil bermanfaat bagi pihak lain, artinya suatu informasi mungkin lebih bermanfaat bagi pihak tertentu tetapi belum tentu bermanfaat bagi pihak yang lain. Evaluasi Kurikulum
3. Evaluasi dan konsensus nilai
Secara historis consensus nilai dalam evaluasi kurikulum berasal dari tradisi tes mental serta eksperimen. Konsensus tersebut berupa kerangka kerja penelitian yang dipusatkan pada tujuan-tujuan khusus, pengukuran prestasi belajar yang bersifat behavioral, penggunaan analisis statistic dari pre test dan post test dan lain-lain. Model tersebut mendapatkan beberapa kritik tetapi kritik atau kesulitan tersebut yang paling utama adalah dalam merumuskan tujuan-tujuan khusus yang dapat diterima oleh seluruh partisipan evaluasi kurikulum serta perencanaan kurikulum. Juga diantara partisipan harus ada persetujuan tentang tujuan-tujuan yang paling penting.
Para partisipan dalam evaluasi pendidikan dapat terdiri atas: orang tua, murid, guru, pemgembang kurikulum, administrator, ahli politik, ahli ekonomi, penerbit, arsitek, dan sebagainnya. Pernah dimimpikan para partisipan tersebut merupakan suatu kelompok yang homogen sebagai pengambil keputusan atas hasil penelitian, tetapi beberapa pengalaman menunjukkan bahwa hal itu tidak mungkin. Mereka mempunyai sudut pandang, kepentingan nilai-nilai serta pengalaman tersendiri. Kesatuan penilaian hanya dapat dicapai melalui suatu konsensus.  Evaluasi Kurikulum



Artikel Menarik lainnya :