PTK Matematika SMP Kelas 7 (Penelitian Tindakan Kelas)

Posted by Sanjaya Yasin 4 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

 PTK Matematika SMP Kelas 7  -  Lihat juga ya contoh beberpa ptk yang lainnya ptk bahasa indonesia sd, fiqih ma, pai smp, penjasorkes smp, serta yang lagi populer di baca kan orang ptk ipa sd. ptk bahasa arab mts, pai sma, ptk b. indo kelas 1, ptk bahasa jerman, matematika sd kelelas 6, ptk smk, ptk matematika sd kelas 4, ptk penjasorkes sd, penjasorkes smp, ptk bahasa indonesia sma xi , ptk tk paud, ptk matematika sma x, ptk ipa sd, bahsa inggris smp, tk paud, ptk mtk smp, ptk mtk sd kls 1, ptk mtk sd klas 4 dan kali ini saya posting  PTK Matematika SMP Kelas 7 

 Baiklah semoga teman teman merasa tebantu dengan adanya  PTK Matematika SMP Kelas 7  yang bisa dijadikan referensi guna tercapatinya  PTK Matematika SMP Kelas 7  yangmaksimal

Judul :
MENINGKATKAN KETAHANAN PRIBADI SISWA KELAS VIIA SMP NEGERI 2 SEDATI DALAM BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD


BAB I
PENDAHULUAN
 PTK Matematika SMP Kelas 7

1.1. Latar Belakang Masalah

Kurangnya ketahanan pribadi dalam belajar matematika dapat diduga akan berpengaruh besar terhadap gairah belajar matematika. Jika hal ini dibiarkan maka siswa akan semakin tidak menyenangi matematika bahkan pada taraf tertentu akan bersikap anti pati pada pelajaran matematika. Akibat dari itu semua semua tentu prestasi belajar matematika akan semakin rendah.


Matematika dianggap sangat penting bagi kehidupan manusia. Matematika memiliki keterkaitan dan menjadi pendukung berbagai bidang ilmu serta berbagai aspek kehidupan manusia. Tetapi di sisi lain, matematika juga dianggap sebagai mata pelajaran yang cukup sulit bagi siswa, bahkan cukup menakutkan bagi beberapa siswa di SMP Negeri 2 Sedati Sidoarjo. Hal ini terlihat pada saat pembelajaran berlangsung hampir 60% diantara para siswa memiliki ketahanan pribadi dalam belajar matematika masih rendah , data yang lain dapat dilihat dari hasil  wawancara beberapa siswa. Sedikitnya siswa yang mengajukan pertanyaan dan berani menjawab pertanyaan atau menanggapi pendapat temannya, kurang berani mengambil resiko (takut salah), kebiasaan mencontoh pekerjaan temannya dan kurang terlibat aktif dalam kelompok (cemas), merupakan indikasi lemahnya ketahanan pribadi (keuletan) siswa dalam belajar matematika.

Kondisi di kelas juga diperparah dengan pengelolaan guru dalam proses pembelajaran diantaranya masih kuatnya dominasi guru dalam proses pembelajaran, guru secara aktif menjelaskan materi, memberikan contoh dan latihan, sementara siswa bekerja secara prosedural dan memahami matematika tanpa penalaran, disamping itu guru dalam pembelajarannya masih indoktrinasi yaitu mendudukkan dirinya sebagai maha tahu, maha benar, dan dalam proses pembelajarannya guru belum mengembangkan kemampuan belajar siswa dalam berfikir kritis, logis dan kreatif.

Pada kurikulum 2004 tentang Ringkasan Kegiatan Belajar Mengajar disebutkan bahwa: belajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman. Pada buku itu juga disebutkan pula prinsip-prinsip Kegiatan Belajar Mengajar diantaranya adalah Berpusat pada siswa, Belajar dengan Melakukan serta Mengembangkan Kemampuan Sosial. Dengan memperhatikan 3 prinsip Kegiatan Belajar Mengajar yang dikemukakan pada Kurikulum 2004 terlihat bahwa prinsip-prinsip tersebut mengacu pandangan Konstruktivis yaitu penciptaan kondisi yang memungkinkan siswa untuk mengkonstruksikan pengertian sendiri terhadap suatu konsep sehingga lebih menarik dan bermanfaat bagi siswa, bila dibandingkan dengan jika pengertian tersebut diperoleh secara langsung dari guru, sehingga pembelajaran sering disebut pembelajaran berpusat pada siswa. Salah satu bentuk pembelajaran yang berorientasi kepada pendekatan konstruktivis adalah model pembelajaran kooperatif.

Menurut Abdurrahman Asy’ari (2000), belajar hendaknya mampu memberikan bekal “life skills” yang memungkinkan siswa “survive” dalam kondisi yang bagaimanapun. Belajar jangan hanya dimaksudkan untuk mengasah otak, tetapi juga untuk mengasah “qolbu” suapaya tercipta rasa positif seperti lebih percaya diri, tabah, tenang, tidak mudah gelisah, mau menghargai orang lain, tidak mematikan semangat orang lain dan pantang menyerah.

Hal-hal diatas memberikan arah bahwa pembelajaran matematika hendaknya tidak boleh melepaskan diri dari proses kerjasama. Dengan bekerja sama, seorang anak yang lebih “dewasa” dalam suatu konsep bisa memberi bantuan kepada temannya untuk mencapai kemampuan idealnya. Dengan bekerja sama, peluang terbentuknya ketrampilan sosial, dan kematangan emosional juga lebih besar. Dan diharapkan dapat pula meningkatkan ketahanan pribadi siswa dalam belajar matematatika.

1. 2. Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini ada dua masalah yang perlu dicarikan solusinya yaitu :  PTK Matematika SMP Kelas 7
  1. Apakah pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan ketahanan pribadi siswa kelas VII-A SMP Negeri 2 Sedati dalam belajar matematika ?
  2. Bagaimana proses pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan ketahanan pribadi siswa kelas VII-A SMP Negeri 2 Sedati dalam belajar matematika ?

1.    3. Hipotesis Tindakan
Pembelajran Kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan ketahanan pribadi siswa kelas VII-A SMP Negeri 2 Sedati dalam belajar matematika.


1.    4. Tujuan dan Manfaat
Penelitian ini bertujuan untuk  meningkatkan ketahanan pribadi siswa kelas VII-A SMP Negeri 2 Sedati dalam belajar matematika melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
Hasil penelitian ini diharapkan bermafaat bagi :   PTK Matematika SMP Kelas 7
  1. Bagi siswa, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam meningkatkan ketahanan pribadinya dalam belajar matematika serta memupuk keberaniannya dalam bekerja mandiri.
  2. Bagi guru, hasil penelitian dapat bermanfaat dalam inovasi pembelajaran (model pembelajaran kooperatif), dan peningkatan profesionalisme guru (melaksanakan refleksi dalam upaya perbaikan proses pembelajaran).
  3. Bagi sekolah, dalam usaha meningkatkan kualitas hasil belajar matematika siswa melalui kolaborasi guru-guru dalam suatu penelitian tindakan kelas.

1. 5. Definisi Operasional
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas, dalam penafsiran hasil penelitian ini, maka perlu diberikan batasan tentang istilah yang terdapat dalam rumusan tujuan penelitian diatas sebagai berikut :
  1. Ketahanan pribadi (keuletan) siswa adalah usaha siswa dalam menggali potensi diri. Yang dapat diterjemahkan sebagai tindakan yang dinamis dan berani mengambil resiko dengan indikator : 1) kecemasan siswa berkurang, 2) motivasi, 3) harga diri, dan 4) sikap positifnya meningkat.
  2. Pembelajaran kooperatif adalah kegiatan belajar mengajar secara kelompok kecil yang merupakan tempat siswa belajar dan bekerjasama untuk sampai kepada pengalaman belajar yang optimal baik pengalaman individu maupun kelompok. Esensi pembelajaran kooperatif adalah tanggung jawab individu sekaligus kelompok, sehinga dalam diri siswa terbentuk sikap kebergantungan positif yang menjadikan kerja kelompok berjalan optimal (Santoso, 1998).

Pada penelitian ini pembelajaran kooperatif yang digunakan adalah tipe STAD yang merupakan teknik belajar kelompok yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi pengetahuan atau tugas dengan siswa lain, mengajar serta diajar oleh sesama siswa. Hal ini merupakan bagian penting dalam belajar.




BAB II
KAJIAN PUSTAKA
 PTK Matematika SMP Kelas 7

2.    1. Ketahanan Pribadi Siswa

Pada penelitian ini tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan ketahanan pribadi bagi siswa, sebab ditengarai banyak siswa yang kurang ulet dalam belajar matematika. Indikasi dari dugaan tresebut antara lain;
  1. belum mampu membebaskan diri dari keinginan menggantungkan diri dari pihak lain, misalnya kebiasaan siswa mencontoh hasil pekerjaan temannya, atau adanya siswa yang sering mengekor pendapat temannya, 
  2. belum memiliki jiwa dinamis, kreatif dan pantang menyerah, misalnya kebiasaan siswa kurang berani memulai suatu pekerjaan (kurang berani untuk mengambil keputusan walaupun beresiko).
Menurut (Soedarsono,S, 1999) secara esensial seseorang disebut memiliki ketahanan pribadi (keuletan) bila ia ;
  • Memiliki rasa percaya diri dan berpegang teguh pada prinsip,
  • Mampu membebaskan diri dari keinginan menggantungkan diri dari pihak lain,
  • Mendambakan kebersamaan,
  • Memiliki jiwa dinamis, kreatif dan pantang menyerah.

Siswa yang memiliki ketahanan pribadi yang tinggi akan berusaha menggunakan potensinya sendiri dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan dia malu apabila harus mencontoh hasil pekerjaan teman-temannya. Siswa akan lebih berani mencoba mengerjakan tugas-tugas (kelompok maupun individu) walaupun secara psikologis resikonya sangat besar menurut siswa, misalnya disalahkan, dicemooh, atau pandangan negatif lainnya.

Pada saat pembelajaran kelompok, siswa yang memiliki ketahanan pribadi tinggi akan lebih terbuka, berani bertanya, berani mengemukakan pendapat walaupun beresiko, misalnya diejek, dianggap sok tahu, dianggap bodoh dan lain-lain predikat negatif.

Apabila ketahanan pribadi yang tinggi ini sudah tertanam pada diri siswa, maka dapat dipastikan masing-masing siswa memiliki rasa tanggung jawab pribadi yang tinggi juga. Mereka akan dapat mengembangkan potensinya secara optimal sehingga diharapkan akan berdampak positif pada prestasi belajarnya.  PTK Matematika SMP Kelas 7

2.    2. Pembelajaran Kooperatif
Masih banyak guru beranggapan bahwa tugas mereka adalah memindahkan informasi pengetahuan dari buku atau kepala mereka kepada siswa, sedangkan tugas siswa adalah menerima, mengingat, dan menghafalkan informasi tersebut. Dengan kata lain, siswa dianggap sebagai penerima pengetahuan yang pasif sedangkan guru adalah pemilik pengetahuan. Anggapan ini tampaknya didasarkan pada paradigma yang dipopulerkan oleh John Locke, yakni siswa dianggap seperti selembar kertas putih kosong yang menunggu tulisan dari guru. Siswa bagaikan botol kosong yang bisa diisi dengan curahan pengetahuan dari guru, sehubungan dengan ini pula, suasana belajar yang dominan adalah struktur persaingan dimana siswa saling berlomba menjadi lebih baik dari lainnya para guru pun ikut berlomba dengan guru (atau sekolah) lainnya.

Banyak guru menganggap paradigma diatas sebagai satu-satunya jalan. Namun teori dan penelitian menunjukkan bahwa fokus pembelajaran terletak pada belajar secara mendalam dan sesuai dengan pengalaman, memerlukan keterlibatan penuh dan belajar dengan aktif, ketrampilan dikembangkan dalam kaitannya dengan belajar yang relevan (kontektual), materi secara terintegrasi digunakan dan dibentuk oleh siswa. Dengan demikian prinsip utama dalam pandangan kontruktivis adalah pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa (Jonhson & Johnson, 1994)

Karena penekanannya pada belajar bagaimana belajar, maka pembelajran yang dilakukan haruslah pembelajaran bermakna dan tersusun secara hirarkis. Dalam hal ini guru berperan sebagai pembimbing dan fasilitator yang melayani pertanyaan dan pendapat siswa tanpa menyalahkan siswa. Guru membimbing siswa dalam melakukan negoisasi menuju pada penguasaan materi. Proses pembelajaran kooperatif yang efektif dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bersama-sama dengan guru dan siswa lainnya membangun sendiri pengetahuan mereka.

Menurut (Johnson & Johnson, 1994), terdapat lima unsur penting dalam belajar kooperatif, yaitu diantaranya adalah : 1)Saling ketergantungan yang bersifat positif antara siswa, dalam belajar kooperatif siswa merasa bahwa mereka sedang saling bekerja sama untuk mencapai satu tujuan dan terikat satu sama lain., sehingga seorang siswa tidak akan sukses kecuali semua anggota kelompoknya juga sukses. ; 2) Interaksi antara siswa yang semakin meningkat, hal ini terjadi karena seorang siswa akan membantu siswa lain untuk sukses sebagai anggota kelompok. Saling memberikan bantuan ini akan berlangsung secara alamiah karena kegagalan seseorang dalam kelompok akan mempengaruhi suksesnya kelompok dalam memperoleh penghargaan kelompok. ; 3)Tanggung jawab individual dalam belajar kelompok dalam arti tanggung jawab siswa dalam membantu siswa yang membutuhkan bantuan sehingga siswa tidak hanya sekedar membonceng pada hasil kerja teman sekelompoknya. : 4) Ketrampilan interpersonal dalam kelompok kecil, dalam hal ini siswa dituntut aktif dalam bersikap dan menyampaiakan ide sebagai angggota kelompok. ; 5) Proses kelompok, proses ini terjadi jika anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka akan mencapai tujuan dengan baik dan membuat hubungan kerja yang baik pula.

Menurut (Anita Lie, 1999) beberapa manfaat proses pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut : 1) Siswa dapat meningkatkan kemampuan bekerja sama ; 2) Siswa mempunyai lebih banyak kesempatan untuk menghargai perbedaan ; 3) Partisipasi siswa dalam proses pembelajaran ; 4) Mengurangi kecemasan siswa ;5) Meningkatkan motivasi, harga diri dan sikap positif ;5) Meningkatkan prestasi akademik

2.    3. Hasil Penelian yang Relevan
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang amat positif terhadap siswa yang  rendah  hasil belajarnya, diantaranya dapat meningkatkan motivasi, meningkatkan hasil belajar, dan retensi yang lebih lama (Lungren, 1994 dalam Ratumanan). Hasil penelitian yang sama yang dilakukan oleh Widada (1999) dan Tri Djoko (1999) memperlihatkan hasil yang tidak berbeda.



BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN

3.    1. Setting Penelitian dan latar belakang  subyek Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Sedati, Sidoarjo mulai bulan September 2006 sampai dengan bulan Nopember 2006 yang melibatkan dua orang guru matematika (seorang guru menjadi pengajar dan satu orang lainnya menjadi kolaborator) dan 40 siswa kelas VII-A.

Penetapan siswa pada kelas diatas cukup representatif untuk penelitian tindakan kelas sesuai dengan permasalahan yang dihadapi diantaranya memiliki kecenderungan : 1) kurang berani dalam berpendapat, 2) kepercayaan diri rendah, 3) ketergantungan pada teman kuat 4) tidak dinamis dan kurang kreatif.


3.    2. Rencana Tindakan

Menurut Winkel (1993 : 115) keberhasilan siswa dalam belajar sangat ditentukan oleh kualitas pembelajaran yang dikelola oleh guru, selanjutnya kualitas pembelajaran tergantung bagaimana guru mendesain pembelajaran tersebut dalam praktek kegiatan belajar, missal : 1) bagaimana guru menyajikan materi, 2) bagaimana guru memberikan penguatan, 3) bagaimana guru melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar dan 4) bagaimana guru menghargai keberhasilan siswa (reward), yang semuanya itu berada dalam satu sistem pembelajaran.

Menurut Piaget (1960) dan Rogerg (1982) dalam proses belajar siswa menkonstuksi pengetahuan mereka sendiri secara aktif. Dengan dasar uraian diatas tindakan yang diambil dalam penelitian ini, sebagai upaya meningkatkan ketahanan pribadi siswa kelas VII-A SMP Negeri 2 Sedati, Sidoarjo dalam belajar matematika melalui pembelajaran yang menggunakan pendekatan kooperatif  tipe STAD, dengan langkah-langkah sebagi berikut :  PTK Matematika SMP Kelas 7

(1)    Tahap penyajian Materi
Dalam tahap ini materi diperkenalkan melalui penyajian kelas. Penyajian materi dilakukan secara langsung. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan pada saat ini adalah : 1) Menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, 2) Memberi motivasi pada siswa tentang perlunya mempelajari materi, 3) Menyajikan materi-materi pokok pembelajaran, 4) Memantau pemahaman   tentang materi pokok yang diajarkan.

(2)    Kegiatan Kelompok
Selama siswa berada  pada kegiatan kelompok, masing-masing anggota  kelompok bertugas mempelajari materi yang telah disajikan oleh guru dan membantu teman sekelompok untuk menguasai materi tersebut. Guru membagi lembar kegiatan , kemudian peserta didik  mengerjakan  lembar yang diberikan.    Setiap peserta didik harus mengerjakan secara mandiri dan selanjutnya saling mencocokkan jawaban dengan teman sekelompoknya. Guru harus menekankan bahwa lembar kegiatan untuk dipelajari bukan  untuk  diisi atau  diserahkan pada guru. Jika peserta didik mempunyai pertanyaan sebaiknya ditanyakan terlebih dahulu kepada anggota kelompoknya, baru ditanyakan kepada guru bila tak terjawab.    

(3)    Pelaksanaan Kuis Individual
Pelaksanaan kuis individual berlangsung kira-kira setelah satu atau dua periode penyampaian materi oleh guru dan setelah satu atau dua periode kerja kelompok. Dalam pelaksanaan kuis individual akan   menentukan keberadaan peserta didik dalam kelompok dan   keberadaan  kelompoknya diantara kelompok-kelompok lain.      PTK Matematika SMP Kelas 7
RPP Berkarakter SMP


Artikel Menarik lainnya :