Pengertian Perjanjian, Hukum Syarat, Rukun

Posted by Sanjaya Yasin 2 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

Pengertian Perjanjian  - Secara etimologi perjanjian atau aqad mempunyai beberapa arti, antara lain :
Aqad menurut lughat adalah:

الرَّبْطُ هُوَ جَمْعُ طَرْفَى حَبْلَيْنِ وَيَشُدُّ أَحَدُهُمَا بِالآخَرِ حَتَّى يَتَّصِلاَ فَيُصْبِحَا كَقِطْعَةٍ وَاحِدَةٍ
Artinya : “Rabath (mengikat) yaitu mengumpulkan dua tepi tali dan mengikat salah satunya dengan yang lain hingga bersambung  lalu keduanya menjadi satu benda”. 

Sedangkan menurut istilah fuqaha ialah:


إِرْتِبَاطُ إِيْجَابٍ بِقَبُوْلٍ عَلَى وَجْهٍ مَشْرُوْعٍ يُثَبِّتُ التَرَاضِ

Artinya : “Perikatan ijab dan qabul yang dibenarkan syara’ yang  menetapkan persetujuan kedua belah pihak”.

Menurut Azhar Basyir, aqad adalah suatu perikatan antara ijab dan qabul dengan cara yang dibenarkan syara’ yang menetapkan adanya akibat-akibat hukum pada obyeknya. Pengertian Perjanjian

Dalam Islam, perjanjian (aqad)  secara harfiah berarti ikatan atau peraturan yang dipergunakan dalam arti janji dan juga segala yang menunjukkan ikatan untuk melakukan atau untuk tidak melakukan sesuatu baik sesuai dengan hukum maupun tidak. Lebih lanjut sebagaimana dikemukakan oleh ahmad abu Al-Faht yang dikutip oleh syamsul Anwar, aqad didefinisikan sebagai tempat bertemunya qabul (penerima) dengan ijab (penawaran) yang menimbulkan akibat hukum. Perjanjian dalam hukum islam juga diartikan sebagai suatu cara untuk mendapatkan hak milik yang sah atau cara memindahkan hak milik. Perjanjian juga dipergunakan untuk mewujudkan hubungan yang sah antara para pihak. 

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan perjanjian (aqad) adalah suatu ikatan antara pihak yang satu dengan pihak yang lain dalam melakukan sesuatu sesuai dengan kehendaknya dan yang dibenarkan oleh syara’. Jadi, dalam Islam, perjanjian merupakan salah satu pengikat serta penguat antara pihak yang satu dengan pihak yang lain dalam bermuamalah, sehingga tidak akan mengakibatkan persengketaan antara kedua belah pihak, karena adanya bukti nyata yang dapat diperlihatkan apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Rukun Perjanjian
Adapun rukun perjanjian adalah sebagai berikut: Pengertian Perjanjian
  • Aqid ialah orang berakat terkadang masing-masing pihak terdiri dari satu orang, terkadang terdiri beberapa orang, seperti penjual dan pembeli beras biasanya masing-masing pihak satu orang, ahli waris sepakat untuk memberikan sesuatu kepada pihak yang lain, maka pihak itu terdiri dari beberapa orang. Seseorang yang berakad terkadang orang memiliki haq (aqid ashli) dan terkadang merupakan wakil dari yang memiliki haq.
  • Ma’qud’alaih  ialah benda-benda yang diakadkan, seperti benda-benda yang dijual dalam akad jual beli, dalam akad hibah (pemberian), dalam akad gadai, hutang yang dijamin seseorang dalam akad kafalah.
  • Maudhu’ al-aqd ialah tujuan atau maksud pokok mengadakan akad. Berbeda akad, maka berbedalah tujuan pokok akad, dalam akad jual beli tujuan pokoknya ialah memindahkan barang dari penjual kepada pembeli dengan ada gantinya, tujuan akan hibah ialah memindahkan barang dari pemberi kepada yang diberi untuk dimilikinya tanpa ada pengganti (‘iwadh), tujuan pokok akad ijarah adalah memberikan manfaat dengan adanya pengganti dan tujuan pokok I’jarah adalah memberikan manfaat dari seseorang kepada yang lain dengan tanpa pengganti.
  • Shighat al’aqd ialah ijab dan qabul. Ijab ialah permulaan penjelasan yang keluar dari salah seorang yang berakad sebagai gambaran kehendaknya dalam mengadakan akad, sedangkan qabul ialah perkataan yang keluar dari pihak berakad pula, yang diucapkan setelah adanya ijab. Pengertian ijab qabul dalam pengalaman dewasa ini ialah bertukarnya sesuatu yang lain, sehingga dewasa ini penjual dan pembeli dalam membeli sesuatu terkadang tidak berhadapan, seperti seseorang yang berlangganan majalah Panjisman, pembeli mengirimkan uang melalui pos wesel dan pembeli menerima majalah tersebut dari petugas pos.

Syarat-syarat Sahnya Perjanjian - Pengertian Perjanjian
Secara umum yang menjadi syarat sahnya perjanjian menurut Islam adalah sebagai berikut:
  • Kedua orang yang melakukan akad cakap bertindak (ahli), maka tidak sah akad orang yang tidak cakap bertindak, seperti orang gila, orang yang berada di bawah pengampuan (mahjur) karena boros atau yang lainnya.
  • Yang dijadikan obyek akad dapat menerima hukumannya.
  • Akad itu diijinkan oleh syara’, walaupun dia bukan aqid yang memiliki barang.
  • Janganlah akad itu akad yang dilarang oleh syara’, seperti jual beli musalamah. 
  • Akad dapat memberikan faidah, maka tidaklah sah bila rahn dianggap sebagi imbangan amanah.

Dengan demikian pada saat pelaksanaan/penerapan  perjanjian masing-masing pihak yang mengadakan perjanjian atau mengikatkan diri dalam perjanjian haruslah mempunyai interprestasi yang sama tentang apa yang telah mereka perjanjikan, baik terhadap isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh perjanjian itu.
 Pelaksanaan Perjanjian
Suatu perjanjian, merupakan suatu peristiwa seorang berjanji kepada seorang lain, atau dua orang saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu. Perjanjian itu dibagi tiga macam, yaitu:
  1. Perjanjian untuk memberikan/menyerhkan suatu barang.
  2. Perjanjian untuk berbuat sesuatu.
  3. Perjanjian untuk tidak berbuat sesuatu.

Untuk melaksanakan suatu perjanjian, lebih dahulu harus ditetapkan secara tegas dan cermat apa saja isi perjanjian tersebut, atau dengan kata lain, apa saja hak dan kewajiban masing-masing pihak. Biasanya orang mengadakan suatu perjanjian dengan tidak mengatur atau menetapkan secara teliti hak dan kewajiban mereka. Dalam jual beli misalnya, hanya ditetapkan tentang barang mana yang dibeli, jenisnya, harganya. Tidak ditetapkan tempat penyerahan barang, biaya pengantaran, tempat dan waktu pembayaran.

Dalam pasal 1338 (3) itu hakim diberikan kekuasaan untuk mengawasi pelaksanaan suatu perjanjian, jangan sampai pelaksanaan itu melanggar kepatutan suatu perjanjian, jangan sampai pelaksanaan itu melanggar kepatutan atau keadilan.  Pengertian Perjanjian


Artikel Menarik lainnya :