Kebutuhan Zat Makanan

Posted by Sanjaya Yasin 0 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

Kebutuhan Zat Makanan - Standar kebutuhan pakan atau sering juga diberi istilah dengan standar kebutuhan zat-zat makanan pada hewan sering menggunakan  satuan yang  beragam, misalnya untuk kebutuhan energi dipakai Total Digestible Nutrient (TDN), Metabolizable Energy (ME) atau Net Energy (NEl) sedangkan untuk kebutuhan protein dipakai nilai Protein Kasar (PK), PK tercerna atau kombinasi dari nilai degradasi protein di rumen atau protein yang tak terdegradasi di rumen.
 
Istilah standar didefinisikan sebagai  dasar kebutuhan yang dihubungkan dengan fungsi aktif (status faali) dari hewan tersebut. Misalnya pada sapi perah, pemberian pakan didasarkan atas kebutuhan untuk hidup pokok dan produksi susu, sedangkan untuk sapi potong lebih ditujukan untuk kebutuhan hidup pokok dan pertumbuhan. Namun tidak mudah pula untuk menentukan kebutuhan hanya untuk hidup pokok saja atau produksi saja, terutama untuk kebutuhan zat makanan yang kecil seperti vitamin dan mineral. Dalam prakteknya dapat diambil contoh sebagai berikut : Seekor sapi dengan bobot 500 kg memerlukan energi hidup pokok sebesar 33 MJ NE.

Nilai kebutuhan energi ini dapat bervariasi karena dilapangan akan didapatkan data untuk sapi dengan kelebihan atau kekurangan pakan. Oleh sebab itu dalam pemberian harus ditetapkan batas minimal sejumlah kebutuhan nutrient yang direkomendasikan NRC, jangan sampai kurang dari kebutahan. Variasi kebutuhan ditentukan oleh macam hewan dan kualitas pakan. Sesungguhnya standar pakan ini dibuat untuk dapat mengantisipasi situasi  yang lebih beragam, termasuk pengaruh perubahan cuaca. Standar ini juga masih bisa dipakai untuk  kepentingan taraf nasional (dari Negara yang menyusun) atau bahkan dapat untuk keperluan dunia internasional yang mempunyai kondisi iklim yang hampir sama.

Sejak tahun 1960-1965 di Inggris, melalui Dewan Agricultural Research Council (ARC) telah membuat tabel standar kebutuhan nutrient dari beberapa jenis ternak.  Pada tahun 1970 semua publikasi mengenai table kebutuhan nutrient tersebut diperbaharui (direvisi) dan keluarlah edisi terbaru  untuk ruminansia pada tahun 1980. Perubahan tersebut meliputi seluruh zat makanan terutama tentang standar untuk penggunaan vitamin dan mineral. Saat ini telah banyak negara maju dan berkembang yang mempunyai standar kebutuhan zat makanan untuk ternak lokalnya. Namun sampai sekarang Indonesia belum mempunyai tabel tersebut. Standar kebutuhan yang dipakai di Indonesia adalah hasil dari banyak penelitian yang ada saja.  

Standar Kebutuhan Nutrien untuk Hidup Pokok   

Seekor hewan dikatakan dalam keadaan kondisi hidup pokok apabila komposisi tubuhnya tetap, tidak tambah dan tidak kurang, tidak ada produk susu atau tidak ada tambahn ekstra energi untuk kerja.

Nilai kebutuhan hidup pokok ini hanya dibutuhkan secara akademis saja, sedangkan dunia praktisi tidak membutuhkan informasi tersebut, yang dibutuhkan oleh praktisiwan adalah total kebutuhan hidup pokok dan produksi yang optimal. Jadi pendapat mengenai kebutuhan hidup pokok untuk hewan secara teori berbeda dengan prakteknya.

Pada hewan yang puasa akan terjadi oksidasi cadangan nutrient untuk memenuhi kebutuhan energi hidup pokoknya, seperti untuk bernafas dan mengalirkan darah ke organ sasaran.

Tujuan sesungguhnya dari pembuatan ransum untuk hidup pokok adalah supaya tidak terjadi perombakan cadangan tubuh yang digunakan untuk aktivitas pokok. Seperti didefinisikan bahwa ransum untuk hidup pokok adalah sejumlah zat makanan yang harus hadir dalam ransum sedemikian sehingga dalam tubuh hewan tidak terjadi penambahan atau pengurangan zat makanan..
  • Kebutuhan hidup pokok (maintenance): kebutuhan nutrien basal yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang minimal tanpa melakukan suatu aktivitas/produksi.
  • Kebutuhan produksi (production): kebutuhan nutrien yang digunakan untuk berbagai aktifitas dalam produksi (telur, susu, daging, woll, tenaga dll).
  • Kebutuhan Standar didefinisikan sebagai  dasar kebutuhan yang dihubungkan dengan fungsi aktif (status faali) dari hewan tersebut.
  • Metabolisme Basal Hewan adalah Jumlah panas yang meningkat diakibatkan oleh aktivitas hidup pokok Produksi panas (heat increament): panas yang dihasilkan dapri proses metabolisme makanan.
  • Bobot badan metabolis adalah Bobot Badan 0,75.

 
 Kebutuhan Energi untuk Hidup Pokok

Telah dijelaskan bahwa energi yang digunakan untuk aktivitas hidup pokok diubah dalam bentuk panas dan dikeluarkan tubuh juga dalam bentuk panas. Jumlah panas yang meningkat diakibatkan oleh aktivitas hidup pokok tersebut dinamakan dengan istilah metabolisme basal hewan . Pengukuran ini langsung diperkirakan dari jumlah NE yang harus didapat oleh ternak untuk memenuhi kebutuhan hidup pokoknya. 


Tabel. Nilai Perkiraan Kebutuhan Energi untuk Hidup Pokok dari Total Kebutuhan Energi untuk Hewan.


 
Kebutuhan NE (MJ)
% HP dari Total
Hidup Pokok
Produksi
Sapi perah, bobot 500kg produksi susu 20kg/h
32
63
34
Sapi jantan, bobot 50 kg PBB 0.75 kg
23
16
59
Babi, bobot 50kg PBB 0.75 kg
7
10
41
Sapi perah, bobot 500kg beranak bobot 35kg produksi susu 5000kg
12 200
16 000
43
Babi induk 200kg beranak 16 ekor @1.5kg produksi susu 750kg
7 100
4 600
61
Ayam petelur bobot 2 kg produksi 250 butir
190
95
67
Ayam broiler, bobot 1 kg PBB 35g
0.50
0.30
61


Pengukuran metabolisme basal ini cukup rumit karena panas yang dihasilkan oleh hewan  tidak saja berasal dari aktivitas pokok namun juga berasal dari proses pencernaan dan metabolisme nutrient (Heat Increament on Feeding = HI) dan juga dari aktivitas kerja otot. Produksi panas ini  akan meningkat bila hewan ditempatkan di dalam suhu yang dingin

Untuk mengukur metabolisme basal,  pengaruh HI dari pakan harus dihilangkan yaitu dengan cara hewan dipuasakan supaya tidak ada aktivitas pencernaan dan metabolisme.  Namun ukuran puasa setiap hewan berbeda-beda. Untuk manusia puasa cukup satu hari, untuk ruminansia dan babi sampai 4 hari. Faktor kedua yang mempengaruhi metabolisme  basal adalah nilai RQ  (Respiratory quotient).Pada saat puasa oksidasi nutrient berasal dari pembakaran degradasi nutrient di jaringan organ, sehingga ada sedikit perbedaan nilai RQ. Pada manusia, kondisi postabsorptive ditandai dengan penurunan produksi gas sampai ke tingkat yang paling rendah.

Pada manusia, aktivitas otot dapat dikurangi secara sadar, sehingga nilai metabolisme basal pada pengukuran yang kontinyu mudah didapat. Lain halnya dengan hewan ruminansia, kondisi total istirahat harus dibuat sedemikian sehingga agar hewan tak banyak aktivitas, seperti misalnya ditempatkan pada kandang dan suhu yang nyaman atau dipuasakan. Oleh karena itu, istilah metabolisme basal pada hewan dapat juga diartikan sebagai metabolisme puasa, walaupun saat puasa juga terjadi aktivitas berdiri-duduk dalam jumlah yang terbatas.  Kebutuhhan zat makanan


Artikel Menarik lainnya :