Jual Beli Ilegal Dalam Islam

Posted by Sanjaya Yasin 6 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

Makalah Jual Beli Ilegal

A. Pengertian  Jual Beli

Secara bahasa jual beli berasal dari bahasa arab yaitu al-ba’i, at-tijarah dan al-mubadalah. Sebagaimana dalam firman Allah SWT.
                                                                  
“…mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.”
(QS. Fathir: 29)

                                                        
“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.
(QS. Al-Baqarah: 275)

Secara terminologi jual beli adalah kesepakatan perpindahan kepemilikan barang atau benda antara penjual dan pembeli yang didasari dengan prinsip suka sama suka (‘an tarodlin). ( Muslihun Muslim, 202: 2005).



Rukun jual beli ada tiga, yaitu akad ( ijab qabul ), orang-orang yang berakad ( penjual dan pembeli ), dan ma’kud alaih ( objek akad ).

1.    Akad ( ijab Qabul )
Akad ialah ikatan kata antara penjual dan pembeli. Jual beli belum dikatakan sah sebelum ijab dan qabul dilakukan sebab ijab qabul menunjukkan kerelaan ( keridhoan ). Rasulullah SAW bersabda:
“…sesungguhnya jual beli hanya sah dengan saling merelakan.”
(HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Majah)

Menurut jumhur jual beli yang menjadi kebiasaan seperti jual beli sesuatu yang menjadi kebutuhan sehari-hari tidak disyaratkan ijab qabul.
(Hendi Suhendi, 22: 2007)

2.    Orang-orang yang berakad
Yang dimaksud dengan orang-orang yang berakad adalah penjual dan pembeli. Tentunya jual beli tidak akan terjadi tanpa adanya penjual dan pembeli. Demi kemaslahatan ummat, dalam syariat islam tidak semua orang dapat menjadi penjual dan pembeli karena ada syarat yang berlaku, yaitu.

a)    Berakal; agar tidak mudah tertipu orang.
b)    Dengan kehendak sendiri ( bukan paksaan ).
c)    Tidak mubazir (pemboros), sebab harta orang yang mubazir itu di tangan walinya.
d)    Balig.

3.    Ma’kud alaih (objek akad)
Yang dimaksud dengan ma’kud alaih adalah barang atau benda yang dijadikan objek jual beli. Seperti makanan, pakaian dan uang. Adapun syarat-syarat benda yang menjadi objek akad adalah.
  • Suci
  • Ada manfaatnya
  • Jangan ditaklikkan, yaitu dikaitkan atau digantungkan kepada hal-hal lain seperti ungkapan jika ayahku pergi, ku jual motor ini kepadamu.
  • Tidak dibatasi waktunya.
  • Dapat diserahkan dengan cepat atau lambat.
  • Milik sendiri.
  • Diketahui (dapat dilihat), barang yang diperjual belikan harus dapat diketahui banyaknya, beratnya, takarannya, atau ukuran lainnya.

C. Jual Beli Ilegal

Makalah ini berjudul Jual beli Ilegal karena dalam proses jual beli ( dalam islam ) memiliki aturan yang sudah ditata oleh syariat untuk kemaslahatan ummat. Aturan-aturan tersebut sudah kita bahas dalam syarat dan rukun jual beli. Apabila rukun atau syarat jual beli kurang, maka jual beli dianggap tidak sah. Jual beli yang dilarang dalam islam sangatlah banyak. Menurut jumhur ulama’, hukum jual terbagi dua, yaitu jual beli shahih, dan jual beli fasid. Sedangkan menurut jumhur ulama’ Hanafiyah jual beli terbagi tiga, yaitu jual beli shahih, fasid, dan batal. Jual beli akan dikategorikan ilegal apabila memiliki sebab. Sebab tersebut dapat digolongkan menjadi empat macam, yaitu terlarang sebab ahliah, terlarang dari shigat, terlerang sebab ma’qud ‘alaih, dan terlarang sebab syara’. Berikut ini akan dibahas masing-masing.


1.    Terlarang sebab ahliah (ahli akad)

Ulama’ sepakat bahwa jual beli dikategorikan shahih apabila dilakukan oleh orang yang baligh, berakal, dapat memilih, dan mampu bertasharruf secara bebas dan baik. Mereka yang dipandang tidak sah jual beli belinya adalah sebagai berikut.

a.    Jual beli orang gila
Ulama’ fiqih sepakat bahwa jual beli orang gila tidak sah. Begitu pula sejenisnya, seperti orang mabuk.
b.    Jual beli anak kecil
Ulama’ fiqih juga sepakat bahwa jual belinya anaka kecil (belum mumayyiz) dipandang tidak sah, kecuali dalam perkara-perkara yang ringan atau sepele. Menurut ulama’ Syafi’iyah, jual beli anak mumayyiz yang belum baligh tidak sah karena tidak ada ahliah. Adapun menurut ulama’ Malikiyah, Hanafiyah, dan Hanbaliyah jual belinya anak kecil dipandang sah jika diizinkan oleh walinya. Mereka antara lain beralasan, salah satu cara untuk melatih kedewasaan adalah dengan memberikan keluasan unuk jual beli.
c.    Jual beli orang buta
Jual beli orang buta dikategorikan shahih menurut jumhur ulama’ jika barang yang dibelinya diberi sifat (diterangkan sifat-sifatnya). Adapun menurut ulama’ syafi’iyah, jual beli orang buta itu tidak sah sebab ia tidak dapat membedakan barang yang jelek dan yang baik.
d.    Jual beli terpaksa
Menurut ulama’ Hanafiyah, jual beli orang terpaksa seperti jual beli fudhul (jual beli tanpa seizing pemiliknya), yakni ditangguhkan (mauquf). Oleh karena itu, keabsahan ditangguhkan sampain rela (hilang rasa terpaksa). Menurut ulama’ Malikiyah, tidak lazim baginya ada khiyar. Adapun menurut ulama’ Syafi’iyah dan Hanbaliyah jual beli tersebut tidak sah. Sebab tidak ada keridloan ketika akad.
e.    Jual beli fudhul
Adalah jual beli milik orang tanpa seizing pemiliknya. Menurut ulama’ Hanafiyah dan Malikiyah, jual beli ditangguhkan sampai ada izin pemiliknya. Adapun menurut Hanbaliyah dan Syafi’iyah, jual beli fudhul tidak sah.
f.    Jual beli orang yang terhalang
Maksud terhalang disini adalah terhalang karena kebodohan, bangkrut, dan sakit. Menurut jumhur ulama’ selain Malikiyah, jual beli orang sakit parah yang mendekati kematian hanya dibolehkan sepertiga dari hartanya, dan bila ingin lebih dari sepertiga jual beli tersebut ditangguhakan kepada izin ahli waris. Menurut ulama’ Malikiyah seperti dari hartanya hanya dibolehkan pada harta yang tidak bergerak seperti rumah, tanah, dll.
g.    Jual beli malja’
Yaitu jual beli orang yang sedang dalam keadaan bahaya, yakni untuk menghindar dari perbuatan zhalim. Jual beli tersebut fasid menurut ulama’ Hanafiyah dan batal menurut Hanbaliyah.

2.    Terlarang dari shigat
Ulama’ fiqih telah sepakat atas sahnya jual beli yang didasarkan pada keridloan diantara pihak yang melakukan akad, ada kesesuaian diantara ijab qabul, berada diantara satu tempat dan tidak berpisah oleh suatu pemisah.
Jual beli yang tidak memenuhi ketentuan tersebut dipandang tidak sah.   Berikut ini beberapa jual beli yang dipandang tidak sah atau masih diperdebatkan oleh para ulama’.
a.    Jual beli Mu’athah
Yaitu jual beli yang telah disepakati oleh pihak akad, berkenaan dengan barang maupun harganya, tetapi tidak memakai ijab qabul. Jumhur ulama’ menyatakan shahih apabila ada ijab qabul dari salah satunya. Begitupula dibolehkannya ijab qabul dengan isyarat, perbuatan atau cara lain yang menunjukkan keridloan. Memberikan barang dan menerima uang dipandang sebagai shigat dengan perbuatan atau isyarat.
b.    Jual beli melalui surat atau utusan
Jual beli melalui surat atau utusan adalah sah apabila. Adapun tempat berakadnya adalah sampainya surat atau utusan dari aqid pertama kepada aqi kedua. Jika qabul melebihi tempat akad dipandang tidak sah, seperti surat tidak sampai ke tangan yang dimaksud.
c.    Jual beli dengan isyarat atau tulisan
Disepakati keshahihan akad dengan isyarat atau tulisan khsususnya bagi yang uzur sebab sama dengan ucapan. Selain itu isyarat juga menunjukkan apa yang ada dalam aqid. Apabila isyarat tidak dapat dipahami dan tulisannya jelek (tidak dapat dibaca), akad tidak sah.
d.    Jual beli barang yang tidak ada ditempat akad
Ulama’ fiqih sepakat bahwa jual beli atas barang yang tidak ada di tempat adalah tidak sah sebab tidak memenuhi syarat akad.
e.    Jual beli bersesuaian antara ijab dan qabul
Hal ini dipandang tidak sah menurut kesepakatan ulama’. Akan tetapi jika lebih baik seperti meninggikan harta, ulama Hanafiyah membolehkannya, sedangkan ulama’ Syafi’iyah menganggapnya tidak sah.
f.    Jual beli Munjiz
Yaitu jual beli yang dikaitkan dengan syarat atau ditangguhkan pada waktu yang akan datang. Jual beli ini dipandang fasid menurut ulama’ Hanafiyah, dan batal menurut jumhur ulama’.

3.    Terlarang sebab Ma’qud ‘alaih (barang jualan)

Secara umum ma’qud alaih adalah harta yang dijadikan alat pertukaran oleh orang yang berakad, yang biasanya disebut mabi’ (barang jualan) dan harga. Ulama’ fiqih sepakat bahwa jual beli dianggap sah apabila ma’qud alaih adalah barang yang tetap atau bermanfaat, berbentuk, dapat diserahkan, dapat dilihat oleh orang-orang yang akad, tidak bersangkutan dengan miliki orang lain, dan tidak ada larangan dari syariat.
Diantara jual beli terlarang sebab ma’qud alaih antara lain sebagai berikut.
a) Jual beli benda yang tidak ada atau dikhawatirkan tidak ada Jumhur ulama’ sepakat bahwa jual beli barang yang tidak ada atau dikhawatirkan tidak ada adalah tidak sah.
b) Jual beli barang yang tidak dapat diserahkan, Contohnya menjual burung yang ada diudara, dan ikan yang ada di air. Semua ini tidak berdasarkan syariat. 

c) Jual beli gharar, Yaitu jual beli barang yang mengandung kesamaran. Menurut Ibnu Jazi Al-Maliki, gharar yang dilarang ada 10 macam:
  1. Tidak dapat diserahkan, seperti menjual anak hewan yang masih dalam kandungan induknya. Contoh lain misalnya menjual air mani/sperma binatang.
  2. Tidak diketahui harga dan barang.
  3. Tidak diketahui sifat barang dan harganya
  4. Tidak diketahui ukuran barang dan harga
  5. Tidak diketahui masa yang akan datang, misalnya ungkapan “Saya jual barang ini kepadamu, jika Zaid dating”.
  6. Menghargakan 2 kali pada satu barang
  7. Menjual barang yang dihargakan selamat
  8. Jual beli Husha’, misalnya pembeli memegang tongkat, jika tongkat jatuh maka wajib membeli.
  9. Jual beli munabadzah, yaitu jual beli dengan cara lempar melempar. Seperti seorang melempar bajunya, kemudian yang lain pun melempar bajunya, maka jadilah jual beli.
  10. Jual beli mulasamah, yaitu apabila mengusap baju atau kain, maka wajib membelinya.


d) Jual beli barang yang na’jis atau terkena na’jis
Ulama’ sepakat tentang larangan jual beli barang yang na’jis seperti khamar. Akan tetapi, mereka berbeda pendapat tentang barang yang terkena na’jis yang tidk mungkin dihilangkan. Seperti minyak yang terkena bangkai tikus. Ulama’ Hanafiyah membolehkan untuk barang yang tidak dimakan, dan ulama’ Malikiyah membolehkannya setelah dibersihkan.

e.    Jual beli air
Disepakati oleh jumhur ulama’ empat bahwa dibolehkan jual beli air yang dimiliki seperti air sumur atau air yang disimpan ditempat pemiliknya. Sebaliknya ulama’ Zhahiriyah melarang secara mutlak.

f.    Jual beli barang yang tidak jelas (majhul). Ketidak jelasan nya dapat disebabkan karena barang yang dijual itu belum sempurna milikinya.

g.    Jual beli sesuatu yang belum dipegang
Ulama’ Hanafiyah melarang jual beli barang yang dapat dipindahkan sebelum dipegang, tetapi untuk barang yang tetap diperbolehkan. Ulama’ Syafi’iyah melarang secara mutlak. Malikiyah melarang atas makanan dan Hanbaliyah atas makanan yang diukur.

h.    Jual beli buah-buahan atau tumbuhan
Apabila belum terdapat buah, disepakati tidak ada akad. Setelah ada buah, tetapi belum matang, akadnya fasid dan batal menurut jumhur ulama’.

4.    Terlarang sebab syara’ 
  • Jual beli riba, Riba nasiah dan riba fadhl adalah fasid menurut ulama’ Hanafiyah, tetapi batal menurut jumhur ulama’
  • Jual beli barang dari uang yang diharamkan
  • Jual beli barang dari hasil pencegatan barang, yakni mencegat pedagang dalam perjalanan menuju tempat yang dituju sehingga orang yang mencegatnya akan memperoleh keuntungan. Ulama’ Malikiyah berpendapat jual beli seperti itu fasid.
  • Jual beli waktu adanya azan jum’at, yakni bagi laki-laki yang berkewajiban melaksanakan shalat jum’at.
  • Jual beli anggur untuk dijadikan khamar. Menurut ulama’ Hanafiyah dan Syafi’iyah zahirnya shahih, tetapi makruh. Sedangkan menurut ulama’ Malikiyah dan Hanbaliyah adalah batal.
  • Jual beli induk tanpa anaknya yang masih kecil. Hal ini dilarang sampai anaknya besar dan dapat mandiri.
  • Jual beli barang yang sedang dibeli orang lain. Seseorang telah sepakat akan membeli suatu barang, namun masih dalam khiyar. Kemudian datang orang lain yang menyuruh untuk membatalkan sebab ia akan membelinya dengan harga yang tinggi.
  • Jual beli dengan syarat. Menurut ulama Hanafiyah sah jika isyarat tersebut baik. Seperti ungkapan “ Saya akan membeli baju ini dengan syarat bagian yang rusak dijahit dulu”. Begitu pula dengan Malikiyah dan Syafi’iyah dibolehkan jika syarat maslahat bagi salah satu pihak yang melangsungkan akad. Sebaliknya menurut Hanbaliyah tidak dibolehkan jika hanya bermanfaat bagi salah satu pihak yang melakukan akad.

Sebenarnya masih banyak sekali contoh jual beli yang dikategorikan ilegal, tapi dalam makalah ini kami hanya menyebutkan sebagian kecilnya saja karena mempertimbangkan keefektifan.

D. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan tersebut di atas dapat dismpulkan beberapa hal.

  • Jual beli memiliki rukun dan syarat. Apabila rukun dan syariatnya tidak terpenuhi maka jual beli tersebut tidak sah.
  • Jual beli ilegal apabila terdapat sebab yang mempengaruhinya. Sebab tersebut dapat digolongkan menjadi empat macam, yaitu terlarang sebab ahliah, terlarang dari shigat, terlerang sebab ma’qud ‘alaih, dan terlarang sebab syara’.

 
DAFTAR PUSTAKA

Muslim, Muslihun. 2005. Fiqih Ekonomi. Mataram: LKIM IAIN Mataram.

Suhendi, Hendi. 2007. Fiqih Muamalah. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Syafi’i, Rahmat. 2001. Fiqih Muamalah. Bandung: Pustaka Setia.

Rasyid, Sulaiman. 1998. Fiqih Islam. Bandung: Sinar Baru. Makalah Jual Beli Ilegal


Artikel Menarik lainnya :