Pengertian dan Peranan Pengawasan

Posted by Sanjaya Yasin 1 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

1.    Pengertian Pengawasan

Pengawasan adalah identik dengan kata “controling” yang berarti “pengawasan, pemeriksaan”. Sedangkan kata pengawasan dalam kamus umum bahasa Indonesia berarti: “penilik dan penjagaan” (Depdikbud, 2002 : 17). Jadi pengawasan berarti mempertahankan dan menjaga dengan baik-baik segala apa yang dilakukan anak dalam segala aktivitasnya.


Orang tua adalah pusat kehidupan rohani anak dan sebagai penyebab berkenalnya dengan dunia luar maka setiap reaksi emosi anak dan pemikiran terhadap orang tuanya dipermulaan hidupnya dahulu. Pendapat lain mengatakan “Orang tua adalah guru petama bagi anaknya, sedangkan hubungan guru dengan muridnya sama dengan orang tua dengan anaknya (Daradjat, 1992 : 35).

Berangkat dari pendapat di atas maka pengertian pengawasan orang tua adalah “usaha yang dilakukan oleh orang tua untuk memperhatikan, mengamati dengan baik segala aktivitas anaknya dalam fungsinya sebagai guru dalam rangka mengembangkan aspek jasmaniah dan rohaniah anaknya, sehingga anak memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan dirinya, keluarga dan lingkungannya dalam rangka membentuk kepribadian anak.

Mengingat pentingnya peranan orang tua dalam membentuk kepribadian anaknya sehingga orang tua mempunyai waktu luang untuk mengawasi seta mendidik anaknya. Menurut Kusuma (1973 : 27-28) untuk mencapai tujuan pendidikan dalam keluarga, orang tua dalam melakukan pengawasan harus mencakup segala segi kehidupan diantaranya dari segi pendidikan aqidah dan moral, pengamalan agama dan aktivitas ibadah anak. Berikut ini diuraikan mengenai empat bidang pengawasan tersebut:

1)    Pengawasan orang tua terhadap pendidikan aqidah anak

Setiap individu dilahirkan dalam keadaan berfitrah agama, hal ini kita lihat pada waktu Allah SWT selaku khalik berdialog dengan manusia selak makhluk di alam arwah, yaitu sewaktu Allah bertanya kepada roh-roh manusia adakah aku ini Tuhanmu? Benar! Kami telah menyaksikan.

Pada hakekatnya semua manusia berada dalam keadaan suci atau dalam keadaan beragama Islam tapi karena orang tua dan ingkungannyalah yang menjadikan mereka itu berada di luar Islam.

2)    Pengawasan orang tua terhadap pendidikan akhlak dan moral anak

Tujuan utama pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan manusia bermoral, jiwa yang bersih, kemauan yang keras, cita-cita yang benar dan berakhlak yang tinggi, kemauan yang keras, cita-cita yang benar dan berakhlak yang tinggi, tahu arti kewajiban dan pelaksanaannya, menghormati hak-hak manusia. Firman Allah swt dalam surat al-Qalam ayat 4 :

وَإِنَّكَ لَعلَى خُلُق عَظِيْم (القلم:٤)
Artinya : “Sesungguhnya engkau memiliki akhlak dan moral yang tinggi” (Depag RI, 1989 : 9607).

3)    Pengawasan orang tua terhadap pengamalan agama anak

Pada mulanya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan, pengalaman dan latihan-latihan yang dialaminya pada masa kecilnya.

Seseorang yang pada waktu kecilnya tidak pernah mendapat pendidikan agama, maka masa selanjutnya nanti, ia tidak akan merasakan pentingnya agama dalam hidupnya. Lain halnya dengan orang yang pada masa kecilnya mempunyai pengalaman-pengalaman agama, misalnya ibu Bapaknya yang tahun beragama, ditambah pula denan pendidikan agama di rumah, sekolah dan masyarakat.

Setiap orang tua ingin membina anaknya agar menjadi orang yang berguna dan baik, mempunyai keperibadian yang kuat dan sikap mental yang sehat dan akhlak yang terpuji. Semuanya itu tidak diusahakan melalui pendidikan, baik informal, formal dan non formal. Setiap pengalaman yang dilalui oleh anak akan ikut menentukan keperibadiannya.

4)    Pengawasan orang tua terhadap aktivitas ibadah anak

Islam menghendaki agar manusia di didik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah SWT. Tujuan hidup manusia itu menurut Allah adalah beribadah kepadanya. Ini diketahui dari firmannya dalam Al-Qur’an surat Az-Zariyat ayat 56 sebagai berikut.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْشَ إِلأَ لِيَعْبُدُوْن (الذاريت:٥٦)
Artinya : “ Dan aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (Depag  RI, 1989 : 862).

Aspek ibadah yang pertama ialah apa yang oleh fuqaha disebutkan ibadah, sedangkan aspek ibadah yang kedua adalah aspek amal untuk mencari rezeki. Dalam Islam ibadahlah yang memberikan  latihan rohani yang diperlukan manusia itu, semua ibadah yang ada dalam Islam, shalat, puasa, haji, dan zakat bertujuan membuat rohani manusia tidak lupa pada Tuhan sebagai zat yang maha suci dapat mempertajam kesucian seseorang. Rasa kesucian yang kuat akan menjadi rem bagi hawa nafsu untuk melanggar nilia-nilai moral, peraturan dan hukuman yang berlaku dalam memenuhi keinginannya. Hal ini sesuai dengan pendapat yang mengatakan “Tujuan ibadah dalam Islam adalah bukan menyembah, tetapi mendekatkan diri kepada Tuhan agar dengan demikian roh manusia senantiasa diingatkan kepada hal-hal yang bersih lagi suci, sehingga akhirnya rasa kesucian seseorang menjadi kuat dan tajam”.

Mengingat pentingnya ibadah sebagai sarana latihan mental dan latihan moral seseorang maka orang tua harus memberikan pelajaran dan laithan-latihan kepada anak untuk melakukan ibadah baik yang berhubungan dengan Allah maupun yang berhubungan dengan sesama manusia.

Orang tua dalam melakukan pengawasan terhadap aktivitas anak harus melaksanakan hal-hak berikut. 
  • Orang tua harus senantiasa menyuruh anaknya untuk melakukan ibadah-ibadah yang maqda dan ghairu maqdu, agar mereka tetap berada dalam berbudi pekerti luhur dan terhindar dari perbuatan keji dan munkar.


Firman Allah dalam suat Al-Ankabut ayat 45

اِنَّ الصَلَوةَ تَْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرَ (العنكبوت : ٤٥)

Artinya : “Sesungguhnya shalat mencegah orang dari perbuatan keji dan munkar” (Depag RI, 1989 : 635)
  • Orang tua selaku pendidik dalam lingkungan keluarga harus mengajarkan anak-anaknya tentang cara dan urgensi dari pada orang-orang yang melakukan ibadah kepada Allah SWT.
  • Orang tua harus mempunyai waktu luang untuk mengawasi dan mengontrol aktivitas ibadah agar mereka rutin dalam melakukan ibadah.
  • Orang tua harus mengevaluasi praktek ibadah  yang dilakukan anaknya, agar mereka tetap shalat dengan benar dan sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW
  • Pengawasan orang tua dalam hubungannya dengan kehidupan masyarakat (Kusuma, 1973 : 29-30).


Masyarakat besar pengaruhnya dalam memberikan arah terhadap pendidikan anak, terutama para pemimpin masyarakat atau pengusaha yang ada di dalamnya. Pemimpin masyarakat muslim tentu saja menghendaki agar anak didik menjadi anggota masyarakat  yang kuat dan patuh menjalankan agamanya, baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat.

Dalam hubungannya dengan lingkungan ini ada yang memberikan pengaruh yang positif dan pengaruh yang negatif. Dalam hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan :

“Lingkungan dapat memberikan pengaruh positif terhadap pembentukan dan perkembangan, tetapi sebaliknya lingkungan dapat pula memberikan pengaruh yang negatif yang dimaksud dengan pengaruh yang positif ialah apabila lingkungan itu memberikan kesempatan yang baik serta memberikan dorongan atau motivasi terhadap pembentukan pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Sedangkan apabila lingkungan itu  memberikan kesempatan yang baik serta memberikan dorongan atau motivasi terhadap pembentukan pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Sedangkan yang dimaksud dengan pengaruh yang negatif ialah apabila lingkungan itu tidak memberikan kesempatan yang baik dan bahkan menghambat dalam proses pendidikan”. (Kusuma, 1973 : 32).

Untuk mengerucutkan tujuan pendidikan keluarga orang tua harus melakukan pengawasan dalam kaitannya dengan pergaulan dalam masyarakat. Menrutu Dr. Zakiah Drajat, dalam bukunya : Ilmu Pendidikan Islam, 1992 : 32) mengatakan bahwa ada beberapa hal yang sangat penting yang harus diperhatikan oleh orang tua adalah sebagai berikut:
1)    Mengawasi anak dalam memilih teman bergaul

Anak memerlukan teman bergaul  dan  bermain, ini adalah merupakan kebutuhan psikologis anak, dalam bermain dengan temannya, misalnya dalam mengembangkan rasa kemasyarakatan anak, berlatih menjadi pemimpin juga dalam bermain anak menemukan jati diri. Dengan berteman akan


Pendapat yang mengatakan salah satu faktor yang sering mengganggu perkembangan anakdan remaja ialah tidak memanfaatkan waktu luang secara tepat. Itulah sebabnya orang tua sebaiknya memanfaatkan waktu luang anak-anaknya dengan kegiatan yang bersifat rekreasi, santai, libur panjang ada baiknya diisi dengan mengikuti kegiatan yang bermanfaat, tetapi ada unsur rekreasinya (Tafsir, 1992 : 175).

4)    Mengawasi anak dalam memilih tontonan dan hiburan

Kemajuan ilmu dan pengetahuan didukung oleh teknologi yang semakin canggih, konsekuensinya manusia dapat membuat apa saja termasuk berbagai macam bentuk hiburan dan tontonan yang menarik. Dalam kaitannya, dengan tontonan hendaknya orang tua selalu mengawasi anaknya agar mereka tidak menonton sadis dan fornografi yang dapat pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani.
2.    Peranan Pengawasan

Pengawasan memegang peranan penting untuk mencapai tujuan dari suatu aktivitas atau kegiatan. khusus dalam dunia pendidikan, maka fungsi pengawasan bukan  hanya sekedar kontrol, melihat apakah segala kegiatan yang telah dilaksanakan sesuai dengan rencana atau program yang telah digariskan, tetapi lebih dari itu mengandung pengertian lebih luas yaitu : "Kegiatan yang mencakup penentuan kondisi atau syarat-syarat personal maupun material yang diperlukan. untuk tercapainya situasi belajar mengajar yang efektif dan usaha memenuhi syarat-syarat itu".

Dalam dunia pendidikan pengawasan terhadap berlangsungnya kegiatan belajar bukan menjadi tanggung jawab guru semata-mata tetapi mencakup juga peribadi siswa, orang tua dan masyarakat dimana siswa itu berada.


Artikel Menarik lainnya :