Karakteristik Mata Pelajaran Bahasa Inggris

Posted by Sanjaya Yasin 0 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS

Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik tertentu bila ditinjau dari segi tujuan atau kompetensi yang ingin dicapai, ataupun materi yang dipelajari dalam rangka menunjang tercapainya kompetensi tersebut. Ditinjau dari segi tujuan atau kompetensi yang ingin dicapai, mata pelajaran bahasa Inggris ini menekankan pada aspek keterampilan berbahasa yang meliputi keterampilan berbahasa lisan dan tulis, baik reseptif maupun produktif.


Secara umum bahasa digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi. Tentu saja proses komunikasi akan berjalan dengan baik kalau kedua pihak yang berkomunikasi dibekali dengan pengetahuan tentang bahasa dan keterampilan berbahasa. Sebagai contoh, untuk dapat berbicara bahasa Inggris dengan baik, dalam arti dapat dipahami oleh orang lain, seseorang perlu menguasai kosakata dan tata bahasa yang berlaku di antara penutur asli bahasa Inggris . Begitu pula orang yang diajak bicara juga harus menguasai kosakata dan tata bahasa tersebut. Dengan penguasaan kosakata dan tata bahasa ini keduanya dapat saling memahami apa yang sedang dibicarakan. Selain itu mereka juga perlu dibekali dengan pengetahuan tentang budaya penutur asli bahasa Inggris agar tidak melakukan kesalahan kultural. Sebagai contoh orang Indonesia kan melakukan kesalahan kultural bila dia bertanya kepada orang Amerika dengan pertanyaan Where are you going? Karena pertanyaan ini berarti bahwa penanya mencampuri urusan orang lain. 

Contoh lain adalah ketika seorang gadis Amerika melamar pria Indonesia dengan mengatakan Will you marry me? Tanpa pengetahuan tentang budaya Amerika, pasti pria tersebut menganggap gadis tersebut terlalu agresip. Padahal, hal tersebut merupakan kewajaran dalam budaya Amerika. Pengetahuan tentang kosakata dan tata bahasa inilah yang dapat digolongkan ke dalam ranah kognitif. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa dalam kegiatan berbahasa, pengetahuan saja  belum cukup. Sebagai contoh, seseorang mungkin tahu bahwa intonasi penting, tekanan kata juga penting, tetapi pada saat berbicara, dia tidak memperhatikan masalah ini. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa harus tidak hanya menekankan ranah kognitif saja.

Selanjutnya, untuk dapat menggunakan bahasa dengan baik, seseorang perlu memproduksi bunyi yang terdapat di dalam bahasa tersebut. Seorang yang ingin belajar berbicara bahasa Inggris, misalnya, harus dapat mengucapkan bunyi-bunyi yang ada di dalam bahasa Inggris. Kesalahan dalam pengucapan akan menyebabkan seseorang tidak dapat dipahami oleh orang lain. Oleh karena itu, dalam konteks Indonesia, pengucapan bunyi-bunyi ini juga perlu dilatihkan kepada orang yang ingin belajar bahasa Inggris termasuk para siswa mengingat bahwa banyak bunyi-bunyi yang terdapat di dalam bahasa Inggris tidak terdapat di dalam bahasa Indonesia. Sebagai contoh, kata the, think, she masing-masing   mengandung bunyi  /ð/, /θ/, dan /∫/ yang tidak terdapat dalam tata bunyi bahasa Indonesia. Perbedaan seperti ini menyebabkan perlunya latihan khusus sehingga memerlukan pembelajaran psikomotorik. Pada prosesnya, siswa harus dilatih menggerakkan bibirnya dan lidahnya sedemikian rupa sehingga bunyi yang dihasilkan sesuai dengan bunyi yang diproduksi oleh penutur asli bahasa Inggris. Dalam hal ini, latihan menggerakkan organ bicara untuk menghasilkan bunyi tertentu ini dapat dikategorikan dalam ranah psikomotorik.

Selain dua ranah yang disampaikan di atas, dalam kegiatan berbahasa juga diperlukan pengembangan sikap  yang tepat, misalnya penghargaan terhadap budaya asing. Selain itu, pembelajaran bahasa juga terkait dengan masalah-masalah minat, motivasi, tingkat kecemasan, dan sebagainya. Hal ini mendorong seseorang yang belajar bahasa asing  untuk mengembangkan ranah afektifnya. Sebagai contoh, agar dapat berhasil dalam belajar bahasa, seorang siswa perlu mempunyai sikap yang positif terhadap bahasa dan budaya yang dipelajari. Tanpa sikap seperti itu, sangat sulit bagi dia untuk menguasai bahasa dengan baik. Dia juga perlu memiliki minat terhadap bahasa tersebut, dan minat ini akan mempengaruhi motivasinya. Kemudian dia perlu memiliki harapan/kecemasan yang seimbang sehingga dia akan berusaha terus dengan harapan untuk berhasil.

Penguasaan sistem bahasa, selain ditunjang oleh penguasaan kosakata dan tata bahasa, juga harus ditunjang oleh penguasaan tata bunyi dan sistem makna. Sistem makna ini sangat terkait erat dengan konteks, misalnya kepada siapa seseorang berbicara, dalam situasi seperti apa, dan topik apa yang dibicarakan. Hal ini dapat mempengaruhi penggunaan bahasa, yaitu bahwa dalam berbahasa seseorang harus berusaha untuk menggunakan ungkapan yang tepat sesuai dengan situasinya. Misalnya, kalau seseorang mau mengucapkan terima kasih kepada direkturnya, tentu saja ungkapannya akan berbeda dengan kalau dia mau mengucapkan terima kasih kepada teman akrabnya. 

Hal inilah yang menyebabkan pentingnya siswa diperkenalkan dengan bentuk bahasa formal dan informal. Selain itu, bahasa juga terkait dengan topik yang menjadi pembicaraan. Pada bidang tertentu terdapat istilah-istilah yang hanya berlaku di bidang tersebut. Atau, makna suatu kata menjadi berbeda kalau digunakan dalam bidang yang berbeda. Sebagai contoh, kata bed dalam makna yang umum (bed berarti tempat tidur) berbeda dengan maknanya kalau digunakan dalam bidang pertanian (bed berarti tempat persemaian). Terkait dengan perbedaan semacam ini, pembelajaran bahasa perlu dikontekstualisasikan dengan tema-tema yang terkait dengan bidang tertentu. (Lihat Lampiran 4 untuk daftar tema yang disarankan).

Ada hal lain yang perlu mendapat perhatian ketika seseorang belajar bahasa, yaitu bahwa bahasa tersebut digunakan untuk melakukan berbagai fungsi. Sebagai contoh, bahasa dapat digunakan sebagai bahasa pengantar di kelas, yaitu untuk menjelaskan (jika dilihat dari sisi guru) dan untuk memahami (jika dilihat dari sisi siswa). Fungsi semacam ini yang disebut fungsi heuristik. Selain itu, bahasa juga digunakan untuk mengubah atau mempengaruhi lingkungan. Sebagai contoh, kita bisa mengubah lingkungan kita dengan meminta seseorang melakukan sesuatu seperti membukakan pintu, membersihkan papan tulis, mengambilkan kapur, dan sebagainya. 

Penggunaan bahasa seperti ini terkait dengan fungsi manipulatif bahasa. Pada kesempatan lain, bahasa digunakan untuk mengarang ceritera pendek, mengarang puisi, novel, dan sebagainya. Dalam kegiatan tersebut, bahasa digunakan untuk mengembangkan imajinasi seseorang. Oleh karena itu, fungsi bahasa seperti ini disebut fungsi imajinatif. Selain untuk ketiga fungsi tersebut di atas, bahasa juga digunakan pada saat orang mengungkapkan pengalaman mereka. Fungsi bahasa seperti ini disebut fungsi ideasional.

Pada saat orang berbicara dengan orang lain, keduanya bukan semata-mata menggunakan bahasa tanpa ada maksud tertentu. Mereka menggunakan bahasa dengan maksud berinteraksi satu sama lain. Keterampilan menggunakan bahasa untuk kepentingan berinteraksi inilah yang merupakan tujuan akhir dari proses pembelajaran bahasa. Oleh karena itu, agar dapat menggunakan bahasa dengan baik, seseorang perlu mempunyai keterampilan interaktif (interactive skill). 

Keterampilan untuk mengajukan usul, untuk mendukung suatu gagasan, untuk menyatakan persetujuan atau ketidaksetujuan merupakan contoh keterampilan interaktif. Selama proses pembelajaran bahasa kegiatan-kegiatan interaktif komunikatif perlu diciptakan untuk mendukung tercapainya tujuan akhir tersebut. Kesimpulannya adalah bahwa pembelajaran bahasa pada dasarnya berada dalam ranah belajar pada keterampilan interaktif, suatu ranah yang banyak dilupakan orang (Romiszowski, 1981).


Artikel Menarik lainnya :