Paham-paham Al-Asy’ariyah

Posted by Sanjaya Yasin 1 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

Paham-paham Al-Asy’ariyah
1.    Corak Pemikiran Asy’ariyah

Asy’ari adalah orang yang pernah menganut paham mu’tazilah, tidak menjauhkan diri dari pemakaian akal pikiran dan argumentasi fikiran. Ia menentang dengan kerasnya mereka yang mengatakan bahwa pemakaian akal fikiran dalam masalah Agama atau membahas tentang yang tidak pernah disinggung Rasul adalah salah. Selain itu juga ia mengingkari orang-orang yang berlebih-lebihanan menghargai akal fikiran, yaitu golongan mu’tazilah. 


Karena golongan ini tidak mengakui 3 sifat Tuhan, maka dikatakan telah sesat sebab mereka telah menjauhkan Tuhan dari sifat-sifat-Nya dan meletakkannya dalam bentuk yang tidak dapat diterima akal. Selain itu juga mereka mengingkari kemungkinan terlihatnya Tuhan dengan mata kepala sendiri. Apabila pendapat ini dibenarkan, maka akan berakibat tidak mengakui hadist-hadist Nabi.

2.    Perkembangan Aliran Asy’ariyah

Aliran asy’ariyah lebih cendrung kepada segi akal fikiran semata-mata dan memberikannya tempat yang lebih luas dari pada nas-nas itu sendiri. Mereka sudah berani mengeluarkan keputusan bahwa “Akal menjadi dasar naqal (Nas)”. Karena dengan akallah kita menetapkan adanya Tuhan pencipta alam dan yang Maha Kuasa. Pembatalan akal fikiran dengan naqal (Nas) berarti pembatalan dasar (pokok) dengan cabangnya yang berakibat pula pembatalan pokok dan cabangnya sama sekali. Karena adanya sikap tersebut, maka Ahlussunnah tidak dapat menerima golongan Asy’ariyah. Bahkan memusuhinya kerna di anggap sudah termasuk aliran sesat (bid’ah).( Ahmad Hanafi, theology islam, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1996), hal.64)


  • Allah SWT memiliki sifat wajib, mustahil, dan jaiz. Sifat-sifat Allah itu berbeda dengan Dzat-Nya, tetapi tidak terpisah.
  • Tentang melihat Allah, Asy’ariyah berpendirian bahwa Allah dapat dilihat dengan mata kepala sendiri  ketika di akhirat kelak. Ini sesuai dengan firman-Nya dalam Al-Qur’an surat Al-Qiyamah:22-23 yang artinya “wajah-wajah (orang mu’min) pada hari itu berseri-seri melihat wajah Tuhannya.”
  • Tentang syafa’at, shirat, mizan, dan haudhi Asy’ariyah berpendirian semuanya itu benar-benar ada di akhirat.
  • Mengenai ayat-ayat mutasyabihat, dalan mengartikannya tidak boleh dengan arti lahir ayat saja, tetapi harus melalui takwil dan yang boleh menakwil hanyalah para alim ulama’ yang ahli dan ilmunya sudah lebih dalam dari orang biasa pada bidang Al-quran. Ini didasarkan pada (Q.S.Ali Imran:6)( Muhammad Rifa’i dan RS. Abdul Aziz, belajar ilmu kalam, (Semarang: wacaksana, 1998), hal.71)

Mazhab Asy’ariyah bertumpu pada Al-Qur’an dan sunnah mereka amat teguh memegangi Al-Ma’sur. Al- Asy’ari mengatakan: “pendapat yang kami ketengahkan dan aqidah yang kami pegangi adalah sikap berpegang teguh pada kitab Allah, sunnah Nabi SAW dan apa yang di riwayatkan dari sahabat, Tabi’in dan imam-imam hadist. “ kami mendukung semua itu dan menjauhi orang-orang yang menyalahi pendapatnya maupun inquisisi bahwa Al-Quran adalah makhluk.( DR. Ibrahim Madkous, aliran dan teori filsafat islam, (Jakarta:bumi Aksara, 1995), hal.66)

Al-quran berlainan pendapat dengan mu’tazillah, bagi asy’ari tidaklah diciptakan sebab kalau ia diciptakan, maka sesuai dengan ayat:

Artinya: Sesungguhnya Perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: "kun (jadilah)", Maka jadilah ia.( Surat An-Nahl ayat 40)

Untuk penciptaan itu perlu kata kun dan untuk terciptanya kun ini perlu pula kata kun yang lain, begitulah seterusnya sehingga terdapat ratusan kata-kata kun yang tak berkesudahan dan ini tak mungkin. Oleh karena itu, Al-qur’an tak mungkin diciptakan.( Nasution Harun, Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta:UI Press, 1972), hal.69)

Kaum Asy’ari juga tidak menolak akal, karena bagaimana mereka akan menolak akal, padahal Allah menganjurkan agar umat islam melakukan kajian rasional:

Artinya: Dan Apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu?( Nasution Harun, Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta:UI Press, 1972), hal.69)

Asy’ari adalah kaum sifatiyah (yang mengatakan bahwa Allah punya sifat-sifat) jadi Allah mengetahui dengan ilmunya Karena sifat kuasa, semua ini adalah sifat-sifat Azali (eternal) dan abadi. Ilmu Allah adalah Azali dan mencangkup semua obyek pengetahuan, tanpa melalui indra maupun pembuktian. Melihat Allah dengan pandangan mata adalah boleh, karena setiap yang ada bisa si lihat. Meneguhkan bahwa Allah bisa dilihat tidak berarti tasybih dan tajsim, sebab melihat disini tidak sama dengan kita yang melihat benda-benda di dunia,sebagaimana firman:Nya:

Artinya: (22) Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. (23) Kepada Tuhannyalah mereka melihat. (Surat Al-Qiyamah ayat 22-23)

Firman Allah adalah sifatnya Azali dan Al-Quran itu adalah Firman Allah. Oleh sebab itu, Al-Quran bukan makhluk.

Kami baerusaha untuk mengulas teori-teori itu seperti yang ada pada orang yang mengatakannya juga pada murid-muridnya. Untuk itu kami cukup hanya menjelaskan tokoh-tokoh besar mereka. Paham-paham Al-Asy’ariyah


Artikel Menarik lainnya :