Latar Belakang Aliran Al-Asy’ariyah

Posted by Sanjaya Yasin 0 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

Latar Belakang Aliran Al-Asy’ariyah - Nama lengkap Al-asy’ari adalah Abu Al-hasan Ali bin Ismail bin Ishak bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari. Menurutgalk beberapa riwayat, Al-asy’ari lahir di Bashrah pada tahun 260 H / 875 M. ketika berusia lebih dari 40 tahun, ia hijrah ke kota Baghdad dan wafat disana pada tahun 324 H / 935 M.

Menurut ibnu Asakir, ayah Al-Asy’ari adalah seorang yang berpaham ahlulsunah dan ahli hadist.ia wafat ketika al asy’ari masih kecil.sebelum wafat ia berwasiat kepada seorang sahabatnya yang bernama zakaria bin yahya as-saji agar mendidik al-asy’aria.ibu al-asy’ari sepeninggal ayahnya,menikah lagi dengan seorang tokoh mu’tazilah yang bernama abu ali al-jubai (w.303H ¬/915) Ayah kandung abu hasyim al-jubbai (w.321 H/932 M).

Berkat didikan ayah tirinya itu,AL-Asy’ari kemudian menjadi tokoh Mu’tazilah.ia seiring menggantikan Al-jubba’i dalam perdebatan menentang lawan-lawan Mu’tazilah. Selain itu,banyak menulis buku yang membela alirannya .

AL-Asy’ari menganut paham Mu’tazilah hanya sampai ia berusia 40 tahun setelah itu,secara tiba-tiba ia mengumumkan di hadapan jama’ah masjid Bashrah. Bahwa dirinya telah meninggalkan faham Mu’tzilah dan menunjukun keburukan-keburukannya.( Abdul Rozak dan Rosihon Anwar, Ilmu Kalam, Pustaka Setia, Bandung, 2006, hal.120) dan berpidato ’’wahai manusia ! Barang siapa di antara kamu yang kenal pada saya,saya akan memperkenalkan diri saya bahwa saya ini adalah Abul hasan AL-Asy’ari,yang beberapa waktu meyakini bahwa quran itu mahluk dan baru,dan bahwa allah itu tidak dapat dilihat dengan mata dan bahwa perbuatan jahat itu saya sendirilah yang mengerjakan,bukan dengan qada dan qadar,saya sudah tobat dan saya sekarang menentang paham Mu’tazilah.tentang kesalahan pendirinya.

Wahai manusia yang hadir!Ketahuilah baahwa saya ini menghilang beberapa lama dari pergaulan,karena saya betul-betul sedang mempelajari pertentangan dan alasan-alasan dari golongan besar ini.sekarang tuhan telah memberi petunjuk pada saya-saya teguh dalam pendirian saya dan kutulis semua dalam buku ini (sambil ia memperlihatkan kepada umum sebuah risalah yang terdiri dari pendirian-pendirianya).saya sudah membuang paham mu’tazilah itu,sebagaimana saya membuka baju saya ini sekarang dan melemparkan ke tengah-tengahmu”.( Muhammad Ahmad, Tauhid Ilmu Kalam, Pustaka Setia, 1998, hal.176)

Menurut ibnu Asakir,yang melatarbelakangi AL-Asy’ari meninggalkan paham Mu’tazilah adalah pengakuan AL-Asy’ari telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah saw.sebanyak tiga kali,yaitu pada malam ke-10,ke-20,dan ke-30 bulan ramadhan.Dalam tiga mimpinya itu,Rasulullah memperingatkannya agar meniggalkan faham Mu’tazilah dan membela faham yang telah diriwayatkan dari beliau.( Abdul Rozak dan Rosihan Anwar, ibid.)

Hal lain yang melatarbelakangi AL-asy’ari meniggalkan paham Mu’tazilah adalah karena dia merasa meskipun ia sangat menguasai paham Mu’tazilah,keraguan selalu muncul dalam dirinya tentang Mu’tazilah tersebut.dan ia merasa tidak puas.setelah merenung selama sekitar 15 hari, akhirnya ia memutuskan keluar dari Mu’tazilah.peristiwa itu terjadi ketika ia berusia sekitar 40 tahun,menjelang akhir hayat Al-Jubba’i. (Muhammad Ahmad, ibid.) Latar Belakang Aliran Al-Asy’ariyah


Artikel Menarik lainnya :