Kepemimpinan Orang Tua

Posted by Sanjaya Yasin 0 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

Kepemimpinan Orang Tua
Dalam hal ini akan diuraikan secara berturut-turut tentang (1) pengertian kepemimpinan orang tua, (2) timbulnya kepemimpinan, dan (3) tipe dan ciri-ciri kepemimpinan orang tua

Kepemimpinan orang tua terdiri dari dua kata yaitu kepemimpinan dan orang tua. Untuk lebih jelasnya berikut ini akan diuraikan masing-masing istilah tersebut akan digabung menjadi satu kesatuan.


1.    Kepemimpinan

Dalam buku psikologi sosial dijelaskan bahwa : “Kepemimpinan adalah keseluruhan dari keterampilan (skill) dan sikap (attide) yang diperlukan oleh tugas pemimpin” (Gerungan, 1991:128). Sednagkan menurut Oday Tead seperti yang dikutip oleh Cahyono dalam buku Psikologi Kepemimpinan dijelaskan bahwa : “Kepemimpinan adalah merupakan kombinasi dari serangkaian perangai yang memungkinkan seseorang mampu mendorong orang lain untuk menjelaskan tugas-tugas tertentu” (Cahyono, 1984:14) dari kedua pendapat tersebut, maka yang dimaksud dengan kepemimpinan adalah keseluruhan dari keterampilan dan sikap yang diperlukan oleh tugas perihal pemimpin atau arah memimpin yang merupakan kombinasi dari serangkaian perangai yang memungkinkan seseorang mampu mendorong orang lain untuk menjalankan tugas-tugas tertentu.
2.    Orang Tua

Dalam kamus besar bahasa Indonesia dijelaskan yang dimaksud dengan orang tua adalah : “orang tua adalah ayah, ibu kandung, dam orang-orang yang dianggap tua” (Krisdalaksana, dkk, 706). Ahli lain mengatakan dalam bukunya Bimbingan keluarga dijelaskan bahwa “Orang tua adalah bapak/ibu yang memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk membesarkan anak-anaknya” (Kartono, 1998:2). Dari kedua pendapat tersebut, maka yang dimaksud dengan orang tua adalah ayah dan ibu kandung yang memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk membesarkan anak-anaknya.

Timbulnya Kepemimpinan

Kepemimpinan merupakan suatu hal yang sentral dalam suatu kelompok, apakah kelompok dalam organisasi, partai, instansi maupun rumah tangga. Dalam suatu kelompok tersebut masing-masing individu memainkan perna masing-masing dan disinilah diperlukan suatu kepemimpinan yang dapat mengaturnya agar apa yang diharapkan dapat tercapai. Sehubungan dengan hal ini dalam buku psikologi kepemimpinan dijelaskan bahwa : “Kepemimpinan timbul disebabkan olehtiga hal yaitu :
  • Pemimpin dan pemekeran kelompok, 
  • pemimpin dan krisis dan 
  • pemimpin dan kegagalan pemimpin” (Cahyono, 1984 : 25- 27).
    
Dari pendapat tersebut di atas, maka kepemimpinan timbul karena adanya tiga hal yaitu pemimpin dan pemekaran kelompok, pemimpin dan krisis, dan pemimpin dan kegagalan pemimpin. Untuk lebih jelasnya berikut ini, akan dijelaskan secara singkat.

2.1    Pemimpin dan Pemekaran Kelompok

Manakalah suatu kelompok berkembang menjadi lebih besar, lebih luas dan lebih kompleks, pada saat itulah ikut berkembang pula suatu kepemimpinan. Hal yang demikian bisa dimengerti mengingat dengan semakin luas dan kompelsnya sesuatu kelompok bisa jadi berakibat pula dengan semakin banyaknya fungsi dan tujuan dari kelompok bisa jadi berakibat pula dengan semakin sehubungan dengan hal ini, dalam Buku Psikologis Kepemimpinan dijelaskan bahwa “Dalam kondisi yang demikian, pemimpin utama (primary leader) akan menempati puncak hirarki, disusul dengan pemimpin-pemimpin tingkat kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Sementara para bawahan sudah barang tentu akan menempati posisi lapisan terbawah dari hirarki tersebut “(Cahyono, 1984 : 25). Selanjutnya dalam buku Psikologi Sosial dijelaskan bahwa : “Munculnya seseorang pemimpin merupakan hasil dari suatu proses yang dinamis yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan kelompok tersebut” (Ahmadi. 1998 : 142).

Dengan demikian, pengembangan hirarki semacam itu sekaligus adanya proses yang dinamis menghendaki adanya pendelegasian atau pemencaran peran kepemimpinan dan pergeseran kondisi demikian akan menjadi lebih kompleks dan otomatis memerlukan sejumlah pemimpin serta sekaligus menciptakan satu kondisi bagi munculnya sejumlah pemimpin.

2.2    Pemimpin dan Krisis

Dalam buku Psikologi Kepemimpinan dijelaskan bahwa :

Timbulnya kepemimpinan bisa juga disebabkan oleh suatu situasi dimana upaya pencapaian tujuan kelompok mengalami hambatan, atau situasi dimana eksistensi kelompok menghadapi ancaman-ancaman yang serius dari luar. Dalam situasi semacam ini, tidak jarang sebagian besar anggota kelompok tidak mengetahui langkah-langkah apa yang sebaiknya diambil untuk mewujudkan tujuan kelompok, atau untuk membebaskan kelompok dari ancaman-ancaman tersebut (Cahyono, 1984 : 26).

Selanjutnya dalam buku Manajemen Kepemimpinan dijelaskan pula bahwa :”Ancaman yang dihadapi kelompok serta kesulitan-kesulitan dalam pelaksanaan tugas (krisis) kelompok tidak saja berpengaruh terhadap timbulnya kepemimpinan, akan tetapi berpengaruh pula pendistribusian kepemimpinan” (Aziz, 1997 : 31). 

Sedangkan ahli lain mengatakan bahwa :” Munculnya seorang pemimpin sangat diperlukan dalam keadaan-keadaan dimana tujuan dari pada kelompok sosial yang bersangkutan terhalang atau apabila kelompok tadi mengalami ancaman-ancaman dari luar” (Ahmadi, 1998 : 142).

Dari pendapat ahli tersebut, menunjukkan bahwa dalam situasi yang krisis terutama pada kepemimpinan  yang berorientasi kepada kekuatan semata-mata tampaknya menjadi satu alternatif yang yang sulit untuk ditolak munculnya kemimpinan. Karena sering dilihat bahwa pemimpin yang diktator umumnya muncul dalam situasi krisis yang menuntut perubahan-perubahan yang mendadak.      
Kepemimpinan Orang Tua
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      
2.3    Pemimpin dan kegagalan pemimpin

Pemimpin-pemimpin baru bisa juga akan muncul manakala pemimpin sebelumnya tidak mampu melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinannya secara memadai. Sehubungan dengan hal ini, menurut W.H Crockett seperti yang dikutip oleh Cahyono dalam bukunya Psokologi Kepemimpinan dijelaskan bahwa:

Dari hasil penelitian membuktikan bahwa sebanyak 83% dari kelompok -kelompok dengan memimpinan formalnya tidak mampu memenuhi kewajiban melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan kepemimpinan, ternyata tugas atau fungsi kepemimpinannya diambil oleh anggota kelompok lainnya, dan sebagai perbandingan hanya 39% dari kelompok-kelompok dengan  pemimpinan formalnya bisa melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinannya secara efektif yang ternyata memunculkan pemimpin-pemimpin yang baru (Cahyono, 1984: 27-28)

Selanjutnya dalam buku Psikologi Sosial dijelaskan bahwa:

Kepemimpinan merupakan hasil dari pada organisasi sosial yang telah terbentuk atau sebagai hasil dinamika dari pada interaksi sosial. Sejak mula kala terbentuknya suatu kelompok sosial seseorang atau beberapa orang diantara warga-warganya melakukan peran yang lebih aktif dari pada rekan-rekannya, sehingga orang tadi atau beberapa orang tampak lebih menonjol dai lain-lainnya. Itulah asal mulanya timbul kepemimpinan yang kebanyakan timbul dan berkembang dalam struktur sosial yang kurang stabil (Ahmadi, 1998 : 141-142).

Dengan demikian, diperoleh suatu indikasi bahwa disaat para pemimpin tidak mampu melaksanakan fungsinya secara efektif dan adanya struktur sosial yang kurang stabil, maka pemimpin lain akan muncul menggantikannya.

3.    Tipe dan Ciri-Ciri Kepemimpinan Orang Tua

3.1.    Tipe kepemimpinan orang tua

Setiap orang tua dalam suatu keluarga memiliki tipe kepemimpinan yang berbeda-beda, ada orang tua cenderung otoriter, ada orang tua yang penuh dengan kompromi dengan anak-anaknya (demokratis) dan ada pula orang tua cenderung memberikan kebebasan pada anak-anaknya. Sehubungan dengan hal ini, dalam buku Psikologi Sosial dijelaskan bahwa : “Ada tiga bentuk cara dalam memimpin yaitu 
  • Otoriter,
  • Demokratis dan 
  • Laisez Faire” (Gerungan , 1991 : 131). 

Sementara itu dalam buku Psikologi Perkembangan Mengetumakan Segi-Segi Perkembangan dijelaskan ula bahwa : “Ada tiga cara didikan yaitu
  • Otoriter, 
  • Demokratis dan 
  • Laisez Faire/Laisez Passer (Soeitoe, 1982 : 39).

Delanjutnya dalam buku Perkembangan Peserta Didik dijelaskan bahwa : “Ada tiga pola kepemimpinan yaitu: 
  • Otoriter, 
  • Demokratis dan 
  • Liberal” (Sunarto dan Hartono, 2002 : 194).

Dari pendapat ahli tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ada tiga tipe kepemimpinan orang tua dalam suatu keluarga yaitu otoriter, demokratis dan liberal.
3.2.    Ciri masing kepemimpinan orang tua

Berikut ini akan diuraikan secara singkat ciri masing-masing cara kepemimpinan orang tua tersebut yaitu sebagai berikut :
3.2.1.    Ciri kepemimpinan orang tua yang otoriter

Dalam buku Menuju Keluarga Sakinah dijelaskan bahwa “Ciri kepemimpinan yang otoriter adalah
  • Menuntut kepatuhan mutlak anak, 
  • Pengawasan ketat terhadap anak dalam segala kegiatannya, 
  • Memperhatikan hal-hal yang spele dan 
  • Banyak mengeritik anak” (salam, 2000 : 81). 

Selanjutnya dalam buku Psikologi Pendidikan Mengutamakan Segi-segi Perkembangan dijelaskan bahwa : “Ciri kepemimpinan yang otoriter adalah 
  • Semua halo ditentukan oleh gurunya (orang tuanya), 
  • Tiap langkahnya ditentukan oleh pemimpin (orang tua), 
  • Pemimpin membagikan tugas,
  • Pemimpin memuji atau memberikan kritik secara pribadi, dia bersikap tanpa menghiraukan” (Soetoe, 1982 : 39).

Dari pendapat di atas, menunjukkan bahwa kepemimpinan yang otoriter orang tua terlalu menuntut kepathan, ketaatan dan banyak memberikan kritikan-kritikan kepada anak-anaknya walaupun hal-hal yang sepele dan bahkan juga orang tua suka bertindak kejam tanpa menghiraukan anak-anaknya.

3.2.2.    Ciri kepemimpinan orang tua yang demokratis

Kepemimpinan orang tua yang demokratis ini, orang tua lebih banyak menyelesaikan sesuatu dengan jalan damai, penuh dengan kasih sayang, selalu memebrikan nasehat dan dorongan pada anak-anaknya. Hal ini sesuai dengan pendapat seorang ahli dalam Psikologi Endidikan Mengutamakan Segi-segi Perkembangan dijelaskan bahwa :

Ciri kepemimpinan yang demokratis adalah
  • Semua diputuskan secara bersama, 
  • Aktivitas dilakukan bersama-sama pada permulaan, pola aktivitas selanjutnya telah digariskan apabila diperlukan bantuan, orang tua bertindak dengan memberikan beberapa alterlatif, 
  • Tiap anggota keluarga bebas memilih dan pembagian tugas dilakukan melalui perundingan dan 
  • Pemimpin bersikap obyektif, adil dalam teguran dan pujian, berusaha mengenai anggotanya (Soetoe, 1982 : 39).

Disamping itu dalam buku Menuju Keluarga Sakinah yang mengatakan bahwa : “Ciri kepemimpinan yang demokratis adalah 

  • Menunjukkan perhatian dan kasih sayang, 
  • Berperan serta dalam kegiatan anak, 
  • Perhatian terhadap prestasi sekolah anak, 
  • Persaya pada anak, 
  • Tidak terlalu banyak mengharapkan dari anak dan 
  • Memberi dorongan dan nasehat kebijaksanaan pada anak” (Salman, 2000 : 80-81).


3.2.3.    Ciri kepemimpinan orang tua yang liberal (laisez faire)

Dalam buku Psikologi Perkembangan Mengutamakan segi-segi perkembangan dijelaskan bahwa :

Ciri kepemimpinan yang laisez faire/laisez passer adalah 
  • Kebebasan penuh tiap-tiap anggota kelompok, 
  • Memberikan penerangan (nasehat) bila diminta, 
  • Pemimpin tidak turut campur sama sekali, 
  • Pemimpin tidak memberikan komentar atas aktivitas kelompok atau anggota kelompok, kecuali diminta dan tidak berusaha mencampuri hal-hal yang terjadi” (Soeitoe, 1982 : 39)>

Dalam buku Menuju Keluarga Sakinah dijelaskan pula bahwa “Ciri kepemimpinan yang liberal adalah
  • Tidak dapat mengendalikan anaknya, 
  • Disiplin lemah dan tidak konsisten, 
  • Anak dibiarkan tidak mengikuti aturan-aturan di rumah dan 
  • Anak dibiarkan mendominir orang tua” (Salam, 2000 : 81). 

Dari pendapat ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang liberal (Laisez faire/laisez passer) ini otoriter pemimpin (orang tua) lebih banyak bersifat pasif dan memberikan kebebasan kepada anggota kelompok (anak-anaknya) untuk melakukan aktivitas sesuai dengan keinginannya.


Artikel Menarik lainnya :