Tasawuf Sebagai Terapi Membangun Akhlak Mulia

Posted by Sanjaya Yasin 4 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

Tasawuf Sebagai Terapi Membangun Akhlak Mulia

Secara alamiah manusia merindukan kehidupan yang tenang dan sehat, baik jasmani maupun rohani, kesehatan yang bukan hanya menyangkut badan, tetapi juga kesehatan mental. Suatu kenyataan menunjukkan bahwa peradaban manusia yang semakin maju berakibat pada semakin kompelksnya gaya hidup manusia.


Bersama dengan pesatnya modernisme kehidupan manusia harus menghadapi persaingan yang amat ketat, pertarungan yang amat tajam, satu keadaan yang menimbulkan kegalauan dan kegelisahan.

Diantara ciri kehidupan modern adalah berlangsungnya perubahan yang amat cepat dan datangnya tuntutan yang terlalu banyak serta segala sesuatu terkesan serba sementara. Tidak terjamin kepastiannya. Hal itu semua menyebabkan manusia tidak lagi memiliki waktu aygn cukup untuk merenung tentang diri sendiri sehingga manusia mudah letih jasmani dan letih mental.

Sedangkan gerakan-gerakan yang memadai pada saat tersebut melahirkan sebuah ge¬rakan yang ingin mengembalikan kecenderungan parsia¬listik rasionalisme Cartesian dan sains Newtonian kepada paradigma holisme yang irasional (intuitif) dan kontrasains. Selain itu, sejalan dengan kecenderungan New Age yang juga menerpa wilayah-wilayah yang sama, gerakan Aquarian ini memperkenalkan kembali kepada masyarakat modern berbagai tradisi dan budaya pramo¬dern seperti penyembuhan holistik, biofeedback, meditasi, dan yoga.

Kalau dilacak lebih jauh, ketiga gerakan ini sedikit banyak bersumber dari suatu gerakan yang lebih dini, yakni Teosofi, yang diprakarsai oleh seorang Madame Blavatsky pada 1830. Gerakan ini berkembang ke seluruh dunia dan melahirkan kecenderungan kepada spiritualisme, perenialisme—yakni kepercayaan kepada sumber-tunggal semua agama dan kebenaran—bahkan kesatuan agama-agama, serta kepercayaan dan praktek-praktek esoteristik (kebatinan).

Di sisi lain, peradaban manusia, khususnya di perkotaan, bergerak ke arah kehidupan modern dengan segala konsekuensinya—baik dan buruk. Kemakmuran, kemajuan teknologi, kemudahan dalam penyelenggaraan kehidupan sehari-hari, tapi juga kompetisi makin ketat yang melahirkan pressure yang terkadang tidak terta¬hankan, gaya hidup instant dan serba cepat—termasuk hal konsumsi makanan—yang tidak sehat dan menimbulkan stres, kekurangan waktu untuk memelihara kebersamaan dalam keluarga dan bersosialisasi, kerusakan ekologis, dan sebagainya.
   

Tasawuf pada masyarakat modern

Menurut seorang ahli Hussein Nashr, pada akhir perang dunia II dapat dijumpai dua kelompok mahasiswa di Universitas di Negeri kaum Muslim yang mengalami modernisasi sekuler, pertama yang anti Islam dan yang kedua muslim tetapi tidak respek kepada syariat Islam, dan keduanya menentang tasawuf.

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan antara lain :

  1. Disentegrasi nilai-nilai kebudayaan barat serta kekecewaan yang dirasakan akibat modernisme
  2. Ancaman malapetaka yang di bawah oleh peradaban Barat, dan firasat makin dekat anaman itu dan 
  3. Bukti adanya ketidak jujuran intelektual Barat terhadap Islam menyatukan dua kelompok itu, dan kini mereka justru nampak haus terhadap tasawuf, atau sekurang-kurangnya sudah ada sikap baru yang lebih positif terhadap tasawuf.

Pada gilirannya, semua ekses itu menggoyahkan sendi-sendi kehidupan keluarga dan masyarakat. Se¬bagaimana dicatat oleh Tim American Psychological Association (APA), ketika mengajukan proposal mengenai perlunya dikembangkan psikologi perkotaan (urban psychology), kemajuan di perkotaan ternyata telah membawa juga bersamanya alienasi manusia modern dari dirinya sendiri. Pada puncaknya, hal ini meningkatkan anxiety, depresi, dan problem-problem mental-psikologis lainnya.

Dari  hadits riwayat Imam Buhkhori tentang Islam, iman dan Ihsan nampaklah bahwa ketiga ilmu, yaitu Fiqhi, Ilmu Ushuludin dan tasawuf telah dapat menyempurnakan ketiga simpulan agama Islam.

 Islam diartikan oleh hadist itu ialah mengucapkan Syahadat, mengerjakan sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat dan naik haji. Untuk mengetahui ini, sehingga kita mengerjakan suruhan agama dengan tidak membuta: kita pelajarilah Fiqhi. Iman kepada Allah, kepada Malaikat, kepada Rasul-rasul dan kitab dan iman kepada Hari Kiamat dan Takdir, buruk dan baik mesti terjadi, karena ketentuan Tuhan: kita pelajarilah Ushuludin, atau ilmu Kalaam.

Ihsan adalah kunci dari semuanya, yaitu: Bahwa kita mengabdi kepada Allah seakan-akan Allah itu kita lihat di hadapan kita sendiri. Karena meskipun mata kita tidak dapat melihat Allah, namun tetap melihat kita. Untuk menyempurnakan ihsan itu, kita masuki alam Tasauf.

Itulah tali berpilih tiga: Iman, Islam dan Ihsan. Dicapai dengan tiga ilmu, Fiqhi, Ushuludin dan Tasauf. Selain yang telah kita sebutkan di atas terdapat pula beberapa nama lain, diantaranya: Hasan Basri-wafat tahun 110 H(721 M), Malik bin Dinar- wafat th  181 H (792 M), Ibrahim bin Adham –wafat th. 161 H. (772 M), Zin Nun al Mishri, Yazid Bustami, Yahya bin Mu’adz, Syech Junaid al Bagdhadi, Al Hallaj, Imam Ghozali,  Syech Muhyiddin Ibnu Arobi, Suhrawardi, Jalalludin Rumi, Fariduddin al Athar, Sari as Saqoti, Abdurrahman Jami, Rabiah al Adawiyah, dll.

 Dari tasawuf inilah bermunculan thoriqoh-thoriqoh seperti Thoriqoh Qodiriyyah, Thoriqoh Bustamiyah, Thoriqoh Suhrawardiyah. Thoriqoh Naqsobandiyah, Thoriqoh Maulawiyyah,dll.

Tasawuf Modern

 Aslinya”Bahagia” di susun mulai 1937 di majalah “Pedoman Masyarakat”. Pendapat-pendapat tentang Bahagia :

  • Orang miskin mengggap bahagia adalah dari kekayaan
  • Pada nama yang harum
  • Orang sakit menganggap bahagia itu ada pada kesehatan
  • Orang yang berdosa menganggap bahagia itu ada pada bersihnya dosa
  • Penganjur rakyat menganggap bahagia itu adalah kemerdekaan dan kecerdasan umat

Yahya bin Khalid seorang Wazir yang masyhur di dalam Daulat Bani Abbas berpendapat : “Bahagia adalah sentosa perangai, kuat ingatan, bijaksana akal, tenang dan sabar menuju maksud”

Zaid bin Tsabit ahli syair Rasulullah saw berkata “Jika petang dan pagi seorang manusia telah beroleh aman sentosa dari gangguan manusia, itulah dia orang yang bahagia”

Ibnu Khaldun berpendapat : “Bahagia ialah tunduk dan patuh mengikuti garis-garis yang ditentukan Allah dan perikemanusiaan” Imam Ghozali berpendapat :”Bahagia dan kelezatan sejati ialah bila mengingat Allah”  Menurut Rasulullah saw, bahagia adalah tergantung derajat akalnya.


Artikel Menarik lainnya :