Sukai Halaman Grosir Mutiara Lombok Supplier Murah

Perbedaan Mutu Pendidikan Sebelum Dengan Sesudah Menggunakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Lahirnya Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 telah memberikan kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai daerah otonomi,, telah mengubah paradigma pembangunan dalam segala bidang, tidak terkecuali sektor pendidikan. Otonomi daerah telah dimulai sejak 1 Januari 2001 (Usman, 2006: 49).


Sejalan dengan reformasi dan demokratisasi yang sedang bergulir, pemerintah telah bertekad bulat untuk melaksanakan desentralisasi pendidikan yang bertumpu pada pemberdayaan sekolah di semua jenjang pendidikan.

Tujuan otonomi daerah di bidang pendidikan yaitu: (1). Meningkatkan pelayanan pendidikan yang lebih cepat, dekat, mudah, murah, dan sesuai kebutuhan masyarakat, (2). Pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sepanjang hayat, (3). Membangun kreatifitas peserta didik, (4). Mengembangkan budaya membaca, menulis, berhitung, dan memberdayakan seluruh komponen masyarakat, (5). Memberikan keteladanan membangun kemauan, (6). Pemerataan keadilan, (7). Meningkatkan kesejahteraan pendidikan dan tenaga pengajar, (8). Akuntabilitas publik, (9). Transparansi, (10). Memperkuat integritas bangsa, (11). Meningkatkan daya saing di era globalisasi (Usman, 2006:496). Jika tujuan ini tercapai maka inilah yang menjadi dampak positif otonomi daerah terhadap input pendidikan.

Manajemen sekolah selama orde baru (ORBA) yang sangat sentralistik telah menempatkan sekolah pada posisi marginal, kurang diberdayakan tetapi malah diperdayakan, kurang mandiri, pasif atau menunggu istruksi, bahkan inisiatif dan kreativitasnya untuk berkembang terpasung. Akan tetapi dengan berlakunya otonomi daerah sejak 1 januari 2001, seiring perubahan paradigma dalam bidang pendidikan, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) terdorong untuk melakukan reorientasi manajemen sekolah kearah pengelolaan pendidikan yang memberi keleluasaan kepada sekolah untuk mengatur dan melaksanakan berbagai kebijakan secara luas.

Pemikiran ini dalam perjalanannya disebut Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) atau School Based Manajemen (SBM), yang diharapkan mampu mengangkat kondisi dan mampu memecahkan berbagai masalah pendidikan demi peningkatan mutu pendidikan pada umumnya dan mutu sekolah pada khususnya di Indonesia, seperti yang terjadi di beberapa negara maju seperti Australia dan Amerika (Mulyasa, 2006 :11).

Menejemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah penggunaan sumber daya yang berdasarkan atau berasaskan pada sekolah itu sendiri dalam proses pengajaran atau pembelajaran (Nurkolis, 2003 : 1)

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi. Upaya penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan upaya reformasi pendidikan yang seiring semakin disempurnakannya model pengelolaan sekolah, perubahan kebijakan dalam pemerintahan, dan semakin pentingnya peran dan kesiapan masyarakat luas dalam pengeloan pendidikan, serta kebutuhan posisi (peringkat) kompetensi lulusan. Upaya penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan wahana untuk meningkatkan mutu pendidikan, sehingga lulusan suatu sekolah dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi serta dapat terjun ke masyarakat luas dan diakui kemampuannya (Fasilitator, E.III, 2003 : 25).

Label Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) sebagai “reformasi” dalam pendidikan memberikan indikasi bahwa Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) sebagai upaya yang menjanjikan adanya iklim baru dalam pengeloaan pendidikan untuk memperbaiki kinerja sekolah. Perubahan kinerja sekolah merupakan determinan untuk menciptakan mutu lulusan sekolah yang lebih baik. Upaya perbaikan ini diarahkan untuk mengacu kepada standar internasional tentang pendidikan, untuk itu diperlukan perubahan yang fundamental dalam sistem pendidikan.

Perubahan kebijakan pengelolaan sekolah kearah desentralisasi meningkatkan akuntabilitas, memasukkan pengetahuan lokal atau muatan lokal (local knowledge) dalam kurikulum, dan fokus pada perubahan sekolah, merupakan komponen sentral dalam strategi restrukturisasi menajemen sekolah.

Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) memang merupakan konsep yang baru bagi manajemen negara kita (Indonesia). Oleh karena itu tidak secara otonomis sempurna. Untuk penyempurnaannya, praktisi pendidikan dapat merevisinya sesuai dengan kebutuhan sekolah dan masyarakat sebagai pengguna lulusan.

Husain Usman (2006) menjelaskan bahwa Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan jawaban pemberian otonomi daerah di bidang pendidikan dan telah di undang-undangkan dalam undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 51 ayat (1) yang berbunyi pengeloaan suatu pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)”. Oleh karena itu, MBS wajib diketahui, dihayati dan diamalkan oleh warga negara Indonesia terutama mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (Usman ,2006 :497).

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan peneliti pada tanggal 19 september 2007 mutu pendidikan di SMPN 1 Narmada sesudah menggunakan MBS menurut Drs. Suwarno, A.Md (wakil kepala sekolah ) sangat baik, bahkan selalu menjadi SMP favorit bagi calon siswa baru, ini terbukti setiap tahun ajaran baru calon siswa baru yang mendaptar selalu melebihi kapasitas sehingga pihak sekolah melakukan sistem penyaringan dalam penerimaan siswa baru. Berbeda dengan tahun-tahun ajaran sebelum menggunakan MBS sekolah justru tidak melakukan penjaringang terhadap calon siswa baru secara ketat dan tidak melakukan bimbingan dan pembinaan secara optimal atau efektif (Wawancara rabu 19 deptember 2007).

 Atas dasar pemaparan tersebut peneliti tertarik untuk mengangkat judul penelitian yaitu “Perbedaan mutu pendidikan sebelum dan sesudah menggunakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMPN 1 Narmada”


B.    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini sebagai berikut :

  1. Apakah ada perbedaan mutu pendidikan sebelum dan sesudah menggunakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMPN 1 Narmada diukur dari segi output pendidikan?
  2. Seberapa besar perbedaan mutu pendidikan sebelum dan sesudah menggunakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMPN 1 Narmada diukur dari segi output pendidikan ?


C.    Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka  tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Ingin mengetahui perbedaan mutu pendidikan sebelum dan sesudah menggunakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMPN 1 Narmada diukur dari segi output pendidikan.
  2. Ingin mengetahui seberapa besar perbedaan mutu pendidikan sebelum dan sesudah menggunakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMPN 1 Narmada diukur dari segi output pendidikan.


D.     Manfaat Penelitian

Adapun yang menjadi kegunaan penelitian ini adalah:

  1. Secara Teoritis, diharapkan dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan tentang peranan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam meningkatkan mutu pendidikan formal.
  2. Secara Praktis, dapat dijadikan sebagai salah satu acuan bagi pemerhatj dan praktisi pendidikan yang belum menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di sekolahnya masing-masing, di mana Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan mutu sekolah (pendidikan) di negara Indonesia.


E.    Hipotesis

Menurut Nazir (2003 : 151) hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah-masalah penelitian yang kebenarannya harus diuji secara empiris.

Dari pernyataan tersebut jelas bahwa hipotesis bisa disebut juga praduga atau dugaan yang logis terhadap kemungkinan - kemungkinan suatu rumusan yang logis dan bersifat sementara dan masih perlu dibuktikan kebenaranya secara empiris. Bermuara dari pernyataan di atas maka peneliti mengemukakan jawaban sementara yang merupakan hipotisis alternatif (Ha) yang berbunyi “Terdapat perbedaan positif mutu pendidikan sebelum dan sesudah menggunakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMPN 1 Narmada”.


F.    Penegasan Istilah

Untuk menghindari salah interpretasi dalam memahami istilah-istilah dalam judul skripsi ini, maka peneliti perlu memberikan penjelasan terhadap  berbagai istilah yang melekat dalam judul penelitian skripsi ini. 
Adapun istilah-istilah yang dimaksud adalah :


1.    Perbedaan

Perbrdaan berarti selisih, membedakan, hal-hal yang membuat berbeda, mencari beda (Samsuri, E.S.t, 75).
Jadi perbedaan  yang penulis maksudkan dalam skripsi ini adalah membedakan atau mencari perbedaan mutu pendidikan sebelum dan sesudah  menggunakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMPN 1 Narmada yang diukur dari segi output melalui hasil Ujian Nasional (UN) pada tahun ajaran 2002/2003 (sebelum menggunakan MBS) dan tahun ajaran 2006/2007 (sesudah menggunakan MBS).


2.    Mutu

Mutu menurut Partanto (1994 : 505) adalah kualitas, tingkat dan derajat. Sedangkan mutu yang dimaksud oleh peneliti di sini adalah tingkat keunggulan suatu sekolah yang telah memenuhi standar yang ditetapkan.

Mutu/kwalitas di bidang pendidikan menurut Husaini Usman (2006 :410) meliputi input, proses, output, dan outcome. Input pendidikan dinyatakan bermutu jika siap proses. Proses pendidikan bermutu apabila mampu menciptakan suasana yang PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Output dinyatakan bermutu apabila hasil belajar akademik dan non akademik siswa tinggi. Outcome dinyatakan bermutu apabila lulusannya cepat terserap di dunia kerja dan semua pihak mengakui kehebatan lulusan dan merasa puas.

Dalam konteks penelitian skripsi ini, mutu pendidikan di SMPN 1 Narmada secara khusus akan diukur dari output yang dilihat dari hasil UAN tahun ajaran 2002/2003 (sebelum menggunakan MBS) dan tahun ajaran 2006/2007 (sesudah enggunakan MBS).


3.    Pendidikan

Pendidikan memiliki kata dasar didik yang berarti memberi latihan dan memelihara, ajaran, bimbingan, mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedang pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, proses perbuatan, dan cara mendidik (Hamzah Samsuri : 165).

Adapun pengertian pendidikan dalam penelitian ini adalah merupakan objek penelitian sebagai pengguna Manajemen Berbasis Sekolah. Kata pendidikan pada dasarnya tidak biasa lepas dari kata mutu, karena merupakan satu variabel. Mutu pendidikan dalam penelitian ini  yang dimaksud oleh peneliti adalah mutu pendidikan siswa yang akan diukur dari hasil Ujian Nasional (UN).


4.    Menggunakan

Menggunakan memiliki kata dasar guna yang berarti faedah, manfaat sesuatu yang pekerjaan yang memberi pengaruh mendatangkan perubahan kearah yang lebih baik (Gunawan, tt : 93).
Adapun guna yang dimaksud oleh peneliti disini adalah pengaruh penggunaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) terhadap perubahan kearah yang lebih baik.


5.    Manajemen  Berbasis Sekolah (MBS)

Manajemen adalah proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran yang diingingkan. Sedangkan Berbasis memiliki kata dasar basis yang berarti asas, dasar, tempt. Dan  Sekolah  adalah lembaga tempat memberikan dan menerima pelajaran. Jadi Menejemen Berbasis Sekolah (MBS) secara leksikal adalah penggunaan sumber daya yang berasaskan atau berdasarkan pada sekolah iti sendiri dalam proses pengajaran dan pembelajaran  (Nurkolis, 2003 : 1).
Sedangkan Menejemen Berbasis Sekolah (MBS) yang dimaksud oleh peneliti adalah penggunaan sumber daya secara efektif untuk mengatur dan melaksanakan berbagai kebijakan sekolah dalam hal pengelolaan pendidikan yang berpusat pada sekolah guna meningkatkan mutu pendidikan.




Untuk lebih lengkap SKRIPSI nya silahkan anda klik di bawah ini!!!
Download disini !!!