Sukai Halaman Grosir Mutiara Lombok Supplier Murah

Perbankan dilihat dari Syariah Islam.

Perbankan dilihat dari Syariah Islam. - Islam menyuruh kita dalam kehidupan (dan segala aspeknya) secara kaffah atau totalitas. Perhatikan firman Alloh berikut didalam QS Thaha 20:124 :"Barangsiapa yang berpaling dari sistemKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit".

Sejarah menyebutkan bahwa sebelum Islam dan diluar Islam, riba telah disebut sebut sebagai hal terlarang sejak kekaisaran Yunani, Romawi maupun Inggris juga pemikir seperti Aristoteles maupun Plato mencela sistem ini. Bahkan Yahudi pun mengharamkan riba diantara mereka, walaupun halal diluar mereka. Siapa saja termasuk Keynes,pemikir ekonomi modern,pada akhirnya sepakat bahwa bunga adalah hal yang mengurangi produktifitas manusia. 

Akan tetapi praktek yang menjurus riba telah dilakukan pada Arab Jahiliyah (sebelum kerasulan Muhammad saw), tetapi riba jahiliyah ini menetapkan bunga setelah tenggang waktu yang disepakati telah berakhir . Bagi mereka ini riba dipadankan dengan pengertian "tambahan". 

Menurut pakar sejarah ekonomi, kegiatan bisnis dengan sistem bunga telah ada sejak tahun 2.500 sebelum masehi, baik Yunani kuno, Romawi kuno, dan Mesir kuno. Demikian juga pada tahun 2000 sebelum masehi, di Mesopotamia (wilayah Iraq sekarang) telah berkembang sistem bunga. Sementara itu, 500 tahun sebelum masehi Temple of Babilion mengenakan bunga sebesar 20% setahun.

Sejarah mencatat, bangsa Yunani kuno yang mempunyai peradaban tinggi, melarang keras peminjaman uang dengan bunga. Aristoteles dalam karyanya politics telah mengecam sistem bunga yang berkembang pada masa Yunani kuno. Dengan mengandalkan pemikiran rasional filosofis, tanpa bimbingan wahyu, ia menilai bahwa sistem bunga merupakan sistem yang tidak adil. 

Menurutnya uang bukan seperti ayam yang bisa bertelur.Sekeping mata uang tidak bisa beranak kepingan uang yang lain.Selanjutnya ia mengatakan bahwa meminjamkan uang dengan bunga adalah sesuatu yang rendah derajatnya. Sementara itu, Plato (427-345 SM),dalam bukunya LAWS , juga mengutuk bunga dan memandangnya sebagai praktik yang dzholim. 

Menurut Plato, uang hanya berfungsi sebagai alat tukar, pengukuran nilai dan penimbunan kekayaan. Uang sendiri menurutnya bersifat mandul (tidak bisa beranak dengan sendirinya). Uang baru bisa bertambah kalau ada aktivitas bisnis riel. 

Dua filosof Yunani yang paling terkemuka itu dipandang cukup representatif untuk mewakili pandangan filosof Yunani tentang bunga. Selanjutnya, pada tahap-tahap awal, kerajaan Romawi kuno, juga melarang keras setiap pungutan atas bunga dan pada perkembangan berikutnya mereka membatasi besarnya suku bunga melalui undang-undang. Kerajaan romawi adalah negara pertama yang menerapkan peraturan tentang bunga untuk melindungi para konsumen.

Kebiasaan bunga juga berkembang di tanah Arab sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasul. Catatan sejarah menunjukkan bahwa bangsa Arab cukup maju dalam perdagangan. Hal ini digambarkan al-Quran dalam surah al-Quraisy dan buku-buku sejarah dunia. Bahkan kota Mekkah saat itu pernah menjadi kota dagang internasional yang dilalui tiga jalur-jalur perdagangan dunia Eropa, dan Afrika, India dan China, serta Syam dan Yaman.

Suatu hal yang tak bisa dibantah, bahwa dalam rangka menunjang arus perdagangan yang begitu pesat, mereka membutuhkan fasilitas pembiayaan yang memadai guna menunjang kegiatan produksi dan perdagangan. Jadi peminjaman modal untuk perdangan dilakukan dengan sistem bunga. Tegasnya pinjaman uang pada saat itu, bukan semata untuk konsumsi, tetapi juga untuk usaha-usaha produktif. Sistem bunga inilah selanjutnya yang dilarang Al-Quran secara bertahap.

Ayat al-Quran surat Ali Imran ayat 30 yang melarang riba yang berlipat ganda, belum selesai (tuntas). Sebab setelah itu, turun lagi ayat tentang riba yang mengharamkan segala bentuk riba, baik riba yang berlipat ganda maupun yang ringan bunganya (QS 2: 275: 279).

Dibandingkan dengan riba jahiliyah maka riba modern jauh lebih berat karena riba modern, besarnya bunga telah ditetapkan bahkan sebelum peminjam mendapatkan pinjamannya. Suatu bentuk transaksi yang tidak dijumpai dimasyarakat jahiliyah sekalipun.

Di Indonesia sebenarnya tatanan ekonomi Islam telah demikian baiknya sebelum penjajah berdatangan di negara kita dan juga dinegara Islam lainnya. Islam mengatur segala segi kehidupan.
Bunga (interest) merupakan produk ekonomi barat yang diharamkan dalam Islam secara keras. Larangan terhadap zina sekalipun tidak sekeras ancaman terhadap riba. Bunga dalam bank konvensional tentu tidak sama dengan bagi hasil keuntungan dalam bank syari'ah. Bunga bank menetapkan hasil didepan sedangkan bagi hasil dalam bank syari'ah menetapkan prosentasi pembagian hasil diantara nasabah dan bank. Keuntungan adalah merupakan hasil kerja. 

Pendapat para ulama tentang bunga bank secara umum terbagi tiga yaitu 
  • Pertama syubhat, 
  • Kedua tidak sama dengan riba dan 
  • Ketiga riba. 

Pendapat terakhir merupakan pendapat 3/4 dari seluruh ulama. Jadi tak ada satu ulama pun yang menghalalkan bunga bank.

Sistem bank syari'ah bukanlah salah satu alternatif, namun merupakan satu satunya alternatif yang direkomendasikan Islam, bukan sunnat tetapi wajib. 

Penerapan dari prinsip ini dikembalikan kepada kedalaman akidah (tauhid) dari masing masing individu. Jadi usaha individu merubah paradigma dalam memahami konsep harta merupakan proses terpenting.
QS 2:276 menganggap orang yang tetap dalam riba sebagai kaffar yang artinya jauh lebih berat dari kafir sedangkan 

QS 2: 278 merupakan perintah (absolut) bahwa meninggalkan riba wajib hukumnya jika kita beriman. 

Demikian juga QS 2:279 menyebutkan bilamana kita tetap dalam riba maka Allah dan Rasulnya akan memerangi kita.