Sukai Halaman Grosir Mutiara Lombok Supplier Murah

Pengaruh Penguasaan Materi “Pecahan” Terhadap Kemampuan Siswa Menyelesaikan Perhitungan Harta Waris Dalam Ilmu Faraidh

BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang

Matematika sering dipandang sebagai bahasa atau alat yang akurat untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial, ekonomi, fisika, kimia, biologi dan tekhnik. Sebagai bahasa atau alat matematika melayani ilmu-ilmu lain, peran inilah yang digunakan sebagai alasan orang menyebut matematika dengan julukan queen of science (ratunya ilmu). Keine (1973) salah seorang ahli matematika menyatakan bahwa ”Matematika bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi dan alam” (Keine dalam Ismail, 2004: 1,3). Dari pendapat Keine dapat dikatakan bahwa matematika dapat dirasakan manfaatnya jika diterapkan pada ilmu lainnya.


Matematika tidak hanya digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial, ekonomi, kimia, biologi dan teknik seperti yang disebutkan di atas, tetapi juga membantu menyelesaikan permasalahan dalam ilmu agama. Permasalahan yang dimaksud disini adalah khusus pada permasalahan dalam ilmu agama Islam yang berkaitan dengan ilmu faraidh. Ilmu faraidh yaitu ilmu yang membahas tentang pengaturan dan pembagian harta warisan bagi ahli waris menurut bagian-bagian yang telah ditentukan Al-Qur’an (Amir, 1996: 8).

Perhitungan harta waris dalam ilmu faraidh menggunakan perhitungan matematika yang cukup rumit. Materi matematika yang banyak berkaitan dengan perhitungan harta waris dalam ilmu faraidh adalah pecahan. Pecahan adalah bilangan yang menggambarkan bagian dari keseluruhan (Panco,    2005: 4).

Hukum mempelajari ilmu faraidh dalam agama Islam fardu kifayah, artinya suatu kewajiban yang telah dianggap cukup apabila telah dikerjakan oleh sebagian orang Islam (Muhammad, 1976: 9).

Rasulullah SAW bersabda :

            ”Pelajarilah Al-Qur’an dan ajarkanlah kepada orang-orang dan pelajarilah ilmu faraidh serta ajarkanlah kepada orang-orang, karena saya adalah orang yang bakal direnggut (mati), sedang ilmu itu bakal diangkat. Hampir saja dua orang bertengkar tentang pembagian pusaka, maka mereka berdua tidak menemukan seorangpun yang sanggup menfatwakannya kepada mereka”                   (H.R. Ahmad, Annasa’i, dan Ad. Daruquthny dalam Salman, 2002: 4).

Dalam menyelesaikan perhitungan harta waris dalam ilmu Faraidh dapat penulis katakan bahwa materi pecahan merupakan prasyarat yang harus dikuasai oleh peserta didik MAN 1 Mataram sesuai dengan visinya ”terwujudnya pribadi-pribadi Islam, trampil, unggul dan berkepribadian yang didukung oleh sumber daya manusia yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, tangguh dan disiplin”.

Dari sini penulis dapat katakan juga bahwa MAN 1 Mataram mempunyai andil/kontribusi besar dalam menciptakan generasi Islam yang sesuai dengan ajaran agama Islam, sebagai generasi Islam peserta didik MAN 1 Mataram dituntut untuk dapat memberikan pemikiran bagaimana cara menyelesaikan permasalahan yang sering dihadapi oleh umat Islam. Salah satunya adalah mengenai masalah perhitungan harta waris dalam ilmu faraidh.

Sesuai dengan hasil observasi yang penulis lakukan, materi pecahan sudah diajarkan di Sekolah Dasar yakni kelas IV, V, VI dan berlanjut hingga kelas VII SMP. Adapun ilmu faraidh diberikan pada kelas XI MA. Berdasarkan hal tersebut penulis berasumsi bahwa pengetahuan tentang materi pecahah yang dibutuhkan dalam pembelajaran ilmu faraidh telah didapatkan sehingga mempermudah siswa dalam mengoperasionalkan ketentuan-ketentunan dalam penyelesaian ilmu faraaidh. Namun sesuai dengan hasil observasi sementara yang telah penulis lakukan dapat penulis kemukakan bahwa peserta didik MAN 1 Mataram masih kesulitan dalam menyelesaikan perhitungan harta waris dalam ilmu faraidh, padahal mereka sudah menguasai materi pecahan.

Dari uraian di atas maka penulis mengangkat skripsi yang berjudul ”Pengaruh Penguasaan Materi ”Pecahan” Terhadap Kemampaun Siswa Menyelesaikan Perhitungan Harta Waris dalam Ilmu Faraid di Kelas XI  MAN 1 Mataram Tahun Ajaran 2007/2008”.



B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti menarik rumusan masalah untuk mempermudah proses penelitian nantinya sebagai berikut :

  1. Bagaimana tingkat penguasaan materi pecahan siswa kelas XI    MAN 1 Mataram?
  2. Bagaimanakah tingkat penguasaan konsep ilmu faraidh siswa kelas XI    MAN 1 Mataram?
  3. Adakah pengaruh penguasaan materi ”pecahan” terhadap kemampuan siswa menyelesaikan perhitungan harta waris dalam ilmu faraidh di            kelas XI MAN 1 Mataram tahun ajaran 2007/2008”.



C.     Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang hendak dipecahkan, maka tujuan penelitian ini adalah :

  1. Untuk mengetahui tingkat penguasaan materi pecahan siswa kelas XI    MAN 1 Mataram.
  2. Untuk mengetahui tingkat penguasaan konsep ilmu faraidh siswa kelas XI    MAN 1 Mataram?
  3. Untuk mengetahui pengaruh penguasaan materi “pecahan” dengan kemampuan siswa menyelesaikan perhitungan harta waris dalam ilmu faraidh di kelas XI MAN 1 Mataram tahun ajaran 2007/2008”.




D.     Kegunaan Penelitian

1.    Kegunaan Teoritis

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pemahaman tentang pentingnya penguasaan materi pecahan dalam menyelesaikan perhitungan harta waris dalam ilmu faraidh, selain dari menjalankan kewajiban sebagai umat Islam yakni mempelajari ilmu faraidh (wajib kifayah).


2.    Kegunaan Praktis             

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pendidik, peserta didik dan sekolah. Adapun manfaat yang dapat diberikan bagi pendidik adalah pendidik dapat menemukan format rancangan pembelajaran mengingat matematika sebagai alat dalam menyelesaikan permasalahan dalam ilmu faraidh, sedangkan bagi peserta didik, penelitian ini dapat meningkatkan kualitas belajarnya dan mengembangkan kemampuan berfikirnya, sedangkan bagi sekolah penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi sekolah dalam meningkatkan kualitas belajar siswa khususnya dalam proses pembelajaran matematika dan mata pelajaran lain pada umumnya.



E.    Batasan Istilah

1.    Pecahan

Pecahan adalah “bilangan yang menggambarkan bagian dari keseluruhan” (Panco, 2005: 44). Dari definisi tersebut dapat penulis kemukakan bahwa setiap bentuk a dengan b (a dan b adalah bilangan bulat) dinyatakan sebagai a/b dengan b ≠ 0 dinamakan pecahan.

Pada skripsi ini penulis membahas tentang penggunaan materi pecahan. Penguasaan materi pecahan meliputi :
  • Siswa mampu mendefinisikan pecahan dan menyebutkan anggota-anggota pecahan
  • Siswa mampu menyebutkan dan menunjukkan bentuk-bentuk pecahan 
  • Siswa mampu mengoperasikan operasi hitung pecahan

Apabila siswa kelas XI MAN 1 Mataram tahun ajaran 2007/2008 menguasai ketiga hal di atas, maka telah dianggap menguasai materi pecahan. Adapun bentuk-bentuk pecahan yang dimaksud dalam skripsi ini adalah:


a.    Pecahan biasa

Bentuk-bentuk seperti ½, ¼ dan ¾ disebut pecahan biasa. Suatu pecahan dapat memiliki nama pecahan yang nilainya sama atau bisa disebut dengan pecahan senilai. Contohnya ½ juga dapat dinamakan dengan 2/4, 3/6, dan 5/10.



b.    Pecahan campuran

Pecahan campuran yaitu campuran suatu bilangan cacah dengan pecahan biasa. Contoh : 3 1/2, 1 2/3, 5 4/9.


c.    Pecahan desimal

Pecahan desimal yaitu pecahan yang ditulis dalam bentuk desimal. Contohnya 5/10 dapat dinyatakan dalam pecahan desimal sebagai 0,3.


d.    Pecahan dalam bentuk persen dan eprmil

Suatu pecahan berbentuk persen jika penyebutnya dinyatakan seratus dan disimbolkan dengan o/o. Sedangkan suatu pecahan disebut permil jika penyebutnya dinyatakan dengan seribu atau disimbolkan dengan o/oo (Firmanwaty, 2003: 38).

Sedangkan operasi tentang pecahan yang dimaksud adalah “operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian” (Panco, 2005: 68 dan 72),


2.    Ilmu Faraidh

Ilmu faraidh atau yang disebut juga ilmu mawaris adalah “ilmu yang membahas tentang pengaturan dan pembagian harta waris bagi ahli waris menurut bagian yang telah ditentukan dalam Al-Qur’an” (Amir 1996: 8). Menurut pendapat lain ilmu faraidh adalah “ilmu untuk mengetahui orang yang berhak menerima pusaka dan orang yang tidak menerima pusaka, serta kadar yang diterima oleh tiap-tiap ahli waris dan cara pembagiannya” (Hasbi As-Shiddiqh dalam Dian Khairul Amam, 1999: 14).

Dari kedua pendapat di atas dapat penulis simpulkan bahwa ilmu mawaris dikhususkan untuk suatu bagian ahli waris yang telah ditetapkan dan ditentukan besar kecilnya oleh syara’.

Dalam skripsi ini penulis hanya membahas tentang kemampuan siswa kelas XI MAN 1 Mataram tahun ajaran 2007/2008 dalam menyelesaikan perhitungan harta waris dalam ilmu faraidh. Kemampuan siswa menyelesaikan perhitungan harta waris merupakan bagaimana siswa dapat menerapkan konsep hitung yang dimilikinya dalam menyelesaikan soal-soal yang ada pada perhitungan harta waris.

Namun terlepas dari hal terebut, yang harus diketahui oleh siswa adalah ketentuan bagian masing-masing ahli waris (furudhul muqaddarah) yang meliputi ½, ¼, 1/3, 1/6, 1/8 dan 2/3 yang telah ada ketentuan tersebut (djawil furudh), ashabah dan dzawil arham.


Untuk lebih lengkap SKRIPSI nya silahkan anda klik di bawah ini!!!
Download disini !!!