Pendekatan Pengembangan Kurikulum

Posted by Sanjaya Yasin 0 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

1.    Pendekatan bidang studi (pendekatan subjek atau disiplin ilmu)
            
Pendekatan ini menggunakan bidang studi atau mata pelajaran sebagai dasar organisasi kurikulum misalnya matematika, sains, sejarah IPS, IPA, dan sebagainya

Seperti yang lazim kita dapati dalam sistim pendidikan kita sekarang di semua sekolah dan universitas. Yang diutamakan dalam pendekatan ini ialah penguasaan bahan dan proses dalam disiplin ilmu tertentu. Tipe organisasi ini sesuai dengan falsafah realisme. Pendekatan ini paling mudah dibandingkan dengan pendekatan lainnya oleh sebab disiplin ilmu telah jelas Batasannya dan karena itu lebih mudah mempertanggung jawabkan apa yang diajarkan.





2.    Pendekatan Interdisipliner

    Dibawah ini akan kita bicarakan beberapa pendekatan interdisipliner dalam pengembangan kurikulum.

 
a.    Pendekatan Broad-field

Pendekatan ini berusaha mengintegrasikan beberapa disiplin atau mata pelajaran yang saling berkaitan agar siswa memahami ilmu pengetahuan tidak berada dalam vakum atau kehampaan akan tetapi merupakan bagian integral dari kehidupan manusia.

Pendekatan broad-field ini juga dapat digunakan agar siswa memahami hubungan yang kompleks antara kejadian-kejadian di dunia, misalnya antara perang vietnam dan korea dengan kebangkitan ekonomi jepang dan lain-lain.


b.    Pendekatan Kurikulum Inti(core curriculum)

Kurikulum ini banyak persamaannya dengan broad-field, karena juga menggabungkan berbagai disiplin ilmu. kurikulum diberikan berdasarkan suatu masalah sosial atau personal. Untuk memecahkan masalah itu digunakan bahan dari berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan masalah itu.


c.    Pendekatan Kurikulum Inti di Perguruan Tinggi

Istilah inti (core) juga digunakan dalam kurikulum Perguruan Tinggi. Dengan “core” dimaksud pengetahuan inti yang pokok yang diambil dari semua disiplin ilmu yang dianggap esensial mengenai kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang dianggap layak dimiliki oleh tiap orang terdidik dan terpelajar.


d.    Pendekatan Kurikulum Fusi

Kurikulum ini men-fusi-kan atau menyatukan dua atau lebih disiplin tradisional menjadi studi baru misalnya: geografi + botani + arkeologi menjadi earth sciences.


3.    Pendekatan Rekonstruksionisme

Pendekatan ini juga disebut Rekonstruksi Sosial karena memfokuskan kurikulum pada masalah-masalah penting yang dihadapi dalam masyarakat ,seperti polusi, ledakan penduduk dan lain-lain.

Dalam gerakan rekonstruksionisme ini terdapat dua kelompok utama yang sangat berbeda pandangannya tentang kurikulum, yaitu rekonstruksionisme konservatif dan rekonstruksionisme radikal.

1)    Rekonstruksionisme konservatif. Aliran ini menginginkan agar pendidikan ditujukan pada peningkatan mutu kehidupan individu maupun masyarakat dengan mencari penyelesaian masalah-masalah yang paling mendesak yang dihadapi masyarakat.

Peranan guru ialah sebagai orang yang menganjurkan perubahan mendorong siswa menjadi partisipan  aktif dalam masyarakat. Pendekatan kurikulum ini konsisten dengan falsafah pragmatisme.

2)    Rekonstruksionisme Radikal. Aliran ini berpendapat bahwa banyak negara mengadakan pembangunan dengan merugikan rakyat  kecil yang miskin yang merupakan mayoritas masyarakat. Golongan radikal ini menganjurkan agar pendidik formal maupun non-formal mengabdikan diri demi tercapainya orde sosial baru berdasarkan pembagian kekuasaan dan kekayaan yang lebih adil dan merata.


4.    Pendekatan Humanistik

Kurikulum ini berpusat pada siswa, dan mengutamakan perkembangan efektif siswa sebagai prasyarat dan sebagai bagian integral dari proses belajar. Para pendidik humanistic yakin, bahwa kesejahteraan mental dan emosional siswa harus dipandang sentral dalam kurikulum, agar belajar itu memberi hasil maksimal.

Pendekatan humanistic dalam kurikulum didasarkan atas asumsi-asumsi yang berikut:

  • Siswa akan lebih giat belajar dan bekerja bila harga dirinya dikembangkan sepenuhnya.
  • Siswa yang diturut-sertakan dalam perencanaan dan pelaksanaan pelajaran akan merasa  bertanggung jawab atas keberhasilannya.
  • Hasil belajar akan meningkat dalam suasana belajar yang diliputi oleh rasa saling mempercayai, saling membantu, dan bebas dari ketegangan yang berlebihan.
  • Guru yang berperan sebagai fasilitator  belajar memberi tanggung jawab kepada siswa atas kegiatan belajarnya.
  • Kepedulian siswa akan pelajaran memegang peranan penting dalam penguasaan bahan pelajaran itu.
  • Evaluasi diri bagian penting dalam proses belajar yang memupuk rasa harga diri.


5.    Pendekatan “Accountability”

Accountability atau pertanggung jawaban lembaga pendidikan tentang pelaksanaan tugasnya kepada masyarakat, akhir-akhir ini tampil sebagai pengaruh  yang penting dalam dunia pendidikan. Namun, menurut banyak pengamat pendidikan accountability ini telah mendesak pendidikan dalam arti yang sebenarnya menjadi latihan belaka. 

Accountability yang sistimatis yang pertama kalinya diperkenalkan Frederick Taylor dalam bidang industri pada permulaan abad ini. Pendekatannya, yang kelak dikenal sebagai “scientific management” atau manajemen ilmiah, menetapkan tugas-tugas spesifik yang harus diselesaikan pekerja dalam waktu tertentu.



6.    Pendekatan Pembangunan Nasional

Pendekatan ini mengandung tiga unsur :

1.    Pendidikan kewarganegaraan

Dalam masyarakat demokratis, warganegara dapat dimasukkan dalam tiga kategori:
  • Warganegara yang apatis
  • Warganegara yang pasif
  • Warganegara yang aktif


2.    Pendidikan sebagai alat pembangunan nasional

Tujuan pendidikan ini adalah mempersiapkan tenaga kerja yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan. Para pengembang kurikulum bertugas untuk mendisain program yang sesuai dengan analisis jabatan yang akan diduduki.


3.    Pendidikan keterampilan praktis bagi kehidupan sehari-hari

Keterampilan yang diperlukan bagi kehidupan sehari- hari dapat dibagi dalam beberapa kategori yang tidak hanya bercorak keterampilan akan tetapi juga mengandung aspek pengetahuan dan sikap, yaitu:

  • Keterampilan untuk mencari nafkah dalam rangka sistim ekonomi suatu negara.
  • Keterampilan untuk mengembangkan masyarakat. 
  • Keterampilan untuk menyumbang kepada kesejahteraan umum.
  • Keterampilan sebagai warganegara yang baik.



Artikel Menarik lainnya :