Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar Dalam Rangka Meningkatkan Nilai Ujian Akhir Nasional

Posted by Sanjaya Yasin 0 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

BAB I 
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah

Upaya pemerintah untuk mewujudkan tujuan pendidikan di Indonesia dengan mengadakan pembaharuan sistim pendidikan nasional, diantaranya pembaharuan dan penghapusan desentralisasi pendidikan oleh pemerintah.

Pembaharuan sistim pendidikan nasional dilakukan untuk memperbaharui visi, misi dan strategi pembangunan pendidikan nasional.

Perubahan dan pergantian sistim dari waktu ke waktu tentunya membawa berbagai efek yang sedikit banyak berpengaruh dalam sistim pembelajaran. Hal ini juga terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia seringnya dilakukan perubahan kebijakan yang  berkaitan dengan ujian akhir nasional tentunya merupakan (atau mungkin) cara  “efektif” yag dilakukan pemerintah untuk membenahi dan mencapai hasil yang diinginkan  yaitu aut put yang berkualitas, terlepas dari semua itu pergantian kebijakan sistim ujian ahkir dari masa ke masa tentunya juga membawa beberapa efek yang kurang menguntungkan, tetapi memang setiap perubahan membawa perubahan dengan kualitas out put (anak didik) yang murni serta mampu menjawab tantangan zaman.

Melihat berbagai kelemahan dari sistim Ujian Negara di atas dan selama 26 tahun sistim ini dilaksanakan, maka disusunlah suatu sistim ujian baru, yaitu ujian sekolah. Mulai tahun 1971-1983 sistim ini dijadikan sebagai pergantian Ujian Negara yang masih sentralistik. Pada ujian sekolah, ujian sepenuhnya dilakukan oleh sekolah, baik penyiapan bahan, maupun penetapan kelulusan. Jadi, sekolah diberikan semacam hak dan punya kuasa penuh terhadap anak didik sekolah yang bersangkutan. Tidak ada batasan nilai terendah atau tertinggi sehingga kelulusan bisa mencapai 100%, di satu sisi, kelulusan yang hampir seratus persen ini tentunya adalah hal yang menggembirakan, tetapi di sisi lain perlu dipertanyakan kualitas kelulusan yang dihasilkan, apakan sudah sesuai dengan yang diharapkan, atau malah ABS.

Perbaikan-perbaikan terus diupayakan pemerintah untuk menghasilkan suatu sistim ujian yang baik. Hasilnya, kebijakan sistim ujian evaluasi pengganti ujian sekolah menjadi EBTANAS (Evaluai Belajar Tahap Akhir Nasional) dikeluarkan. Beberapa poin lama masih dipertahankan, diantaranya penyelenggaraan dan perumusan ditetapkan oleh sekolah serta tidak ada batas kelulusan. Namun, pada sistim ini terdapat pembagian kewenangan diantara pusat dan penyelenggara ujian sekolah untuk Madrarasah Ibtidaiyah yaitu 5 mata pelajaran yang terdiri dari PKn, Bahasa Indonesia, IPS, IPA dan MTK sedangkan 8 mata pelajaran menjadi kewenangan sekolah yang bersangkutan seperti mata pelajaran agama yang terdiri dari (al-Qur’an Hadits, Aqidah ahlak, SKI,Fiqih, Bahasa Arab), Penjaskes, Mulok dan keterampilan. Sistim EBTANAS ini dilaksanakan hingga 2002 (19 tahun) hal tersebut di atas masih belum bisa menutupi kelemahan-kelemahan. Mutu lulusan yang rendah NEM (Nilai Ebtanas Murni) hanya untuk seleksi kejenjang yang lebih tinggi serta domain yang diukur hanya aspek kognitifnya saja menyebabkan sistim EBTANAS ini hanya menuai banyak kritik dari masyarakat.

Dalam EBTANAS, penentuan nilai akhir siswa ditentukan oleh beberapa komponen yaitu “P” mewakili nilai semester satu, “Q” nilai semester dua dan “R”, NEM (Nilai Ebtanas Murni). Sehingga dikenal dengan konsep kombinasi P,Q,R ataupun rumus yang dihasilkan dari sistim kombinasi ini adalah NA (Nilai Akhir) =   (     (Depag, 2002 : 12).

Standar kompetensi lulusan yang menjadi dasar kelulusan siswa artinya standar nilai terendah yang harus dilewati siswa pada setiap mata pelajaran yang diujikan jika ingin dinyatakan lulus pada UN tersebut. Ketentuan pada Ujian Nasional pada bulan Mei 2008 yang lalu adalah siswa dituntut memperoleh nilai rata-rata yang berbeda antar kabupaten, daerah masing-masing pada tiap-tiap mata pelajaran dan diwajibkan mencapai nilai rata-rata maksimal. Atas dasar kebijakan tersebut terdapat tiga jenis kurikulum yang dijadikan pedoman, yaitu kurikulum 1994, Kurikulum 2004 yang dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetetensi (KBK) dan kurikulum 2006 (KTSP) (NTB POST.21/3 2006).

Bertitik tolak dari kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan, maka para siswa dan pihak sekolah berupaya agar nilai yang dicapai tidak sampai berada di bawah standar minimal yang dicapai oleh masing-masing daerah. Adapun tujuan ditetapkannya standar kelulusan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) yaitu untuk memacu kreatifitas siswa agar belajar lebih giat dan memacu kreatifitas guru untuk mengajar lebih rajin dan lebih profesional (BSNP, 2007).

Berdasarkan pengalaman di MI Miftahul Ishlah, berbagai kegiatan diadakan oleh guru mulai dari kegiatan di luar sekolah maupun kegiatan intera seperti salah satunya diberikan les, latihan berbagai jenis soal tetapi semua itu tetap berdampak pada keberhasilan peserta didik selama ini. Oleh sebab itu, peneliti mencoba untuk merangkai sebuah kalimat yang tertuang dalam sebuah judul “Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar dalam Rangka Meningkatkan Nilai Ujian Akhir Nasional di MI Miftahul Ishlah Tembelok-Kota Mataram Tahun Pelajaran 2008/2009”

B.      Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, rumusan masalah yang diajukan dalam kegiatan penelitian ini adalah : “Bagaimana pelaksanaan proses belajar mengajar dalam rangka meningkatkan nilai Ujian Akhir Nasional di MI Miftahul Ishlah Tembelok-Kota Mataram Tahun Pelajaran 2008/2009?”

C.       Tujuan dan Manfaat Penelitian
-    Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui ”Bagaimana pelaksanaan proses belajar mengajar dalam rangka meningkatkan Nilai Ujian Akhir Nasional di MI Miftahul Ishlah Tembelok-Kota Mataram Tahun Pelajaran 2008/2009.” 
-    Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini ditinjau dari dua segi yaitu: kegunan praktis dan keguanaan teoritis; 
  •       Manfaat Secara Teoritis
 Diharapkan dapat menjadi bahan kajian dalam upaya meningkatkan nilai ujian akhir nasional siswa bagi lembaga pendidikan terutama mata pelajaran yang akan diujikan pada ujian akhir nasional.
  •       Manfaat secara Praktis
  1.  Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan, khususnya tentang penetapan standar nilai dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan dan motifasi belajar sehingga mampu bersaing dan menjawab tantangan zaman.
  2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbang sih pemikiran kepada pemerintah sebagai perancang kebijakan khususnya dan pihak sekolah dalam rangka perbaikan tekhnik dan model pembelajaran yang lebih bervariasi.
  3. Sebagai bahan acuan peneliti berikutnya dalam memecahkan masalah yang sama.

D.       Asumsi

Asumsi merupkan kerangka awal dalam mengkaji permasalahan penelitian atau dengan kata lain bahwa asumsi ini adalah suatu pandangan tentang hakekat masalah penelitian. Namun demikian, sebelum mengajukan asumsi sehubungan dengan hakekat masalah yang dijadikan bahan penelitian ini maka terlebih dahulu dikemukakan makna asumsi itu sendiri.

Asumsi adalah sesuatu yang dianggap benar, sebagai suatu keputusan yang diterima sebagai kebenaran (Komaruddin, 1987 : 69). Pendapat lain, asumsi adalah pernyataan yang diterima tanpa harus dibuktikan kebenarannya oleh peneliti (Arifin, 1990 : 19).

Asumsi sendiri menjadi penting artinya, sebab dapat menjadi landasan-landasan utama pada hal-hal sebagai berikut:
  •     Sebagai sarana untuk berpijak dalam masalah yang akan dijadikan objek penelitian.
  •     Sebagai usaha untuk mempertegas masalah yang menjadi fokus perhatian peneliti.
  •    Sebagai langkah awal untuk menentukan dan merumuskan jenis tesis yang akan dipergunakan (Arikunto, 2002 : 82).

Sehubungan dengan hal dimaksud, maka asumsi yang dijadikan dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
  • Pelaksanaan proses belajar mengajar perlu dilakukan dalam meningkatkan nilai Ujian Akhir Nasional di MI Miftahul Ishlah Tembelok-Kota Mataram Tahun Pelajaran 2008/2009
  • Pelaksanaan proses belajar mengajar yang baik dapat meningkatkan nilai Ujian Akhir Nasional.


Artikel Menarik lainnya :