Sukai Halaman Grosir Mutiara Lombok Supplier Murah

Pelaksanaan Mediasi Dalam Penyelesaiaan Perkara Harta Bersama (Studi Di Pengadilan Agama Mataram)

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Islam merupakan agama rahmatan lil alamin yang diwahyukan oleh Allah untuk kemaslahatan umat manusia dan seluruh alam. Sebagaimana agama penutup dan penyempurna dari agama-agama sebelumnya, Islam merupakan agama yang berisikan ajaran tentang kebenaran yang mutlak dan universal. Nilai kebenaran ini bersumber pada al-Qur`an sebagai wahyu Allah yang tidak diragukan lagi kebenarannya dan kepada al-Sunnah yang berupa perbuatan, perkataan, dan taqrir Nabi Muhammad saw, sebagaimana firman Allah swt sebagai berikut :


Artinya : “ Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur`an yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur`an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah jika kamu memang orang-orang benar (QS. Al-Baqarah : 23 )
 Al-Sunnah sebagai sumber hukum Islam setelah al-Qur`an diterangkan dalam firman Allah sebagai berikut:

Artinya : “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah ( al-Qur`an ) dan Rasul ( al-Sunnah ) (Q.S.Al-Nisaa : 59`)”

 Kedua sumber tersebut, al-Qur`an dan al-Sunnah  dijadikan tolok ukur kebenaran dalam menjawab persoalan-persoalan zaman dari masa ke masa. Pada era kelahiran Islam, yakni di masa Rasulullah, segala persoalan-persoalan yang muncul di dalam tatanan masyarakat pada waktu itu dapat diselesaikan dengan  turunnya wahyu dari Allah atau langsung dipecahkan oleh Rasulullah saw sendiri sehingga perbedaan pendapat dikalangan sahabat dapat diminimalisasi meskipun hal semacam itu tetap ada.

Al-Qur`an dan al-Sunnah yang bersifat global dan universal bukan hanya untuk memecahkan persoalan zaman yang ketika itu muncul atau hanya berlaku didunia Arab saja dimana Islam dilahirkan. Namun, al-Qur`an dapat dijadikan solusi tepat terhadap permasalahan-permasalahan dalam setiap ranah dan kancah kehidupan manusia.  Seiring perkembangan zaman dan semakin luasnya dunia Islam dengan semakin kompleksnya persoalan yang muncul,  untuk mencari sebuah kepastian hukum dan solusi terhadap persoalan zaman tersebut maka al-Qur`an dan al-Sunnah tetap dijadikan acuan utama dan landasan pokok terhadap setiap permasalahan.

Namun, hal tersebut tidak dapat menutup kemungkinan adanya perbedaan interpretasi terhadap sumber pokok tersebut, sehingga melahirkan beragam pendapat di kalangan ulama yang pada akhirnya membentuk kelompok-kelompok yang dikenal dengan aliran mazhab fiqih.

Perbedaan interpretasi terhadap sumber pokok ini dimulai sejak generasi awal Islam, yakni di masa sahabat. Khilafiyah tentang persoalan-persoalan hukum(fiqih) tidak dapat dihindari. Namun hal ini justru mampu mendorong perkembangan hukum Islam dan memperluas khazanah ilmu fiqih dan menghantarkan dunia Islam pada puncak kejayaannya.

Sampai pada era kejayaan Islam pada masa Abbasiyah yang ditandai dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan yang kini dikenal dengan nama era pembentukan dan perkembangan hukum Islam.  Para ulama fiqih merumuskan hasil ijtihadnya yang kemudian menjadi mazhab-mazhab fiqih yang sekarang dikenal. Di antara fuqaha yang terkemuka yang hidup pada masa itu dan sekarang menjadi sebuah aliran mazhab terbesar adalah  Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi` bin Saib bin Abid bin Abu Yazid Ibnu Hisyam bin Muthalib bin Abdul Manaf.

Sebagaimana imam mazhab lainnya, Imam Asy-Syafi`i menentukan jalan istinbath al-ahkam tersendiri. Adapun langkah-langkah ijtihadnya sebagai berikut: Ashal adalah al-Qur`an dan al-Sunnah, apabila tidak ada dalam al-Qur`an dan al-Sunnah, ia melakukan qiyas terhadap keduanya.  Dalam pandangan Imam Asy-Syafi`i qiyas dijadikan hujjah bila pengqiyasnya benar, yakni dengan mencari persamaan illat antara ashal dengan ashal dan cabang atau persoalan yang akan diqiyaskan. Selain itu, Asy-Syafi`i juga menerima ijma` sebagai landasan hukum. Jadi dalil-dalil hukum bagi Asy-Syafi`i adalah al-Qur`an dan al-Sunnah dan Ijma`. Sedangkan metode pengistinbathan hukum yang dipakai adalah qiyas.

Imam Asy-Syafi`i merupakan ulama besar yang pernah hidup pada dua kota yang berbeda, baik dari segi geografis maupun kehidupan sosialnya, yaitu pernah tinggal di Irak sekitar 195 H pada pemerintahan Al-Amin dan menetap di sana. Selain itu ia juga pernah tinggal di Mesir sekitar tahun 199 H sampai ia meninggal do kota tersebut. Dari dua tempat yang berbeda ternyata ada hal yang menarik dalam hal istinbath hukum yang digagas oleh Asy-Syafi`i, yaitu ada perbedaan yang cukup signifikan bahkan berbanding terbalik mengenai produk-produk hukum yang pernah dilahirkan oleh Asy-Syafi`i yakni, ketika ia berada di Irak dan ketika ia berada di Mesir, perbedaan dua ketetapan hukum Asy-Syafi`i ini yang disebut dengan nama qaul qadim dan qaul jadid.

Perbedaan kedua pendapat tersebut inilah yang sangat menarik dan menimbulkan banyak spekulasi tentang apa yang melatarbelakangi sehingga perbedaan ketetapan ini muncul. Padahal, ketetapan terdahulu (qaul qadim) dan ketetapan yang baru (qaul jadid) itu lahir dari satu orang mujtahid, yaitu Asy-Syafi’i sendiri. Konsistensi tentang ketetapan ijtihad Asy-Syafi’i yang dipertanyakan  atau elastisitas hukum, atau terdapat hal lain yang melatarbelakanginya.

Yang juga menarik  untuk  diperbincangkan dan diteliti adalah tentang posisi keduanya, yaitu qaul qadim dan qaul jadid yang  sekiranya didahulukan ketika merujuk pada pendapat Asy-Syafi’i, qaul qadimkah atau qaul jadidkah. Jika keduanya saling bertolak belakang kemudian apakah kemunculan qaul jadid ini untuk menasakh atau untuk menghapus qaul qadimnya sehingga masa berlaku qaul qadim ini berakhir dan berganti dengan qaul jadid.

Dari latar belakang di atas, peneliti mencoba mengangkat dan  menganalisis bagaimana sebenarnya posisi qaul qadim dan qaul jadid dalam mazhab Asy-Syafi`i guna mencari titik temu (relevansinya) pada masa sekarang.
Dari beberapa persoalan di atas penulis merasa terdorong untuk mengupas lebih lanjut serta mengkaji lebih luas hal tersebut dalam skripsi ini.

B.    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :
  1. Apa yang melatarbelakangi lahirnya qaul qadim Asy-Syafi`i ?
  2. Apa yang melatarbelakangi lahirnya qaul jadid Asy-Syafi`i ?
  3. Bagaimana memposisikan qaul qadim dan qaul jadid dalam Mazhab Asy-Syafi`i ?
C.    Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan peneliti melakukan penelitian adalah :
  1. Ingin mengetahui hal-hal yang melatarbelakangi lahirnya qaul qadim  Asy-Syafi`i
  2. Ingin mengetahui hal-hal yang melatarbelakangi lahirnya qaul jadid  Asy-Syafi`i
  3. Ingin mengetahui posisi qaul qadim dan qaul jadid dalam mazhab Asy-Syafi`i
D.    Kegunaan Penelitian

Dari hasil penelitian diharapkan agar penulisan skripsi ini dapat berguna baik secara teoritis maupun praktis.
1.    Secara teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi dalam bidang sejarah dan pembentukan dan perkembangan hukum Islam (fiqih), khususnya yang berkaitan dengan posisi qaul qadim dan qaul jadid dalam mazhab Asy-Syafi`i.
2.    Secara Praktis

Diharapkan dapat memberikan informasi kepada para akademisi yang fokus terhadap kajian hukum Islam tentang produk hukum Asy-Syafi`i yang berkaitan dengan qaul qadim dan qaul jadid dan diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam penelitian yang selanjutnya yang terkait dengan hasil penelitian ini.
E.    Telaah Pustaka

 Sudah banyak yang membahas dan yang membicarakan tentang pemikiran Imam Asy-Syafi`i yang berkaitan dengan permasalahan qaul qadim dan qaul jadidnya. Namun, peneliti belum pernah menemukan yang membahas secara spesipik tentang permasalahan ini, yaitu posisi qaul qadim dan qaul jadid Imam Asy-Syafi`i dan bagaimana memposisikan keduanya. Hal tersebut dapat dilihat dalam beberapa buku di bawah ini, diantaranya : 
Jaih Mubarak, “Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam” yang diterbitkan oleh PT. Remaja Rosdakarya, Bandung 2003.  buku ini membahas dan mengupas tentang sejarah dan perkembangan hukum Islam dan masa Rasulullah sampai pada masa taklid atau era kejumudan terhadap aktifitas penggalian hukum Islam tidak secara signifikan membahas tentang pemikiran Asy-Syafi`i yang berkaitan dengan latarbelakang timbul atau munculnya qaul qadim dan qaul jadid serta posisi keduanya.

 Ahmad Asy-Syurbasi judul buku : ”Sejarah dan Biografi Empat Imam Mazhab”, yang diterbitkan oleh penerbit Amzah Semarang 2004, buku ini membahas tentang kepribadian , lingkungan, keilmuan, dan karya Imam Mazhab Empat (Hanafi,Maliki,Syafi`i,Hambali).

Muhammad Abu Zahrah, Imam Syafi`i Geografi dan Perkembangan dalam Masalah Aqidah, Politik dan Fiqih, Jakarta Lentera Basritama, 2005. Dalam buku ini membahas tentang sejarah kehidupan Imam Asy-Syafi`i, situasi dan kondisi dan tantangan pemikiran intelektual Imam Asy-Syafi`i yang berkaitan dengan sikap beliau yang berkaitan dengan ilmu kalam, pemikiran politik, dan pemikirannya dalam bidang ilmu fiqih.
Dari telaah pustaka di atas belum ada satupun yang membahas lebih jauh tentang bagaimana memposisikan qaul qadim dan qaul jadid Imam Asy-Syafi`i. Telaah ini akan lebih memperjelas bahwa permasalahan ini belum pernah dibahas oleh pengkaji terdahulu.
F.    Kerangka Teori

1.    Pengertian qaul qadim dan qaul jadid

a.    Pengertian qaul qadim

Secara etimologi qaul qadim terdiri atas dua kata, yaitu qaul (قول) yang berarti perkataan,dan  kata qadim (قديم) yang berarti lama atau terdahulu.  Jadi, dapat disimpulkan secara bahasa berarti perkataan, ketetapan lama atau terdahulu.

Sedangkan secara termonologi qaul qadim dapat diartikan sebagai fatwa-fatwa yang dikeluarkan Asy-Syafi`i pada periode pertumhuhan mazhabnya di Bagdad ( Irak ).

Qaul qadim merupakan pendapat Asy-Syafi`i pada awal beliau menjadi sorang mujtahid mutlak, karena sebelum itu Asy-Syafi`i adalah seorang pengikut mazhab Imam Malik. Qaul qadim ini lahir ketika Asy-Syafii berada di Irak dan setelah ia sering melakukan diskusi dengan ulama Irak, dan sempat pula mempelajari fiqih masyarakat Irak pada seorang ulama Muhammad Hasan Asy-Syaibani yang merupakan sahabat sekaligus murid Imam Hanafi seorang ulama besar dari kalangan Ahlul Ro`yi. Jadi qaul qadim adalah pendapat Imam Asy-syafi`i yang bercorak Ro`yi.  Fatwa-fatwa qaul qadim kebanyakan terhimpun dalam kitab al-Risalah (Al-qodimah) dan al-Hujjah, yang selalu disebut dengan al-kitab al-qodim.

b.    Pengertian qaul jadid

Qaul jadid secara etimologi dari atas  dua kata, yaitu (قول) yang berarti perkataan atau ketetapan. Adapun jadid (جديد) berarti yang baru.   Secara terminologi qaul jadid pendapat-pendapat Imam Asy-Syafi`i yang dikemukakan selama dia tinggal di Mesir.

Dalam banyak hal qaul jadid merupakan koreksi terhadap pendapat-pendapatnya yang dia kemukakan sebelumnya. Qaul jadid Imam Asy-Syafi`i dimuat di antaranya dalam kitab al-Umm, ar-Risalah Jadidah, al-Amaly, al-Imlak dan lain-lain.

2.    Lahirnya qaul qadim

Sebagaimana diuraikan di atas bahwa qaul qadim lahir ketika Imam Asy-Syafi`i berada di Bagdad. Adapun lahirnya qaul qadim ini disebabkan bermula dari ia mengenal dan mempelajari fiqih ulama Irak yaitu salah seorang tokohnya bernama Muhammad Asy-Syaibani.

Beliau seringkali melakukan dialog dengan ulama yang mempunyai corak fiqih ahlul ro`yi dan bertukar pendapat dengan mereka. Setelah banyak melakukan  dialog, mulailah tumbuh dalam diri Asy-Syafi`i satu pemikiran untuk mencetuskan sebuah fiqih yang merupakan penggabungan antara fiqih ulama Madinah yang telah ia pelajari dari Imam Malik dan fiqih ulama Irak yang baru ia temukan.

Mulai saat itu Imam Asy-Syafi`i mulai mengkaji dan mengoreksi kembali fiqih Imam Malik secara keritis dan tidak lagi memposisikan diri sebagai pembela ulama Madinah yang Fanatik dan fiqih ulama Irak. Jadi qaul qadim merupakan sintesis dari fiqih Madinah dan fiqih Irak.
Sehingga tidak mustahil bila dari penelitian yang ia lakukakn tersebut terhadap dua corak fiqih (antara fiqih Madinah dan Irak). Sang Imam menemukan pemikiran dalam  qaul qadim inilah Asy-Syafi`i sendiri mulai menjadi mujtahid mutlak dengan jalan istinbath sendiri.
3.    Lahirnya qaul jadid

Qaul jadid merupakan ketetapan-ketapan baru dari fiqih Asy-Syafi`i yang ditulis ketika ia berada di Mesir. Keberadaan Asy-Syafi`i di Mesir dapat dikatakan sebagai fase akhir dari perjalanan intelektualnya sebagai seorang mujtahid dan saat inilah ia sampai pada puncak kematangan pemikirannya sehingga ia disana memproduk pendapat-pendapat gurunya.

Qaul jadid ini lahir dikarenakan karena Asy-Syafi`i banyak menemukan permasalahan-permasalahan baru yang pernah ditemukan sebelumnya, karena adanya perbedaan-perbedaan, adat istiadat, kultur, sosial masyarakat yang berbeda, serta warisan intelektual yang berbeda pula. Kondisi ini membuat ia mengkaji kembali pendapat-pendapat ia sebelumnya. Perubahan pemikirannya serta realitas yang berbeda dengan situasi dan kondisi yang pernah ia lalui sebelumnya.

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa munculnya qaul jadid ini merupakan koreksi terhadap pendapat-pendapatnya yang pernah ia lahirkan sebelumnya dan sekaligus merupakan refleksi dari realitas yang berbeda. Qaul jadid Asy-Syafi`i dimuat diantaranya dalam kitab al-Umm.

Untuk lebih lengkap SKRIPSI nya silahkan anda klik di bawah ini!!!
Download disini !!!