Mengidentifikasi Bentuk Jamur dan Bakteri

Posted by Sanjaya Yasin 1 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

A.  Landasan Teori

Nama bakteri itu berasal dari kata “bakterion” (bahasa Yunani) yang berarti tongkat atau batang. Sekarang nama itu dipakai untuk menyebut sekelompok mikroorganisme yang bersel satu, tidak berklorofil (meskipun ada kecualinya), berbiak dengan pembelahan diri, serta demikian kecilnya sehingga hanya tampak dengan mikroskop.

Bakteri merupakan kelompok mahluk hidup bersel tunggal yang hubungan kekerabatannya dengan mahluk hidup lainnya masih diliputi kegelapan. Mereka dimasukkan dalam golongan jasad renik atau mikroba, mengingat tubuhnya yang amat kecil sehingga tak dapat terlihat dengan bungil mata.

Studi tentang bakteri mulai berkembang setelah di temukan mikroskop oleh Anthonie Van Leeuwenhoek menjelang berakhirnya abad ke-17. bakteri untuk pertama kali dilihat oleh Leeu tokoh terkemuka seperti Pasterur, Davaine, Koch, Winogradsky, dan lain-lain. Akhirnya berkembang ilmu tentang jasas renik, yaitu mikrobiologi yang dalam abad ke-20 ini telah terpecah-pecah lagi menjadi mikrobiologi industri, mikrobiologi tanah, bahkan khusus mengenai bakteri kita kenal pula sekarang cabang ilmu pengetahuan yang diberi nama bakteriologi.

Tubuh bakteri yang terdiri atas sebuah sel saja itu mempunyai bentuk yang beraneka ragam. Ada yang berbentuk peluru atau bola. Seperti batang, bengkok seperti koma atau sekrup, ada yang seperti spiral. Ukuran tubuhnya hanya mencapai beberapa mikron (mikron μ = 0.001 mm). Paling besar sekitar 100 μ, hingga hampir terlihat dengan mata bungil tetapi adapula yang kuran dari 1 μ yang terkecil kira-kira 0.1 μ. Bukti-bukti menunjukkan bahwa ada bakteri dengan ukuran tubuh kurang dari itu yang tidak lagi dapat dilihat dengan mikroskop biasa, tetapi memerlukan mikroskop elektron untuk dapat menyidiknya.


Besar kecilnya bakteri

Pada umumnya bakteri itu kecil sekali, sehingga kita memerlukan mikroskop untuk dapat mengamatinya. Ada juga bakteri yang agak besar yang dapat kita lihat dengan tidak menggunakan mikroskop. Akan tetapi sifat morfologinya lebih teliti kita perlukan mikroskop


Susunan sel

Lazimnya orang berpenda, bahwa pada sel bakteri itu ada dinding luar, ada sitoplasma, dan ada bahan inti. Dinding luar terdiri atas 3 lapis, dari lar ke dalam berturut yaitu lapisan lendir, dinding sel, dan membran sitoplasma.

Dinding sel bakteri terdiri atas bermacam-macam bahan organik seperti selulosa, hemiselulosa, khitin (yaitu karbohidrat yang mengandung unsur N).

Pada fase vegetatif, umumnya tubuh jamur benar berupa hifa/filamen  dan miselium, beberapa ada yang berupa sel tunggal. Hifa ada yang bercabang dan ada pula yang tidak bercabang. Hifa pada Ascomycetes, Basidiomycetes dan Deuteromycetes merupakan hifa yang bersekat dengan inti satu, dua atau lebih, sedangkan pada phycomycetes merupakan hifa yang tidak bersekat (disebut senosit), sekat baru akan terbentuk bila akan membentuk struktur reproduksi.
Sekat pada Ascomycetes dan Basidiomycetes mempunyai satu atau lebih porus (celah pada sekat yang berupa liang kecil yang memungkinkan sitoplasma jdan organel-organel dari satu bagian dapat berpindah ke bagian lain). Porus pada Ascomycetes lebih sederhana sedangkan pada Basidiomycetes nampak lebih kompleks dengan mengalami perluasan dan disebut doliporus.



 B. Alat dan bahan
Alat:
  • Mikroskop
  • Alat tulis
  • Cawan petri
  • Pipet tetes
  • Gelas kimia
  • Kaca penutup
  • Kaca benda

    Bahan
    • Tempe
    • Tape
    • Nasi
    • Ekoli



    C.    Cara Kerja

    1.      Pengamatan Rhizopus
    • Menyediakan dua lapis roti tawar. Melembabkan roti tawar tersebut dengan cara memercikan air atau semprot dengan sprayer. Meletakggan roti yang telah dilembabkan tersebut di atas kertas koran yang sudah telah dilembabkan. Memberi alas dengan plastik.
    • Membuat sedian dengan cara mengambil sebagian miselium dengan ujung jarum. Meletakkan miselium tersebut di atas kaca benda yang telah diberi setetes air. Dengan dua jarum, perlahan-lahan menguraikan miselium supaya lebih renggang dan jelas. Menutup dengan kaca penutup, mengamati di bawah mikroskop mengenai susunan benang hifanya untuk menentukan ada tidaknya sekat.
    •  Membuat gambar dan menunjukkan bagian-bagiannya
    • Mencari bagian dan menunjukkan  reproduksi seksual. Mencari juga tahapan selajutnya seperti gamet-gamet yang telah berdifusi membentuk zigot berdinding telab serta menggambar hasil pengamatannya.



    2.      Pengamatan Mucor
    • Menyediakan tempe
    • Membuat sediaan dengan cara yang sama seperti membuat sediaan jamur roti
    • Melakukan pengamatan seperti para Rhizopus



    3.      Pengamatan Yeast (ragi roti)

    • Membuat larutan gula dalam botol bersih dan membubuhkan yeast ke dalamnya.
    • Mengambil dengan pipet sedikit larutan yang telah disiapkan dan meneteskan pada kaca benda, kemudian menutup dengan kaca penutup untuk mencari sel tunggal dan berukuran besar.



    4.      Pengamatan jamur merang
    • Menyediakan jamur merang (Volvariella volvacea)
    • Mencari bagian yang disebut stipe (tungkai), pileus (tudung), bilah-bilah dan volanya kemudian menggambar hasil pengamatan
    • Membuat irisan melintang dan meletakkan irisan tersebut di atas kaca benda yang sudah ditetesi air. Menututp dengan kaca penutup, mengamati dengan mikroskop serta mencari bagian yang disebut dengan himenium, basidium dan benang parafisis serta menunjukkan pada gambar
    •  Mengamati bentuk basidium dengan pembesaran kuat serta bentuk dan jumlah basidiospora pada setiap basidium.
    •  Membuat irisan membujur stipe (tangkai) serta meletakkannya di atas kaca benda yang telah ditetesi air dan menutup dengan kaca penutup, serta mengamati jaringan-jaringan hifanya



    D.    Hasil Pengamatan


    1.      Jamur Ganggang



    Diskripsi

    Berdasarkan hasil pengamatan yang kami dapatkan, kami menemukan jamur Rhyzopus Orizae pada tempe, jamur Rhizopus berkembang biak dengan dua cara yaitu seksual dan aseksual. Perkembangbiakan seksual menggunakan sporanya, sedangkan aseksual menggunakan stolon. Pada beberapa jamur, terdapat tubuh buah yang terbentuk dari siklerotium dan stroma dengan menggunakan pembesaran 10 x 10.



    2.      Rhizopus Stolongifor


    Deskripsi

    Rhyzopus Stolongifor adalah jamur yang berada pada nasi, yang juga mempunyai sporongium, spora dan sporangifor dan mempunyai warna agak kemerah-merahan. Sporangiofor Rhizopus tidak bercabang dan setelah pemanjangan sampai batas tertentu bagian ujung tampak membesar dan membentuk sporangium dengan menggunakan pembesaran 10 x 10.


    3.      Ragi (yeast)


    Deskripsi

    Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh peneliti bahwa ragi (Yeast) untuk fermentasi atau pengurai. Dari sana kita dapat memperhatikan sistem kerja dari pada jamur yang ditumbuhkan oleh ragi pada makanan yang kita makan selama in dengan menggunakan pembesaran 10 x 10.


    4.      Echericia Colli

    Berdasarkan gambar di atas dapat dipahami bahwa bakteri bereproduksi dengan cara vegetatif atau aseksual dengan membelah diri dengan cara biner. Pada lingkungan yang baik bakteri dapat membelah diri dalam 20 menit. Bentuk dan ukuran bakteri ukuran bateri dapat diketahui dengan mikroskop dan dapat dinyatakan dapat dinyatakan dalam satuan mikro. Adapun bentuk bakteri seperti ada yang berbentuk bulat, batang dan spiral dengan menggunakan pembesaran 10 x 10..



    E.     Pembahasan


    Bakteri merupakan mikroorganisme bersel satu, tidak berlorofil (kecuali beberapa jenis) dan berkembangbiak dengan pembelahan diri, ukuran tubuhnya sangat kecil.

    Bakteri pada umumnya bergerak secara pasif. Namun demikian ad berbagai jenis bakteri yang dalam keadaan tertentu dapat membentuk rambut-rambut plasma yang menembus keluar dinding dan adanya rambut-rambut plasma ini memungkinkan bakteri bergerak aktif dalam medium cair. Rambut-rambut plasma itu lazimnya dinamakan bulu cambuk atau flagel, yang jumlah dan letaknya pada tubuh dapat berbeda-beda.

    Bakteri pada umumnya bersifat heterotrof hidupnya sebagai saprofit atau sebagai parasit. Namun demikian, ada pula beberapa jenis yang mampu mengadakan asimilasi, jadi bersifat autotrof. Berdasarkan asalnya energi yang digunakan dalam asimilasi, bakteri yang bersifat autotrof itu di bedakan dalam 2 golongan, yaitu :
    • Yang bersifat kemo autotrof, bila energi untuk asimilasinya (kemosintesis) diperoleh dari reaksi-reaksi kimia, misalnya dari proses oksidasi senyawa tertentu.
    • Yang bersifat fotoautotrof, bila energi untuk asimilasi (fotosintesis) di peroleh dari cahaya matahari. Seperti pada tumbuhan hijau bakteri yang dapat mengadakan fotosintesis adalah bakteri-bakteri yang mempunyai zat warna

    Sedangkan pada jamur Rhysopous sitoplasmanya banyak inti sel yang diduga  sebagai aliran cadangan makan untuk pertumbuhan sporangium, bagian steril protoplasma menggelembung membentuk kulumela sporangium. Reproduksi aseksual pada Rhizopus juga dapat terjadi melalui pembentukan klamidospora. Miselia tua menjadi terpisah secara transversal dan mengalami penebalan dinding di dalam interkalar-interkalar sel.


    Artikel Menarik lainnya :