Korelasi Antara Profesionalisme Guru Bahasa Arab Dengan Pembentukan Sikap Mental Belajar Siswa

Posted by Sanjaya Yasin 0 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) melalui kegiatan pengajaran (Syah, 207 : 1). Sebagai usaha sadar atau proses yang disengaja, setiap pelaksanaan proses pendidikan perlu didukung oleh suatu perencanaan yang tepat sehingga apa yang menjadi tujuan dari proses pendidikan yang dilaksanakan tersebut bisa tercapai secara baik dan optimal.

Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peran utama. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar. Guru dan siswa adalah unsur yang terlibat langsung dalam proses itu. Proses belajar mengajar akan berhasil bila hasilnya akan membawa perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap dalam diri anak didik (Usman 1995 : 4).

Kegiatan belajar mengajar sebagai inti dari proses pendidikan secara keseluruhan mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.

Dalam proses belajar mengajar guru memegang peranan yang sangat penting dan dominan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap kualitas hasil pendidikan karena posisi guru secara langsung berinteraksi dengan muridnya (Sudjana, 2000: 12-13)

Guru memerankan fungsi sebagai sutradara sekaligus sebagai aktor yang mempunyai tugas dan tanggung jawab nerencanakan atau merancang dan melaksanakan pengajaran di kelas. Karena itu posisi guru menuntut adanya suatu keahlian dan kemampuan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab yang dipilulnya itu. Artinya jabatan guru memang harus dipegang oleh orang-orang yang mempunyai keahlian dan profesional dalam bidang tersebut.

Intuk itu dalam melaksanakan profesinya guru dituntut memiliki seperangkat pengetahuan keahkian dan kompetensi (kemampuan) profesional yang memadai sekaligus memiliki kepekaan dan tanggap terhadap perubahan-peribahan dan perkembangan ilmu pengetahuandan tehnologi sesuai dengan tuntutan zaman. Untuk itu selaras dengan perkembangan dan perubahan-peribahan yang terjadi, para guru dituntut juga untuk menyikapinya dengan dengan senantiasa terus bekajar dan berusaha mengembangkan kompetensi profesionalismenya sehingga ia tidak terjebak dalam kondisi pendidikan yang statis dan ketinggalan zaman.

Dengan demikian kehadiran guru dengan sikap fleksibelnya ditengah-tengah proses pendidikan sampai saat ini masih memegang peranan yanga sangsangat penting. Peran itu belum dapa digantikan oleh peralatan-peralatan
teknologi maupun komponen-komponen lainnya yang lebih canggih sekalipun dalam kehidupan ini sejak dulu, lebih-lebih pada saat sekarang ini. Hal ini menurut Usman (1995:1-2) lebih dari sekedar anutan, hal inipun menunjukkan bahwa guru sampai saat ini masih dianggap eksis, sebab sampai kapanpun, pisisi/peran guru tidak akan bisa digantikan sekalipun dengan mesin canggih. Karena tugas guru menyangkut pembinaan pembinaan sifat mental, manusia yang menyangkut aspek-aspek yang bersifat manusiawi yang unik dalam arti berbeda satu dengan yang lainnya.

Sedangkan menurut Sudjana (2000 : 12) kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pengajaran masih tetap memegang peranan penting. Peranan guru dalamproses pengajaran belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape recorder, ataupun oleh komputer yang paling modern sekalipu. Disinilah kelebihan manusia dalam ha ini guru dari alat-alat atau teknologi yang diciptakn manusia untuk membantu dan mempermudah kehidupanya. 

Untuk itu pendidikan formal di sekolah atau kampus telah diatur dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional yang berbunyi : tenaga pendidikan yang tugas utamanya adalah mengajar itu adalah guru untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah dan dosen untuk jenjang pendidikan tinggi (Syah, 207:1).

Bahasa Arab merupakan bahasa al-Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Arab tersebut sangat terkait dengan agama Islam itu sendiri yang  kitab sucinya adalah al-Qur’an yang berbahasa Arab demikian pul al-Hadis yang merupakan penjelasan dan penafsiran al-Qur’an dihimpun dan disusun dalam bahasa Arab.  Jadi sumber pokok agama Islam yaitu al-Qur’an dan al-Hadits yang kedua-duanya berbahasa Arab sehingga bahasa Arab menjadi  sangat penting untuk dipelajari baik yang sifatnya formal maupun non formal atau sebagai suatu hal yang perlu diperhatikan oleh seluruh umat Islam sedunia.

Pembentukan mental belajar siswa merupakan cermin dari keberhasilan gu. Oleh sebab itu profesionalitas mengajar harus dimiliki oleh pihak uru mengingat pekerjaan yang dipikul oleh guru sebagai pengelola pengajaran, maka guru dapat menciptakan situasi belajar siswa yang optimal yakni dengan mengajarkan ilmu dasar dari bahasa Arab itu sendiri yang terdiri dari empat kemahiran yang merupakan kemampuan paedagogis yang harus dimiliki oleh seorang guru. Dari pengajaran empat kemahiran, seorang guru dapat membentuk mental belajar siswa kelas VII MTsN 1 Mataram yang merupakan kelas pemula yang sebagian besar siswa-siswinya belum mengenal dengan baik kaidah atau tata bahasa Arab. Di samping itu pula mental juga merupakan faktor penting dalam pembelajaran bahasa khususny dalam pembelajaran bahasa Arab.

Bertolak dari latar belakang di atas, maka peneliti sangat tertarik untuk mengadakan suatu penelitian dengan mengangkat judul :”Korelasi  Antara profesionalisme Guru Bahasa Arab dengan Pembentukan Mental Belajar Siswa Kelas VII MTsN 1 Mataram Tahun Pelajaran 2008/2009”.


B.    Rumusan Masalah

Berangkat dari judul skripsi dan bertolak dari latar bekang masalah di atas, maka adapun rumusan masalah sebagai pangkal pembahasan selanjutnya adalah sebagai berikut, yaitu: “Apakah ada korelasi antara profesionalisme guru bahasa Arab dengan pembentukan mental belajar siswa Kelas VII Bidang Studi Bahasa Arab di MTsN I Mataram?”


C.    Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah “Untuk mengetahui Apakah Ada Korelasi Antara Krofesionalisme Guru Nahasa Arab Dengan Pembentukan Mental Belajar Siswa Kelas VII Bidang Studi Bahasa Arab di MTsN I Mataram”.


D.    Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian terdiri dari dua macam yaitu kegunaan teoritis dan kegunaan praktis. Adapun hasil penelitian ini nantinya diharapkan mempunyai kegunaan sebagai berikut:

1.    Kegunaan teoritis

Bagi pengembangan ilmu pengetahuan hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran dalam upaya meningkatkan profesionalitas belajar mengjar pendidikan Bahasa Arab.

2.    Kegunaan praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dpat menjadi masukan dan dorongan  bagi para guru, khususnya bagi guru bidang studi bahasa Arab untuk menjadikan sebagai acuan dalam mengelola proses belajar mengajar, sehingga bahasa mampu membentuk mentalbelajar anak dalam mata pelajaran bahasa Arab.


E.    Hipotesa

Hipotesa adalah suatu anggapan sementara yang perku dibuktikan kebenaranya melalui penelitian berdasarkan rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini, yakni tentang korelasi antara profesionalisme guru bahasa Arab denganpembentukan mental belajar siswa Kelas VII dalam proses belajar mengjar bidang studi bahasa Arab di MTsN I Mataram. Maka hipotesa alternatif yang diajukan terhadap masalah tersebut yaitu: Ada korelasi antara profesionalisme guru bahasa Arab dengan pembentukan mental belajar siswa kelas VII dalam proses bekajar mengajar bidang studi bahasa Arab di MTsN I Mataram.


F.    Batasan Istilah

Untuk menghindari terjadinya perbedaan presepsi dalam memahami pokok-pokok pikiran yang tertuang dalam judul skripsi ini maka penulis memandang perlu untuk menjelasakan beberapa istilah berikut ini:

1.    Korelasi

Korelasi atau hubungan adalah “suatu alat statistik, yang dapat digunakan untuk membandingkan hasil pengukuran dua variabel-variabel tersebut” (Suharsimi, 1989: 251).
Berdasarkan pendapat di atas, maka yang dimaksud dengan korelasi dalam judul ini adalah hubungan variabel profesionalisme guru bahasa Arab dengan variabel pembentukan mental belajar siswa kelas VII dalam proses belajar mengajar bidang studi bahas Aeab di MTsN I Mataram.

2.    Peofesionalisme Guru

kata profesuonalisme nerasal dari kata profesi yang secara etimologi berarti mengakui, pengakuan, menyatakan mampu, atau ahli dalam melaksanakan pekerjaan tertentu, dan secara terminologi profesi dapat diartikan sebagai suatu pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan tinggi bagi pelakunya yang ditekankan pada pekerjaan mental. Yakni adanya persaratan pengetahuan teoritis sebagai instrumen untuk melakukan perbuatan praktis. Dan bukan pekerjaan manual atau fisikal.

Sedangkan kata profesional merujuk pada dua hal yaitu “Orang yang menyandang suatu profesi dan kinerja atau performance seseorang dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya. Jadi, profesionalisme yaitu sifat profesional” (Sudarwan, 2002: 20-23)

Berdasarkan pendapat di atas maka yang dimaksud dengan profesionalisme guru bahasa Arab pada penelitian ini adalah kemampuan yang mutlak dimiliki pleh seseorang guru agar tugasnya sebagai pendidik dapat dilaksanakan dengan baik, tentunya profesionalisme guru pada mata bidang studu bahasa Arab di Kelas VII MTsN I Mataram.

3.    Sikap Kental

Sikap dapat diartikan sebagai “Kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara bauk atau buruk terhadap orang atau barang tertentu” (Syah, 2007: 123).

Senentara yang dimaksud dengan mental dalam hal ini adalah “Yang berkaitan dengan pikiran, akal, ingatan atau proses-proses yang berasosiasi dengan pikiran, akal, dan ingatan” (Chaplin, 2006: 297)

Dengan melihat dua istilah tersebut maka peneliti menyimpulkan bahwa sikap dan mental adalah dua istilah yang saling melengkapi dan bida digabungkan menjadi satu fase yang dapat penulis maknai dengan kepribadian seseorang anak didik berupa unsur jiwa ternasuk pikiran, emosi, sikap dan perasaan yang ada dalam diri anak didik yang berfungsi dalam merespon pelajaran yang diberikan guru berupa keberanian untuk menanggapi pelajaran guru maupun keberanian dalam mengajukan pertanyaan.

4.    Belajar

“Belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan individu dengan lingkunganya” (Usman, 1995: 5).

Jadi jelas maksud dari kata perubahan disini sebagai hasil proses belajar mengajar dapat ditujukan kedalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pengalaman sikap dan tingkah laku, keteramplan dan kecakapan, kebiasaan serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang sedang belajar.


Untuk lebihlengkap SKRIPSI nya silakan anda klik di bawah ini!!!
Download disini !!!

Artikel Menarik lainnya :