Sukai Halaman Grosir Mutiara Lombok Supplier Murah

Kadar Kemukjizatan Al-Quran

Al-Qur’an secara terus menerus menantang semua ahli kesusastraan arab untuk mencoba menandinginya tapi tak seorang pun yang mampu menjawab tantangan Al-Qur’an .merekapun tak sanggup menirunya, karena memang al-qur’an berada di atas puncak yang tak mungkin diungguli dan Al-Qur’an memang bukan kalimat manusia.


Golongan mu’takzilah berpendapat bahwa kemu’jizatan itu berkaitan dengan keseluruhan Al-Qu’ran, bukan dengan sebagainya, atau dengan setiap suratnya secara lengkap. Sebagian ulama berpendapat ,kemu’jizatan itu sebagian kecil atau sebagian besar dari Al-Qur’an , tanpa harus satu surat penuh juga merupakan mu’jizat , berdasarkan firman allah “ maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal dengan Al-Qur’an”,(QS. 53 : 34)

Ulama lain berpendapat bahwa kemu’jizatan itu cukup dengan satu surat lengkap , sekalipun pendek, atau dengan ukuran satu surat , baik satu ayat ataupun beberapa ayat. Pendapat ini berpegang pada ayat-ayat yang berhubungan dengan seberapa banyak kadar Al-Qur’an untuk bisa di sebut sebagai mikjizat , dan ini ada kaitannya dengan tantangan yang di lontarkan Al-Qur’an kepada ahli sastra pasa saat itu.

Al-Qur’an telah mengajukan tantangan agar di datangkan sesuatu yang sama persis dengan AlQur’an dengan keseluruhannya( QS 17 : 88) dengan sepuluh surat(QS 11 : 13) dengan satu surat(QS : 10 :38) dan dengan suatu pembicaraan yang menyerupai Al-Qur’an (QS 52 : 34). Namun demikian kita tidak berpendapat bahwa kemukjizatan itu hanya terletak pada kadar-kadar tertentu saja.

Kita dapat menemukan dan merasakan pada bunyi-bunyi hurufnya dan alunan kata-katanya, sebaimana kita dapatkan pada ayat-ayat dan surat- suratnya, bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah.

    Adapun mengenai segi atau kadar manakah yang mu’jizat itu, maka jika seseorang peneliti objektif mencari kebenaran Al-Qur’an dari aspek manapun yang ia sukai, ia akan temukan kemu’jizatan itu dengan jelas dan terang. Kadar kemu’jizatan itu meliputi tiga macam aspek yaitu aspek bahasa, aspek ilmiah dan aspek tasyri’(penetepan hokum)

Setiap manusia yang memusatkan perhatian pada Al-Qur’an akan menemukan rahasia-rahasia kemukjizatan dari aspek bahasanya. Ia akan dapatkan kemukjizatan itu dalam keteraturan bahasannya, bunyinya yang indah melalui nada-nada hurufnya. Hal ini sesuai dengan yang di gambarkan allah.

82. Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.(QS. 4 : 82)

Ayat tersebut mengandung isyarat bahwa perkataan manusia , bila terlalu banyak maka akan banyak terjadi kesalahan dan kontrakdiksi di dalamnya. Sedangkan Al-Qur’an  tidak demikian . semakin banyak di baca akan semakin tampak keselarasan , keindahan dan pesonanya. Itulah bedanya Al-Qur’an dengan perkataan manusia.

Kemu’jizatan ilmiah Al-Qur’an bukanlah terletak pada cukupannya pada teori-teori ilmiah yang selalu baru dan berubah sebagai hasil manusia melalui pngamatan dan penelitian, tetapi terletak pada semangatnya memberi dorongan pada manusia untuk berpikir menggunakan otaknya.

Semua persoalan atau kaidah ilmu pengetahuan yang telah mantap dan meyakinkan , merupakan manifestasi dari kegiatan berpikir yang di anjurkan Al-Qur’an . Al-Qur’an telah membangkitkan pada diri setiap muslim kesadaran ilmiah untuk memikirkan , memahami dan menggunakan akal sesuai dengan firman allah

28. Dia membuat perumpamaan untuk kamu dari dirimu sendiri. Apakah ada diantara hamba-sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu; Maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rezeki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri? Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal.

Al-Qur’an menganjurkan manusia memiliki semua sifat utama seperti sabar, jujur, dan berbuat baik ,santun, pemaaf dan tawadlu. Karena manusia pada dasarnya adalah makhluk social , maka Al-qur’an memulai dengan pendidikan untuk meluruskan gharizah-gharizahnya, membimbing kearah kebaikan. Di sinilah kemu’jizatan Al-Qur’an tampil sebagai obat.