Sukai Halaman Grosir Mutiara Lombok Supplier Murah

Islam Dan HAM

Islam adalah agama universal yang mengajarkan keadilan bagi semua manusia tanpa pandang bulu. Sebagai agama kemanusiaan Islam meletakkan manusia pada posisi yang sangat mulia. Manusia digambarkan oleh Al Qur’an sebagai makhluk yang paling sempurna dan harus dimuliakan. Bersandar dari pandangan kitab suci ini, perlindungan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia dalam Islam tidak lain merupakan tuntutan dari ajaran Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap pemeluknya.


Dalam Islam, sebagaimana dinyatakan oleh Abu A’la al-Maududi, HAM adalah hak kodrati yang dianugrahkan Allah SWT. kepada setiap manusia dan tidak dapat dicabut atau dikurangi oleh kekuasaan atau badan apa pun. Hak-hak yang diberikan Allah itu bersifat permanen dan kekal.

Menurut kalangan ulama Islam, terdapat dua konsep tentang hak dalam Islam: hak manusia (haq al insan) dan hak Allah. Satu dan lainnya saling terkait dan saling melandasi. Hak Allah melandasi hak manusia demikian juga sebaliknya, sehingga dalam praktiknya tidak bisa dipisahkan satu dari yang lainnya. Misalnya, dalam pelaksanaan hak Allah berupa ibadah shalat, seorang muslim yang taat memiliki kewajiban untuk mewujudkan pesan moral ibadah shalat dalam kehidupan sosialnya.

Ucapan mengagungkan nama Allah (takbir) di awal shalat dan ucapan salam (kesejahteraan) di akhir shalat adalah tuntutan bagi setiap muslim untuk menebar keselamatan bagi orang sekelilingnya atas dasar keagungan Allah. Dengan ungkapan lain, hak Tuhan dan hak manusia dalam Islam terkandung dalam ajaran ibadah sehari-hari. Islam tidak memisahkan antara hak Allah dan hak manusia.

Sedangkan hak manusia, seperti hak kepemilikan, setiap manusia berhak untuk mengelola harta yang dimilikinya. Namun demikian, Islam menekankan bahwa pada setiap hak manusia terdapat hak Allah; meskipun seseorang berhak memanfaatkan hartanya, tetapi ia tidak boleh menggunakan harta keluarganya untuk tujuan yang bertentangan dengan ajaran Allah. Keadilan sebagai inti ajaran Islam menekankan bahwa hak kepemilikan harus memiliki nilai sosial.

Harta kekayaan dalam Islam harus diorientasikan bagi kesejahteraan umat manusia. Hal ini didasari oleh pandangan teologis bahwa hanya Allah-lah satu-satunya pemilik absolut harta yang ada di tangan manusia. Kewajiban mengeluarkan zakat bagi setiap muslim yang mampu merupakan contoh lain dari ajaran Islam tentang kepedulian sosial yang harus dijalankan oleh pemeluk Islam.

Wacana HAM bukanlah sesuatu yang baru dalam sejarah peradaban Islam. Para ahli Islam mengatakan wacana HAM dalam Islam jauh lebih awal dibandingkan dengan konsep HAM yang muncul di Barat. Menurut mereka, Islam datang dengan membawa pesan universal HAM. Menurut Maududi, ajaran tentang HAM yang terkandung dalam Piagam Magna Charta tercipta 600 tahun setelah kedatangan Islam di negeri Arabia.


Terdapat tiga (3) bentuk hak asasi manusia (HAM) dalam Islam. 


  • Hak dasar (hak daruri), sesuatu dianggap hak dasar apabila hak tersebut dilanggar, bukan hanya membuat manusia sengsara, tetapi juga hilang eksistensinya, bahkan hilang harkat kemanusiaannya. Contoh sederhana hak ini diantaranya adalah hak untuk hidup, hak atas keamanan, dan hak untuk memiliki harta benda.
  • Hak sekunder, yakni hak-hak yang apabila tidak dipenuhi akan berakibat pada hilangnya hak-hak dasarnya sebagai manusia. Misalnya, jika seseorang kehilangan haknya untuk memperoleh sandang pangan yang layak, maka akan berakibat hilangnya hak hidup.
  • Hak tersier, yakni hak yang tingkatannya lebih rendah dari hak primer dan sekunder.

Konsep Islam tentang HAM dapat dijumpai dalam sumber utama Islam, Al Qur’an dan Hadis. Sedangkan implementasi HAM dapat dirujuk pada praktik kehidupan sehari-hari Nabi Muhammad SAW., yang dikenal dengan sebutan Sunnah (tradisi) Nabi Muhammad. Tonggak sejarah peradaban Islam sebagai agama HAM adalah lahirnya deklarasi Nabi Muhammad di Madinah yang dikenal dengan Piagam Madinah.

Terdapat dua prinsip pokok HAM dalam Piagam Madinah. Pertama, semua pemeluk Islam adalah satu umat walaupun mereka berbeda suku bangsa. Kedua, hubungan antara komunitas muslim dengan non muslim didasarkan   pada prinsip-prinsip:

  1. Berinteraksi secara baik dengan sesama tetangga; 
  2. Saling membantu dalam menghadapi musuh bersama; 
  3. Membela mereka yang teraniaya; 
  4. Saling menasihati; 
  5. Menghormati kebebasan beragama. Pandangan Inklusif kemanusiaan Piagam Madinah kemudian menjadi semangat deklarasi HAM Islam di Kairo, deklarasi ini dikenal dengan nama Deklarasi Kairo yang lahir pada 5 Agustus 1990.

Disemangati oleh pesan inklusif Piagam Madinah, lahirnya Deklarasi Kairo mengandung ketentuan HAM sebagai berikut:

  1. Hak persamaan dan kebebasan; 
  2. Hak hidup; 
  3. Hak perlindungan diri; 
  4. Hak kehormatan pribadi; 
  5. Hak berkeluarga; 
  6. Hak kesetaraan wanita dengan pria; 
  7. Hak anak dari orang tua; 
  8. Hak mendapatkan pendidikan; 
  9. Hak kebebasan beragama;
  10. Hak kebebasan mencari suaka; 
  11. Hak memperoleh pekerjaan; 
  12. Hak memperoleh perlakuan sama; 
  13. Hak kepemilikan; 
  14. Hak tahanan dan narapidana.