Hubungan Kepemimpinan Kepala Sekolah Dengan Motivasi Kerja Guru

Posted by Sanjaya Yasin 1 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
   
Guru di sekolah merupakan salah satu unsur dan faktor yang sangat mempengaruhi tercapainya tujuan pendidikan di sekolah di samping unsur lainnya, seperti murid dan fasilitas pendidikan. Akan tetapi dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai pendidik di sekolah, guru sangat ditentukan oleh semangat kerja atau motivasi kerja yang dimilikinya. Karena kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan proses pendidikan atau proses belajar mengajar di sekolah tidak akan tercapai apabila guru sebagai pendidik di sekolah tidak mempunyai semangat kerja yang tinggi atau rendahnya motivasi kerja yang dimilikinya.


Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang diatur oleh sistem administrasi dan didalam sekolah tersebut terdapat kepala sekolah selaku pemimpin pendidikan dan sebagai motivator untuk dapat meningkatkan motivasi kerja guru-guru melalui kegiatan pemberian motivasi dengan mempergunakan cara-cara  tertentu. Keberhasilan pendidikan di sekolah sangat ditentukan oleh keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola tenaga kependidikan yang tersedia di sekolah. 

Dalam hal ini, peningkatan produktifitas dan prestasi kerja dapat dilakukan dengan meningkatkan prilaku tenaga kependidikan di sekolah. Seorang kepala sekolah yang baik apabila ia memiliki hubungan kepemimpinan yang baik, demikian pula halnya dengan guru yang baik apabila ia memiliki motivasi kerja yang tinggi. Hubungan kepala sekolah turut juga meningkatkan motivasi kerja guru.  Dalam buku teori-teori motivasi dan aflikasinya Sondang P. Siagian menjelaskan bahwa :

“Kunci keberhasilan seorang pemimpin dalam menggerakkan para guru atau bawahannya terletak pada kemampuannya untuk memahami faktor-faktor motivasi kerja sedemikian rupa sehingga menjadi daya pendorong yang efektif” (Siagian, 2004 : 139). Kebutuhan yang dimaksud di atas merupakan suatu petunjuk bagi kepala sekolah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan guru seefektif mungkin. Secara teoritik hubungan kepemimpnan kepala sekolah itu apabila dibina dan dilaksanakan dengan baik, maka motivasi kerja guru akan terpenuhi.

Atas dasar uraian di atas, penulis dapat temukan masalah-masalah sebagai berikut:

  1. Adanya kepala sekolah yang memiliki hubungan kepemimpinan yang baik, namun motivasi kerja guru yang dipimpinnya menunjukkan hasil yang kurang baik.
  2. Sebaliknya ada kepala sekolah yang memiliki hubungan kepemimpinan yang kurang baik, namun motivasi kerja guru yang dipimpinnya menunjukkan hasil yang baik.

Dengan adanya masalah-masalah seperti diatas inilah yang menarik perhatian untuk diteliti, yaitu mengenai hubungan kepemimpinan kepala sekolah dengan motivasi kerja guru di MA. NW Terara Lombok Timur.


B.  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mengemukakan adanya rumusan masalah penelitian ini  dengan :

  1. Bagaimana pola kepemimpinan Kepala MA. NW Terara Lombok Timur ?
  2. Apakah ada hubungan pola  kepemimpinan kepala sekolah dengan motivasi kerja guru di MA NW Terara Lombok Timur ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penulis dapat mengemukakan tujuan penelitian ini adalah :

  1. Ingin mengetahui pola kepemimpinan kepala sekolah MA NW Terara Lombok Timur.
  2. Ingin mengetahui pola  kepemimpinan kepala sekolah dengan motivasi kerja guru di MA. NW Terara Lombok Timur.


D. Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian ini dapat ditinjau dari dua segi, yaitu kegunaan teoritis dan kegunaan praktis.

1.    Kegunaan Teoretis

Informasi-informasi dan temuan-temuan yang diperoleh dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan khazanah ilmu pengetahuan dan input bagi semua pihak, pertama di bidang ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahan tentang kepemimpinan kepala sekolah.

2.    Kegunaan Praktis

Informasi-informasi dan temuan-temuan dalam penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pedoman oleh para kepala sekolah atau kepala madrasah dalam rangka meningkatkan motivasi kerja guru untuk melaksanakan misinya, yakni sebagai agen pelaksanaan pendidikan dan pengajaran.


E.  Hipotesis

Hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban yang bersifat sementara atas permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Arikunto, 2002: 64)

Berdasarkan pegertian diatas dapat dipahami bahwa hipotesis adalah anggapan sementara yang perlu dibuktikan kebenarannya melalui penelitian. Menurut jenisnya, hipotesis dapat dibedakan menjadi dua, yaitu hipotesis kerja atau disebut dengan hipotesis alternatif (Ha) dan hipotesis nol (Ho). Hipotesis alternatif (Ha) adalah hipotesis yang menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok, Sedangkan hipotesis nol (Ho) menyatakan tidak ada perbedaan antara variabel X terhadap variabel Y. (Arikunto, 2002 : 66)

Berdasarkan latar belakang dan tujuan penelitian, maka penulis dapat merumuskan hipotesis alternatif sebagai berikut: “Ada hubungan kepemimpinan kepala sekolah dengan motivasi kerja guru di MA. NW Terara  Lombok Timur”.


F.    Penegasan Istilah

1.    Hubungan

Hubungan yang dimaksud di atas adalah : “Keadaan yang berhubungan/bertalian atau dihubungkan.” (Poerwadarminta, 1982 : 362).

2.    Kepemimpinan

Kepemimpinan berarti kemampuan seseorang mempengaruhi prilaku orang lain untuk berfikir dan berprilaku dalam rangka perumusan dan pencapaian tujuan organisasi di dalam situasi tertentu.” (Wahjosumidjo, 1994 : 26). Sedangkan menurut (Siagian, 2004 : 5) kepemimpinan adalah : “Motor atau daya penggerak dari pada sumber-sumber dan alat-alat (resources) yang tersedia bagi suatu organisasi. Selanjutnya menurut (Dirawat,  1986 : 33) kepemimpinan adalah suatu kemampuan dan proses mempengaruhi, mengkoordinir, menggerkkan orang-orang lain yang ada hubungannya dengan pengembangan ilmu pendidikan dan ilmu pengajaran.”

Dari ketiga  pendapat tersebut di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kepemimpinan kepala Sekolah adalah : kemampuan seorang pemimpin pendidikan atau Kepala Sekolah untuk mempengaruhi prilaku bawahan agar supaya kegiatan-kegiatan yang dijalankan dapat lebih efisien dan efektif di dalam pencapaian tujuan-tujuan pendidikan dan pengajaran.

3.    Motivasi

Motivasi kerja adalah : “Dorongan kerja yang timbul pada diri seseorang untuk berprilaku dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.” (Wahjosumidjo, 1994 : 177). Sedangkan menurut (Usman, 2002 : 28) motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan. (Siagian, 2004 : 106) motivasi kerja adalah keseluruhan proses pemberian motivasi bekerja kepada para bawahan sedemikian rupa, sehingga mereka mau bekerja dengan ikhlas demi tercapainya tujuan organisasi dengan efisien dan ekonomis.

Berdasarkan uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa motivasi kerja adalah keseluruhan proses pemberian motif  atau dorongan kerja pada para bawahan terutama para guru sebagai agen pendidikan dan pengajaran, agar tujuan pendidikan dan pengajaran dapat tercapai sesuai dengan rencana apa yang diharapkan.



Untuk lebih lengkap SKRIPSI nya silahkan anda klik di bawah ini!!!
Download disini !!!

Artikel Menarik lainnya :