Dasar Politik Negara Madinah

Posted by Sanjaya Yasin 0 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

Dasar Politik Negara Madinah - Politik diartikan sebagai seni mengatur dan memerintah masyarakat. Agak sulit memisahkan Muhammad SAW dari kepemimpinan politik, sebab di samping sebagai seorang rasul beliau adalah kepala masyarakat politik muslim pertama dengan Madinah sebagai pusat pemerintahan. Muhammad SAW merupakan seorang pemimpin politik karena mempunyai kapasitas dalam mengatur dan mengelola masyarakat muslim yang dipusatkan di Madinah.

Dasar Politik Negara Madinah - Parasejarawan membagi periode awal Islam menjadi periode Makkah dan Madinah. Periode Makkah merupakan peletakan dasar-dasar agama tauhid dan pembentukan akhlak mulia. Periode Madinah menandai kemunculan Islam sebagai sebuah kekuatan sosial dan politik. Muhammad SAW tidak lagi hanya tampil sebagai seorang rasul yang menyerukan agama Islam tetapi sebagai pemimpin dari sebuah komunitas peradaban baru berpusat di Madinah. Dengan demikian pembentukan sebuah masyarakat Islami telah dimulai, sejak itu wahyu yang turun tidak lagi terbatas pada seputar ke-Esaan Tuhan tetapi mulai mencakup ajaran lainnya yang berhubungan dengan pengaturan kehidupan masyarakat.

Keunikan politik Muhammad SAW di zamannya yaitu kemampuannya menggabungkan kepemimpinan politik dan militer. Jadi selain sebagai kepala Negara beliau merupakan seorang jenderal yang menguasai taktik peperangan. Kemampuan ini sangat langka ditemukan di antara pemimpin-pemimpin besar dunia.

Pada waktu itu disekitar dunia Arab ada beberapa kerajaan seperti Romawi dan Persia. Sementara di tanah Arab sendiri terdapat beberapa penguasa kecil yang wilayahnya tidak terlalu besar. Kerajaan-kerajaan Romawi dan Persia tidak tertarik dengan semenanjung Arab yang tandus. Jazirah Arab pada waktu itu dijadikan sebagai daerah pemisah antara Romawi dan Persia. 
Masyarakat yang hidup di jazirah Arab terdiri dari berbagai suku-suku besar yang terbagi lagi ke beberapa suku-suku yang lebih kecil. Mereka hidup menurut aturan-aturan yang hanya mengikat terhadap anggota masing-masing. Meskipun demikian mereka memiliki adat kebiasaan yang disepakati bersama oleh semua suku. Dengan demikian mereka tidak terikat dengan hukum kerajaan sebagai mana masyarakat di Romawi dan Persia.

Dalam bersikap terhadap dua Negara besar Romawi dan Persia masing-masing suku memiliki kecenderungan yang berbeda. Namun dari segi politik dan administrasi pemerintahan mereka tetap merdeka. Di antara mereka ada yang memihak Romawi dan yang lain memihak Persia. Sebagai contoh, ketika Persia berhasil mengalahkan Romawi di wilayah Syria kaum musyrik Makkah bergembira karena mempunyai keterikatan emosional sebagai sesama kaum musyrik. 
Sebaliknya kaum Muslim lebih mengharapkan kemenangan Romawi karena Negara tersebut menganut agama Nasrani. Wahyupun turun merespon peristiwa ini sebagaimana tercatat dalam surah ar-Rum (30) ayat 1-5 Strategi politik Muhammad berbeda dengan pemimpin politik di masanya. Beliau tidak membangun kerajaan, melainkan sebuah Negara (state) dengan prinsip-prinsip baru yang berbeda dengan tradisi yang ada. Unsur Negara yang beliau fokuskan pertama kali adalah membentuk warga sebagai power-base.

Membentuk wilayah dalam periode Makkah tidak strategis dan sulit untuk dilakukan karena dominasi musyrikin yang begitu kuat. Beliau pernah bermaksud meminta suaka politik ke Thaif, tetapi menemui kegagalan karena penolakan penduduk di sana. Demi keselamatan warga (kaum muslim) dari tekanan kaum musyrik Quraisy, Muhammad SAW mengungsikan sejumlah sahabat ke negeri Habsyah (Etiopia) dua kali. 
Membentuk suatu system pemerintahan yang baru di Mekah juga tidak memungkinkan. Masyarakat Quraisy sangat keras memegang adat kebiasaan yang sudah diwarisi secara turun temurun. Administrasi pemerintahan baru diciptakan pada periode Madinah. Jadi periode Makkah adalah sebagai pembentukan masyarakat warga tanpa mempunyai wilayah (land) dan pemerintahan (administration). Ajaran-ajaran Islam yang diturunkan pada periode ini juga lebih banyak tentang pembentukan karakter masyarakat yang berkeadaban(civilized society).

Setelah melaksanakan dakwah selama 10 tahun kepada penduduk Makkah dan tidak mendapat respon positif yang signifikan, Muhammad SAW mulai berdakwah kepada para jemaah haji yang berziarah ke Ka’bah selama musim-musim haji. Di antara para jemaah haji tersebut berasal dari Yatsrib, suatu daerah sebelah utara Makkah.
Muhammad SAW telah cukup membentuk keimanan dan mental yang tangguh di antara pengikutnya. Hal ini perlu dilanjutkan dengan membentuk sebuah komunitas yang Islami dengan tatanan sosial yang lebih baik. Oleh karena itu masyarakat Muslim awal itu memerlukan suatu daerah yang mampu memberikan perlindungan bagi mereka sekaligus tempat untuk membentuk kawasan percontohan komunitas Muslim yang ideal.

Diceritakan, pada suatu musim haji, Muhammad SAW berdakwah kepada jemaah dari Yatsrib dan disambut dengan positif. Mereka berjanji akan datang lagi di musim haji berikutnya dan meminta Muhammad SAW mengirimklan salah seorang sahabatnya untuk mengajarkan Islam kepada penduduk Yatsrib. Muhammad SAW mengutus Mus’ab bin Umair sebagai duta Islam pertama dan ia cukup berhasil dalam menjalankan misinya. Pada tahun berikutnya penduduk Yatsrib datang dengan jumlah yang lebih banyak dan mengikrarkan janji setia kepada Muhammad SAW dan memintanya untuk pindah ke Yatsrib. 
Mereka bersedia membela Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya dengan jiwa dan harta mereka.Setelah mendapat izin dari Allah SWT, Muhammad SAW hijrah ke Yatsrib yang kemudian berganti nama menjadi Al-Madinah Al-Munawwarah (kota yang bercahaya). (Mubarok, Jaih, 2004: 29)Pergantian nama dari Yatsrib menjadi Madinah merupakan suatu keputusan politik yang tepat. Secara bahasa Madinah mempunyai akar kata dengan tamaddun (peradaban). Dengan demikian Madinah dapat diartikan sebagai sebuah tempat peradaban yang lazim diterjemahkan dengan kota. Penggunaan nama Madinah mengisyaratkan adanya visi politik menjadikan daerah tersebut sebagai salah satu pusat peradaban manusia yang baru.

Dengan demikian berakhirlah periode Makkah dan dimulailah periode Madinah. Dalam periode Makkah yang ditekankan adalah pembentukan karakter warga Negara yang akan didirikan. Sementara periode Madinah adalah peletakkan fondasi administrasi pemerintahan dan hal-hal kenegaraan lainnya, Hijrah bukan hanya bermakna menghindar dari siksaan, fitnah dan cacian belaka, namun juga merupakan suatu strategi untuk mendirikan masyarakat baru di dalam negeri yang aman. Peristiwa hijrah ini tercatat sebagai lembaran terpenting dalam peradaban Islam pada zaman nabi di Madinah, Nabi membuat perjanjian di antara suku-suku yang ada di Madinah dan menghasilkan konstitusi tertulis pertama dalam sejarah umat manusia yaitu piagam Madinah (The charter of Medina). 
Berdasarkan pasal pertama konstitusi tersebut, Nabi membentuk Ummah yang disepakati oleh empat macam komunitas : Yahudi, Nasrani, Anshor dan Muhajir yakni Negara persemakmuran. Masyarakat yang ditemui Rasulullah SAW di Madinah ada tiga golongan. Golongan-golongan tersebut adalah para shahabat, kaum Musyrik, dan orang-orang Yahudi. Setiap golongan memiliki kondisi yang berbeda dengan golongan lain. Beliau menghadapi berbagai masalah dari setiap golongan, dan masalah yang beliau hadapi dari setiap golongan tersebut tidak sama. 
Kaum Muslim sendiri terdiri dari dua golongan. Pertama, golongan Anshar, yaitu mereka yang berada di dalam negeri mereka sendiri bersama harta mereka. Mereka tidak memerlukan selain rasa aman setelah sejak lama terlibat konflik sesama mereka. Kedua, golongan Muhajirin, yang datang ke Madinah tanpa memiliki apa-apa. Mereka tidak memiliki tempat tinggal untuk berlindung, dan tidak memiliki pekerjaan untuk menyambung hidup. Jumlah mereka tidak sedikit, setiap hari terus bertambah sebab setiap orang yang beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya diizinkan untuk berhijrah dan menetap di Madinah.

Pada waktu itu Madinah bukanlah negeri yang kaya. Pertambahan jumlah penduduk yang mendadak sedikit banyaknya mengguncang perekonomian Madinah. Dalam kondisi yang kritis tersebut, berbagai kekuatan yang memusuhi Islam melakukan semacam embargo ekonomi sehingga persediaan (supply) barang berkurang dan keadaan pun semakin gawat. Dalam keadaan demikian, setidaknya ada dua hal yang dilakukan oleh Muhammad SAW sebagai pemimpin. 
Pertama, mengirimkan ekspedisi-ekspedisi kaum Muslim Muhajirin untuk menghadang dan menakut-nakuti kafilah dagang Makkah. 
Kedua, membuat kebijakan politik ekonomi yang berisikan aturan-aturan tentang perekonomian.Kemunculan komunitas Madinah berlangsung dalam beberapa tahap. Tahap pertama adalah konsolidasi internal umat dan komunitas Madinah. Tahap ini dimulai dengan usaha mempersatukan umat Islam yang terdiri atas berbagai suku, bani, dan kelompok yang berbeda-beda. Juga mengupayakan pengaturan hubungan antara kelompok Muslim dan Non-Muslim khususnya Yahudi, melalui penyusunan dan penandatanganan Piagam Madinah(IH/622M).

Dalam piagam Madinah setiap kelompok menyepakati 5 perjanjian : 
  1. Tiap kelompok dijamin kebebasan dalam beragama
  2. Tiap kelompok berhak menghukum anggota kelompoknya yang bersalah
  3. Tiap kelompok harus saling membantu dalam mempertahankan Madinah baik yang muslim maupun yang non muslim
  4. Penduduk Madinah semuanya sepakat mengangkat Muhammad SAW sebagai pemimpinnya dan memberi keputusan hukum segala perkara yang dihadapkan kepadanya
  5. Meletakkan landasan berpolitik, ekonomi dan kemasyarakatan bagi negeri Madinah yang baru dibentuk. Sementara perekonomian Madinah dikuasai oleh orang Yahudi yang terkenal mahir dalam melakukan aktivitas perekonomian. Kebijakan tersebut di antaranya melarang riba, gharar, ihtikar, tadlis dan market inefficiency. Dasar berpolitik negeri Madinah adalah prinsip keadilan yang harus dijalankan kepada setiap penduduk tanpa pandang bulu. Dalam perinsip keadilan diakui adanya kesamaan derajat antara manusia yang satu dengan manusia yang lain, yang membedakan di antara mereka hanyalah taqwa kepada Allah. Yang lain adalah prinsip musyawarah untuk memecahkan segala persoalan dengan dalil al-Qur’an “ Dan bermusyawarahlah di antara mereka dalam suatu urusan”(Q.S. al-Syura,42:38) - Dasar Politik Negara Madinah


Artikel Menarik lainnya :