Sunnah dan Upaya Untuk Menetapkannya Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Posted by Sanjaya Yasin 4 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

SUNNAH DAN UPAYA UNTUK MENERAPKANNYA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Alquran dan As-Sunah, dua sejoli yang tak terpisahkan sebagai syariat umat islam. Namun kezhaliman serta fitnah yang melanda umat ini, telah menjadikan sunnah dianaktirikan, bahkan tidak sedikit yang telah ditinggalkan. Penolakan terhadap sunnah telah merayap merajalela. Walaupun tidak terang-terangan diucapkan. Namun prilaku, perbuatan, istiadat, kecintaan, kesukaan dan berbagai tabiat lainnya pada umat ini, jelas-jelas telah menunjukkan pergeseran sunnah yang sangat besar dalam pola hidup umat islam.

Sehingga jika ditanyakan; mana prilaku sunnah, perbuatan sunnah, istiadat sunnah, kebiasaan sunnah, kecintaan kepada sunnah, kesukaan terhadap sunnah dalam kehidupan kita ? Niscaya mulut akan terbungkam, dan berbagai dalih akan diucapkan untuk menutupi perasaan kita yang sudah hambar terhadap sunnah. Marilah kita saling mengingatkan bahwa betapa penting sunnah dalam kehidupan muslim. Dan betapa berbahaya bila kita tidak mengindahkannya. Mari berbenah memperbaiki diri, agar mahkota yang mulia ini kembali menghiasi kehidupan kita, dan untuk itu, perlu kita kerja keras dan usaha serius, setidaknya mulai dari diri kita untuk menerapkan sunnah menjadi pakaian keseharian kita dan menyampaikan kepentingannya kepada setiap manusia.

Ibnu Nuzaim berkata di dalam Al-bahrur Raa’aq Syarah Kansud Daqaa’iq, “Menurut istilah, sunnah adalah jalan yang dilalui di dalam agama.” Di dalam Al-Inayah disebutkan, “Di dalamnya terdapat pertimbangan demi kesempurnaan kewajiban” perincian mengenainya, menyusun kitab Ushul Al-Bazdawi berkata, “Sunnah itu ada dua macam:

  1. Sunnatul Huda (Sunnah Petunjuk) dan bagi orang yang meninggalkannya berhak untuk dicela dan dibenci.
  2. Sunnatuz Zawa’id (Sunnah Tambahan) bagi orang meninggalkanya tidak harus dicela. Adapun An-Nafilah akan diberi pahala orang yang melakukannya dan tidak diberi pahala orang yang melakukannya dan tidak diberi sangsi orang yang meninggalkanya.”

Dan inilah yang menjadi pegangan Mazhab Hanafi. Sedangkan menurut Imam Syafi’I r.a. “Sunnah Rasulullah saw. Itu terbagi menjadi tiga bagian:”

  1. Sesuatu yang telah diturunkan oleh Allah swt dengan jelas di dalam Al-qur’an, kemudian Rasulullah saw, melakukannya dengan menurut nash Al-qur’an.
  2. Sesuatu yang telah diturunkan oleh Allah swt dan didalam Al-qur’an dengan ijmal, kemudian Rasulullah saw, menjelaskan arti yang dikendalikannya bahwa pecinta itu boleh dibuat manusia.
  3. Sesuatu yang dilakukan oleh Rasulullah saw, yang padanya tidak ada nash dari Al-qur’an.

Bagian yang pertama dan yang kedua tidak lagi diperselisihkan oleh ulama karena keduanya berdasarkan nash dari Kitabullah. Sedangkan bagian yang ketiga masih diperselisihkan oleh Alim Ulama, yaitu: sebagian berpendapat bahwa apa yang telah dijelaskan oleh Nabi saw itu sudah menurut righa Allah swt sekalipun tiada nashnya di dalam Al-qur’an. 

Sebagian lagi berpendapat bahwa Rasulullah saw, tidak akan melakukan suatu sunnah itu ada asasnya di dalam Al-qur’an. Sebagian yang lain juga berpendapat bahwa Sunnah Rasulullah saw, itu datang dengan risalah (suruhan) Allah swt, kemudian risalah itu menetapkan sunnahnya dengan pimpinan Allah swt. Sebagian lagi menyatakan bahwa Allah swt telah menyampaikan ke dalam hati Nabi saw, segala sesuatu yang dilakukannya.

Para Ulama sejak masa Rasulullah saw, telah menggunakan lafazh ‘sunnah’ lebih khusus dibandingkan penggunaanya secara bahasa. Mereka tidak menggunakan arti bahasa seperti yang digunakan oleh orang Arab pada umumnya, melainkan pengertian As-Sunnah mereka khususkan pada jalan dan prilaku Rasulullah saw, karena beliau sebagai Rasul Allah swt, mustahil berprilaku tercela, sebab beliau senantiasa dibimbing dan dijaga oleh Allah swt.

Berhubungan dengan itu, kata Sunnah yang diartikan dengan ‘aqwal’ (perkataan), ‘af’al’ (perbuatan), dan ‘taqrir’ (pengakuan), tidak pernah dikenal oleh seorang pun pada masa Rasulullah saw, atau pada kurun pertama para sahabat r.a. Pengenalan dan penggunaan arti aqwal, af’al, dan taqrir untuk kata sunnah, dimulai sejak masa pembukaan hadist.

Pada umumnya, nash-nash yang mengandung kata ‘As-Sunah’, menunjukkan bahwa As-Sunnah adalah jalanan yang terpuji, cara hidup yang diridhai yang dibawah oleh Nabi saw secara umum.

Dari segi derajat kepentingannya, As-Sunnah memiliki peranan yang sangat penting dan seimbang bersama Al-qur’an.
Allah swt Berfirman:

Hai orang-orang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul”. (Surat An-Nisaa : 59).


Rasulullah saw. Bersabda,

Telah kutinggalkan bagi kalian dua perkara . Selama kalian berpegang kepada keduannya, kalian tidak akan tersesat; kitabullah dan sunnah Rasulullah dan sunnah Rasul-Nya.” (Abu Dawud).


Jika As-Sunnah dipandang berkedudukan kedua setelah Al-qur’an, hal itu dengan beberapa alasan, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam Sayuthi r.a. dan Imam Qasimi r.a. Bahwa;

  • Al-qur’an bersifat Qath’I wurud, sedang As-Sunnah bersifat Zhani Wurud.
  • As-Sunnah berfungsi menjabarkan Al-qur’an sehingga kedudukan yang menjabarkan dibawah yang dijabarkan.
  • Al-qur’an berawal dari wahyu sang Pencipta sedangkan As-Sunnah berasal dari As-Sunnah berasal dari Utusan-Nya.

Namun, kesalahan fatal umat ini adalah meletakkan sunnah pada derajat yang rendah, bahkan sangat rendah, sehingga sunnah mudah ditinggalkan dipandang sebelah mata oleh sebagian umat ini. Padahal kepentingan Sunnah dalam kehidupan seorang muslim, sangat menentukan bagi kebahagiaan dan kesuksesannya, baik di dunia maupun di akhiratnya.

Garis-garis syariat yang telah diterapkan oleh para ahli ushul telah disalah fahami oleh umat ini, sebagai kemudahan untuk meninggalkan sunnah atau menomor duakannya setelah kewajiban. Dan lebih jauh dari itu, disebabkan oleh ketidak tahuannilai As-Sunnah yang sebenarnya, tidak sedikit diantara kita yang terang-terangan menolak jalan hidup sunnah lalu membabi buta dalam mengikuti jalan hidup yang sangat bertentangan dengan sunnah.

Selanjutnya tidak sedikit masyarakat awam yang berpendapat bahwa agama (secara umum) dan As-Sunnah (secara khusus) hanya berlaku dalam urusan Ta’abbudiyah (ibadah) saja. Sedangkan urusan duniawi dan syahwat mereka berkiblat kepada kebebasan dan tidak perlu diatur dalam garis-garis syariat.

Al-qur’an dan As-Sunnah adalah dua pusaka kunci kebahagiaan setiap muslim. Imam Al-Ghazali r.a. menyatakan , “Ketahuilah, bahwa kunci kebahagiaan” adalah dalam ber-Ittiba’ (mengikuti sunnah) dan ber-Iqtida (mengambil contoh) kepada Rasullullah saw. Dalam seluruh tindakannya, perilakunya, gerakannya dan diamnya hingga dalam maknanya, berdirinya, tidurnya, dan pembicaraannya. 

Aku tidak katakan ini dalam masalah ibadah semata, karena tiada alasan untuk menyepelekan sunnah-sunnah yang ada pada selain ibadah bahkan dalam seluruh kebiasaan. Oleh sebab itu, ikutilah beliau secara mutlak, sebagaimana Allah Berfirman:

Katakanlah, jika kamu benar-benar mencintai Allah swt, ikutilah aku, niscaya Allah swt mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. (Ali Imran : 31).

Dan firman-Nya,
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah” (Al-Hasyi : 7).

Dengan demikian, apakah setelah keterangan tersebut, masih pantas bagi seorang mukmin yang berakal sehat untuk menyepelekan dalam menjalankan sunnah, lalu berkata, “Ini hanyalah masalah adat dan budaya, sehingga tidak perlu ber-Ittiba’ kepada sunnah?”

Sesungguhnya yang demikian itu akan membuat dirinya terkunci dari pintu besar diantara pintu-pintu kebahagiaan.

Qadhi ‘Iyadh r.a. Menegaskan didalam Asy-syifa, “Ini (As-Sunnah) adalah jalan hidup orang-orang shaleh terdahulu, hingga dalam urusan yang mubah serta syahwat. ” Ibnu Qayyim r.a. berkata , “Ketika semakin banyak orang yang mengakui mencintai, mereka dituntut untuk membuktikan kebenaran pengakuan tersebut”. Oleh sebab itu dikatakan, “Tidak diterima pengakuan ini, kecuali dengan bukti.” 

Dalam hal ini kecintaan terhadap Dienul Islam, sangat dituntut untuk menerapkanya dalam kehidupan sehari-hari. Dzunnun Al-Mishri r.a. Berkata , “Termasuk tanda bagi seseorang yang mencintai Allah Azza Wa Jalla adalah, ia mengikuti kekasih-Nya (Rasulullah saw), dalam hal ahlak, perilaku dan perintah-perintah serta sunnah-sunnahnya.” (Al-Qusyairiyah).

Hasan Bashri r.a. berkata, “Tanda ketaatan mereka kepada sunnah Rasulullah saw.”
Ajaran Sunnah, sudah jelas tidak dapat disamakan dengan ajaran lainnya.

Allah Berfirman:

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantaramu seperti panggilanmu kepada sebagian yang lain.” (An-Nuur : 63).

Ibnu Qayyim r.a. berkata, “Orang yang paling sempurna hidupnya adalah yang paling sempurna menunaikan ajakan Rasulullah saw.” 

Setiap ajakan beliau mengandung unsur kehidupan. Barang siapa terluput salah satu bagian dari sunnah, maka ia terluput satu bagian dari kehidupan. Kehidupan itu bergantung sejauh mana seseorang memenuhi panggilan Rasulullah saw. (Tafsir Al-Qayyim : 288).

Allah berfirman :

Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya

Imam Syafi’I r.a. memandang bahwa beriringan antara perintah beriman kepada Rasulullah saw. Dengan beriman kepada Allah swt sebagai satu cara dari berbagai cara dialalah yang menunjukkan wajib taat dan mengikuti Rasul. Beliau berkata, Allah swt menempatkan dan menundukkan Rasul-Nya dari agama, kewajiban dan Kitab-Nya sebagai pembimbing dalam Agama-Nya dengan menggandengkan perintah iman kepada Rasul-Nya dengan iman kepada-Nya. (Ar-Rishalah : 73-75).

Kemudian beliau berkata, bahwa Allah swt Berfirman :

Sesungguhnya orang mukmin yang sebenarnya ialah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. (An-Nur : 62)”.

Jadi beliau menetapkan bahwa kesempurnaan iman seseorang itu bergantung pada bagaimana keimanannya kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Seandainya seseorang beriman kepada Allah swt, tetapi tidak beriman kepada Rasul-Nya, maka sesungguhnya keimanannya itu tidak dapat dikatakan sempurna untuk selama-lamanya. 

Allah Berfirman:

Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul, melainkan untuk ditaati dengan seijin Allah,” (An-Nissa’ : 64).

Allah swt menjelaskan melalui ayat ini, bahwa tujuan terpenting dari risalah para Rasul adalah agar ajaran mereka diikuti, karena Allah swt telah mengaruniai mereka dengan berbagai ilmu dan hikmah. Oleh sebab itu, barang siapa berpaling darinya dan tidak mau mentaatinya atau menolak ajarannya, berarti ia telah mendurhakai aturan Allah swt. Apabila taatnya para Nabi itu wajib dan sebagai sunnah Ilahiyyah, maka taat kepada Rasulullah saw, sangat wajib, karena Allah saw menjadikan syariat beliau sebagai syariat yang rahmatal lil’alamin sekaligus risalah yang terakhir.

Rasulullah saw, bersabda, “Sesungguhnya aku diberi Al-qur’an dan yang menyamainya,” (Abu Dawud, Ahmad, Tarmidzi).

Yang semisal Al-qur’an dan sederajat untuk diamalkan oleh seseorang muslim adalah sunnah. Beliau saw, bersabda “Sesungguhnya apa-apa yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang Allah swt wahyukan kepadaku.” (Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Ibnu Hajar r.a. ketika mendifinisikan wahyu menurut syariat di dalam surah An-Najam 3-4 :

Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut bahwa nafsuhnya. Ucapannya tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. Beliau berkata, “Wahyu adalah pemberitahuan mengenai syariat”. Lalu beliau berkata, “Sekalipun yang dimaksud dengan wahyu itu adalah Al-Muha, yaitu Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi saw, tetapi masih tercakup dengan definisi itu,” (Fathul Bari : 1/5).

Dari Amr bin Abi Amr r.a., Rasulullah saw. Bersabda, “Tidaklah kutinggalkan sesuatu yang Allah swt perintahkan kepadamu, kecuali telah kuperintahkan pula hal itu kepadamu dan tidaklah kutinggalkan sesuatu yang Allah swt larang, kecuali akupun telah melarangnya

Rasulullah saw. Bersabda, “Demi Dzat yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya, tidaklah keluar dari-Nya kecuali yang hak.” (Darimi, Hakim).

Al-Khadhari r.a. berkata dalam Ushul Fiqih, bahwa sunnah Rasulullah saw diwajibkan mengikutinya berdasarkan perintah Al-qur’an.

Qadhi ‘Iyadh r.a. berkata, “Landasan pokok Madzhab kami ada tiga”

1. Mengikuti jejak Nabi saw, dalam akhlak
2. Makanan dari makanan yang halal
3. Ikhlas dalam semua perkara (Asy-Syifa : II/558).

Jadi, Rasulullah saw, telah membuat sunnah yang sesuai dengan nash Kitabullah dan yang tidak terdapat nash dalam Kitabullah. Dan semua yang rasulullah saw sunnahkan, Allah swt wajibkan kita untuk mentaatinya. Dan Allah swt menyatakan bahwa mentaati Rasul berarti mentaati Allah, tanpa ada pengecualian bagi siapapun. Dan tiada jalan lain bagi seseorangpun, melainkan ia harusa tunduk terhadap sunnah-sunnah Rasulullah saw.

Oleh karena itu, para ulama shaleh terdahulu menentukan standar bagi orang dapat diambil ilmunya adalah dengan seberapa kuat ia berpegang pada sunnah.


Artikel Menarik lainnya :