Review Tarikh Tasry' Islam

Posted by Sanjaya Yasin 0 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

EVIEW  TARIKH TASRY’ ISLAM


A. Pengertian Tarikh Tasry’ Islam


    Setelah menelusuri berbagai referensi dan mereview ulang kembali tentang Tarikh Tasry Islam penulis dapat mengetahui bahwa Secara etimologis, tarikh tasry’ dalam bahasa arab berarti buku tahunan, perhitugan tahun, buku riwayat, atau sejarah.  Dalam bahasa inggris, tarikh diterjenahkan history, yang berarti pengalaman lama lampau umat manusia, the past experience of mankind. pengertia selanjutnya, tarikh bermakna sejarah sebagai cacatan yang berhubugan dengan peristiwa-peristiwa masa lampau yang diabadikan dalam laporan tertulois dan dalam ruang lingkup yang luas.




    Dengan demikian, tarikh merupakan pembahasan segala aktivitas manusia yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa tertentu pada masa lampau yang disusun secara sistematis (sistematik) dan kronologis.


    Tasry’, secara etimoilogis, berarti pembuatan undang-undang atau peraturan-peraturan (taqnin). Secara terminologis, tasry’ adalah penetapan peraturan, penjelasa hukum-hukum, dan penyusunanperundang-undangan.menurut batasan ini, tasry’ merupakan produk ijtihad manusia dalam proses pembentukan perundang-undangan ( fikh).


    Menurut batasan di atas, tampak  bahwa tarikh tasry’ Islam merupakan pembahasan tantang segala aktivitas manusia dalam pembentukan perundang-undangan Islam di masa lampau, baik masa nabi, para sahabat maupun tabi’in (para mijtahid) sampai sekarang, secara sistematis dan kronologis.


B.    Ruang lingkup pembahasan tarikh tasry’ Islam


Adapun ruang lingkup pembahasan dari tarikh Tasry’ Islam tersebut adalah sebagai berikut :


1.    Sumber Tasryi Islam

    Secara garis besar, sumber tasry’ Islam terbagi atas dua bagian, yairu tasry’ yang bersunber dari Allah (al-tasry’ al- ilahiy) dan tasry’ yang bersunber dari manusia (al-tasry’ al-wadh’iy). Tasr’ petama meupakan peaturan yang ditetapkan oleh Allah berupa ayat-ayat al-quran dan alsunnah sedangkan tasry’ kedua merupakan peraturan-peraturan yang   di tetapkan oleh paa mujtahid, bauk mujtahid sahabat atau mujtahid tabi’in maupun pengikut tabi’in selanjutnya, dengan cara meng-istinbath daru tasry’ ilahi. Dalam al- madkhal ila al- Islamiy, kamil musa mngatakan bahwa sumber tasry’ tidak terbatas pada al-qur’an dan al-sunnah; tetapi mencangkup pemikiran, gagasa, dan ijtihad ulama dalam kurun aktu tetentu.


    Sumber tasry’ ke dua ( produk ijtihad) ini dibagi lagi menjadi ibadah dan muamalah. Ibadah adalah tasry’ Islam yang membahas hubungan taetang manisia secara vertikal dengan Allah, sedangkan muamalah adalah tasry’ Islam yang membahas hubungan manusia secara horizontal dengan manusia lainnya.


2.    Prinsip-Prinsip Tasry’ Islam


a)    Menegakkan Maslahat

     secar umum maslahat di bagi tiga: maslahat muktawarah, maslahat mulghah dan muslahat mursalah. Muslahat muktabarah dapat di kelasifikasikan mejadi tiga tingkatan: daruriah, hajiah, dan tahsiniah.

Maslahat tahsiniau adalah sesuatu yang mengandung manfaat bagi manusia, tatepi tidak tegolong pokok. Nas;ahat mulghah adalah suatu perbuatau yang di dalamnya, tarkandung manfaat, teta[pi da;lam syara tidak di tetapkan secara pasti. Maslahat mursalah adalah sesuatu yan bermanffat teta[i tidak di peintahkan Allah dsan rasul ya.


b)    Menegak kan keadilan ( tahkik al- adalah)
c)    Tidak menyulitkan ( adam al- haraj)


    Meringkan hukun itu bisa dengan beberapa cara yaitu sebagai berikut:

   1. Pengguguran lewajiban
   2. Pengurangan kadar yang telah di tentukan
   3. Penukaran
   4. Mendahulukan
   5. Menangguhkan
   6. Perubahan


d)    Menyedikitkan beban (taqlil al- taklif).


    Secara etimologis, taklif berarti beban. Secara terminologis taklif adalah tuntutan Allah untuk berbuat sehingga di pandang taat, dan tuntutan untuk menjauhi cegahan Allah.


e)    Berangsur-angsur( al-tadrij)


3.    Periodesasi (perkembangan)  tasry’ Islam

     Dalam tulisan ini periodesasi tasry’ Islam menukuti periodesasi yang di kemukakan al-sayis.


C.    Tasry’ Islam pada Masa Rasulullah 


1.    Sumber Tasry’ Pada Masa Rasulullah


a)    Al-qur’an

    Hukun yang terkandung di dalam al-quan di bedakan menjadi dua: hukum ibadah dan hukum muamalah.hukum ibadah mencangkup shalat,puasa ,zakat ,haji dam nazar. Sedangkan hukum muamalah terdiri atas hukum keluarga, hukum kebendaan, hukum jinayah, lembaga pewradilan, perundanf-undangan,hukum negaradan hukum ekonomi.


b)    Al- Sunnah

Al-sunnah dari segi bentuk di bagi menjadi tiga bagian: sunnah Qauliyah,takliyah dan Fik’liyah.

Allah swt sebagai berikut :



Artinya : “ Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur`an yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur`an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah jika kamu memang orang-orang benar (QS. Al-Baqarah : 23 )

Sedangkan dalam Al-Sunnah sebagai sumber hukum Islam setelah al-Qur`an diterangkan dalam firman Allah sebagai berikut:



Artinya : “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah ( al-Qur`an ) dan Rasul ( al-Sunnah ) (Q.S.Al-Nisaa : 59`)”


 Kedua sumber tersebut, al-Qur`an dan al-Sunnah  dijadikan tolok ukur kebenaran dalam menjawab persoalan-persoalan zaman dari masa ke masa. Pada era kelahiran Islam, yakni di masa Rasulullah, segala persoalan-persoalan yang muncul di dalam tatanan masyarakat pada waktu itu dapat diselesaikan dengan  turunnya wahyu dari Allah atau langsung dipecahkan oleh Rasulullah saw sendiri sehingga perbedaan pendapat dikalangan sahabat dapat diminimalisasi meskipun hal semacam itu tetap ada.


D.    Ijtihad pada masa Rasulullah


Diantara contoh ijtihad saahabat adalah peristiwa ketika para sahabat berkunjung ke bani Quraizah. Dalam satu kesempatan nabi mengatakan di hadapan mereka bahwa jangan melakukan salat ashar kecuali di bani Quraizhah”.


E.    Tasryk Pada masa Sahabat Generasi Pertama (Khulafa Rasyidin)


1.    Pengaruh fatwa terhadap perkembangan Hukum


Setelah membaca beberapa buku literatur yang membicarakan tentang Tasryik Islam berbagai informasi terdaftar bahwa terkait dengan peperangan seperti salah satunya akibat buruk Perang Rinddah harus ditelan oleh kaum Muslimin dengan kehilangan beberapa hufazh (penghafal al-Qur’an).

Selain berkenaan dengan al-Qur’an persoalan yang dihadapi saat itu, juga berkaitan dengan al-Sunnah. Tetapi al-Sunnah tanpa bermaksud mengubahnya karena lupa atau keliru dalam menerima dan menyampaikannya.


2.    Perbedaan pendapat di kalangan sahabat


Perbedaan pendapat memang sudah ada sejak zaman sahabat Nabi Saw. Sahabat berbeda pendapat dalam menyelesaikan suatu kasus karena mereka tidak terjaga dari kekeliruan. Seperti salah satunya ali dan Ibn Abbas berpendapat bahwa Iddah yang berlaku bagi wanita yang ditinggal wafat oleh suaminya dalam keadaan hamil adalah iddah yang terpanjang di atnara dua iddah tersebut.


Jadi diantara sebab perbedaan pendapat di kalangan sahabat yang berhubungan langsung dengan al-Qur’an adalah watak bahasa Arab yang mengandung makna ganda. Penyebab kedua seperti dikarenakan ada dua ketentuan yang disebabkan oleh dua sebab yang berbeda, tetapi tidak diantisipasi kemungkinan bergabungnya dua sebab tersebut.


Adapun sebab lainnya karena sahabat berbeda pendapat disebabkan oileh penggunaan ra’y. Misalnya seperti perbedaan pendapat antara Umar dan Ali tentang perempuan yang menikah dalam waktu tunggu (iddah). Menurut Umar wanita yang menikah dalam waktu tunggu, apabila belum dukhul (bersetubuh), harus dipisahkan ia harus menyelesaikan waktu tunggunya.


3.    Perkembangan Fatwa Sahabat


Dalam sejarah tasry yang telah penulis baca dijelaskan bahwa ada sahabat ang dikenal sebagai multi atau mujtahid, seperti zaid bin Tsabit, ibnu Abbas, Ibnu Amas’ud danm lainnya. Beberapa penulis temukan tentang khalifan pertama dalam melakukan ijtihad seperti:

   1. Berhubungan dengan harta peninggalan Nabi Muhammad.
   2. Berkenaan dengan seorang nenek yang datang kepada Abu Bakar dan bertanya tentang kadar bagian yang dapat diterimanya dalam salah satu pembagian warisan.


Sedangkan beberapa ijtihadnya Umar antara lain seperti melaksanakan ibadah ramadhan terutama salat tarawih, di mesjid sendirian (mufarid). Umar mengumpulkan mereka kemudian umat Islam yang ada di mesjid diperintahkan untuk salat tarawih berjamaah di pimpin oleh seorang imam.

Sedangkan khalifah-khalifah yang lain juga  mempunyai masing-masing bentuk ijtihad yang berbeda-beda.


F.    Tasyri’ Pada Masa Sahabat Generasi Kedua (Bani Ummayah, 661 – 750 M)


1.    Keadaan sosial Masyarakat Islam


Keadaan sosial masyarakat Islam menurut beberapa referensi yang telah penulis temukan seperti :

    * Sistem pemerintahan


Sistem pemerintahan yang dikenal pasa waktu Ali bin Abi Thalib adalah berbentuk atrbitrasi (tahkim). Sebagai bentuk gencatan senjata ketika berlangsung perseteruan antara keduanya, tidak disetujui oleh sebagian pendukung Ali karena dipandang telah melanggar undang-undang Tuhan.


    * Perluasan atau Ekspansi Wilayah Islam


Ekspansi dunia Islam sudah dilakukan sejak masa khalifah. Langkah awal yang dilakukan Muawiyah dalam menjalankan pemerintahannya yaitu memindahkan pusat pemerintahan dari Madinah ke Damaskus.

Sedangkan padamasa Abu Bakar dan Utsman, sahabat dilarang keluar dari Madinah agar tidak menyebarkan hadis secara sembarangan dan dapat bermusyawarah bersama-sama dalam menghadapi persoalan-persoalan humum yang penting. pada masa Utsman sahabat diperbolehkan keluar dari Madinah. Karena itu Utsman mendapat kesulitan dalam mengumpulkan mereka untuk menyelesaikan persoalan-persoalan penting. setelah itu sahabat tersebar mendapat kesulitan dalam mengumpulkan mereka untuk menyelesaikan persoalan-persoalan penting.


    * Perbedaan Penggunaan Ra’y


Pada masa tabi’in ini para ulama dibedakan menjadi dua aliran, yaitu Ahl-Al-Hadits (madrasah Al-Madinah) dan Ahl al-Ra’y (Madrasah Al-Kuffah). Ahl Hadits adalah golongan yang banyak menggunakan riwayat dan sangat berhati-hati dalam penggunaan ra’y. Aliran ini dipelopori oleh Sa’id bin Al-Mussayyab.


2.    Sumber Tasry’ pada Masa Ini


Secara umum tabi’in mengikuti langkah-langkah penetapan dan penerapan hukum yang telah dilakukan sahabat dalam mengeluarkan hukum. Langkah-langkah yang mereka lakukan di antaranya mencari ketentuaanya dalam al-Qur’an. Apabila ketentuan baik itu tidak ada dalam al-Qur’an, mereka mencarinya dalam al-Sunnah. Apabila tidak ditetapkan dalam al-Qur’an dan  al-Sunnah, mereka kembali kepada pendapat sahabat. Apabila pendapat sahabat tidak diperoleh, mereka berijtihad.

dengan demikian penulis dapat memahami bahwa sumber hukum pada masa tabi’in adalah al-Qur’an, al-Sunnah, ijma dan ijtihad.


3.    Ijtihad Pada Masa Ini


1)    Pemikiran hukum Islam Khawarij

    * Pemikiran Jumhur (Sunni) di antaranya bahwa kepentingan mesti di pegang oleh Quraisy.
    * Dalam al-Qur’an terdapat sangsi bagi pelaku zina, yaitu dengan dicambuk seratus kali.
    * Dalam al-Qur’an terdapat perincian tentang perempuan kyang haram dinikahi, diantaranya anak perempuan.
    * Khawarij pada umumnya berpendapat bahwa menikah dengan perempuan yang tidak boleh termasuk sekte khawarij tidak sah, sebab mereka dianggap kafir.
    * Ketika terjadi peperangan antara kelompok Khawarij dan umat Islam yang bukan Khawarij, yang boleh dijadikan ghanimah, menurut ibadah, hanyalah senjata dan kuda.


2)    Pemikiran Hukum Islam Syiah


Syi’ah sebagaimana dikemukakan amin, hanya menerima hadist dan pendapat dari imam Syi’ah dan ulama Syiah. Ada beberapa pendapat kelompok syiah tentang hukum Islam. Misalnya tentang nikah Mut’ah. Nikah mut’ah tidak menjadi sebab saling mewarisi antara suami dan istri dan tidak memerlukan talak, sebab perkawinan berakhir ketika waktu yang telah ditentukan berakhir.


Dalam al-Qur’an juga penulis mencoba untuk menelusurinya telah ditetapkan bahwa lelaki Muslim dibolehkan menikah dengan perempuan Ahl Al-Kitab. Sedangkan menurut kaum Syi’ah, lelaki muslim tidak boleh melakukan nikah dengan perempuan Nasrani, karena surat Al-Maidah ayat 5 teah di nasakh surat al-Mumtahanah ayat sepuluh


3)    Pemikiran Hukum Islam Jumhur

Ada beberapa pemikiran hukum yang dikemukakan Jumhur antara lain :

    * Penolakkan terhadap keabsahan nikah mut’ah.
    * Jumhur menggunakan konsep ‘aul dalam pembagian harta warisan
    * Nabi Muhammad tidak dapat mewariskan harta, karena terdapat sebuah hadist yang menyatakan : Kami seluruh Nabi, tidak mewariskan harta, harta yang kami tinggalkan adalah shadaqah,“

Dari terjemahan ayat di atas penulis dapat memahami bahwa Rasulullah hanya memerintahkan kepada umat manusia untuk memperbanyak ibadah dan shadaqah.

    * Jumlah perempuan yang boleh dipoligami dalam satu periode sampai empat orang sebagai penafsiran atas surat Al-Nisa ayat 3

Dan hadist yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim. Ayat dan hadis tersebut pada dasarnya merupakan pembentukan hukum Islam secara bertahap.


G.    Tasryi’ pada Masa Awal Abad Kedua Hijriah Sampai pertengahan Abad Ke Empat (Daulah Abbasiah/ 750 – 1258 M)

Pemerintah Islam setelah keruntuhan Daulah Ummayah segera digantikan oleh Daulah Abbasiah. Masa Abbasiah ini disebut juga masa Mujtahiddin dan masa pembukuan fiqih, karena pada masa iini terjadi pembukuan dan penyempurnaan fikih.


Masa ini disebut dengan masa keemasan Islam karena banyak sekali sejarah-sejarah yang ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan yang dimulai dari dasar sampai ke perguruan tinggi sekarang. Pada masa ini muncul juga mazhab-mazhab fikih yang banyak mempengaruhi perkembangan hukum Islam.  Untuk mengetahui perkembangan tasyri’ pada masa ini, dapat dilihat dalam uraian berikut :


1.    Faktor pendorong Perkembangan Tasyri’


Adapun beberapa faktor pendorong perkembangan Tasyri’ pada masa ini setelah penulis membaca beberapa refersi antara lain sebagai berikut :

    * Adanya penterjemahan buku-buku Yunani
    * Terjadinya pertarungan pemikiran antara Mutakallimin, muhaditsin, dan fuqaha.
    * Adanya upaya umat Islam untuk melestarikan al-Qur’an baik yang dicatat.


2.    Dasar Pemikiran dan Perkembangan Mazhab Hukum Islam


Aliran hukum Islam yang terkenal dan masih ada pengikutnya hingga kini hanya beberapa, di antaranya Hanifiyah, Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabiah


a)    Aliran Hanifah


1.1    Guru dan Murid Abu Hanifah


Sebagai seorang pendiri sebuah aliran, tentu ia memiliki guru dan pengikutnya. Beliau termasuk generasi Islam ketiga setelah Nabi Muhammad. Pada masanya, terdapat ulama yang tergolong sahabat yang masih hidup.


1.2    Cara Ijtihad Abu Hanifah


Thaha Jabir membagi cara ijtihad Abu Hanifah menjadi dua cara yaitu, cara ijtihad yang pokok dan cara ijtihad yang bersifat tambahan. cara ijtihad yang pokok dapat diringkas sebagai dijelaskannya : “Aku merujuk kepada al-Qur’an jika aku mendapat kannya”.


1.3    Fiqh Abu Hanifah


Ada beberapa pemikiran Abu Hanifah dalam bidang hukum misalnya, ia berpendapat bahwa benda wakaf masih tetap milik waqif.


1.4    Kitab Fiqh Hanafiah


Dalam mengkaji pemikiran fiqih Imam abu Hanifah dan para pengikutnya, perlu di kaji  gagasan-gagasan merek ayang dituangkan dalam berbagai kitab yang masih dapat dipelajari hingga kini.

Di samping kitab fiqih, ulama Hanifiyah menulis juga kitab Ushul Fiqih dan qawaid al-fiqh, ulama hanafiyah juga menyusun kaidah-kaidah fikih dan ushul fiqih yang kemudian disusun dalam sebuah kitab tersendiri.


b)    Aliran Maliki


Aliran ini didirikan oleh Imam Malik, yang nama lengkapnya Malik bin Anas ibn Amr Al-Asbahi. Ia dilahirkan di Madinah tahun 93 H.


1)    Guru dan Murid Imam Malik


Guru-guru imam malik pada saat itu antara lain Abd al-Rahman

Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi munculnya qaul qadim dapat dipetakan sebagai berikut :


•    Revisi Terhadap Pendapat Imam Malik


Sebagaimana telah diketahui bahwa sebelum Imam al-Syafi`i berdiri sebagai seorang imam mazhab, ia merupakan pengikut Imam Malik dan setia terhadap pendapat-pendapat Malik dalam hal fiqh sampai pada perjalanan intelektualnya ke Kota Bagdad. Dengan situasi intelektual yang berbeda dengan keilmuan yang berkembang di Madinah yang selama ini ia pelajari dari gurunya, yaitu Imam Malik, khususnya dalam bidang fiqh.


Fiqh yang berkembang di Kota Bagdad adalah fiqh yang bercorak rasionalis. Sedangkan fiqh yang berkembang di Madinah adalah fiqh yang bercorak tradisionalis. Saat inilah keilmuan yang selama ini dipelajari oleh al-Syafi`i dihadapkan dengan wacana keilmuan yang berbeda. Sehingga ia mampu melihat kekurangan atau kelemahan dan kelebihan dari fiqh yang selama ini ia pegang, yaitu fiqh Imam Malik.

Dari beberapa penemuan al-Syafi`i tentang kelemahan yang terdapat dalam fiqh Imam Malik. Kemudian ia berusaha berijtihad guna merevisi pendapat-pendapat Imam Malik yang dinilainya lemah dan kurang kuat dalam hal dasar hukum ataupun metode istinbath yang digunakan.


Sebelum melakukan sebuah revisi ulang terhadap pendapat-pendapat Imam Malik. Al-Syafi`i menganalisis secara tekun seluruh fiqh Imam Malik secara khusus  hingga ia mencapai sebuah kesimpulan sebagaimana di ungkapkan oleh Abdurrahman asy-Syarqawi dalam kitab A`immatul Fiqh at-Tis`ah, bahwa al-Syafi`i pernah mengumumkan dalam sebuah pertemuan khusus bahwa Imam Malik bin Annas berpendapat dengan masalah pokok namun meninggalkan masalah cabang. Pada kesempatan lain Imam Malik berpendapat dengan masalah cabang, tetapi meninggalkan masalah pokok. Selanjutnya ia berkata “ Malik berlebih-lebihan dalam memperhatikan maslah mursalah (penentuan hukum dengan pertimbangan kemaslahatan yang tidak dijelaskan oleh dalil syari`at )”


Untuk memperkuat argumen ini penulis paparkan beberapa contoh kasus pendapat Imam Malik yang dinilai lemah oleh al-Syafi`i dan ia mengeluarkan pendapat lain karna tidak sepakat terhadap pendapat Malik


•    Pengertian qaul qadim dan qaul jadid


a)    Pengertian qaul qadim


Secara etimologi qaul qadim terdiri atas dua kata, yaitu qaul (قول) yang berarti perkataan,dan  kata qadim (قديم) yang berarti lama atau terdahulu.  Jadi, dapat disimpulkan secara bahasa berarti perkataan, ketetapan lama atau terdahulu.


Sedangkan secara termonologi qaul qadim dapat diartikan sebagai fatwa-fatwa yang dikeluarkan Asy-Syafi`i pada periode pertumhuhan mazhabnya di Bagdad ( Irak ).


Qaul qadim merupakan pendapat Asy-Syafi`i pada awal beliau menjadi sorang mujtahid mutlak, karena sebelum itu Asy-Syafi`i adalah seorang pengikut mazhab Imam Malik. Qaul qadim ini lahir ketika Asy-Syafii berada di Irak dan setelah ia sering melakukan diskusi dengan ulama Irak, dan sempat pula mempelajari fiqih masyarakat Irak pada seorang ulama Muhammad Hasan Asy-Syaibani yang merupakan sahabat sekaligus murid Imam Hanafi seorang ulama besar dari kalangan Ahlul Ro`yi. Jadi qaul qadim adalah pendapat Imam Asy-syafi`i yang bercorak Ro`yi.  Fatwa-fatwa qaul qadim kebanyakan terhimpun dalam kitab al-Risalah (Al-qodimah) dan al-Hujjah, yang selalu disebut dengan al-kitab al-qodim.


b)    Pengertian qaul jadid


Qaul jadid secara etimologi dari atas  dua kata, yaitu (قول) yang berarti perkataan atau ketetapan. Adapun jadid (جديد) berarti yang baru.   Secara terminologi qaul jadid pendapat-pendapat Imam Asy-Syafi`i yang dikemukakan selama dia tinggal di Mesir.


Dalam banyak hal qaul jadid merupakan koreksi terhadap pendapat-pendapatnya yang dia kemukakan sebelumnya. Qaul jadid Imam Asy-Syafi`i dimuat di antaranya dalam kitab al-Umm, ar-Risalah Jadidah, al-Amaly, al-Imlak dan lain-lain.


c)    Lahirnya qaul qadim


Sebagaimana diuraikan di atas bahwa qaul qadim lahir ketika Imam Asy-Syafi`i berada di Bagdad. Adapun lahirnya qaul qadim ini disebabkan bermula dari ia mengenal dan mempelajari fiqih ulama Irak yaitu salah seorang tokohnya bernama Muhammad Asy-Syaibani.


Beliau seringkali melakukan dialog dengan ulama yang mempunyai corak fiqih ahlul ro`yi dan bertukar pendapat dengan mereka. Setelah banyak melakukan  dialog, mulailah tumbuh dalam diri Asy-Syafi`i satu pemikiran untuk mencetuskan sebuah fiqih yang merupakan penggabungan antara fiqih ulama Madinah yang telah ia pelajari dari Imam Malik dan fiqih ulama Irak yang baru ia temukan.


Sehingga tidak mustahil bila dari penelitian yang ia lakukakn tersebut terhadap dua corak fiqih (antara fiqih Madinah dan Irak). Sang Imam menemukan pemikiran dalam  qaul qadim inilah Asy-Syafi`i sendiri mulai menjadi mujtahid mutlak dengan jalan istinbath sendiri.


d)    Lahirnya qaul jadid


Qaul jadid merupakan ketetapan-ketapan baru dari fiqih Asy-Syafi`i yang ditulis ketika ia berada di Mesir. Keberadaan Asy-Syafi`i di Mesir dapat dikatakan sebagai fase akhir dari perjalanan intelektualnya sebagai seorang mujtahid dan saat inilah ia sampai pada puncak kematangan pemikirannya sehingga ia disana memproduk pendapat-pendapat gurunya.


Qaul jadid ini lahir dikarenakan karena Asy-Syafi`i banyak menemukan permasalahan-permasalahan baru yang pernah ditemukan sebelumnya, karena adanya perbedaan-perbedaan, adat istiadat, kultur, sosial masyarakat yang berbeda, serta warisan intelektual yang berbeda pula. Kondisi ini membuat ia mengkaji kembali pendapat-pendapat ia sebelumnya. Perubahan pemikirannya serta realitas yang berbeda dengan situasi dan kondisi yang pernah ia lalui sebelumnya.


DAFTAR PUSTAKA


Anonim, tt.   Pengantar Tarikh Tasryi’ al- Islam,   Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, Cet. II

Abdurrahman Asy-Syarqawi, Fiqih 5 Mazhab, Ter : Mujiyo Nurkholis, Bandung : Al-bayan, 1994, Cet. I

Jaih Mubarak, Modifikasi Hukum Islam, Studi tentang Qawl Qadim  dan Qawl Jadid, Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada, 2002

Syarifuddin Anwar, Kamus Al-Misbah Arab-Indonesia,  Jakarta : Bina Aman, t.t





Artikel Menarik lainnya :