Sukai Halaman Grosir Mutiara Lombok Supplier Murah

Pengertian Sadduz Zari'ah

Pengertian Sadduz Zari'ah

    Secara etimologi dzariah berarti “jalan yang menuju kepada sesuatu” . Ada juga yang mengkhususkan pengertian dzari’ah  dengan “sesuatu yang membawa kepada yang dilarang dan mengandung kemudaratan”. Akan tetap, Ibn Qayyim al-Juziyah (691-751 H/1292-1350 M) ahli fiqh Hambali), mengatakan bahwa pembatasan pengertian dzari’ah yang bertujuan kepada yang dianjurkan.

    Oleh sebab itu menurutnya pengertian dzari’ah lebih baik dikemukakan yang bersifat umum, sehingga dzari’ah mengandung dua pengertian, yaitu : yang dilarang, disebut dengan saad al- dzari’ah dan yang menuntut untuk dilaksanakan disebut faht al-dzari’ah.

Di bawah ini akan dikemukakan uraian ke dua bentuk dzari’ah  dimaksud. 
  • Saad al- Dzari’ah

Imam al-Syathibi mendefenisikan dzari’ah dengan :l
“Melakukan suatu pekerjaan yang semula mengandung kemaslahatan untuk menuju kepada suatu kemafsadatan” 

    Berdasarkan arti hadits terebut di atas dapat penulis pahami bahwa seseorang melakukan suatu pekerjaan yang pada dasarnya dibolehkan karena mengandung kemaslahatan, tetapi tujuan yang akan dicapai berakhir pada suatu kemafsadatan.

Sebagai contoh misalnya :
    Pada dasarnya jual beli itu adalah halal, karena jua beli merupakan salah satu sarana tolong menolong untukmemenuhikebutuhan hidup manusia. Seseorang membeli sebuah kendaraan seharga tiga puluh juga rupiah secara kredit adalah sah karena pihak penjual memberi keringan kepada pembeli untuk tidak segera melunasinya. Akan tetapi, bila kendaraan itu yang dibeli dengan kredit sebesar tiga puluh juga rupiah-dijual kembali kepada penjual (pemberi kredit) dengan harga tunai sebesar lima belas juga rupiah, maka tujuan ini akan membawa kepada suatu kemafsadan, karena seakan-akan barang yang diperjual belikan tidak ada dan pedangang kendaraan itu tinggal menunggu keuntungan saja.

    Adapun maksud dan tujuan dari hal tersebut di atas dapat kita pahami secara bersama-sama yakni pembeli pada saat membeli kendaraan mendapatkan uang sebesar lima belas juta rupiah, tetapi ia tetap  harus melunasi hutangnya (kretid kendaraan itu) sebsar tipa puluh juta rupiah. Jual beli seperti ini dalam fiqih disebut dengan hay’u all-aj’al.  

B. Kedudukan dan Hukumnya
    Kedudukan dan hukum Dzari’ah dapat dilihat dari berbagai bentuk contoh seperti : 
Masalah zakat, sebelum waktu haul (batas waktu perhitungan zakat hingga wajib mengeluarkan zakatnya) datang. Seseorang yang memiliki sejumlah harta yang wajib dizakatkan, menghibahkan sebagian hartanya kepada anaknya, sehingga berkurang nisbah harta itu dan ia terhindar dari kewajiban zakat.

    Pada dasarnya menghibahkan harta kepada anak atau orang lain dianjurkan oleh syara’, karena perbuatan ini merupakan salah satu akad tolong menolong. Akan tetapi, karena tujuan hibah yang dilakukan itu adalah untuk menghindari kewajiban-yaitu membayar zakat-maka perbuatan ini dilarang.

Seorang ahli fiqh Iman al-Syathibi mengemukakan tiga syarat yang harus dipenuhu, sehingga suatu perbuatan itu dilarang, yaitu :

  1. Perbuatan yang boleh dilakukan itu membawa kepada kemanfsadatan
  2. Kemafsadatan lebih kuat dari kemaslahatan pekerjaan
  3. Dalam melakukan perbuatan yang dibolehkan unsur kemafsadatannya lebih banyak

    Berdasarkan uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa seseorang melakukan suatu pekerjaan yang pada dasarnya dibolehkan karena mengandung kemaslahatan, tetapi tujuan yang akan dicapai berakhir pada suatu kemafsadatan dan kegunaan yang dilakukan membawa kemafsadatan

C.    Pengelompokkan Sadduz Zariah

     Ada dua pengelompokkan dzari’ah yang dikemukakan para ulama ushul fiqh Dzari’ah dilihat dari segi kualitas kemafsadatannya dan dzari’ahnya dilihat dari segi jenis kemafsadatannya.

  1. Dzari’ah dilihat dari Segi Kualitas Kemafsadatannya
Imam al-Syathibi mengemukakan bahwa dari segi kualitas kemafsadatanya, dzari’ah erbagi kepada empat macam :

  • Perbuatan yang dilakukan itu membawa kepada kemafsadatan secara pasti (qath’i).
  • Perbuatan yang dilakukan ini boleh dilakukan, karena jarang membawa kepada kemafsadatan
  • Perbuatan yang dilakukan itu biasanya atau besar kemungkinan membawa kepada kemafsadatan
  • Perbuatan itu pada dasarnya boleh dilakukan karena mengandung kemaslahatan, tetapi memungkinkan     juga perbuatan itu membawa kepada kemafsadatan

Berdasarkan uraian di atas dapat penulis pahami bahwa pandangan kita hanya ditujukan kepada patokan dasar jual beli, maka jual beli seperti itu boleh, karena rukun dan syaratnya terpenuhi. Jadi di sanalah letak kedudukan itu ada.
Ada tiga alasan yang dikemukakan Imam Malik dan Imam Ahmad ibn Hanbal dalam mendukung pendapatnya, yaitu:

  1. Dalam bay’u  al-ajal  perlu dipertimbangkan tujuan yang membawa kepada riba, sekalipun sifatnya fhilbah al zhann (dugaan berat), karena dalam banyak kasus, Syari’ sendiri sering mengisyaratkan penentuan hukum atas dasar ghilbah al-zhann
  2. Dalam bay’u al-ajal terdapat dua dsar yang bertentangan, yaitu bahwa jual beli pada dasarnya dibolehkan, selama rukun dan syaratnyaterpenuhi danm bahwa seseorang harus terhindar dari segala bentuk kemudaratan.
  3. Banyak sekali nash yang menunjukkan dilarangnya perbuatan-perbuatan yang membawa kepada kemafsadatanya.

    2.    Dzari’ah dari segi jenis kemafsadatan yang ditimbulkannya

    Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyyah, dzari’ah dari segi ini terbagi kepada: 

    • Perbuatan itu membawa kepada suatu kemafsadatan, seperti meminum minuman keras yang mengakibatkan mabuk, dan mabuk itu suatu kemafsadatan
    • Perbuatan itu pada dasarnya perbuatan yang dibolehkan atau dianjurkan, tetapi dijadikan jalan untuk melakukan suatu perbuatan yang haram, baik dengan tujuan yang disengaja atau tidak.

      Kedua macam dzari’ah ini oleh Ibn Qayyim al-Jauziyah dibagi lagi kepada :

      1. Yang kemaslahatan pekerjaan itu lebih kuat dari kemaslahatannya
      2. Yang kemafsadatannya lebih besar ari kemaslahatannya

        Kedua bentuk dzariah ini, menurutnya, ada empat bentuk yaitu :

        1. Yang secara segaja ditujukan untuk suatu kemafsadatannya
        2. Pekerjaan yang pada dasarnya diperbolehkan
        3. Pekerjaan itu hukumnya boleh dan pelakunnya tidak bertujuan untuk suatu kemafsadatan.
        4. Suatu pekerjaan yang pada dasarnya dibolehkan

        D.    Pandangan Ulama tentang Sadduz Zariah

        Terdapat perbedaan pendapat ulama tehradap keberadaan sadd al dzari’ah sebagai dalil dalam menetapkan hukumnya syara’, seperti salah satunya Ulama Malikiyah dan ulama Hanabila menyatakan bahwa Sadd al-Dzari’’ah dapat diterima sebagai salah satu dalil dalam menetapkan hukum syara’:
        Alasan yang mereka kemukakan adalah firman Allah dalam surat al-An’am ayat 6 : 108.

        "Dan janganlah kamu memaki sesambahan yang mereka sembah selain Allah karena nanti mereka akan memaki Allah dengan tanpa batas tenpat pengetahuan."

        Sedangkan ulama lain seperti Hanafiyah, Syafi’iyyah, dan Syiah   dapat menerima ad-dzari’ah sebagai dalil dalam masalah-masalah tertentu dan menolaknya dalam kasus-kasus lain.
        Ada dua sisi cara memandang dzari’ah  yang dikemukakan para ulama ushul fiqh, yaitu :
        1. Dari sisi motivasi yang mendorong seseorang melakukan suatu pekerjaan, baok bertujuan untuk yang halal maupun yang haram
        2. Dari sisi akibat suatu perbuatan seseorang yang membawa dampak negatif
        Sedangkan ibnu Qayyim al-Jauziyah dan Imam Al-Qarafi megnatakan bahwa dzari’ah adakalanya di larang disebut dengan sadd al-dzariah, dan adakalannya dianjurkan, disebut dengan fath al-dzariah  adalah suatu perbuatan yang dapat membawa kepada sesuatu yang dianjurkan, bahkan diwajibkan syara’.
        Namun menurut Wahbah al-Zuhaili apa yang digambarkan ibn Qayyim al-Juaziyah dan Imam al-Qarafi tersebut bukan termasuk dalam dzari’ah, tetapi termasuk dalam kaidah yang oleh Jumhur ulama ushul fiqh disebuts ebagau muqaddimah (pendahuluan) dari suatu pekerjaan.



        BAB III
        KESIMPULAN

        Berdasarkan uraian pembahasan di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa : Secara etimologi dzariah berarti “jalan yang menuju kepada sesuatu

        Kedudukan dan hukum Dzari’ah dapat dilihat dari berbagai bentuk contoh seperti  Masalah zakat, sebelum waktu haul (batas waktu perhitungan zakat hingga wajib mengeluarkan zakatnya) datang. Seseorang yang Ada dua pengelompokkan dzari’ah yang dikemukakan para ulama ushul fiqh Dzari’ah dilihat dari segi kualitas kemafsadatannya dan dzari’ahnya dilihat dari segi jenis kemafsadatannya, Dzari’ah dilihat dari Segi Kualitas Kemafsadatannya, Dzari’ah dari segi jenis kemafsadatan yang ditimbulkannya. Terdapat perbedaan pendapat ulama tehradap keberadaan sadd al dzari’ah sebagai dalil dalam menetapkan hukumnya syara’, seperti salah satunya Ulama Malikiyah dan ulama Hanabila menyatakan bahwa Sadd al-Dzari’’ah dapat diterima sebagai salah satu dalil dalam menetapkan hukum syara’


        DAFTAR PUSTAKA

        Anonim, 2003. Anwar al-Baruq fi anuu’ al-Faruq, Jilid II
        Abu Ishaq al-Syathibi, al-Muwafaqat., Jilid II
        Abu Ishaq al-Syatibi, Op cit,  Jilid III, hal. 305 dan Jilid IV, 198-200 Ibn Qayyim al-Juziyah,
        Al-Bannani, Syarh al-Mahalli ali jam’I al-Jauwimi, Jilid III, hal. 264 dan Muhammad Ibn
        Depag RI, Al-Qur`an dan Terjemahannya, Surabaya: Karya Agung Surabaya, 2006
        Depag RI, al-Qur’an dan  Terjemahannya, Jakarta : Ar-Ruzz, 1971
        Idris al-sayfi’I al –Ulum, Op Cit, Jilid III, Hal, 272