Proposal, Analisis Tingkat Kesulitan Belajar Pada Pokok Bahasan Ikatan Kimia Kelas X Madrasah Aliyah Putra AL ISHLAHUDDINY KEDIRI

Posted by Sanjaya Yasin 0 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

BAB I 
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 

Berdasarkan daftar nilai blok(Mid Semester) MA Putra Al-Ishlahuddiny Kediri yang dilaksanakan pada tanggal 21 september 2008 pada kelas XB tahun pelajaran 2008/2009 yang merupakan subjek penelitian dengan jumlah sampel penelitinya adalah 45 orang. Jika di persentasekan siswa yang tidak tuntas
sebanyak 43,4% dengan jumlah siswanya adalah 20 orang, sedangkan siswa yang mengalami ketuntasan dalam pokok bahasan ikatan kimia sebanyak 64,4% dengan jumlah siswa adalah 25 orang.

    Berdasarkan persentase tidak tuntas sampel di atas yaitu 43,4% dan jika sesuaikan dengan penilaian acuan norma(PAN) bahwa nilai 43,4% terletak diantara 0-54%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa sebanyak 20 orang tersebut belum faham dengan pokok bahasan ikatan kimia. Disisi lain bukan karena siswanya kurang faham namun karena guru yang mengajar pada mata pelajaran kimia kelas X MA Putra Al-Ishlahuddiny Kediri bukan lulusan dari sarjana kimia. Nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal)untuk mata pelajaran kimia berdasarkan hasil survey di kelas X MA Putra Al-Ishlahuddiny Kediri adalah 60,00.  

    Sehingga siswa yang berjumlah 20 siswa di atas dibawah nilai KKM dan 25 siswa di atas juga berada di atas nilai KKM. 

    Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan (khususnya di MA Putra Al-Ishlahuddiny Kediri) maka perlu dipersiapkan secara maksimal semua faktor yang menunjang pelaksanaan pendidikan. Beberapa faktor yang dapat menentukan keberhasilan pendidikan yaitu sarana dan prasarana yang memadai serta peranan guru mata pelajaran yang sesuai dengan gelar dan jurusannya. Oleh karena itu profesionalisme guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar sangat dibutuhkan,karena berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar tergantung dari bermutu tidaknya seorang guru. Yang tak kalah penting lagi adalah tersedianya sarana dan prasana yang dimiliki sekolah atau yayasan tersebut, jika sekolah tersebut tersedia sarana dan prasana yang cukup maka dengan sendirinya siswa akan merasa senang melakukan aktifitas misalnya tersedia laboratoriunm atau sarana dan prasarana lainnya.

    Guru-guru yang mengajar di MA Putra Al-Ishlahuddiny Kediri sebagian besar menggunakan Metode Tanya Jawab dan Metode Diskusi, sehingga para siswa-siswa merasa bosan dan jenuh dengan metode itu saja namun yang dibutuhkan oleh siswa adalah metode nyata dan relevan yang bisa langsung dilihat, dirasakan dan bisa diperagakan oleh siswa. Dengan metode yang baru siswa tidak akan bosan dan jenuh menerima materi yang kita ajarkan apalagi materi tersebut kesukaan dari siswanya. Misalnya metode yang kita gunakan adalah Metode Demonstrasi atau Metode Eksperimen. Berdasarkan hasil survey di MA Putra Al-Ishlahuddiny Kediri yang pantas digunakan dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang materi yang kita ajarkan selain dua metode di atas adalah metode demonstrasi, karena metode demonstrasi lebih sederhana dan mudah di mengerti oleh siswa dibandingkan dengan metode eksperimen yang lebih sulit dan membutuhkan banyak biaya. 

    Berdasarkan hasil persentase ketidaktuntasan hasil belajar siswa sebesar 43,4% dalam pokok bahasan ikatan kimia pada Kelas X MA Putra Al-Ishlahuddiny Kediri Tahun Pelajaran 2008/2009 berada pada kategori tidak lulus (sangat kurang faham). Disini peran guru yang lebih diutamakan dalam memberikan pengajaran bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar. Misalnya dengan merubah cara mengajarnya agar para siswa dapat mengerti dan faham apa yang kita sampaikan, akan tetapi dalam kenyataannya guru yang mengajar pelajaran kimia pada MA Putra Al-Ishlahudddiny Kediri di kelas X merupakan guru berbasis fisika bukan sarjana kimia, itu salah satu masalah yang serius. Seharusnya guru yang mengajar pelajaaran kimia harus sarjana kimia, seorang siswa setidaknya faham atau mengerti jika mereka diajari oleh guru yang benar-benar faham dan mengerti akan ilmu kimia itu.

    Selain faktor-faktor di atas yang membuat siswa-siswanya banyak mengalami ketidaktuntasan, karena siswa-siswanya mayoritas tinggal di asrama  yang diutamakan adalah nilai dan pemahaman tentang agama sehingga ilmu yang lain kurang ditekankan, namun sebatas tahu akan manfaat ilmu tersebut. Dan waktu yang diberikan untuk belajar ilmu yang lain hanya sedikit. Disisi lain banyak dari mereka yang dasar pemahaman tentang perhitungan masih kurang (Elya Lesmana, S.Pd. Wawancara tanggal 10 November 2008).

    Dengan demikian, penulis merasa perlu mengadakan suatu penelitian tentang “Analisis Tingkat Kesulitan Belajar Pada Pokok Bahasan Ikatan Kimia Kelas X MA Putra Al-Ishlahuddiny Kediri Tahun Ajaran 2008/2009

B.    Rumusan masalah
    Berdasarrkan uraian latar belakang di atas, maka dapat di rumuskan permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini yaitu “ Dimanasih Tingkat Kesulitan Siswa Pada Pokok Bahasan Ikatan Kimia Di Kelas X MA Putra Al-Ishlahuddiny Kediri?”.

C.    Tujuan penelitain

    Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah “Ingin Mengetahui Sejauh Mana Pemahaman Siswa Tentang Pokok Bahasan Ikatan Kimia Di Kelas X Ma Putra Al-Ishlahuddiny Kediri”.

D.    Manfaat penelitian

Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
  • Manfaat teoritis dari penelitian ini yaitu dapat digunkan sebagai acuan masukan bagi para guru-guru khususnya pada mata pelajaran kimi agar dapat menerapkan konsep atau strategi dalam menyajikan materi pelajaran kimia serta memperlihatikan keterkaitan antara materi pelajaran pada sub pokok bahasan tertentu dengan metode yang digunakan.
  • Manfaat praktis dari penelitian ini yaitu dapat digunakan sebagai salah satu indikator temuan, stimulus dan pegangan bagi para guru terutama guru mata pelajaran kimia dalam meningkatkan cara mengajarnya.
     Proses belajar pada dasarnya mearupakan inti dari proses pendidikan secar keseluruhan. Dalam proses ini akan terjadi perubahan tingakah laku yang dirancang secara sengaja dan sadar munuju tercapainya suatu tujuan, yaitu tujuan pendidikan melalui suatu kegiatan yang disebut dengan proses belajar mengajar.
Setiap proses belajar mengajar selalu bermuara pada hasil sesuai dengan tujuan instruksional yang dirumuskan. Guru dalam melaksanakan tugasnya selalu ingin mencapai tujuan instruksional seoptimal mungkin, termasuk guru mata pelajaran kimia.

    Dengan perannya begitu sentral dalam proses pendidikan, maka hampir sebagian besar kebijakan untuk meningkatkan kualitas dan kualitasnya diarahkan terlebih dahulu pada upaya peningkatan kemampuan dan kualitas yang disandang guru sebagai tenaga pengajar. Hal ini dijelaskan dalam sebuah pendapat yang menyatakan bahw a “guru berperan sebagai pengelola proses belajar mengajar, bertindak selaku fasilitator yang berusaha menciptakan kondisi yang efektif “ (Usman, 2002:21).

    Sehubungan dengan pernyataan di atas, terdapat dua faktor yang saling mempengaruhi yaitu faktor internal yang meliputi intelgensi, keberanian dan motivasi baik dari dalam maupun luar. Sedangaskan faktor eksternal meliputi saran dan prasana lembaga (sekolah), pendidikan, kurikulum, pemilihan materi yang tepat dan pengembangan metodepengajaran yang ditunjang dengan jenis media maupun penciptaan suasana yang kondusif serta dapat menujang terselenggaranya proses belajar mengajar yang efektif.

    Dalam kegiatan pembelajaran anatara siswa dan guru terjadi saling interaksi. Siswa sebagai individu maupun sebagai anggota kelompok di dalam kelas bahkan di dalam masyarakat sekolah tidak terlepas dari masalah yang dihadapi sebagai penghambat para siswa dalam mencapai cita-citanya. Hambatan-hambatan tersebut dapat menimbulkan kesulitan belajar yang harus mendapat perhatian secara khusus oleh personil sekolah sehingga tercapai pemecahan dan penyelesaiannya. Maka pihak sekolah melakukan berbagai tindakan yang dapat menyelesaikan permasalah tersebut.

    Dalam proses belajar mengajar,tidak semua siswa dapat menyerap pelajaran yang disodorkan oleh guru dengan hasil yang memuaskan. Oleh karena itu, bagi mereka yang dianggap berhasil mencapai tujuan kurikulum, diberikan program pengayaan, sedangkan bagi mereka yang belum dapat mencapai tujuan kurikulum (penguasaan di bawah standar) atau angka 5 (lima) yang tertera dalam buku laporan pendidikan, diberikan program tambahan (remedial).

    Berdasarkan hasil survey awal, bahwa fenomena atau gejala yang dihadapi oleh siswa kelas X MA Putra Al-Ishlahuddiny Kediri sehingga diberikan remedial di tempat survey:
  • Siswa sulit menangkap materi pelajaran yang disamapikan oleh guru.
  • Kemampuan dasar atau basic masih kurang sehingga menghambat siswa untuk berkembang.
  • Perbedaan kemampuan siswa yang mencolok di dalam kelas. Elya Lesmana, S.Pd. (Wawancara tanggal 10 November 2008). Nilai blok hasil mid semester terlampir.
    Dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar, pengajaran sering dilakukan secara klasikal dan seluruh siswa dipandang sebagai kelompok besar. Sering disadari cara-cara mengajar disesuasikan dengan kemampuan rata-rata siswa sehingga dengan cara ini siswa yang lambat merasa tertinggal. Sementara siswa yang belajarnya cepat (pandai) terpaksa tertahan kemajuannya akibat lebih lanjut dari kondisi belajar mengajar.

     Harus disadari pula dalam kenyataannya, para siswa yang berada dalam suatu kelas memiliki perbedaan karakteristik, dengan adanya karakteristik tersebut tentu akan menyebabkan adanya perbedaan tanggapan, daya memahami terhadap objek yang ada sekitarnya. Termasuk di dalamnya tanggapan siswa terhadap pengajaran remedial yang diberikan oleh guru. 

    Kegiataan remedial yang dilakukan bukan sekedar memberikan ulangan-ulangan terhadap bahan pelajaran pokok yang belum dapat dikuasai oleh siswa secar tuntas, tetapi lebih jauh dari itu. Kegiatan remedial seyogyanya menjadi studi kasus tersendiri yang digunakan oleh guru untuk menangani para siswa yang mengalami kesulitan belajar, baik kegiatan yang berupa perlakuan maupun kegiatan bimbingan yang dapat membantu siswa dalam mencapai tujuan yang optimal.

    Dengan demikian, penulis merasa perlu meneliti tentang “Persepsi Siswa Terhadap Pengajaran Remedial Pada Mata Pelajaran Kimia Di Kelas X MA Putra Al-Ishlahuddiny Kediri”.


E.    Rumusan Masalah
    Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yang diajukan dalam survey ini yaitu “Bagaimana Persepsi Siswa Terhadap Pengajaran Remedial Pada Pelajaran Kimia Di Kelas X MA Putra Al-Ishlahuddiny Kediri”.


Untuk lebih lengkap makalahnya silakan klik di bawah ini!!!
Download disini!

Artikel Menarik lainnya :