Fungi adalah nama regnum dari sekelompok besar makhluk hidup eukariotik heterotrof yang mencerna makanannya di luar tubuh lalu menyerap molekul nutrisi ke dalam sel-selnya.
Fungi memiliki bermacam-macam bentukorganisme yang terdapat dimana-mana di bumi, baik di daerah tropik, subtropik, di kutub utara, maupun antarika. Fungi juga ditemukan di darat, di perairaian tawar, di laut, di mangrove, di bawah permukaan tanah, di kedalaman laut, dipengunungan, maupun di udara.
Banyak faktor lingkungan yang mempengaruhi kehidupan fungi, antara lain kelembapan, suhu, keasaman substrat, pengudaraan, dan kehadiran nutrien-nutrien yang diperlukan.
Pendapat lain menyatakan bahwa fungi adalah tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof, tipe sel: sel eukarotik. Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya terdiri dari benang-benang yang disebut hifa, hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang yang disebut miselium. Reproduksi jamur, ada yang dengan cara vegetatif ada pula dengan cara generatif.
Di alam ini fungi dapat bersifat sangat merugikan manusia dengan menimbulkan infeksi (penyakit) dan toksin yang dihasilkan ataupun bersifat menguntungkan dengan menghasilkan produk - produk yang dapat digunakan oleh manusia sebagai contoh antibiotika, vitamin, asam organik dan enzim. Infeksi yang ditimbulkan oleh fungi dapat dibedakan menjadi 2, yaitu : infeksi yang ditimbulkan karena fungi sebagai individu bersarang atau menyerang tubuh kita (mengakibatkan infeksi) atau produk yang dihasilkan oleh fungi yang masuk ke dalam tubuh kita (tanpa sengaja) yang bersifat toktik dan mematikan, sebagai contoh : produk aflatoxin. Beberapa antibiotika yang dihasilkan oleh fungi sebagai contoh penisilin dan sefalosporin sangat bermanfaat bagi perkembangan dunia klinis.
B. Posisi Fungi dalam Taksonomi
Salah satu organisme penghasil antibiotika yang sedang banyak dibicarakan sekarang ini adalah fungi endofit. Fungi endofit biasanya terdapat dalam suatu sistem jaringan seperti daun, ranting, atau akar tumbuhan. Fungi ini dapat menginfeksi tumbuhan sehat pada jaringan tertentu dan mampu menghasilkan mikotoksin, enzim serta antibiotika (Carrol,1988 ; Clay, 1988). Asosiasi beberapa fungi endofit dengan tumbuhan inang mampu melindungi tumbuhan inangnya dari beberapa patogen virulen, baik bakteri maupun jamur (Bills dan Polyshook, 1992).
Fungi dulu dikelompokkan sebagai tumbuhan. Dalam perkembangannya, fungi dipisahkan dari tumbuhan karena banyak hal yang berbeda. Fungi bukan autotrof seperti tumbuhan melainkan heterotrof sehingga lebih dekat ke hewan. Usaha menyatukan fungi dengan hewan pada golongan yang sama juga gagal karena fungi mencerna makanannya di luar tubuh (eksternal), tidak seperti hewan yang mencerna secara internal. Selain itu, sel-sel fungi berdinding sel yang tersusun dari kitin, tidak seperti sel hewan.
C. Habitat
Dalam makalah ini habitat itu adalah tempat tumbuhnya fungi. Fungi hidup pada lingkungan yang beragam namun sebagian besar jamur hidup di tempat yang lembab. Habitat fungi berada di darat (terestrial) dan di tempat lembab. Meskipun demikian banyak pula fungi yang hidup pada organisme atau sisa-sisa organisme di laut atau di air tawar. Jamur juga dapat hidup di lingkungan yang asam. Sedangkan reproduksinya fungi melakukan reproduksi secara aseksual dan seksual.
Reproduksi secara aseksual terjadi dengan pembentukan kuncup atau tunas pada jamur uniselule serta pemutusan benang hifa (fragmentasi miselium) dan pembentukan spora aseksual (spora vegetatif) pada fungi multiseluler. Reproduksi jamur secara seksual dilakukan oleh spora seksual. Spora seksual dihasilkan secara singami. Singgami terdiri dari dua tahap, yaitu tahap plasmogami dan tahap kariogami.
Jamur dibagi Menjadi 6 divisi :
1) Myxomycotina (Jamur lendir)
• Myxomycotina merupakan jamur yang paling sederhana.
• Mempunyai 2 fase hidup, yaitu:
Fase vegetatif (fase lendir) yang dapat bergerak seperti
• Amuba, disebut plasmodium
Fase tubuh buah
• Reproduksi : secara vegetatif dengan spora, yaitu spora kembara yang disebut myxoflagelata.
2) Oomycotina
- Tubuhnya terdiri atas benang/hifa tidak bersekat, bercabang-cabang dan mengandung banyak inti.
- Reproduksi
o Vegetatif : yang hidup di air dengan zoospora yang hidup di darat dengan sporangium dan konidia
o Generatif : bersatunya gamet jantan dan betina membentuk oospora yang selanjutnya tumbuh menjadi individu baru.
Tinjauan Religius
Dalam al-Qur’an semua yang ada di muka bumi dijelaskan secara jelas diberi tahu secara langsung bahwa semua tumbuhan, hewan, manusia, secara umum makluk hidup dapat memberikan manfaat tersendiri.
Dari uraian tersesebut bila dipandang dari segi agama. Al-Qur’an menjelaskan kepada umat manusia untuk menggunakan apa yang ada dan dianugrahkan di alam seperti menggunakan dan memelihara jamur pada tempanya. Beraneka ragama tumbuhan dan makluk hidup yang dapat diambil manfaatnya serta dapat memberikan keuntungan besar bagi manusia. Allah menjelaskan dalam hadistnya seperti :
Artinya :
Hai sekalian manusia, makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhamnu yang telah dimudahkan (bagimu). Pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi yang mau berfikir”
Studi kasus
Studi kasus dalam makalah ini pada suatu produk yang dihasilkan oleh fungi seperti cacar teh. Cacar teh berasal dari Assam dan di sana sudah dikenal sebelum tahun 1860. dalam jangka waktu yang lama penyakit dapat melalui pengunungan. Cacar dan masuk ke Darjeeling juga penyakit lama berhenti disini, pada tahun 1946 penyakit dapat mencapai perkebunan teh di India selatan dan Sri Lanka
Studi kasus yang disebabkan oleh semua ini adalah timbulnya penyakit di perkebunan teh di Thailand utara, pada tahun 1962. penyakit belum terdapat di perkebunan-perkebunan teh di papu Nugini dan di Queensland, Australia.
Gejala yang ditimbulkan antara lain : mula-mula cacar tampak seperti becak kecil hijau pucat dan tembus cahaya pada daun muda.
- Tingkat 1 : pada daun muda terjadi bintik-bintik kecil tembus cahaya
- Tingkat 2 : Terjadi becak yang mempunyai pusat tidak berwarna, dikelilingi oleh daerah hijau kekuning-kuningan yang dibatasi oleh cincin cahaya
- Tingkat 3 : cacar melebar, dengan garis tengah 3-6 mm dan makin menonjol ke sisi bawah daun.
- Tingkat 4 : cacar makin besar dan tonjolan makin jelas
- Tingkat 5 : cacar mencapai ukuran terbesar, kurang lebih 1 cm.
- Tingkat 6 : pusat cacar yang semula berwarna putih berubah menjadi coklat
- Tinkgat 7 : cacar mati, warnanya menjadi coklat tua.
Selain daun, jamur dapat juga menyerang ranting-ranting yang masih hijau. Pada umumnya ini hanya terjadi dikebun-kebun yang mengalami serangan berat, yang perdu-perdunya telah menjadi lemah karenannya. Infeksi ranting (batang muda) dapat menyebabkan pembengkokkan dan patahnya ranting-ranting, dan matinya tunas-tunas.
Sedangkan dilihat dari segi penyakit pada tahun 1989 oleh Massee jamur yang menyebabkan penyakit ini diderterminasinya sebagai embriosidium vexans sedangkan daur penyakitnya sampai sekarang E. Vexus hanya diketahui membiak dengan basidiospora. Selain itu, jamur tidak dapat hidup sebagai saprofit pada jaringan mati.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit cacar teh terutama merugikan kebun-kebun di atas 900 m dari permukaan laut. Juga pada umumnya penyakit berjangkit pada musim hujan.
- Faktor cahaya matahari dapat mempengaruhi penyakit secara tidak langsung karena cahaya dapat mengurangi kelembaban udara dalam kebun
- Dalam ruang yang gelap sama sekali hanya sedikit spora yang dapat berkecambah
- Faktor angin juga berpengaruh terhadap penyakit, karena angin dapat mempengaruhi kelembaban udara
Sedangkan studi kasus lain yang penulis temukan ada pada fungi endoft. Banyak kelompok fungi endofit yang mampu memproduksi senyawa antibiotika yang aktif melawan bakteri maupun fungi patogenik terhadap manusia, hewan dan tumbuhan, terutama dari genus Coniothirum dan Microsphaeropsis (Petrini et al., 1992). Penelitian Dreyfuss et al. (1986), menunjukkan aktivitas yang tinggi dari penisilin N, sporiofungin A, B, serta C yang dihasilkan oleh isolat-isolat endofit Pleurophomopsis sp. dan Cryptosporiopsis sp. yang diisolasi dari tumbuhan Cardamin heptaphylla Schulz.
Lebih lanjut, suatu penelitian yang dilakukan oleh Tscherter dan Dreyfuss (1982) dalam Petrini et al. (1992) menghasilkan suatu kesimpulan bahwa galur-galur endofit Cryptosporiopsis pada umumnya merupakan penghasil senyawa antibiotika berspektrum lebar. Isolat fungi endofit Xylaria spp. juga memiliki potensi besar dalam penelitian-penelitian industri farmasi maupun pertanian. Suatu strain Xylaria yang diisolasi dari tumbuhan epifit di Amerika Selatan dan Meksiko dilaporkan dapat menghasilkan suatu senyawa antibiotika baru dari kelompok sitokalasin (Dreyfuss et al., 1986).
Penelitian Brunner dan Petrini ( 1992) yang melakukan seleksi pada lebih dari 80 spora fungi endofit, hasilnya menunjukkan bahwa 75 % fungi endofit mampu menghasilkan antibiotika. Fungi endofit Xylotropik, suatu kelompok fungi yang berasosiasi dengan tumbuhan berkayu, juga merupakan penghasil metabolit sekunder. Pada suatu studi perbandingan yang dilakukan terhadap berbagai fungi, lebih dari 49 % isolat Xylotropik yang diuji menunjukkan aktivitas antibiotika, sedangkan fungi pembandingnya hanya 28 % (Petrini et al., 1992).
Fungi endofit juga mampu menghasilkan siklosporin A, yang berpotensi sebagai antifungal dan bahan imunosupresif (Borel et al., 1976 ; Petrini et al., 1992). Siklosporin dihasilkan oleh strain Acremonium luzulae (Fuckel) W. Gams, yang diisolasi dari buah strawberry (Moussaif et al., 1977). Senyawa antibiotika lainnya seperti sefalosporin mulanya dihasilkan oleh satu strain Cephalosporium dan Emericellopsis (Acremonium). Selanjutnya juga ditemukan pada fungi Anixiopsis, Arachnomyces,Diheterospora, Paecilomyces, Scopulariopsis dan Spiroidium (Morin dan Gorman, 1982).
Fungi endofit Acremonium coenophialum yaitu yang berasosiasi dengan rumput-rumputan dapat menghambat pertumbuhan patogen rumput Nigrospora sphaerica, Periconia sorghina dan Rhizoctonia cerealis (White and Cole, 1985). Fungi endofit lainnya seperti Taxomyces andreanae dapat menghasilkan senyawa taxol yang berguna sebagai obat anti kanker (Strobel et al., 1996). Menurut Bacon (1988), fungi endofit yang mempunyai nilai komersial dalam bidang farmasi, antara lain Balansia spp. dan Acremonium coenophialum.
BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian materi di atas dapat penulis simpulkan bahwa :
- Fungi adalah nama regnum dari sekelompok besar makhluk hidup eukariotik heterotrof yang mencerna makanannya di luar tubuh lalu menyerap molekul nutrisi ke dalam sel-selnya. Pendapat lain menyatakan bahwa fungi adalah tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof, tipe sel: sel eukarotik. Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya terdiri dari benang-benang yang disebut hifa, hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang yang disebut miselium. Reproduksi jamur, ada yang dengan cara vegetatif ada pula dengan cara generatif.
- Fungi dulu dikelompokkan sebagai tumbuhan. Dalam perkembangannya, fungi dipisahkan dari tumbuhan karena banyak hal yang berbeda. Fungi bukan autotrof seperti tumbuhan melainkan heterotrof sehingga lebih dekat ke hewan. Usaha menyatukan fungi dengan hewan pada golongan yang sama juga gagal karena fungi mencerna makanannya di luar tubuh (eksternal), tidak seperti hewan yang mencerna secara interna.
- Fungi hidup pada lingkungan yang beragam namun sebagian besar jamur hidup di tempat yang lembab. Habitat fungi berada di darat (terestrial) dan di tempat lembab. Meskipun demikian banyak pula fungi yang hidup pada organisme atau sisa-sisa organisme di laut atau di air tawar
DAFTAR PUSTAKA
Moore RT. 1980. "
Taxonomic proposals for the classification of marine yeasts and other yeast-like fungi including the smuts". Botanica Marine 23: 361–73 The classification system presented here is based on the 2007 phylogenetic study by Hibbett et all www. Geogle, com
http://lib.atmajaya.ac.id/default.aspx?tabID=61&id=98263&src=a
Juwarts, Melnick dan Abdilbrg, 2002.
Mikrobiologi Kedokteran, Buku Kedokteran-Jakarta
Gould. Dinah.2003.
Mikrobiologi Terapan Untuk Perawat. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Haryono, Semanggun, 1988.
Penyakit tanaman perkebunan di Indonesia, Gajah Mada University Press- Yogyakarta