Metodelogi Penelitian ECHINODERMATA

Posted by Sanjaya Yasin 0 komentar

Ditulis oleh : Sanjaya Yasin

BAB I 
PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang Masalah

    Laut  merupakan ekosistem yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Hampir wakil dari setiap phylum hewan dapat ditemukan di laut. Organisme yang hidup di laut dipengaruhi oleh sifat air laut untuk sekelilingnya,  baik berupa tumbuhan ataupun hewan sehingga banyak bentuk umum yang dijumpai merupakan hasil adaptasi terhadap medium cair dan perggerakannya (Nybakken, 1998).

    Laut juga merupakan tempat mata penjaharian untuk golongan masyarakat tertentu yang hidup di sekitar laut, termasuk daerah pasang surut yang berkarang, berlumpur atau berpasir. Hampir semua wakil dari phylum hewan dapat ditemukan di laut. Phylum echidonemata ditempatkan pada akhir deretan Phylum dalam invertebrata lainnya. Hal ini merupakan salah satu alasan banya Phylum echidonemata lebih dekat dengan Vertebrata daripada Invertebrata.

    Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terdiri atas dua buah pulau besar dan beberapa pulau kecil yang mempunyai luas perairan sekitar 29.870 km dan panjang pantai mencapai 1.364 km. Perairan di NTB mempunyai keanekaragaman hayati cukup tinggi, karena hampir semua jenis hewan dan tumbuhan laut dapat dijumpai di perairan NTB (Dinas Perikanan NTB, 1994).

    Salah satu jenis hewan yang hanya ditemukan di laut adalah echidonemata. Echidonemata menempati berbagai macam habitat Zona Trumbu Karang, daerah pertumbuhan Algae, Tumbuhan laut jenis lainnya, Koloni Karang Hidup, Koloni Karang Mati serta daerah betting karang. Echidonemata merupakan komponen Distik yang penting dalam siklus rantai makanan. Makanan dan Phylum Echidonemata jenis tripang adalah detritus sehingga hewan ini banyak ditemukan di daerah yang banyak mengandung detritus (Aziz, 1991).

    Keberadaan Echidonemata di beberapa daerah di NTB telah dilaporkan oleh beberapa peneliti, di perairan Lombok Barat di bagian Utara terdapat 12 spesies Echidonemata, di pantai Kuta terdapat 38 species dan berhasil mengoleksi 19 jenis Echindonemata (Putra Suryadi, 1999). Keberadaan Echidonemata di daerah perairan pantai Pasir Putih di desa Teluk Nare Kec. Pameng kabupaten Lombok Utara sampai saat ini penelitian belum pernah diperoleh/diteliti sehingga informasi keberadaan mengenai fauna Echidonemata belum ada. 

    Berdasarkan uraian latar belakang di atas penulis mencoba merangkaii suatu kata menjadi suatu kalimat menjadi yang tertuang dalam suatu judul “Komunitas Echidonemata di daerah Perairan pantai pasir putih Desa Teluk Nare kec. Pemenang Kabupaten Lombok Tengah. Dalam hal ini timbul suatu permasalahan yang peneliti coba untuk rumuskan seperti “Berapa tingkat kepadatan dan keanekaragaman Enchinodermata pada perairan Pantai Pasir putih Teluk Nare Kecamatan Pamenang Kabupaten lombok Utara.

B.    Tujuan Penelitian

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan dan keanekaragaman Enchinodermata pada daerah pantai Pasir Putih Teluk Nare Kecamatan Pamenang Kabupaten Lombok Utara.

C.   Manfaat Penelitian

    Melalui penelitian yang dilakukan diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut:

1.    Manfaat Teoritis 
      Dibidang penelitian,Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaan sebagai informasi awal kepada pelajar atau mahasiswa bahwa pantai Pasir Putih Wane merapakan daerah yang sangat potensial untuk melakukan praktik lapangan.  memperkaya khasanah ilmu pengetahuan khususnya di bidang perikanan air tawar.

2.    Manfaat Praktis
      Dari hasil penelitian ini diharapkan masukan dalam bidang budidaya laut bagi penelitian yang akan datang dapat menambah informasi bagi peneliti selanjutnya khususnya mengenai perikanan air tawar.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Ciri Umum Echinoedermata

       Ciri umum Echinodermata adalah sebagai berikut :a). Simetri radial pada hewan dewasa, memiliki lima bagian sedangkan larvanya simetri bilatral, memiliki tiga jaringan dasar adalah bersilia, tidak memiliki kepala dan otak, b). Permukaan tubuh memiliki kaki buluh atau kaki ambulakral, c). Tubuh terbungkus oleh epidermis yang halus dengan dikosong kepingan kapur yang disebut lamineaatau ossicula, d). Saluran pencernaan biasanya lengkap tetapi ada beberapa yang tidak memiliki  anus, e). Memiliki system sirkulasi yang megalami reduksi, f). Respilasi dilakukan dengan insang kecil atau papulae yang timbul dari coelom, beberapa jenis dengan menggunakan kaki ambulakral, g). Sistem syaraf dengan batang cincin yang bercabang –cabang kearah radial, h). Seks terpisah dengan beberapa perkecualian (Jasin,1989),

1.1    Klasifikasi Echinodermata
Klasifikasi Echinodermata menurut Barnes,1974 dalam Rizal  (2001)
Kelas        : Stellroiea
Sub kelas  :  Stamostroidea
Kelas        : Asteriodea
Ordo        : 1. Plastisterida
                  2. Paxillosida   
                  3. Valvotida
                  4. Spinulosida      
                  5. Focipulotida

Kelas          : Ophiuroidea
Ordo          : 1. Stenurida
                    2. Oeghopriurida
                    3. Phyrinophiurida

Kelas            :  Echinodea
Sub kelas      : Peschochinoidea
Ordo             : Chidoroida
Sub kelas      : echinoida
Super ordo    : Diadematacea
Ordo             : 1. Pedinoida
                       2. Diadematpida
                       3. Ecinothuroida

Super ordo    : Echinnacea
Ordo             : 1. Arbacioda
                      2. Salenoida
                      3. Temnopleuroida
                      4. Phymomosomatyda
                     5. Echinoida

Super ordo     :  Gathostomata 
Ordo              : 1. Holecthypoida
                       2. Clypeasteroida

Super Ordo    : Atelostomata
Ordo              : 1.  Holosteroida
                        2.  Spatongoida
                       3.  Casiluloida
                       4.  Neolompidoida

Kelas               : Holothuroida
Ordo               : 1. Cacthylochiroida
                        2.  Dendrohirotida
                        3.  Asphichirotida
                        4.  Elasipodida
                        5.  Apodida

Kelas               : Crinoida
Sub Kelas        : 1.  Eochinoida
                        2.  Parcrinoidea
                        3.  Eucrinoida
Ordo                : 1.  Inadunata
                         2.  Flexibillia
                         3.  Comerata


a.    Klas Asteroidea (bintang  Laut)

Sesuai dengan namanya, maka tubuh berbentuk bintang dengan lima atau bagian radial. Terdapat duri-duri dengan berbagai ukuran pada permukaan kulit tubuh baik oral maupun aboral dan pada sekitar dasar duri terdapat bentuk jepitan pada ujungnya yang disebut pedicellaria. Pada salah satu bagian antara dua bagian tubuh radial atau lengan terdapat lempeng saringan madereporit sebagai tempat masuknya air dalam sistem vascular air atau ambulakral. Anus terdapat di tengah bagian dorsal sedang mulut di bagian oral. Penyokong tubuh tersusun dari lembaran kapur atau ossicullus (Brotowidjoyo, 1993).

Penyokong tubuh dari klas ini terjadi dalam branchia dermalis yang terletak pada aboral, system saraf terdiri atas batang saraf radial pada masing-masing lengan. Seks pada Bintang Laut terpisah yaitu ada yang jantang dan ada yang betina. Fertilisasi terjadi di dalam air, kemudiah hasil fertilisasi akan tumbuh menjadi larva bipinria. Bintang laut mempunyai daya regenerasi yang tinggi.

Beberapa jenis bitang laut mempunyai warna cerah yang indah, merah, jingga, biru, atau dengan beberapa pola yang menarik dan warna yang kontras (Nontji, 1993). Bintang laut hidup di daerah yang berkarang, substrat  kasar, substrat lunak, dan umumnya terdapat di daerah terumbuh karang. Bintang laut merayap melewati batu-batu dan tinggal dalam pasir.

Kemampuan bintang luat untuk beradaptasi dengan selinitasi ditunjukkan oleh beberapa spesies, misalnya asterias rubens hanya tahan terhadap salinitas rendah, sedangkan luidia clathrata mempunyai toleransi tertentu terhadap salinitas di alam, hewan ini hidup pada salinitas sekitar 27% (Jasin, 1989).

b.    Klas Ophiuroidea (Bintang Ular)

Bintang ular mempunyai tubuh seperti bola cakram kecil dengan lima lengan panjang. Di bagian seperti lateral terdapat duri, sedangkan bagian dorsal serta ventral tidak terdapat duri. Bagian dalam dari ruas sebagian besar terisi ossicula yang silindris sehingga memungkinkan lengan dapat di bengkokkan. Pada lengan juga terdapat kaki ambulakral kecil yang sering disebut sebagai teritakel yang terletak secara ventro lateral dengan alat hisap atau ampullae yang beralat sensoris dan juga membantu pernafasan yang memungkinkan makanan dapat masuk ke mulut. Mulut terletak di pusat tubuh yang dikelilingi lima kelompok lempeng kapur dan tidak memiliki anus. Madreporit terletak di daerah permukaan dekat mulut. Bersifat biseksual dan fertilisasi terjadi di luar dengan larva bersilia (Brotowidjoyo, 1993).

Bintang ular yang hidup di daerah tropis pada umumnya hidup pada perairan dengan suhu antara 27 - 300 C, namun daya tahan terhadap suhu ini tergantung kedudukan geografis dan ke dalaman (Suryatim 1999).

c.    Klas Enchinoidea (landak lut)

Hewan-hewan yang masuk klas Enchinoidea berbentuk bundar, tidak berlengan, tetapi memiliki duri-duri yang dapat digerakkan. Pada umumnya Landak Laut memiliki jarohan atau viscera yang tersimpan dalam cangkok. Bulu babi memiliki lima jalur kaki ambulakral yang terselang oleh daerah interambulakral yang agak lebar tanpa kaki. Beberapa jenis Ennchinoidea memiliki kelenjar racun. Di antara duri-duri terdapat pedicellaria yang berfungsi untuk membersihkan tubuh dan tuntuk menangkap makanan kecil. Anus terletak di pusat tubuh pada permukaan aboral. Sedangkan mulut yang dilengkapi oleh lima buah gigi terletak di daerah oral dan madreporit terletak di daerah aboral (Brotowijoyo, 1993).

Pada landak laut terdapat sebuah pembuluh sirkular, lima buah pembuluh tabung telapak dengan ampula. Terdapat cincin saraf dengan lima buah cabang dan sebuah pleksus saraf. Jenis kelamin terpisah, fertilisasi terjadi di dalam air. Larva yang terbentuk bersimetri bilateral, berenang bebas dan disebut larva pluteus. Batas toleransi salinitas kelompok bulu babi penghuni laut sejati antara 30 – 34 % (Suryati, 1999).

d.    Klas Holoturoidea (Teripang)

Mentimun laut mempunyai tubuh bulat memanjang dengan garis oral ke aboral sebagai sumbu, tubuh terlipat oleh kulit yang mengandung ossicula yang mikroskopis. Di bagian anterior mulut terdapat 10 -13 tentakel yang dapat di julurkan dan ditarik kembali. Holothuroidea meletakkan diri dengan bagian dorsal di sebelah atas. Kaki ambulakral dapat berkontraksi dan berfungsi sebagai alat respirasi. Daerah ventral terdapat tiga daerah kaki ambulakral yang memiliki alat hisap, yang berfungsi untuk bergerak dan tiga baris ada posisi dorsal dipakai untuk bernafas. Madreporit terletak dalam coelom. Pada hewan ini terdapat suatu cincin saraf dan saraf-saraf radier. Teripang cepat bereaksi terhadap rangsangan. Biasanya jenis kelamin terpisah namun ada juga yang hermaprodit dengan larva bersimetri bilateral (Brotowidjoyo, 1993).

Beberapa spesies seperti Thyonidium Pelluidum, Thyone sp, dan Drotankyra similis dapat hidup di perairan payau dengan salinitas sekitar 20 tapi beberapa anggota kelas Holothuroidea tidak tahan terhadap salinitas yang rendah (Aziz, 1991).

e.    Klas Crinoidea (Lili Laut)

Hewan klas Crinoidea mempunyai bentuk seperti bunga lili yang bisa hidup di dalam laut dengan ke dalaman 3,648 m. Tubuh berbentuk seperti cangkir yang disebut calyx yang tersusun dan lempengan kapur. Dari calyx  itu tersembul lima lengan yang lentur dengan tentakel yang pendek dimana masing-masing memiliki pinullae yang banyak sekali sehingga seperti bulu burung yang terurai beberapa jenis Lili laut memiliki stalk atau tangkai yang berfungsi untuk melekat pada dasar laut atau substrat. Mulut terletak pada daerah oral, sedangkan anus pada daerah aboral. Pada bagian oral terdapat lekukan ambulakral yang berisi tentakel seperti kaki bulu, fertilisasi berlangsung secara internal, bahkan zigot berkembang di dalam tubuh (Jasin, 1989).

Lili laut membutuhkan air laut yang bersalinitas tinggi dengan toleransi pada air laut normal sampai salinitas 28 – 36 % (Suryati, 1999).

B.    Kerangka Berfikir

Bentuk tubuh Echinodermata adalah simetri radial. Dan sebagian besar memiliki penguat tubuh dan zat kapur dengan tonjolan-tonjolan, yang berbentuk duri, hewan ini hidup di pantai dan di dalam laut sampai ke dalaman kurang lebih 366 meter, sebagian hidup bebas gerakanya lamban, tidak ada yang parasit. Hewan ini merupakan pemakan sampah laut sehingga laut menjadi bersih. Kadang-kadang hewan ini mengelompokkan dalam jumlah yang besasr tapi tidak membentuk koloni, ada beberapa jenis hewan ini dapat digunakan sebagai bahan makanan seperti tripang.

Daerah pantai Pasir Putih di desa Teluk Nare Kec. Pameng kabupaten Lombok Utara merupakan salah satu pantai yang dihuni oleh berbagai macam jenis Enchinodermata sehingga peneliti saya merasa tertarik meneliti tentang komunitas Echinodermata di daerah pantai Pasir Putih di desa Teluk Nare Kec. Pameng kabupaten Lombok Utara.

C.    Hipotesis

Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Suharsimi, 1998).  Pendapat lain mengatakan bahwa hipotesis dapat diartikan sebagai pernyataan statistik tentang parameter populasi (Sugiono, 1997). Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah : Terdapat peningkatan tingkat kepadatan dan keanekaragaman Enchinodermata pada perairan Pantai Pasir putih Teluk Nare Kecamatan Pamenang Kabupaten lombok Utara.
.

BAB III
ME.TODE PENELITIAN

A.    Indentifikasi Variabel

Variabel adalah suatu hal yang menjadi titik temu suatu penelitian. Dalam penelitian ini variabel yang digunakan adalah variabel terikat dan variabel bebas  atau variabel X (Perairan Pantai) sedangkan variabel Y (Komunitas Echinodermata). Jadi dapat disimpulkan bahwa variabel dalam penelitian ini adalah variabel yang saling mempengaruhi antara variabel X dan Y sehingga dapat digambarkan sebagai berikut

Keterangan :
   X = Perairan pantai
   Y = Kominitas Echinodermata


B.    Defenisi Operasional

Untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman terhadap variabel atau suku kata yang dipakai dalam judul penelitian ini, maka dipandang perlu dijelaskan beberapa istilah sebagai berikut :

1.   Komunitas

Komunitas adalah kumpulan populasi yang berbeda-beda pada satu tempat tertentu (Suharsimi, 2002). Yang dimaksud dengan komunitas dalam penelitian ini adalah kumpulan populasi Echinodermata yang berbeda-beda yang di daerah perairan Pantai Pasir putih Teluk Nare Kecamatan Pamenang Kabupaten lombok Utara

2.    Echinodermata

Echinodermata berasal dari bahasa Yunani Echinos artinya duri, derma artinya kulit, dengan demikian Echinodermata artinya hewan yang berkulit duri (Jasin, 1989). Echinodermata yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hewan yang berkulit duri, terdiri dari bintang laut, bintang ular, lili laut dan teripang.

C.    Populasi, Sampel dan Teknik Sampling

1.    Populasi

Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian, apabila seseorang ingin semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya disebut dengan populasi keseluruhan subyek penelitian (Suharsimi, 2002: 108). Sedangkan ahli lain mengatakan bahwa populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam satu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan. (Margono, 1996 : 118). Berdasarkan pendapat di atas maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa populasi dalam penelitian ini adalah enchinodermata pada perairan Pantai Pasir putih Teluk Nare Kecamatan Pamenang Kabupaten lombok Utara

2.    Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang akan diteliti (Suharsimi, 2002 : 109). Sedangkan menurut Margono (1997 : 121) sampel merupakan bagian dari populasi sebagai contoh yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu.

Salah satu syarat utama dari sampel yang baik adalah sampel itu harus representatif, yaitu mencerminkan ciri-ciri atau sifat dari populasi. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan cara untuk menentukan anggota sampel yang disebut dengan metode sampling. Metode sampling adalah suatu cara pengambilan subyek penelitian dimana subyek yang akan diteliti itu terdiri dari jumlah individu yang mewakili jumlah yang lebih besar (Netra, 1992 :23).

Sedangkan menurut Arikunto (1996 : 120) bahwa apabila subyek kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan populasi. Selanjutnya jika subyeknya besar dapat diambil antara 10-15 % atau lebih. Berdasarkan pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa dalam sampel dalam penelitian ini adalah populasi yang memiliki sifat dan karakteristik tertentu.

D.    Teknik Pengumpulan Data


Tehnik mengumpulkan data adalah cara-cara yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data (Arikunto, 2002 : 34) dalam hal ini untuk memperoleh data yang mencerminkan masalah yang akan diteliti dan dapat dipertanggung jawabkan, maka dalam hal ini teknik yang digunakan adalah :

E.    Teknik Pengumpulan Data

1.    Teknik pengambilan Sampel

Penelitian di lakukan dengan menggunakan metode transek sabuk yang berukuran 20 m x 20 m. Metode ini dilakukan dengan membuat garis stasiun pengamatan yang tegak lurus garis pantai. Kemudian menentukan posisi stasiun yaitu stasiun I sebelah utara, stasiun II sebelah selatan dimana jarak antara stasiun adalah 320 meter, pada garis stasiun di buat garis transek sabuk yang sejajar dengan garis pantai dengan ukuran panjang 20 m dan lebar 1 m dan di buat pada tiap 10 m dari gari stasiun.

Pengambilan sampel dilakukan pada saat bulan purnama karena pada saat ini air laut sedang surut, pengambilan sampel Enchinodermata dilakukan dengan pencatatan dan menghitung spesies maupun jumlah Enchinodermata yang terdapat pada transek pengamatan. Selain itu dilakukan juga pemontretan terhadap fauna Echinodermata yang diamati untuk melengkapi data yang ada.



Keterangan     : A = Garis stasiun
                       B = Garis transek
Gambar model stasiun pengamatan dengan menggunakan transek sabuk

2.    Identifikasi Spesies

Identifikasi dari spesies Echinodermata dengan mengamati morfologi yang meliputi bentuk ukuran dan warna dan dicocokkan dengan buku kunci Sea Stars Of Australia oleh Coleman N (1994), dan buku Zoologi Invertebrata oleh Jasin (1989).

F.    Validitas dan Realibilitas


1.    Validitas

Untuk menentukan validitas butir soal dapat dihitung dengan menggunakan rumus product moment 


Keterangan:
Rxy     : Koefisien korelasi product moment
Xy      : Hasil perkalian antara variabel X dengan variabel Y
X        : Skor variabel Perairan Pantai
Y        : Skor variabel Komunitas Echinodermata
∑        : Sigma (Jumlah)
N        : Jumlah Sample (Subjek penelitian) (Arikunto, 2002 :243)

2.    Reabilitas

Untuk menentukan reabilitas soal digunakan rumus Alfa.




Keterangan:

 n = Komunitas Echinodermata



Dengan demikian kriteria pakan dikatakan reliabelitas apabila r11 > r tebel dan perairan tersebut dikatakan tidak reliabelitas jika r11 < r tabel.

G.    Rancangan Eksperimen


Rangan penelitian adalah proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian tentang persiapan pengumpulan data dan menganalisis data agar dapat dilaksanakan secara ekonomis serta serasi dengan tujuan penelitian (Nazir, 1988 : 97). Dalam hal ini peneliti menggunakan rancangan penelitian deskristif ekploratif direncakanan pada dua stasiun yaitu stasiun I di sebelah utara, stasiun II di sebelah selatan, jarak antara stasiun I ke stasiun II adalah 320 m, kemudian membuat garis stasiun yang tegak lurus dengan garis pantai. Pada garis stasiun tersebut di buat transek sabuk berukuran 20 m x 2 m sebanyak 5 buah  transek jarak antara transek sabuk adalah 10 m.

Pengambilan sampel penelitian dilaksanakan tiga kali dalam satu mingggu selama dua bulan berturut-turut dari bulan Februari sampai dengan bulan Maret tahun 2008. Total pengambilan sampel dilaksanakan sebanyak 24 kali. Lokasi stasiun di tentukan sedemikian rupa sehingga dapat mewakili daerah penelitian secara keseluruhan.

H.    Teknik analisis Data


Pada penelitian ini kepadatan Echinodermata pada daerah pantai pada perairan Pantai Pasir putih Teluk Nare Kecamatan Pamenang Kabupaten lombok Utara. Di hitung dengan menggunakan rumus dari Michail (1984) dalam Rizal (2001).




Sedangkan keanekaragaman jenis-jenis Echinodermata dihitung dengan indeks keanekaragaman Shannon-Winner (Barus, 2001).

H’ = - ∑ (pi In pi)
pi  = ni / N, dimana :
H = Indeks keanekaragaman Shnnon- Winner
N = Jumlah Individu seluruh spesies
ni  = Jumlah individu spesies i
pi  = jumlah spesies i per jumlah total individu

bila :
0 < H’ < 2, 302         = Keanekaragaman rendah
2,302 < H’ < 6,907   = Keanekaragaman Sedang
H’ > 6, 907              = Keanekaragaman tinggi

 

DAFTAR  PUSTAKA

Barus, AT. 2001. Pengantar Limnologi, Gramedia, Jakarta

Brotowidjoyo, M.D. 1993. Zoologi dasar, Erlangga,  Jakarta :

Coleman,  N. 1994.  Sua star of Australia And Ther Relative Nation Library of Australia Cataloging in publication date Australia

Jasin, M. 1989. Zoologi Invertebrata. Sinar Wijaya, Surabaya

Nursin, 1997. Ekologi Hewan Tanah, Bumi Aksara : Jakarta


Artikel Menarik lainnya :